Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Jatuh Cinta Beda Kasta


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Rea kembali menatap sendu, saat punggung Andra menghilang di pintu keberangkatan dalam negeri. Andra memeluk erat Rea sebelum pergi. Jelas sekali kalau Andra enggan berpisah dengan Rea. Tapi mau bagaimana lagi, esok Andra sudah mulai ngantor lagi. Dia mengatakan kalau dia benar-benar sibuk belakangan. Karena itu dia minta maaf kalau jarang menghubungi Rea.


Meski pada kenyataannya, Andra tak pernah lupa menghubunginya, walau hanya sebuah pesan. Sudut bibir Rea melengkung ketika mengingat moment manis saat mereka menghabiskan waktu seharian ini berdua.


Nonton film di laptop. Tidur sambil berpelukan. Mereka sempat jalan keluar sebentar, cari makan sebelum pria itu pulang. Semua terasa indah bagi Rea. Walau dia tidak suka mulut Andra yang mulai tidak karuan kalau bicara. Pria itu suka berpikiran mesum saat bersamanya.


Kata Gina itu wajar. Andra sudah dewasa, hal itu sudah biasa baginya. Rea juga sudah masuk kategori dewasa. Mencari tahu soal hal itu tidak masalah. Asal Rea tahu batasannya.


Gina juga meyakini kalau Andra hanya sekedar bicara tanpa berani mewujudkan ucapannya. Dia cukup kuat dalam hal mengontrol diri. Tapi itu saat bersama wanita lain. Saat bersama Rea, Gina tidak menjamin.


Sang kakak pernah bercerita kalau Andra beberapa kali hampir menjadi korban penjebakan oleh klien yang tidak puas hati dengan hasil kerjanya. Mereka menyuruh beberapa wanita bayaran untuk menggoda Andra tapi Andra sama sekali tidak tergoda. Entah bagaimana dia bisa mengatasi godaan wanita seksi itu.


"Tapi kamu harus hati-hati saat berdua dengan Andra. Dia berbahaya kalau sudah bersama orang yang dia cinta."


Rea merengut teringat pesan Gina. Iyalah, orang Andra sering sekali main sosor saat bersama dirinya. Pria itu beralasan, "Aku sangat menyukai bibirmu. Bikin nagih, gak mau berhenti."


"Mau pulang?" Alex bertanya ketika mereka sudah keluar dari area bandara. Rea berpikir sejenak. Lantas meminta Alex berhenti di kios buah dan cemilan.


"Banyak amat, Non." Seloroh Alex melihat Rea banyak membeli buah dan cemilan.


"Buat persediaan." Cengir Rea seraya menyerahkan sebuah kresek besar pada Alex. Pria itu menaikkan satu alisnya, bertanya.


"Bagianmu. Bilang salam dari Rea."


Alex mengembangkan senyumnya. Dia tahu ini untuk siapa, siapa lagi kalau bukan untuk ibunya.


"Dapat rampokan ya?" Goda Alex.


Rea nyengir, sembari menunjukkan selembar kartu platinum yang berada dalam genggamannya.


"Beuuuhhh, black card, platinum. Apa kabar gue?"


"Elu kan tebel di cash. Gue malah kagak punya."


Balas Rea ikut menggunakan elu-gue, kalau Alex memulainya. Alex langsung manyun, memang dia harus punya stock cash tebal. Sebab bosnya ini jarang punya cash. Bahkan untuk beli cilok saja, dia pernah minta pada Alex. Meski setelahnya Andra langsung menggantinya beratus kali lipat.


"Oh ya Kak, akhir minggu ini anterin kita kondangan ya," pinta Rea.


"Di mana?"

__ADS_1


Alex bertanya. Dan Rea menunjukkan undangan dari Fery yang berada di tasnya. Alex mengangguk bisa. Dia tahu tempatnya.


Pukul sembilan malam, Rea sampai di kos-annya dengan Nana yang langsung menghambur keluar menyambutnya. "Beeuuuhhh, yang habis kencan seharian." Ledek Nana.


Rea mengabaikan ejekan Nana. Dua gadis itu melambaikan tangan saat Alex mulai melajukan mobilnya. Meninggalkan Rea dan Nana yang langsung masuk ke rumah.


*


*


"Beuuhhh, yang baru dapat asupan vitamin. Muka secerah mentari pagi."


Shane menyambut kedatangan Andra dengan ledekan. Terang saja Shane mengejek Andra. Pria itu tahu kalau bosnya itu pergi menemui Rea. Sementara Andra hanya diam, enggan menanggapi ledekan Shane.


Wajah pria itu selalu menyunggingkan senyum. Dia teringah kencan seharinya dengan Rea. Andra berkali-kali mengulum senyumnya. Mengingat berapa kali dia mencium Rea, bagaimana rona malu di wajah Rea timbul tiap kali mereka berciuman.


Membayangkan itu, membuat Andra ingin memiliki Rea secepatnya. Pria itu ingin mengikat Rea dalam pernikahanan. Empat tahun lebih dia harus menunggu....terasa lama bagi Andra.


Senyum Andra memudar ketika Dion, salah satu stafnya masuk dengan wajah cemas.


"Ada apa?" Shane yang bertanya. Rupanya pria itu belum keluar dari ruangannya.


"Ada masalah dengan audit untuk PT AB Group. Mereka menuduh kita memanipulasi hasil auditnya. Mereka tidak terima, dan sekarang sedang melayangkan gugatan pada kantor kita."


Andra kemudian memeriksa hasil audit untuk PT AB Group. Diaudit oleh Stacey, stafnya itu baru lulus tahun ini. Tapi Andra sudah melakukan double check dan hasilnya sudah benar. Kenapa ada masalah.


"Stacey di mana?" Andra bertanya. Ada beberapa poin yang harus dia tanyakan pada stafnya itu.


"Itu dia, dia mengajukan cuti sejak kemarin, sehari setelah kita mengirim hasil audit kita ke sana."


Andra dan Shane saling berpandangan. Ada yang tidak beres dengan masalah ini.


*


*


Sementara itu, Rea dan Nana minggu ini dipinjam oleh bagian koperasi kepegawaian rumah sakit itu. Akhir minggu ini, akan diadakan rapat anggota tahunan. Rea dan Nana diminta untuk membantu di sana. Jelas minggu ini akan jadi minggu yang sibuk untuk mereka.


Pak Bambang selaku pemimpin koperasj, pria kurus tinggi, dengan kumis lebatnya. Sekilas wajahnya terlihat menakutkan padahal aslinya dia lawak sekali. Bersama dengan bu Jiah dan mbah Cristine.


Mereka senang sekali ketika Rea dan Nana kembali magang di sana. "Tolong ya laporannya diduluin."


Pak Bambang berkata, sembari meletakkan sebuah map di depan Rea. Gadis itu meraihnya, membacanya sekilas lalu mulai mengerjakannya. Sementara Nana mengerjakan laporan lainnya. Sedang yang lain sibuk menghitung uang yang baru mereka ambil dari bank. Tabungan para nasabah koperasi dan hasil bagi saham yang akan dibagikan pada seluruh anggota.

__ADS_1


Seharian itu, Rea nyaris tidak beralih dari tempat duduknya. Dia bahkan tidak tahu kalau Danu sejak tadi memperhatikannya dari pintu belakang koperasi itu.


"Ambil makan siangmu. Nanti sakit."


Suara itu langsung membuat Rea mengangkat wajahnya. Dia sedikit terkejut melihat Danu ada di depannya. Ditambah sebuah tupperware sudah berada di hadapannya.


"Apa ini?" tanya Rea.


"Siomaynya bang Jeky."


Rea mengulas senyum tipisnya. Bagaimana Danu bisa tahu kalau dia menyukai siomay bang Jeky yang suka mangkal di depan kos-annya.



Kredit Pinterest.com


"Terima kasih."


Rea mulai memakan siomaynya. Dia memang cukup kelaparan, kelamaan nunggu Nana yang keluar dengan bu Jiah.


"Ke tempat Mas Fery sama siapa?" tanya Danu.


Rea lagi-lagi terkejut melihat Danu masih ada di sana. Dia pikir pria itu sudah pergi.


"Kita rencana mau pergi sama mbak Kun, sama Wahyu. Kita bisa bareng kalau kamu mau. Tunanganmu tidak akan marah kan kalau kita pergi rame-rame."


Danu berujar sembari terus memandang Rea yang nampak berpikir.


"Jangan pergi dengan pria lain, kecuali Alex. Atau aku akan memindahkanmu ke sekolah di sini."


Ancaman Andra benar-benar telak, dia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Andra. Tanggung amat, harus pindah sekolah yang tinggal nunggu ujian saja.


"Maaf sebelumnya, tapi dia yang akan mengantarku."


Danu menautkan dua alisnya.


"Alex, dia yang datang dengan tunanganku. Dia yang akan mengantarku dan Nana."


Danu kembali menelan kekecewaannya. Bahkan untuk sekedar mencuri waktu saja, dia tidak punya kesempatan.


Begini amat jatuh cinta beda kasta. Gumam Danu dalam hati.


****

__ADS_1


__ADS_2