Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Hukuman


__ADS_3

Dua brankar pasien didorong masuk bersamaan. Baik Andra dan Rea sama-sama tidak sadarkan. Darah terlihat mengalir dari kepala keduanya. Nicky dan Alex juga Mark jelas khawatir.


"Duo S brengsek!"


Umpat Nicky, begitu dua brangkar pasien itu masuk ke ruang tindakan UGD dengan Mark ikut ke dalamnya. Bagaimana bisa mereka kecolongan begitu. Nicky bahkan sampai menghantam tembok di depannya karena kesal.


Suami Gina itu langsung bergerak mencari adik dan iparnya. Begitu ponsel Andra menghubungi ponselnya. Sebuah telepon yang mencurigakan, tanpa suara. Hingga suara Rea menjerit membuat pria itu bertindak. Shane dan Alex, seta Jack ikut mencari. Bahkan Mark pun rela meninggalkan malam pertamanya demi mencari Rea dan Andra.


Setengah jam mencari mereka menemukan titik GPS cincin Rea di tangga darurat lantai 10. Tangga darurat memang tempat yang susah diterobos oleh sinyal. Saat mereka sampai di sana, Sonya dan Stacey baru saja menusuk lengan Andra dan Rea bersamaan. Jack langsung emosi, pria itu langsung menghajar duo S gila yang tengah menganiaya atasannya.


Mark segera memapah tubuh Andra dan Nicky menggendong Rea yang bersimbah darah. Sementara Shane seketika menahan Jack yang masih ingin memukuli Sonya dan Stacey.


"Jack hentikan! Kau bisa membunuhnya. Mereka wanita!"


"Mereka binaaatttang!"


Teriak Jack emosi. Pria itu terengah menahan amarah. Di sampingnya, Shane langsung menghubungi polisi. Tapi Jack menahannya.


"Hubungi Johannes Arka. Dia harus tahu kelakuan istrinya. Dan dia, aku akan mengembalikannya ke tempat asalnya."


Sonya langsung menangis saat Jack menyebut nama Johannes Arka, sang suami. Dia jelas takut kalau Arka tahu kelakuannya.


"Terlambat Nyonya. Bukankah nyonyaku sudah memperingatkanmu. Dia berbaik hati tidak melemparmu ke kandang singa. Tapi aku tidak sebaik nyonyaku. Aku adalah mimpi buruk bagi mereka yang berani mengusik tuan dan nyonyaku."


Jack memberi kode pada anak buahnya untuk menyeret Sonya dan Stacey. Shane bertanya apa dia tidak akan menyerahkan keduanya pada polisi. Jack menjawab kalau dia akan menyerahkan Stacey setelah membuat wanita itu sedikit merasa tersiksa sampai keadaan Rea dan Andra membaik. Sedangkan Sonya, Jack akan membiarkan Johannes Arka menanganinya sendiri. Shane mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jack.


"Johannes Arka bukan pria lugu seperti yang kau lihat."


Kembali ke rumah sakit.


Nicky mengangkat wajahnya setelah mendengar suara langkah kaki mendekat. Matt, Berta, Daniar, Katya. Devi, Nana dan Gina. Disusul Bryan dan Terry. Semua setengah berlari ke arah Nicky dan Alex.


"Bagaimana?"


Matt dan Daniar bertanya bersamaan. Nicky menghela nafas dalam. Sebuah kedikan bahu menjadi jawaban atas ketidaktahuan keadaan Andra dan Rea.


"Aku pikir setelah Janson dan Clara dihukum. Masalah selesai. Ternyata masih ada yang mengincar putraku."


Geram Matt, sedang Daniar mencoba tenang. Dia harus mengendalikan diri, mengingat serangan jantung ringan yang menimpanya beberapa waktu lalu. Semua orang terlihat cemas. Hingga setengah jam kemudian Mark keluar dari ruang tindakan UGD. Pria itu terlihat bingung.


"Apa yang terjadi dengan mereka."

__ADS_1


Mark memejamkan mata mendengar pertanyaan serentak dari semua yang ada di sana.


"Cedera kepala tingkat menengah, cedera punggung. Dan cedera tulang belakang."


Kalimat terakhir di ucapkan dengan nada ambigu oleh Mark. Hingga tatapan semua orang semakin menyudutkannya.


"Andra mengalami cedera tulang belakang."


Daniar hampir terjatuh mendengar ucapan Mark. Jika saja Bryan tidak menahannya.


"Apakah parah?"


Mark menundukkan wajahnya. Dia tampak berpikir. "Katakan saja, kami akan bersiap menerimanya."


"Untuk sementara dia akan kesulitan bergerak."


Semua menutup mulut mereka hampir bersamaan. Terlebih Katya. Berta dengan cepat memeluk besannya itu.


"Tapi ada satu kabar gembira."


Semua orang kembali menatap wajah Mark.


"Rea hamil. Andra berhasil melindungi kehamilan Rea. Kami akan memantau keadaan keduanya intensif."


*


*


Sonya langsung terkesiap, begitu mendengar suara langkah kaki mendekat. Anak buah Jack mengantar Sonya ke rumah pria itu. Tentunya setelah Jack menghubungi Arka. Bukannya senang, Sonya langsung mengundurkan tubuhnya ke pojok ruangan.


Pria yang bernama Johannes Arka itu melangkah masuk dengan senyum manisnya. Sekali lagi Sonya malah semakin ketakutan dengan senyum manis Arka. Senyum manis bagi mereka yang tidak tahu soal Arka. Tapi bagi Sonya, senyum itu merupakan tanda datangnya siksaan untuknya.


"Bagaimana rasanya bersenang-senang, sayang?"


Sonya merinding ketika udara hangat itu menerpa telinganya. Wanita itu langsung bersujud di depan Arka. Air mata mulai mengalir di pipi Sonya.


"Ampun Ka, aku tidak bermaksud melukainya. Aku hanya...."


"Dia terluka?"


Arka seketika mengubah ekspresi wajahnya. Sorot mata penuh cinta tadi berubah menjadi binar penuh emosi.

__ADS_1


"Ampuuun Ka, aku....lengannya terluka."


Plakkkk,


Satu tamparan mendarat di pipi Sonya. Wanita itu sampai menoleh saking kerasnya tamparan Arka. Bekasnya sampai memerah. Perih dan panas terasa di wajah Sonya.


"Sudah kubilang jangan menyentuhnya!"


Suara Arka menggelegar di ruangan itu. Sonya semakin ketakutan melihat sikap Arka. Tanpa kata, pria itu membuka gaspernya, teriakan minta ampun dari Sonya tidak Arka hiraukan. Pria itu langsung menyabetkan ikat pinggang itu ke tubuh Sonya. Tanpa ampun, pria itu terus melakukan hal tersebut.


Tidak menghiraukan jerit dan tangis Sonya yang terdengar. Arka seperti orang kalap, kesurupan. Dia sama sekali tidak peduli dengan tubuh Sonya yang mulai memerah bahkan berdarah. Tidak puas dengan hal itu, Arka melempar ikat pinggangnya. Lalu menarik tubuh Sonya yang tadi tergeletak di lantai. Menghempaskannya ke atas kasur besar miliknya.


"Arka ampuuuunnnn...."


Sonya berteriak lirih ketika Arka kembali menamparnya. Beberapa kali, hingga sudut bibir wanita itu berdarah. Tubuh Sonya lemas. Siksaan dari Arka benar-benar membuat Sonya terkapar tidak berdaya. Wanita itu masih berusaha mengatur nafasnya ketika tiba-tiba satu pergerakan membuat wanita itu kembali menjerit.


Arka menarik pakaian dalamnya lantas tanpa basa basi memasukkan miliknya. Bisa dibayangkan bagaimana perih dan sakit yang Sonya rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, wanita itu tidak bisa melawan. Menentang Arka, bisa jadi nyawa jadi taruhannya.


"Nikmat bukan?"


"Ammpuun Ka."


Mohon Sonya. Mendengar rintihan Sonya, bukannya berhenti. Arka justru semakin cepat menggempur tubuh Sonya.


"Ini hukuman karena kau melukai Andrea Kirana."


Air mata Sonya mengalir deras. Dia tidak menyangka, dirinya menikah dengan psikopat otewe gila. Malam itu kembali menjadi malam kelam bagi Sonya. Berapa kali dia jadi korban siksaan sang suami. Tanpa berani melawan, tanpa berani mengadukannya atau melapor pada pihak yang berwajib. Sebab jika Sonya melakukannya, Arka tidak segan-segan melukai keluarganya. Sebagai bukti ancamannya tidak main-main, Arka bahkan sudah melecehkan adik bungsunya yang masih berada di bangku sekolah menengah.


Kini hanya penyesalan yang ada di hati Sonya. Berpikir akan mendapat kehidupan yang lebih baik, dengan memilih Arka yang notabene anak pejabat dan pengusaha, Sonya justru terjerat pernikahan mengerikan dengan Arka. Psikopat dengan wajah malaikatnya.


Siapa sangka jika wajah tampan dan berkharisma milik Arka, hanyalah kedok yang digunakan pria itu untuk menutupi karakter iblisnya.


"Ini adalah hukuman untukku karena sudah menyakiti hatimu hari itu Andra."


Batin Sonya perih. Dia masih berusaha mempertahankan kesadaran dirinya ditengah serangan Arka yang tanpa ampun. Sebab jika Arka tahu dia pingsan, pria itu akan menambah siksaannya.


***


Maafkan kalau agak sadis..tidak tahu kenapa author jadi nulis begitu. Mode nulis tanpa sadar on 🤭🤭


Ritual jempol jangan lupa..😘

__ADS_1


***


__ADS_2