
Sebuah ringisan terdengar manakala Rea terus mengayunkan bantal sofa pada Andra. Memukuli lengan dan tubuh Andra. Rea marah, dia merasa dipermainkan oleh Andra. Kemarin dia dijebak dan sekarang dia dibohongi. Beuuhh, rasanya dia ingin menghajar Andra dengan jurus takewondo yang dia punya. Tapi hal itu dia urungkan, mengingat dia memakai dress selutut berwarna navy. Serasi dengan yang Andra pakai. Meski hubungan keduanya masih kurang baik. Tapi Rea berusaha menjadi istri yang baik. Seperti yang Berta ajarkan.
Setiap pagi, Rea akan turun ke dapur. Membantu menyiapkan sarapan untuk suami dan ayah serta ibu mertuanya. Setelahnya dia harus membangunkan Andra. Karena ternyata Andra kalau tidur susah dibangunkan. Menyiapkan keperluan dan pakaian Andra. Meski dia sedikit bergidik saat menyiapkan pakaian dalam sang suami.
"Dasar kang manipulatif, kang paksa, kang jebak, kang bohong!"
Teriak Rea menggelegar di ruangan itu. Alex bahkan sudah terpingkal-pingkal melihat nyonya singanya ngamuk.
"Ampun, By. Banyak bener kang-nya. Kenapa semua kang disebut. Apa termasuk Kang Daniel juga?"
"Masih menjawab?" Salak Rea.
"Astaga, gini amat kalau bini lagi marah. Aku tidak bermaksud membohongimu."
Rea berkacak pinggang dengan nafas tersengal menahan amarah.
"Lalu kenapa kamu gak pernah kasih tahu aku, kalau kamu CEO di sini?"
"Kan kamu gak pernah nanya."
Jawab Andra enteng sambil membenahi bajunya yang berantakan. Sementara Rea langsung menepuk jidatnya pelan.
"Karena aku gak pernah nanya, terus kamu bisa seenaknya gitu membohongiku?"
"Aku gak pernah bohong, By. Aku baru masuk ke sini setelah papa sakit hari itu."
Rea kicep seketika. Dia teringat papa mertuanya yang kena serangan jantung beberapa bulan lalu. Dan dia ikut andil didalamnya.
"Lagipula, Papa buat presscon besar-besaran kok untuk mengumumkan kalau aku putra tunggal dan akan jadi penerusnya. Kamunya aja yang gak pernah nonton berita."
Kata Andra santai, sambil berjalan menuju mini kulkas yang ada disudut ruangan. Mengambil soft drink. Membawakan satu kemasan jus alpukat kesukaan Rea.
"Gak mau!"
"Isshhh, sudah dong ngambeknya. Apa ruginya sih jadi istriku."
Rea mendengus kesal. Rugi? Memang tidak ada ruginya menikah dengan Andra kalau dipikir-pikir. Yang membuat hati Rea gusar adalah cara pria itu untuk menikahinya. Wanita itu melepas heels lima senti yang tengah dipakainya. Membiarkannya begitu saja di lantai. Lantas wanita itu menghempaskan bokongnya di sofa depan Andra. Mengambil ponselnya lalu menghubungi Nana. Bertanya soal Andra yang seorang CEO.
Andra menaikkan satu alisnya, melihat wajah Rea yang semakin ditekuk, kala mendengar jawaban Nana diujung sana.
"Bagaimana?"
Rea menyentak ponselnya ke atas meja. Ternyata dia sendiri yang tidak tahu kalau Andra adalah pewaris Sky Airlines.
"Makanya Nyonya kalau kabur bilang-bilang. Biar gak kudet."
Satu tatapan membunuh menghunus pada Alex. Tapi pria itu hanya diam tidak merespon. Dia jelas orang yang paling tahu bagaimana Rea. Semarah apapun, dia hanya mencak-mencak saat itu juga. Setelahnya selesai.
"So......masih marah?"
"Au deh!"
"Ah elah Neng, coba deh kamu pikir. Kalau Andra cuma seorang akuntan, tidak mungkin dia memberimu mahar segitu banyaknya."
__ADS_1
"Aku gak minta, Alex."
"Tapi aku ingin memberimu. Bahkan kalau kamu minta isi rekening bank Swiss-ku akan kuberikan."
"Siapa juga yang mau duit Swiss-mu," gerutu Rea pelan. Rea tidak mau dianggap matre karena menikah dengan Andra. Itu saja.
"Ya jangan manyun kalau gak mau."
Rea masih manyun meski sudah setengah jam ada di sana. Dia lama-lama bosan juga. Hingga matanya menangkap Andra dan Alex yang sibuk dengan berkasnya.
"Apa? Kalau mau bantu cepetan."
Andra berkata setelah beberapa kali melihat ke arah Rea yang sesekali mencuri pandang ke arah Alex. Rea hanya diam, hingga kemudian satu laptop keluaran terbaru ada di hadapan Rea beserta satu tumpuk berkas yang Alex siapkan untuknya.
Senyum Rea mengembang sempurna. Hingga dua orang itu hanya bisa saling pandang, melihat Rea yang gembira diberi pekerjaan, tapi marah saat tahu dia istri CEO.
"Istrimu normal kan?"
Andra mendelik mendengar perkataan Alex. Rea memang berbeda. Selama beberapa hari menikah, Rea bahkan belum pernah minta apapun padanya. Gadis itu makan apa saja yang disediakan di meja makan, tanpa protes. Terkadang ikut membantu bibi memasak kalau tidak sibuk. Meski si bibi beberapa kali merasa tidak enak. Nyonya mudanya membantunya memasak. Tapi pesan dari nyonya besar membuat si bibi tidak lagi melarang ketika sang nyonya muda turun ke dapur membantunya.
Gadis itu juga memakai apa saja yang disediakan Katya di walk in closetnya. Tentu setelah berkonsultasi dengan Berta.
Rea menggeliat pelan, pekerjaannya hampir beres. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
"Kak..."
"Hmmm...."
"Istirahat saja di dalam kalau lelah. Atau mau pulang dulu?"
Andra bertanya sambil melihat Rea yang mulai menguap. Lelah sudah pasti. Mungkin Rea belum terbiasa dengan ritme kerja nonstop seperti barusan.
"Nungguin kamu aja. Nanti gak enak kalau pulang gak bareng."
Andra tersenyum mendengar perkataan Rea. Dia masih mau menjaga perasaan papa dan mamanya.
*
*
Andra terkejut ketika Rea berpamitan untuk bertemu Bradley Scott. Ternyata selama ini Rea dan Brad masih berhubungan, meski untuk urusan kampus.
"Kamu masih berhubungan dengan dia, By?"
Andra bertanya ketika sang istri tengah memasangkam dasinya. Rea menjawab kalau itu untuk urusan skripsinya. Rea hanya meminta cuti kehadiran, tapi mapel dia terus mengikuti. Seperti home schooling. Jadi sekarang sekarang Rea sudah masuk proses pembuatan skripsi.
"Untuk urusan skripsi. Kenapa? Apa Kakak masih cemburu dengan dia? Kan kita sudah menikah. Apalagi yang Kakak takutkan?"
Andra meraih pinggang Rea, menempelkan tubuh keduanya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan lelaki di luar circle yang kita punya. Kamu paham?"
Rea melengos kala nafas Andra menerpa wajahnya. Pria itu lantas mencium bibir sang istri, seperti kebiasaannya kalau akan pergi bekerja. Lalu keluar dari walk in closet mereka. Meninggalkan Rea yang malah mematung di tempatnya.
__ADS_1
Gadis itu tahu jelas kalau Andra dan Bradley tidak pernah akur. Dengan Ken, Andra mulai melonggarkan kewaspadaannya, sebab perusahaan Ken dan Andra sering bekerjasama. Terlebih Ken saat ini tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis, yang pernah menjadi teman masa kecil Ken.
Sedang Bradley, memilih single sampai sekarang. Pria itu hanya fokus mengajar tanpa memikirkan soal wanita. Sebab dia memang masih menyimpan rasa pada Rea. Bradley sendiri bertekad tidak akan memaksakan perasaannya pada Rea. Asalkan gadis itu bahagia, itu sudah cukup baginya. Dia tidak berharap lebih pada perasaannya.
Urusan skripsi Rea selesai sebelum makan siang. Mereka tengah berada di luar setelah mengunjungi kantor pajak untuk keperluan kuisioner. Rea tidak menolak saat Bradley mengajaknya makan siang. Sedikit melupakan peringatan Andra. Tanpa mereka tahu ternyata Andra baru saja menyelesaikan meetingnya dengan kliennya.
Dari ruang VVIP-nya, Andra melihat kalau Rea dan Brad tengah makan siang di restauran itu. Panas hati Andra dibuatnya. Pria itu mengirim pesan pada Rea, tapi tidak digubris. Rea hanya membalas kalau dia sedang makan siang di restauran X dengan Brad.
Padahal sedari tadi, Andra sudah menahan diri untuk tidak melabrak Bradley. Dari ruangannya, Andra bisa melihat kalau Rea beberapa kali tersenyum pada Brad. Kepala Andra serasa mendidih, dia sama sekali tidak menyukai Rea dekat dengan Bradley, dengan alasan apapun. Hari itu diakhiri dengan wajah Andra yang serasa ingin makan orang. Wajahnya bertekuk sepuluh dengan bibir terlipat ke dalam. Tidak ada senyum sama sekali.
Alex yang tidak tahu menahu hanya bisa diam. Sebab jika sudah begini, hanya Rea yang bisa menjinakkan Andra. Padahal wanita itu tidak ada di kantor.
*
*
Rea kembali ke rumah sekitar jam lima sore. Gadis itu menyapa sang mama yang tengah menyirami bunga di taman belakang. Terlihat jika Katya sangat menyayangi Rea. Pun sebaliknya, sikap Katya sama seperti Berta. Penuh kasih sayang dan penyabar.
Setelah membantu menyiram bunga, gadis itu pamit naik ke kamarnya. Menenteng sepatu juga tas yang berisi laptop dan bahan skripsinya, gadis itu masuk ke kamarnya. Begitu kamar dibuka, lampu kamar utama langsung menyala.
Rea memundurkan langkahnya, melihat Andra yang sudah duduk di sofa kamar mereka. Seolah menunggu kedatangan Rea.
"Dari mana kamu?"
Satu pertanyaan tegas dari Andra cukup menyiratkan kalau pria itu tengah marah.
"Aku pergi dengan Brad untuk urusan skripsiku. Aku sudah memberitahu Kakak, bukan?"
"Sambil makan siang berdua di restauran X?"
Rea mengerutkan dahinya. Hingga wanita itu berkesimpulan kalau Andra pasti melihatnya bersama Brad tadi siang.
"Kamu tahu aku tidak suka kamu berdekatan dengannya?"
Suara Andra naik satu oktaf. Pria itu melangkah mendekati Rea. Rea seketika memundurkan langkahnya.
"Kakak cemburu?"
"Tentu saja aku cemburu. Kamu istriku dan kamu pergi dengan pria lain hanya berdua."
Rea memejamkan mata. Dua kali dia mendengar suara Andra dengan oktaf tinggi seperti itu. Hingga dia teringat perkataan Gina. Andra punya dua kepribadian, yang satu bisa muncul saat emosinya tidak stabil.
"Apa ini juga berlaku saat dia tengah cemburu?"
Batin Rea sedikit takut.
****
Ritual jempolnya jangan lupa...
Like, komen, dan vote...selalu ditunggu...
***
__ADS_1