
Wajah Rea terlihat sendu, gadis itu melambaikan tangannya pada keluarganya yang baru menghilang di pintu check in bandara di kotanya.
Matt libur sehari, dan dia memutuskan untuk menjenguk putri bungsunya. Bersama Gina dan Berta tentunya. Meski cuma sehari, tapi itu cukup mengobati rindunya pada papa, mama dan kakaknya.
"Sudah?" Alex bertanya, setelah melihat Rea berjalan ke arahnya. Gadis itu mengangguk pelan.
"Antarkan aku ke panti ya." Pinta Rea. Giliran Alex yang mengangguk.
Saat mereka dalam perjalanan, Andra menghubunginya. Rea reflek menjauhkan ponselnya. Kala mendengar teriakan Andra dari seberang.
"Kenapa kau tidak memberitahu kalau rumah sakit itu rumah sakit angkatan darat."
Sembur Andra tapi basa-basi. Rea mengerutkan dahinya. Kenapa Andra bertanya.
"Memangnya kenapa?"
Dan serentetan keberatan keluar dari bibir pria itu. Tapi inti dari semua keluhan Andra adalah dia tidak mau Rea dekat-dekat dengan tentara yang bertugas di rumah sakit itu.
Alex langsung tertawa mendengar teriakan Andra. "Bisa cemburu juga pak akuntan itu."
Andra langsung terdiam ketika Rea menanggapi santai kecemburuannya. Menurut Rea, dia memang menyukai Andra tapi kalau sikap Andra begitu dia ogah punya calon suami yang posesifnya kebangetan. Hidup serasa di penjara.
"Jangan macam-macam di sana." Pesan Andra pada akhirnya.
Andra menutup panggilannya dengan marah. Sementara Rea dengan santai meletakkan ponsel ke dashboard mobil Alex.
"Santai amat, Non." Alex bertanya heran.
"Kenapa? Aku harus takut menghadapi dia. Gaklah, dia yang maksa aku buat tunangan sama dia. Jadi dia harus terima konsekuensinya. Dia mau putus, gak masalah. Malah kebeneran, aku bisa kuliah dengan tenang," sahut Rea enteng.
"Kamu gak cinta sama Andra?"
Rea berpikir sejenak. Cinta? Dia belum tahu pasti soal rasa itu.
"70%."
"Waahh, pak akuntan kena batunya. Dia harus berjuang lagi." Kekeh Alex. Mobil mereka masuk ke area panti asuhan.
Kedatangan Rea disambut antusias oleh anak-anak panti yang sudah seperti saudaranya. Juga Bu Rani yang kini berkaca-kaca, melihat Rea hidup lebih baik. Wanita itu sangat bahagia dan bersyukur.
Dan sore itu, dihabiskan oleh Rea untuk bercengkerama dengan anak-anak panti. Sembari mengenang masa lalunya.
Mobil Alex kembali melesat pergi setelah menurunkan barang untuk anak-anak panti. Stafnya tiba-tiba menghubungi, ada masalah dengan kantornya.
*****
"Jadi lusa, kalian akan mulai magang. Tempat masih sama. Team masih sama."
Bu Mariyani selaku wali kelas Rea, membagikan surat jalan untuk Rea dan teman-temannya.
__ADS_1
"Wahhh, gue bakal rindu sama kalian semua. Terutama elu, gue rindu gak bisa ngerjain elu." Teriak Clara sambil menimpuk punggung Rea dengan gumpalan kertas.
"Bisa diam gak elu!" desis Nana.
"Wihhh temannya sugar baby marah. Takut ciiiinnn."
Clara and gengnya tertawa terbahak-bahak. Sementara Rea memilih diam. Tanpa yang lain tahu, sejak tadi kuping Rea disumpal dengan earphone. Dia mulai melakukan itu, untuk menghindari mendengar ocehan Clara yang hanya memancing kemarahannya.
"Rea, nanti pulang ke mangga dua ya. Sejak kamu pulang kita belum pernah ke sana."
Rea langsung mengangguk antusias mendengar ajakan Nana. "Aku yang traktir kali ini."
Nana langsung mengembangkan senyumnya.
*
*
Rea melompat turun dari motor Nana. Meski gadis itu cukup kesulitan. Karena Nana benar-benar mendapatkan motor impiannya. Mereka keluar dari sekolah paling belakang. Biasa karena mereka harus adu mulut dengan Clara terlebih dulu.
"Heran deh, tu anak gak ada bosennya gangguin kamu. Tiap hari ada aja bahannya buat ngomporin kamu." Gerutu Nana. Begitu mereka masuk ke warung mie ayam, dengan nama tempat mie ayam Mangga Dua. Sebab di depan warung itu tumbuh dua pohon mangga yang sengaja ditanam sebagai peneduh.
"Biarin aja. Asal gak merusak, gak melukai. Aku tidak masalah."
"Merusaklah, merusak pemandangan. Melukai, lama-lama gendang telingaku bisa luka dengar kecemprengan suara dia."
Rea terkekeh mendengar penuturan Nana. Ketika tengah menunggu pesanan mereka datang. Ken tiba-tiba saja masuk lalu duduk begitu saja di samping Rea.
Nana membuat gerakan orang muntah. Anak pak Somat ini pedenya benar-benar luar biasa. Nana membatin. Dilihatnya sang sahabat tampak acuh dengan kehadiran Ken. Tidak merasa terganggu atau terusik.
Ken pun ikut memesan. Dan ketika pesanan mereka datang. Rea menatap semangkok mie ayam itu dengan mata berkaca-kaca. Dulu dia harus mengumpulkan uang jajannya kalau ingin makan mie yang harganya tidak sampai dua puluh ribu itu. Atau kalau tidak, Nana yang akan mentraktirnya.
"Gak usah ditangisin. Dulu kamu memang gak mampu beli ini. Tapi sekarang kalau kamu mau, kamu bisa beli tempat ini. Enteng."
Rea tersenyum, mengusap matanya. Lalu mulai menyantap mie-nya. Mengabaikan tatapan kepo dari Ken. "Rasanya masih sama, seperti empat bulan yang lalu."
Tepat saat itu, seorang gadis, memakai seragam sama dengan Rea. Menerobos masuk warung itu.
"Ooohhh jadi elu, yang sudah ngerebut Ken dari gue. Dasar cewek gak tahu diri!" maki gadis itu.
"Elu apa-apaan sih Ta. Bukannya gue bilang kalau kita putus!" Ken menjawab keras.
"Gue gak terima elu putusin gara-gara cewek panti ini!"
"Nita!"
Dua orang mantan itu saling debat, sementara Nana dan Rea saling pandang. Keduanya tampak asyik melahap mie mereka. Mengabaikan pertengkaran Ken dan Nita. Hingga ketika suara Nita makin meninggi. Rea mulai jengah. Terlebih pengunjung lain mulai tidak nyaman dengan kelakuan Ken dan Nita.
"Stop! Rea berkata cukup keras dan tegas. Hingga Ken dan Nita langsung diam. Melihat ke arah Rea yang terlihat tenang, namun auranya mulai membuat takut Nita.
__ADS_1
"Kalau elu ke sini cuma mau bertengkar, keluar sana! Gue mau makan! Bertengkar sana di tepi jalan. Biar gak ada yang keganggu sama ulah kalian!"
Ucapan Rea benar-benar membuat Nita tercengang. Rea yang biasanya diam, ternyata menyeramkan jika marah.
"Ganggu orang makan aja!"Gerutu Nana. Setelah melihat Nita keluar dari tempat itu sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Gue makin suka deh ama lu, Re. Ganas tapi cantik." Puji Ken tanpa sungkan.
"Gombal mukiyo!" Celetuk Nana. Sementara Rea buat tidak tahu dengan ucapan Ken.
"Kenapa elu gak ikutan pergi?" Usir Nana.
"Kan pacar gue belum selesai makan."
Ken menjawab kalem. "Dasar anak pak Somat."
"Eh bokap gue namanya Sammy bukan Somat." Protes Ken.
"Bodo!"
"Btw, gue bakal sama kangen elu deh Re, kalau elu magang nanti."
"Anjiiirrrr, anak pak Somat bener-bener deh."
"Sammy bukan Somat!"
*
*
Rea dan Nana melongo melihat kamar kos yang akan mereka tempati selama sebulan ini. Sebuah kamar kos, yang terbilang mewah. Terletak persis di seberang jalan rumah sakit yang menjadi tempat magang mereka.
"Kak, ini gak berlebihan? Cuma sebulan doang."
"Ini aja aku sudah kena omel sama papamu. Katanya kurang bagus. Waktunya mepet, dan aku cuma bisa nyari ini."
Nana malah sudah berguling di atas ranjang queen size kamar sementara mereka.
Alex memasukkan satu koper kecil milik Rea dan Nana. "Pindah saja ya," pinta Rea.
"Ayo pindah ke rumahku kalau begitu. Biar aku digantung sama papamu atau tunanganmu. Please nurut aja ya. Aku puyeng kalo disuruh nyari lagi." Giliran Alex yang merengek.
"Emang rumahmu mana?" Nana bertanya dari atas kasurnya.
"Lima belas menit dari sini." Jawab Alex singkat. Masih melihat ke arah Rea.
Pria itu kadang tak habis pikir. Rea ini terlalu sederhana untuk jadi putri Gubernur dan pengusaha Matt Aherne. Sekaligus tunangan Deandra Sky. Tapi disitulah kelebihan Rea.
Hingga anggukan kepala Rea membuat Alex menarik nafasnya lega. Satu tugas selesai dia kerjakan.
__ADS_1
***