
Andra mengusap wajahnya kasar. Satu laporan dari Jack membuat kepalanya bertambah pusing.
"Janson Scott berhasil melarikan diri dari penjara."
Beberapa kali pria itu menghembuskan nafas kasar. Dia benar-benar cemas bukan kepalang. Keselamatan Rea sedang terancam.
"Mulai sekarang jangan biarkan Rea berkeliaran sendirian."
Hanya satu itu yang kini bisa dilakukan Andra. Dia tidak bisa tenang sebelum Janson kembali ditangkap. Apa yang bisa dia lakukan untuk menjamin keselamatan Rea ya.
Sementara itu di tempat lain. Rea tampak berlari dari kejaran beberapa pria. Salahnya keluar rumah sendirian berjalan kaki. Bermaksud pergi ke kedai es krim di dekat rumahnya sambil mencari udara segar. Gadis itu malah bertemu gerombolan preman yang kebetulan mangkal di dekat kedai es krim.
Nafas Rea tersengal setelah berlari menghindari kejaran para preman itu. Dia hampir mencapai komplek rumahnya ketika seorang dari preman itu berhasil mencekal jaket Rea. Menarik tubuh Rea menjauh dari gerbang kompleknya.
"Mau kemana cantik?"
"Gak ke mana-mana. Pengen pulang aja."
Detik berikutnya, preman yang mencekal Rea berteriak ketika Rea menendang perut pria itu tanpa ampun.
"Sial ni cewek bisa beladiri."
Sahut yang lain. Tak berapa lama, baku hantam pun terjadi. Dengan sabuk hitam yang sudah Rea miliki. Gadis itu terlihat tangguh saat berhadapan dengan preman-preman itu. Tapi itu tidak bertahan lama, perbedaan gender juga kalah jumlah. Lama-lama tenaga Rea terkuras juga. Satu tendangan berhasil menjatuhkan Rea.
Gadis itu tersungkur di aspal jalanan yang sepi. Komplek rumah Rea memang terkenal sepi. Apalagi itu diluar gerbang.
"Haii segitu doang kemampuanmu. Dahlah mending kamu ikut sama kita-kita. Daripada kami hajar di sini. Mending kami hajar di kasur."
Ucapan pria itu mendapat sorakan dari teman lainnya. Mereka mulai mengelilingi Rea yang terlihat lelah.
"Mau kemana sayang?"
Rea bergidik ngeri mendengar ucapan kepala preman itu. Detik berikutnya Rea menubruk tubuh seorang preman itu lalu berlari menjauh. Preman-preman itu sontak mengejar Rea.
"Mati aku!"
Gerutu Rea dalam hati. Gerbang rumahnya sudah di depan mata. Rea berteriak memanggil satpam rumahnya. Tapi sepertinya si satpam tidak mendengar. Hingga binar bahagia terlihat jelas di wajah Rea. Kala melihat Nicky dan.....Andra yang berdiri di depan gerbang sembari berkacak pinggang. Seolah menunggu sesuatu.
"Kak....aduh....!"
Rea jatuh tersungkur, tersandung kakinya sendiri.
"Mau kemana kau?!"
"Kakak tolong!"
Andra dan Nicky langsung menoleh ke sumber suara. Mata keduanya melotot melihat Rea dicekal dua orang pria. Bersama satpam rumah Rea. Ketiganya tanpa basa basi langsung menghajar para preman itu.
*
__ADS_1
*
"Alamak pelan dikit napa. Sakit Kak."
Rea mendengus geram. Ketika Andra dengan sengaja menekan luka lecet di lutut gadis itu dengan kuat.
"Siapa suruh jalan sendirian. Gak bisa suruh nunggu bentar aja."
Salak Andra. Sebenarnya pria itu yang akan mengantar Rea. Tapi karena macet melanda, alhasil dia terlambat dan Rea yang tidak sabaran, memutuskan berangkat sendiri.
"Nurut Re, sekarang banyak preman berkeliaran. Walau cuma ke kedai depan doang. Suruh orang anterin."
Gina berucap sembari mengompres wajah Nicky yang kena pukul. Andra menghempaskan diri di sebelah Rea. Pihak kepolisian belum bisa menangkap Janson. Satu hal yang membuat kepala Andra semakin puyeng. Pria itu langsung memijat pelipisnya melihat kaki Rea yang lecet karena berkali-kali beradu dengan aspal.
"Masak iya aku harus memberinya pengawal bayangan."
Batin Andra melihat ke arah Nicky, Gina dan Rea bergantian.
*
*
Outlet Nana dan Rea sudah dibuka sejak sebulan lalu. Kini dua gadis itu bertambah sibuk. Karena setelah selesai kuliah, keduanya akan berkutat di ruko. Nana dengan proses produksi dan Rea dengan cash flow.
Dua orang pegawai dipekerjakan oleh Nana. Dan selama sebulan ini semuanya berjalan lancar. Outlet Nana tidak banyak mendisplay produknya. Hanya beberapa sample yang di pajang di rak. Selebihnya akan dikeluarkan jika ada yang berminat membelinya.
Nana menjalankan bisnisnya berdasarkan pesanan. Biasanya dia akan membuat satu design perhiasan lalu memproduksinya. Lantas memajang di situs web penjualan mereka. Custom order juga Nana terima. Jadi dia siap mewujudkan setiap design dari para customernya.
"Na, Terry bilang ada dua orang temannya yang pengen dibuatkan gelang seperti punya Naina."
"Benarkah?"
Nana bertanya dengan wajah sumringah. Naina bayi mungil berusia setahun. Putri Bryan dan Terry. Nana sebenarnya menghadiahkan gelang itu pada Naina. Karena itu design pertama Nana untuk anak-anak. Tapi belakangan ini memang banyak yang bertanya di web toko mereka. Apa Nana bisa membuatkan gelang seperti yang dipakai Naina.
Sebab Terry pernah memposting foto Naina yang memakai gelang buatan Nana. Dan Terry menyertakan toko Nana dalam postingannya. Ya langsung banyaklah yang komen. Secara Terry model terkenal. Sedang Bryan pemilik agensi besar.
Kedua gadis itu tersenyum, melihat respon positif dari para pengguna media sosial. Nana membuat perhiasannya menggunakan batu zircon berkualitas tinggi. Juga swarovski yang Nana impor dari Austria. Kecuali kalau ada yang menginginkan menggunakan batu tertentu. Nana akan mengusahakannya. Dan di balik itu semua, ada Ken yang pusing mengurusnya.
Meninggalkan Rea dan Nana yang mulai kerepotan dengan bisnis barunya. Di tempat lain, tepatnya sebuah rumah yang cukup tersembunyi letaknya. Terjadi aksi pukul memukul antara Brad dan Janson.
Ya, yang ditemui Brad di klub waktu itu adalah sang kakak, Janson yang berhasil melarikan diri dari penjara. Uang Brad, Janson gunakan untuk menyewa sebuah rumah dengan nama Stacey sebagai penjaminnya.
Dua pria itu saling pukul pada awalnya, tapi beberapa waktu terakhir. Jansonlah yang terus memukuli Brad.
Brugh,
Tubuh Brad jatuh terkulai tak berdaya di lantai ruang tamu rumah itu. Sementara Stacey hanya melihat pemandangan itu sembari duduk meminum minumannya.
"Katakan lagi! Katakan kalau kau jatuh cinta pada gadis itu dan melupakan tujuan awal kita untuk menggunakan dia dalam misi balas dendam kita!"
__ADS_1
Janson berteriak pada sang adik. Janson tidak peduli dengan luka lebam dan memar di wajah Brad juga sekujur tubuh pria itu.
"Katakan!"
Raung Janson. Pria itu sungguh tidak terima kalau sang adik berbalik melawannya.
"Apa kau ingat apa yang sudah akuntan itu lakukan padaku? Dia membuatku bangkrut. Dia membuatku kehilangan semua hasil jerih payahku selama sepuluh tahu. Apa kau tahu?"
"Tapi itu perbuatan Andra! Tidak ada hubungannya dengan Rea!"
Brad balik berteriak.
"Tentu saja berhubungan. Dia tunangan Andra. Dia harus ikut bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh tunangannya. Dia harus ikut menderita."
"Janson cukup! Tidakkah cukup bagimu membuatnya hampir overdosis 1,5 tahun yang lalu. Dia hampir mati. Kritis berhari-hari...."
"Nyatanya dia masih hidup. Bahkan semakin cantik dan seksi. Kau mengakuinya kan."
Mendengar perkataan Janson, Bradley naik pitam. Dia tahu isi kepala sang kakak. Janson adalah pemain wanita sejak lama. Bukannya sembuh, pria itu semakin menjadi.
"Jangan pernah menyentuh Rea. Atau aku tidak segan akan melukaimu!" Ancam Bradley.
"Oohh, aku akan memberikannya padamu setelah aku puas menikmatinya."
"Brengsek!"
Satu pukulan Bradley layangkan ke arah Janson, tapi pria itu sigap menghindar.
"Aaarrgghhhh."
Bradley berteriak ketika Janson memiting tangannya.
"Jangan mencampuri urusanku! Kau payah! Tidak berguna! Bagaimana bisa kau jatuh hati pada musuhmu?"
"Dia bukan musuhmu. Dia hanya berada di waktu dan tempat yang salah."
"Aarrrgghhh."
Bradley kembali berteriak ketika Janson semakin menguatkan pitingannya.
"Mulai sekarang, jangan pernah mencampuri urusanku lagi. Menjauh dari gadis itu atau kau akan berhadapan denganku."
Janson mendorong tubuh Bradley hingga membentur tembok. Hingga pria itu jatuh terduduk.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."
"Lihat bagaimana aku akan membuatnya merintih. Memohon ampun padaku."
"Kau brengsek, Janson!"
__ADS_1
Maki Bradley terang-terangan pada sang kakak. Sedang Janson hanya menyeringai mendengar makian sang adik. Pria dengan potongan rambut cepat itu terlihat menyeramkan.
****