Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Mimpikah Aku?


__ADS_3

Morfin adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan intensitas sedang hingga parah, seperti nyeri pada kanker atau serangan jantung. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan suntik. Morfin bekerja dengan cara menghambat sinyal saraf nyeri ke otak. Batas maksimal penggunaan morfin pada orang dewasa adalah 30 mg.


Sumber alodokter.com



Kredit Google.com


Mark langsung menghambur masuk ke rumah sakit, diikuti Andra dengan Rea dalam gendongannya. Sementara Bryan masih terdiam di depan kemudinya. Berusaha menetralkan jantungnya yang habis balapan di dunia nyata.


"Periksa keadaan semua organ vitalnya," perintah Mark begitu Andra membaringkan tubuh Rea di brankar pasien, ruang tindakan UGD. Pria itu mundur dengan langkah lemas. Melihat bagaimana sigapnya paramedis itu bergerak sesuai intruksi Mark.


"Pupil memerah, saturasi....oksigen!" seorang perawat berteriak pada temannya yang sigap memasang masker oksigen lalu menyambungkan ke selang oksigen tepat di atas kepala Rea.


"Detak jantung......"


"Keluarlah dulu," pinta Mark. Pria itu terlihat shock dengan semua keributan di depan matanya. "Tapi......." Andra ingin menolak permintaan Mark.


"Percayalah padaku, aku akan lakukan yang terbaik untuknya. Dia adikku," kata Mark tegas. Ceklek, Andra membeku di tempatnya kala pintu di hadapannya tertutup. Sempat dia lihat wajah Rea yang terlihat lemah. Tanpa sadar Andra terisak. Dia merasa lemah melihat keadaan Rea. Dia tidak berdaya. Ingin sekali dia memeluk tubuh ringkih itu, tapi dia tidak bisa.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?" suara Matt membuyarkan isak lirih Andra. "Dia mencoba membuat Rea overdosis menggunakan morfin," jawab Andra lirih. Andra yang biasanya dingin, kaku dan tidak berperasaan, kini terlihat sebaliknya. Di belakang Matt, Gina dan Berta langsung menutup mulutnya, tidak percaya dengan ucapan Andra.


"Mark mencoba menyelamatkannya," Andra kembali berucap dengan sesak terasa di dadanya. "Akan kubuat dia membayar untuk ini," Matt berlalu dari hadapan Andra diikuti Carl, sang ajudan.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Gina. Andra menggeleng pelan, tidak tahu. Berta terhuyung hampir jatuh jika Gina tidak menahannya. "Ma, jangan begini. Mama harus kuat. Rea butuh kita. Kau juga, kenapa kau jadi cengeng begini. Baru tahu rasanya lihat orang yang kamu sayang terluka. Makanya berbaik hatilah sedikit padanya," judes Gina.


Gina kesal dengan cara Andra memberi perhatian pada Rea. Andra tertunduk lesu. Dia takut, sangat takut jika hal buruk terjadi pada Rea. Bryan menyusul masuk tak berapa lama. Tanpa kata, pria itu langsung duduk di samping Andra yang menatap lurus pada pintu di hadapan mereka. Menit berlalu terasa begitu lama bagi Andra. Tiap waktu berjalan serasa mencekik nafas Andra. Panggilan Rea di telinganya seolah kata perpisahan untuknya. "Tidak, kau tidak boleh pergi. Aku bahkan belum puas mengerjaimu," batin Andra.


Hingga ketika pintu itu terbuka, Andralah yang pertama berlari menyongsong Mark. "Bagaimana?" tanya Andra tidak sabaran. "Kita harus menunggu. Dia kritis," kata Mark sendu. Andra memundurkan langkah, kata-kata Mark seolah mimpi buruk untuknya.


"Dia benar-benar berniat membuat Rea overdosis, aku, kami harus menguras lambungnya. Dokter Lambert mengatakan masih ada sisa morfin yang belum dicerna dilambungnya. 3 jam, 80 ml, belum semua morfin diproses lambung. Jadi kita bisa mencegah morfin itu diserap oleh tubuh Rea. Masalahnya, begitu kau keluar tingkat oksigen Rea menurun drastis. Dia mengalami sesak nafas, hampir mengalami henti jantung."


Semua orang menghela nafas, mendengar penjelasan Mark. "Aku akan membuat perhitungan dengannya," Andra berucap penuh emosi. Dia baru saja akan bangun dari duduknya, ketika Bryan menahannya. "Jangan gegabah, sudah ada Nicky dan Shane, juga papanya," cegah Bryan. Pria itu cukup paham dengan sifat Andra. Dia bisa mengamuk di kantor polisi dengan keadaannya sekarang.


"Siapa dia?" Berta yang bertanya. Andra menarik nafasnya. "Janson Scot, dia adalah bandar narkoba dan mucikari untuk VIP dan kalangan atas. Dia menjalankan bisnisnya dengan kedok usaha perhotelan dan cafe. Polisi berkali-kali gagal membekuknya. Hingga tercetuslah ide untuk mem-brangkrutkan usahanya. Dia tentu marah ketika auditku menyatakan dia gulung tikar. Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Karena itulah dia dendam padaku," jelas Andra.


"Dan dia ingin menggunakan Rea untuk membalaskan dendamnya, licik sekali. Padahal hubungan kalian seperti senior dan junior," ledek Bryan. Andra mendelik mendengar perkataan Bryan.


Dua jam, tiga jam, empat jam berlalu, hingga malam menjemput datang. Mark akhirnya keluar dari ruangan Rea dengan langkah gontai, lelah jelas terlihat di wajah pria itu. Mereka semua langsung berdiri menyambut Mark. Bersamaan dengan kedatangan Nicky dan juga Shane dengan Terry mengekor di belakang mereka.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya semua orang hampir bersamaan. "Dia mulai stabil. Dia...sudah lepas dari masa kritisnya," jawab Mark sembari tersenyum. Semua orang jelas bisa menarik nafasnya lega. "Tapi dia akan terus dipantau dalam beberapa jam ke depan. Saranku, kalian beristirahat saja dulu. Akan banyak yang mengawasi Rea," lanjut Mark.


"Aku akan tetap di sini. Kalian istirahat dulu. Nanti kita bisa gantian," kata Andra. Dia tidak mau meninggalkan Rea sendirian. "Istirahatlah, percayalah kalau dia bangun besok, kalian akan memerlukan tenaga ekstra untuk menghandle Rea," jawab Mark sendu.


"Maksudmu?" tanya Nicky. "Ada kemungkinan dia akan menjadi pecandu morfin," balas Mark. "Astaga!" Semua orang berucap panik. Terlebih Andra. Pria itu mengepalkan dua tangannya erat. "Pecandu morfin?" bisik Andra lirih.


Nicky dengan cepat bertanya, apa ada cara untuk menyembuhkannya. Dan Mark menjawab ada. Pria itu menjelaskan, ini masih sekedar perkiraan. Untuk lebih jelasnya, mereka harus menunggu Rea bangun.


Malam itu Andra menginap di rumah sakit. Bersama Mark dia berjaga di depan ruang UGD. Hampir tengah malam, ketika kehebohan kembali terjadi. Rea mengalami sesak nafas, mengakibatkan kadar oksigennya turun dengan cepat. Beruntung Mark dan yang lainnya bisa mengatasinya. Hingga gadis itu bisa kembali stabil. Menjelang pagi, setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan, Rea bisa dipindahkan ke ruang perawatan.


Sebuah ruang perawatan kelas wahid sudah Matt persiapkan. Andra menatap wajah Rea dengan pandangan berkaca-kaca. Setelah gadis itu selesai dipindahkan. "Istirahatlah di sana, kau tidak tidur sama sekali," Mark menunjuk sebuah sofa di sisi ruangan.


Penampilan Andra benar-benar kacau, wajah kusut, rambut berantakan, kemeja yang sudah tidak karuan, dengan lengan dia gulung asal sampai siku. Bahkan pria itu menolak makan dari kemarin siang.


Sebuah paperbag dihantarkan oleh pelayan dari rumah Andra, sebab kedua orang tuanya sedang berada di luar kota. Selesai mandi, barulah Andra terlihat lebih segar. Hatinya sedikit lega, mendengar keadaan Rea sudah lebih stabil. Mark benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.


Andra baru saja akan mengabari Gina, ketika sebuah suara memanggilnya. "Kak.....," Andra menoleh ke sumber suara. Mata pria itu berbinar bahagia, melihat mata bulat bening Rea menatap ke arahnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Andra antusias.

__ADS_1


Rea berkaca-kaca melihat Andra yang memeluk dirinya. "Mimpikah aku?"


******


__ADS_2