
Yuki melompat mundur ketika Bradley menggebrak meja. Pria itu tidak menyangka kalau Yuki berani melawannya.
"Apa katamu?"
"Yang mana?"
Bradley menatap tajam pada Yuki. Selama ini tidak ada yang berani melawannya. Semua mahasiswa patuh pada ucapan Brad.
"Yang kau bilang aku juga sama."
"Oh yang itu. Muka bapak sama nama Bapak juga tidak sinkron. Muka oriental kok nama bule. Tukeran aja yookkk!"
Bradley mendelik karena Yuki berani mengulangi ocehannya soal nama dan wajah yang tidak sinkron, yang diawali olehnya.
"Kau berani ya!"
"Alah sudahlah Pak, sama-sama punya nama dan muka gak sinkron gak boleh bertengkar. Harus akur. Jadi urusan kita selesai sampai di sini ya. Bye."
Yuki berlalu dari hadapan Bradley.
"Kalau kamu berani keluar dari sini sebelum urusan kita selesai. Saya akan perpanjang masalah handle pintu itu."
Yuki mendelik, masa gara-gara masalah handle pintu hidupnya jadi runyam begini. Yuki mengusak rambutnya.
"Kan kita bisa tempuh jalan damai, Pak. Gak usah diperpanjang. Lagian ini cuma karena handle pintu."
"Tapi itu membuat saya tidak senang. Kamu tahu kan pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan. Saya bisa menuntut kamu dengan pasal itu."
Brad menatap tajam Yuki, yang tampak mengerutkan dahinya. Gadis itu setahu Brad cerdas, entah alasan apa yang membuat Yuki enggan menyelesaikan kuliahnya. Memilih menjadi mahasiswi abadi, sampai masuk tahun kelima.
Yuki jelas tidak terima, hanya karena masalah handle pintu yang harganya tidak seberapa, membuatnya berurusan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Dua orang itu akhirnya terlibat debat seru. Di mana baik Yuki maupun Bradley imbang dalam menjawab setiap perkataan lawan.
"Sudah deh Pak, bilang saja suruh ganti berapa. Capek tahu debat sama Bapak."
Yuki menyerah lebih dulu. Sebab dia sudah terlambat untuk pergi bekerja. Sementara Brad tersenyum puas. Dia bisa meraba seberapa pintar gadis yang kini semakin ketus padanya. Dari perdebatan tadi, Yuki jelas paham, bukan sekedar hafal hampir semua pasal pajak yang ada di negeri ini.
"Gadis ini bisa masuk kantor pajak."
__ADS_1
"Selesaikan skripsimu. Dan Bapak anggap masalah handle pintu selesai."
"Idih ogah. Malas."
"Atau kamu pilih masuk kantor polisi...."
"Pak, gak masuk akal kali masuk kantor polisi cuma gara-gara handle pintu sialan ini!"
"Terserah! Mulai besok kamu akan masuk untuk bimbingan dengan saya."
Yuki berdecak kesal. Dia tidak percaya kalau kakeknya kali ini serius dengan ucapannya. Yuki diminta segera menyelesaikan kuliahnya, agar dia bisa mengambil alih perusahaan keluarga yang dikuasai oleh sang Paman.
Tanpa menjawab perkataan Bradley, Yuki keluar dari kantor pria itu dengan bahu terkulai lemas. "Perusahaan itu bukan milikku, kenapa juga aku harus repot-repot mengurusinya." Gerutu Yuki.
*
*
Mark dan Andra sedang menemani dua wanita mereka jalan-jalan. Sudah lama mereka tidak jalan bersama. Kali ini Nana ingin memilih gaun pengantin untuk hari pernikahan mereka bulan depan. Pun dengan Rea. Wanita itu tentu dengan senang hati menemani sang sahabat.
Andra sendiri tengah mempersiapkan sebuah resepsi untuk meresmikan pernikahannya dengan Rea, dua bulan lagi. Satu bulan setelah pernikahan Nana dan Mark. Mereka masuk ke butik langganan Gina. Di mana sang kakak sudah memberitahu sang pemilik butik, yang juga sahabatnya, kalau sang adik akan berkunjung.
Seorang pria seumuran Gina langsung menyambut keempatnya begitu mereka tiba di butik teman pria itu. Pria yang memperkenalkan diri sebagai Lian tersebut, langsung membawa keempatnya ke sebuah ruangan, yang penuh dengan deretan gaun, yang menurut Lian adalah koleksi terbaru dan eksklusif. Karena hanya ada satu saja designnya.
Rea dan Nana langsung menghampiri rak yang berisi berbagai gaun pengantin. Juga gaun pesta.
"Perempun....kalau lihat baju aja...langsung ijo mata mereka."
Gerutu Andra yang memilih duduk di sofa, enggan mengikuti langkah Rea. Berbeda dengan Mark yang senantiasa mengekor Nana. Takut jika hal buruk terjadi pada wanita tersebut. Kedua wanita itu sibuk memilih, mencoba beberapa gaun yang ada di butik Lian.
Rea sebenarnya ingin memakai kembali gaun pernikahan pilihan kakaknya dulu. Tapi Andra dengan santai mengatakan kalau sudah merobek gaun itu, begitu Rea membatalkan pernikahan mereka. Rea yang mendengar hal itu langsung melotot. Pasalnya dia tahu berapa harga gaun itu.
"Pilih yang lain. Aku mau semua baru dalam resepsi kita dua bulan lagi. Semua akan dikonsep ulang."
Perkataan tegas Andra soal pesta pernikahan mereka mendatang, menyiratkan kalau pria itu sangat kecewa dengan keputusan Rea kala itu. Rea dan Nana mencoba beberapa gaun yang ada di sana. Hal itu cukup membuat dua pria itu sesaat terpana pada kecantikan dua wanita mereka.
__ADS_1
Tiga jam mereka habiskan di butik Lian. Hingga dua wanita itu masing-masing memilih dua gaun untuk pernikahan mereka. Tentunya setelah menempuh jalur debat yang cukup alot. Keempatnya keluar dari sana dengan wajah lega. Setidaknya satu urusan sudah selesai, meski Nana harus melakukan final fitting, sepuluh hari sebelum hari H. Sebab gaun yang Nana pilih perlu penyesuaian di beberapa bagian.
Keempatnya masuk ke sebuah restauran Cina, sesuai keinginan si ibu hamil, yang menginginkan makan makanan negeri tirai bambu tersebut. Kwetiau dan bebek peking. Dua makanan yang diinginkan oleh Nana.
Andra dan Rea cukup terkejut, ketika Mark memberitahu kalau Nana berhasil dia hamili. Ekspresi Mark sungguh bahagia kala itu. Pria lain mungkin akan bingung kalau tahu pacar mereka hamil, tapi Mark justru sebaliknya. Pria itu justru bangga sebab dia bisa membuktikan dirinya normal.
"Maafkan kakakku ya. Dia agak rada-rada setelah balik ke jalan yang benar."
Bisik Rea satu waktu. Bukannya marah. Nana malah terlihat sumringah. "Rada-rada tapi aku cinta." Sambar Nana cepat. Rea seketika melongo. Dia ternyata salah sudah mengkhawatirkan Nana. Nyatanya Nana sepertinya tidak keberatan sudah ditiduri di luar nikah bahkan sampai hamil oleh sang kakak.
"Dia ngidam tidak?"
Bisik Andra. "Sejauh ini masih lumrah. Enggak tahu kalau dia punya geng." Kata Mark melirik ke arah Rea. Andra mengulum senyum. Seolah paham kode dari Mark. Dia disuruh cepat membuat Rea hamil.
"Jangan khawatir, nanti aku gas poll setelah ini."
"Kau berhasil membobolnya?"
Mark bertanya tidak percaya. "Kenapa? Memangnya aku tidak boleh menyentuhnya, dia kan istriku."
Balas Andra sembari menekankan kata istri. Hati Mark sedikit tercubit mendengar perkataan Andra. Semua memang salahnya, telah merayu Nana hingga gadis itu berhasil dia miliki. Tapi itu kan karena dia ingin membuktikan kalau dia normal. Mark tetap akan menikahi Nana meski gadis itu tidak hamil anaknya.
Ditengah keasyikan keempatnya menikmati makan siang mereka, tiba-tiba muncul sosok Vio di sana. Pria itu langsung menuju ke meja Rea. Hingga Nana yang melihat Vio lebih dulu, langsung melambaikan tangannya. Merasa Vio adalah teman Mark, jadi apa salahnya mengundang pria itu untuk makan sekalian bersama mereka.
Sementara Nana menyambut hangat kedatangan Vio. Tiga orang lainnya saling pandang. Terutama Rea yang menatap tajam pada sang kakak.
"Katanya sudah berubah, kenapa masa lalu kak Mark masih mencarinya."
Gerutu Rea dalam hati, menusuk bebek pekingnya dengan garpu sangat kuat. Kesal.
****
Up lagi ya readers, jangan lupa ritual jempolnya..
Like, komen dan votenya ditunggu...
__ADS_1