Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Mau Ke Mana?


__ADS_3

Rea dan Nana diantar ke ruang administrasi untuk melapor kalau mereka akan kembali magang di tempat itu.


Keduanya cukup mengingat nama-nama orang yang bekerja di sana. Karena Rea dan Nana berada di lingkungan militer, tidak heran jika mereka kerap melihat anak buah yang memberi hormat pada orang yang kedudukannya lebih tinggi.


"Balik lagi?" tanya seorang perempuan dengan rambut bergelombang sebahu. Memakai lipstick berwarna pink, warna favorit wanita itu.


"Iya, mbak Kun. Suruh genapin yang kemarin katanya kurang sebulan. Padahal sudah mau ujian lagi." Jawab Nana.


Mbak Kun lalu melihat Rea yang dia ingat dulu tidak seperti ini penampilan. "Kamu....Rea yang dulu kan. Cantik banget sekarang. Bisa jadi rebutan anak-anak ini." Oceh mbak Kun tanpa segan. Mereka memang sudah akrab dengan mbak Kun sejak mereka magang sebelumnya.


Rea hanya mengangguk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendengar pujian mbak Kun. Tak lama masuklah seorang wanita dengan kacamat baca bertengger di hidungnya. Rambut hitam sebahunya terlihat sangat cantik.


"Mbak Lis, lihat deh. Rea sekarang cantik banget. Bisa-bisa si Wahyu langsung gercep ni."


Wanita yang dipanggil mbak Lis itu sesaat hanya diam. Ikut mengamati Rea. Hingga gadis itu jadi salah tingkah dibuatnya. "Kamu cantik banget sekarang, Rea. Ini sih bukan cuma Wahyu yang nguber. Danu bisa ikutan juga."


Nana seketika menoleh ke arah Rea. Danu...Rea pernah bilang mengagumi pria yang bernama Danu itu.


"Kamu masih suka sama si Danu?" tanya Nana. Keduanya sedang menyiapkan laporan gaji karyawan untuk angkatan yang bekerja di rumah sakit itu.


"Nggaklah. Aku cukup sadar diri dengan diriku."


Jawab Rea, membetulkan letak kacamata blue ray-nya. Sementara Nana langsung menarik nafasnya pelan. Rea belum sepenuhnya menyadari kalau fisiknya sudah berubah total. Kini dirinya bisa jadi pusat perhatian kalau dia mau.


"Rea, kamu tu sadar gak sih. Kalau kamu tu sudah tidak seperti dulu. Andra saja jatuh cinta sama kamu. Apalagi Danu."


Rea seketika menghentikan jemarinya mengetik di laptop yang ada di depannya. Melihat Nana yang duduk di seberangnya. "Tapi aku gak berpikir sampai sejauh itu."


Nana mendengus geram. Temannya ini terlalu polos. Nana baru saja akan menjawab, ketika pintu ruangan terbuka. Masukkan pak Beni diikuti....Danu di belakangnya. Pria berperawakan lokal dengan wajah tegas, dan kulit kecoklatan. Ketampanan yang eksotis, kesan pertama yang bisa ditangkap dari penampilan Danu.


"Rea, kerjaanmu tambah lagi. Bisa tolong buatkan ini dulu. Surat jalan untuk Danu. Dia mau ke Mabes."


"Siap, Pak." Kata Rea mengikuti aturan di sana. Danu cukup terkesima dengan penampilan Rea. Sedang di seberang meja. Nana tampak sesekali mencuri pandang ke arah Rea dan Danu bergantian.

__ADS_1


Sesaat hanya ada keheningan di antara mereka. "Kalian yang dulu pernah magang di sini?" Danu membuka percakapan. Setelah tidak ada tanda-tanda kalau Rea atau Nana akan mengajaknya bicara.


"Iya."


Jawab Nana singkat. Bunyi printer terdengar ketika surat itu selesai dibuat. "Tempat mbak Lis dulu."


Rea pamit. Setiap surat yang keluar masuk ke dan dari tempat itu harus mendapat cap dari tempat mbak Lis.


"Dia cantik sekarang." Kata Danu pada Nana.


"Beda to Nu. Bisa buat deg-deg-an jantung." Seloroh pak Beni dari ruangannya. Rupanya pria itu mendengar perkataan Danu.


"Tapi sayangnya dia sudah punya tunangan."


Nana langsung buka suara. Pak Beni buru-buru keluar dari ruangannya. Sementara Danu cukup terkejut.


"Yang benar?"


Hari itu pekerjaan Rea dan Nana ternyata sangat banyak. Hampir makan siang dan pekerjaan mereka belum selesai. Itu pun pak Beni dan pak Tri sudah ikut membantu.


"Istirahat dulu."


Pak Beni berkata pada Rea dan Nana. "Bentar Pak, tanggung."


Nana menyahut. Hingga akhirnya dua pria paruh baya itu keluar dari tempat tersebut. Nana langsung mengeluh. Yang dia kerjakan adalah laporan yang dia tinggalkan enam bulan lalu. Dan sampai sekarang ternyata belum kelar. Tidak ada yang mengerjakan.


Di tengah pekerjaan mereka, ponsel Rea berbunyi, gadis itu hanya meliriknya sekilas. Mengabaikan peringatan dari Nana kalau itu Andra sebaiknya diterima dulu.


Tapi Rea berdalih sebentar lagi pekerjaannya selesai. Dan benar saja, begitu dia menghubungi Andra balik. Pria diujung sana langsung mengomel tidak karuan.


Sementara Rea hanya diam mendengarkan omelan sang tunangan. Rea pikir, semakin ke sini kenapa Andra semakin cerewet ya. Ke mana Andra yang dulu dingin dan judes seperti manusia es.


Nana menjulurkan lidahnya, mengejek ke arah Rea yang baru saja kena omel sang tunangan. Gadis itu hanya mengedikkan bahu, tanda tidak terlalu menggubris kemarahan Andra.

__ADS_1


Dia memang bertunangan dengan Andra, dia memang menyukai atau bahkan mungkin mencintai Andra. Tapi dia juga tidak mau memaksakan hubungannya. Dia pikir akan menjalaninya dulu. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah bagaimana dia bisa meraih cita-citanya.


Rea pikir, dia harus bisa memajukan dirinya. Membuat dirinya pantas menyandang nama Aherne di belakang namanya. Dia tidak ingin membuat papanya malu. Rea ingin, jika suatu hari nanti dia dikenalkan sebagai putri bungsu Matt Aherne, dia bisa mengangkat wajahnya di hadapan media.


Oleh karena itu dia harus berusaha keras mulai sekarang. Ujian kelulusan nanti dia harus mendapatkan nilai bagus. Minimal 70, sebab tahun depan dia akan mengikuti seleksi masuk PKN STAN, Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.


Rea baru saja mematikan panggilan Andra. Pada akhirnya dia menghubungi Andra. Sebab Shane mengiriminya pesan kalau Andra beberapa kali ingin makan orang. Terpaksalah dia menghubungi sang tunangan. Meredakan emosi Andra adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh Rea. Orang lain, bahkan Katya terkadang kelimpungan kalau mood Andra tengah buruk.


"Astaga, ngagetin aja sih!"


Hari kedua dan semakin banyak yang penasaran dengan sosok Rea. Di depannya kini berdiri Wahyu, satu lagi pria yang disebut mbak Kun akan segera gercep mendekati dirinya. Pria tingga dengan tubuh sedikit kurus, wajahnya berdagu lancip hingga memberikan kesan tirus pada wajahnya.


"Boleh kenalan?"


Kata Wahyu to the poin. Rea menarik nafasnya, dia pikir harus berkonsultasi dengan Gina, bagaimana caranya membuat pria menjauh darinya. "Rea," jawab Rea singkat. Lantas berlalu dari hadapan Wahyu. Meninggalkan pria itu dengan senyum misteriusnya.


Begitu masuk ke ruangan, sebuah deheman membuat Rea kaget. Tapi senyum jahil dari pak Beni dan pak Tri membuat Rea sadar kalau mereka melihat semua kejadian tadi.


"Kalau belum ada yang sreg. Mau apa tak kenalin sama anakku. Biar jadi mantuku sekalian." Seloroh pak Beni dengan nada isengnya.


"Anaknya bapak kan cewek. Saya normal, Pak."


Pak Beni dan yang lainnya langsung meledakkan tawa mereka. Tahu kalau mereka mengerjai Rea.


Meski kesal tapi Rea suka magang di sana. Semua menganggap dia dan Nana, keluarga. Pak Beni dan pak Tri malah sering memanggil Nak pada Rea dan Nana.


Hari Minggu tiba. Rea membuka gerbang kos-annya. Gadis itu bermaksud jalan-jalan. Mengingat tempat itu dekat dengan mall. Setelah tidak berhasil membangunkan Nana. Rea memutuskan pergi sendiri. Dia pikir dia tidak akan nyasar. Toh kalau tersesat dia tinggal hubungi Alex untuk menjemputnya.


"Mau ke mana?"


Sebuah suara membuat Rea berbalik. Dia cukup terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.


****

__ADS_1


__ADS_2