
Semua orang terdiam dengan mulut menganga lebar. Melihat tampilan Andra yang digandeng Rea turun untuk makan malam hari itu. Alex dan Jack bahkan hampir tersedak, sambil mengucek mata masing-masing. Tapi tak berapa lama tawa meledak di meja makan. Termasuk ART di rumah besar itu.
"Ketawa...terus ketawa...kupotong gaji kalian nanti!"
Bentak Andra marah. Bukannya berhenti tertawa, suara itu justru semakin kencang terdengar. Alhasil Andra hanya bisa merengut kesal. Duduk di samping Rea yang sesekali mengulum senyumnya.
"Jangan cemberut. Nanti ilang cantiknya."
"Aku kan tampan, bukan cantik."
Andra ngeles hampir menangis. Mengulangi kejadian hari itu, Andra kembali di make over dengan dandanan ala perempuan, plus rambut dikepang di bagian poni. Bisa dibayangkan cantiknya Andra saat ini. Sebab garis wajah Andra memang ada sisi cantiknya.
"Siapa suruh gak ngakuin anak sendiri. Dia yang tanam saham tiap malam kok memungkiri hasil. Kualat lu!"
Maki Alex berani. Pria itu jelas kesal ketika Andra menuduh Rea selingkuh. Alex sudah tiga tahun lebih menjaga Rea dan dia tahu betul bagaimana karakter dan sifat Rea.
"Boleh dihukum, tapi gak kayak gini juga kali."
Kata Andra nelangsa. Pria itu benar-benar tersiksa jika harus berdandan ala wanita. Citranya sebagai pria macho pecinta ngegym hilang seketika. Berganti dengan image pria metroseksual yang belakangan marak di mana-mana.
Padahal Andra hanya nebeng memakai pencuci muka Rea dan wajahnya bisa mulus tanpa cela. Makan malam itu berlangsung dengan suasana setengah lawak. Semua orang jelas berusaha menahan tawa sambil memakan makanan masing-masing.
"Awas kalau ini sampai bocor." Ancam Andra saat Alex dan Jack pamit, undur diri. Sembari cekikikan, dua orang kepercayaan Andra itu pulang. Sebab Andra masih berpenampilan cantik
*
*
Arka hampir melempar ponselnya. Kesal. Dia sejak tadi gagal menghubungi Andra, Alex maupun Jack. Pria itu berjalan, bergegas keluar dari kantornya. Mau tidak mau, dia harus menghandlenya sendiri.
"Di mana dia?"
Arka bertanya sebelum masuk ke mobilnya. Kali ini dia akan mengemudi sendiri. Satu jawaban dari anak buahnya membuat Arka langsung tancap gas. Satu perintah susulan juga Arka berikan. Dan anak buahnya langsung bergerak. Pria itu membuka dashboard mobilnya. Sebuah pistol jenis Glock tampak di sana.
"Kau akan dapat ganjaran setimpal kalau berani menyentuhnya."
Mobil Arka melaju menuju sebuah restauran mewah di pusat ibukota. Pria itu keluar dari mobil. Lantas melangkah masuk ke dalam restauran. Ekor matanya menangkap sebuah mobil van ikut masuk ke parkiran restauran mereka.
__ADS_1
"Face recognition."
Arka berkata melalui headset bluetoothnya. Dan anak buahnya diujung sana langsung bekerja. Menganalisa wajah orang-orang yang keluar dari mobil van berwarna hitam itu.
"Mereka pembunuh bayaran dari kelompok Black Gold."
"Sial!"
Arka berjalan masuk ke sebuah ruangan di mana meeting tengah berlangsung.
"Sorry everyone. Meeting is over."
Arka langsung menarik tangan Rea yang seketika meronta. Wanita itu protes karena Arka tiba-tiba menyeretnya keluar dari sana. Keluar lewat dapur. Tanpa kata.
"Lepas! Ngapain kamu tarik tangan saya?"
Rea menepis tangan Arka. Hingga pria itu berbalik dan melihat ke arah Rea. Berapa tahun dia mencari, dan kini sosok itu ada di hadapannya. Ada senyum di bibir Arka yang samar dilihat Rea. Hingga satu suara di telinga Arka membuyarkan semuanya. Pria itu kembali menarik tangan Rea. Bersamaan dengan langkah kaki yang terdengar mendekat, menuju ke arah mereka.
Arka langsung membuka pintu mobil. Memaksa Rea masuk. Wanita itu sempat menolak. Dia takut salah paham kembali terjadi. Tapi Arka dengan cepat mendorong tubuh Rea. Pintu terkunci dan mobil mulai melaju kencang ke arah jalan raya. Di belakang mereka, mobil van tadi mengikuti.
Arka mulai terlihat cemas. Beberapa kali pria itu menoleh ke belakang. Sementara di sampingnya, Rea terus saja mengoceh tanpa henti. "Bisa diem gak sih?!"
"Hei...hei....aku masih pengen hidup. Jangan cepat-cepat dong bawa mobilnya."
Ucapan Rea jelas penuh ketakutan. Belum lagi dia mengingat ada kehidupan lain di rahimnya. Tidak....tidak....dia tidak mau mati konyol bersama Arka.
Satu tembakan dan mobil Arka oleng. Tapi pria itu masih bisa mengendalikan mobilnya. Suara decitan rem cukup membuat telinga Rea sakit. Nafas Rea terengah dengan wajah memucat. Shock. "Kamu tidak apa-apa?"
Rea tidak merespon pertanyaan Arka. Wanita itu masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Tanpa sadar dia mengusap perutnya. Berharap yang di dalam sana baik-baik saja.
"Aku perlu bantuan dan terus hubungi Andra atau Alex atau Jack."
Suara tegas Arka memenuhi telinga Rea. Pria itu mengambil Glock dari dashboard di depan Rea. Rea jelas panik. Untuk apa bawa pistol segala.
"Mau apa?"
"Kita harus lari atau mereka akan menangkap kita."
__ADS_1
Arka menunjuk ke arah mobil van yang terlihat mendekat di kejauhan.
"Memangnya salahku apa lagi?"
Protes Rea lirih. Wanita itu lelah, dia sudah capek diuber-uber orang yang tidak dia kenal. Dan berakhir di rumah sakit. Arka menarik tangan Rea, memaksa wanita itu setengah berlari bersamanya. Keduanya menyusuri jalanan bersemak, di tepi jalan raya.
"Bagaimana? Sudah berhasil menghubungi mereka?"
Arka berkata setengah berbisik, keduanya tengah mengendap-ngendap di balik tembok sebuah bangunan terbengkalai. Gudang kosong lagi, Rea sungguh benci harus mengingat semua itu. "Pergi aja yuk. Kenapa sih harus ke sini lagi?"
Arka memberi kode diam pada Rea. Di sisi lain, sebanyak sepuluh orang mulai masuk ke tempat itu. "Sepuluh orang? Kalau sendiri aku bisa menghajar mereka sampai habis. Tapi ada Rea dan bayinya." Gumam Arka.
"Aku bisa taekwondo."
Sambar Rea cepat.
"Bukan itu masalahnya, kamu tidak bisa bergerak bebas sekarang. Babymu bagaimana?"
Rea diam seketika. Iya, ada bayi dalam kandungannya. Mark sudah memperingatkan untuk mengurangi aktivitas taekwondo sementara ini. "Lalu sekarang bagaimana? Eh tunggu mereka siapa sih? Kenapa ngejar kamu?"
Arka menatap tajam pada Rea. Wanita itu langsung memundurkan tubuhnya. "Apa?"
"Apa kamu memang cerewet seperti itu?"
Rea mendengus geram mendengar pertanyaan Arka. Detik berikutnya wanita itu kembali mengoceh. Hingga Arka langsung menyimpulkan kalau Rea memang cerewet.
"Bbuuaahhh, apaaan sih?"
Rea menepis tangan Arka yang membungkam mulutnya. "Berisik!"
"Perempuan memang berisik. Baru tahu ya. Memang istrimu tidak berisik?"
Mendengar kata istri, wajah Arka langsung mengeras. Yang terjadi hari ini adalah ulah Sonya. Jadi setelah ini berakhir, dia benar-benar akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Dia berani mengusik Rea, maka tanggung akibatnya."
***
__ADS_1
Up lagi readers...
***