
Ken mondar mandir di ruang kantornya. Dokumen dari Andra tergeletak di atas meja kantornya. Andra adalah pemilik Sky Airlines? Tidak mungkin. Pria itu pasti sedang mengerjainya. Pewaris Sky Airlines memang belum pernah dipublikasikan ke publik. Jadi bisa saja Andra membohonginya.
Daniar memang belum pernah memberitahu siapa pewarisnya, sebab Andra belum ingin melakukannya. Dan selama ini belum pernah ada orang yang berhasil membobol data Daniar, karena Jack yang melindunginya.
Ken dibuat puyeng dengan kenyataan kalau Andra adalah pemilik Sky Airlines. Jika hal itu benar, maka memang Andra lebih bisa diandalkan soal pengiriman berlian Nana.
"Kenapa kamu?"
Tanya Sammy, papa Ken. Pria itu mendudukkan diri di depan sang putra yang tampak kacau. Tanpa menjawab, Ken mendorong sebuah dokumen ke hadapan Sammy. Pria itu langsung membacanya. Dan reaksi Sammy sungguh di luar dugaan. Sammy tersenyum, membuat Ken bingung.
"Kok malah senyum. Itu benar atau tidak?"
"Menurutmu?"
Sammy bertanya balik.
"Tidak tahu. Papa tahu sendiri, kalau Andra tidak pernah sedikitpun bersinggungan dengan Sky Airlines. Bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai pemilknya."
"Siapa bilang? Dia tidak pernah bersinggungan dengan Sky Airlines. Dia yang selalu berada di sisi Daniar Haga Sky, setiap ada pertemuan. Andra menyamarkan diri menjadi asisten Daniar. Dia pewaris berkedok asisten."
Ken terdiam mendapati kenyataan kalau yang dikatakan sang papa benar. Dari semua berita yang pernah dia baca. Memang Daniar selalu didampingi Andra. Pria itu selalu menjadi orang di balik layar. Dengan seorang pengawal yang selalu menjaga Andra, Jack.
"Jadi menurut Papa, Andra benar-benar pemilik Sky Airlines?"
"Lebih dari 50%, papa bisa mengatakan iya."
Ken langsung menyandarkan kepalanya di kursi. Pria 19 tahun itu jelas merasa frustrasi. Jika begitu, dari segi manapun, dia tidak akan menang melawan Andra. Terlebih untuk urusan Rea. Terlihat sekali jika dua orang itu saling mencintai.
"Mau dengar saran Papa?"
Ken memandang wajah papanya. Dia jadi teringat papa Nana yang memarahi temannya itu. Papanya tidak pernah melakukan itu. Meski dia berkali-kali membuat jengkel sang papa dengan ulahnya, yang kerap bergonta ganti wanita.
"Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta dan mencintai. Tapi harus diingat. Kalau kamu benar-benar mencintai dia, kamu harus mengutamakan kebahagiaannya. Jika kamu mencintainya, tapi dia tidak bahagia denganmu, maka lepaskan. Biarkan dia mendapatkan hal itu dari orang lain. Jangan memaksakan perasaan cintamu padanya. Yang ada kamu hanya akan menyakitinya. Mencintai tidak harus memiliki."
Ken langsung lemas mendengar saran sang papa. Sammy sendiri tahu, patah hati memang menyakitkan. Tapi dia harus menyadarkan sang putra, kalau Rea tidak mencintainya. Maka Ken harus melepaskannya.
"Kamu masih bisa berteman dengannya bukan. Toh dia sudah menolakmu dari awal, betul tidak."
Ken mengangguk pelan. Dari cerita Ken, Sammy bisa menyimpulkan kalau Rea gadis yang baik. Dia tidak mau memberikan harapan palsu pada pria yang memang tidak dia cinta. Rea tegas. Berani menolak cinta Ken. Meski itu menyakitkan, tapi itu lebih baik.
"Anggap saja kau sedang kena batunya. Berapa banyak wanita yang kau permainkan. Giliran kau bertemu yang benar-benar membuatmu jatuh cinta. Dia menolakmu."
__ADS_1
Kekeh Sammy meledek Ken. Sementara Ken, hanya bisa mendengus geram mendengar ledekan sang papa.
"Berbisnislah yang benar. Toh kita tetap untung juga."
Sammy berlalu dari hadapan Ken. Membiarkan sang putra mengambil keputusannya sendiri.
*
*
Nana menghempaskan dirinya di kasur. Gadis itu baru saja pulang dari ruko mereka. Hari ini dia dan Rea mulai bersih-bersih. Tubuhnya terasa sangat lelah. Tapi bunyi mobil yang masuk ke halaman rumahnya menarik perhatiannya.
Gadis itu berlari ke arah jendela. Nana tersenyum, melihat mobil Shane masuk ke parkiran rumahnya. Tak berapa lama, sang kakak keluar dari mobil pria itu.
Nana merasa senang melihat Dena yang tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Shane yang langsung putar balik. Dena bercerita, kalau dia sangat nyaman saat bersama Shane. Menurut Dena, Shane pria yang perhatian dan manis.
Dia tidak tahu saja kelakuan absurb pria itu kalau sedang gibah dengan gengnya. Ditambah Nicky dan Bryan, obrolan mereka bisa jadi terdengar mengerikan di telinga kaum perempuan. Apalagi Bryan,pria itu benar-benar tidak punya filter kalau bicara.
Setelah Dena masuk ke rumah. Nana malah termenung. Dia teringat pertemuannya dengan Mark beberapa waktu lalu. Saat itu dia dijemput pria bermata biru itu setelah selesai kuliah. Dengan dalih ingin berjalan-jalan. Pria itu membawa Nana ke sebuah tempat. Sebuah villa tepatnya. Mark bilang itu miliknya.
Di sana mereka menikmati waktu berdua. Meski belum ada kata pacaran di antara keduanya. Tapi hubungan mereka semakin dekat saja tiap hari. Mark, pria matang dan dewasa. Dia tahu cara membuat Nana merasa dihargai. Membuat Nana benar-benar merasa diperlukan kehadirannya. Dicintai sekaligus disayangi.
Gadis itu perlahan menyentuh bibirnya. Dua kali Mark mencium bibir Nana. Kalau yang pertama hanya berupa kecupan singkat. Tapi yang kemarin, tidak. Pria itu membuktikan kalau dirinya benar-benar sudah sembuh dari g**.
"Besok lagi, ogah aku pergi denganmu. Kamu menakutkan."
Protes Nana. Mark terkekeh mendengar omelan Nana.
"Oh, ayolah Na. Aku tidak merasakan hal ini sudah lama."
Pria itu menghimpit tubuh Nana. Bermaksud mencium gadis itu lagi. Tapi Nana dengan cepat mendorong tubuh Mark menjauh.
"Nggak. Pokoknya tidak mau!"
Nana menjauh dari Mark. Pria itu lagi-lagi tersenyum. Ternyata Nana tidak mudah tergoda dengan rayuannya. Itu bagus.
"Kalau begitu, ayo menikah."
Pria itu mengungkung tubuh Nana, di meja makan.
"Nikah kalau cuma nafsu doang, Nana gak mau!"
__ADS_1
Tolak Nana tegas. Gadis itu melipat tangannya didepan dada. Memandang wajah Mark yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
"Aku merasakan keduanya padamu. Cinta dan juga gairah. Hanya padamu aku bisa merasakan itu."
"Tidak percaya!"
Nana menepis tangan Mark yang memenjarakan dirinya. "Na, dengarkan aku. Jika aku tidak bisa memilikimu secara halus. Aku bisa menggunakan cara kasar."
Nana menghentikan langkahnya. Lalu melihat ke arah Mark.
"Lakukan! Kamu ingin meniduriku? Membuatku hamil agar aku mau menikah denganmu. Lakukan, tapi kau tidak akan mendapatkan diriku. Aku akan menggugurkannya lalu aku akan pergi darimu sejauh mungkin. Hingga kau tidak bisa menemukan."
Mark terkesiap mendengar jawaban tegas Nana.
"Maka dari itu menikahlah denganku."
Mark jelas tidak bisa melepaskan Nana. Hanya gadis itu yang bisa membuatnya turn on. Cinta...dia baru merasakan setengahnya.
Nana kembali menyentuh bibirnya. Menikah? Dia belum berpikir untuk menikah. Dia ingin membangun kariernya dulu. Setidaknya untuk saat ini. Mark akan dia pikirkan nanti.
*
*
Terdengar suara pintu mobil yang dibanting begitu keras. Nicky dan Gina, hanya melihat Rea yang langsung naik ke kamarnya. Terlihat marah.
Tak berselang lama. Satu mobil ikut masuk di belakang mobil Rea. Lantas masuklah Andra dengan wajah paniknya. Pria itu hendak naik ke lantai dua ketika dia mendengar Nicky bertanya.
"Ada apa? Apa kalian bertengkar?"
Nicky dan Gina cukup heran jika Andra dan Rea bisa bertengkar. Sebab keduanya selalu bisa menahan emosi masing-masing. Jarang mereka sampai meluapkan kemarahan dengan bertengkar atau sejenisnya.
"Ada yang buat dia salah paham sama aku. Sudah, aku mau naik dulu. Oohh passwordnya apa?"
Andra tahu kalau Rea pasti akan mengunci pintu kamarnya. Jadi dia tanya password kamar Rea.
"Ulang tahunmu."
Andra mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Gina. Pria itu langsung naik ke kamar sang tunangan. Sepanjang jalan menuju kamar Rea. Andra sibuk mengumpat. Memaki wanita owner kantor sebelah yang memang mengincarnya dari dulu.
"Dasar ulet bulu. Kegatelan!"
__ADS_1
****