
Lima hari di rumah sakit, akhirnya Rea diperbolehkan pulang. Tentu setelah melewati serangkaian pemeriksaan dari dokter Lambert. Pria itu benar-benar ingin memastikan kalau hanya sesak nafas yang menjadi efek samping dari morfin yang disuntikkan ke tubuh Rea. Dokter Lambert juga memastikan kalau tubuh Rea juga tidak kecanduan zat adiktif itu.
Bisa dibayangkan bagaimana senangnya Rea bisa pulang ke rumah. Terlebih begitu dia masuk ke rumah, dia disambut sebuah foto keluarga, di mana dirinya ada di sana. "Welcome home, my dear," kata Matt menyambut kepulangan putri tercinta. Gadis itu menghambur masuk ke pelukan sang papa. Matt sendiri menyempatkan diri menyambut kepulangan Rea, sebab selama Rea di rawat, pria itu nyaris tidak bisa menengok.
"Terima kasih, Pa," kata Rea ditengah isak tangisnya.
"Anything for you, my dear," balas Matt, mencium lembut puncak kepala sang putri. Pria itu juga bahagia bisa memiliki Rea sebagai putri bungsunya. Meski sampai sekarang, sang putri belum mau dikenalkan ke publik.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di kasurnya. Dia jelas merindukan kamarnya. Tak lama ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari Andra membuatnya mengerutkan dahinya. "Isshhh apaan sih, kenapa pesannya dia jadi aneh begini," Rea melempar ponselnya begitu membaca pesan dari Andra.
Tapi detik berikutnya, Rea meraih ponselnya kembali. Menghubungi nomor Nana, memberitahu kalau ada kemungkinan dia akan kembali ke sana. Sebuah teriakan antusias langsung terdengar di telinga Rea, hingga gadis itu terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tapi kamu harus kuat, Clara pasti ngebully kamu lagi. Plus di sini tidak seperti dulu lagi. Pak Munawar sudah pensiun. Kepsek yang sekarang satu server sama Clara. Kamu tahu seragam kita ganti semua, padahal kita kan tinggal berapa bulan lagi lulus. Mubazir gak tu kita disuruh beli seragam baru," cedocos Nana dari ujung sana.
Rea mengepalkan tangannya, "Aku harus bisa. Aku harus kuat," tekad Rea.
******
Malam menjelang, Rea mengerutkan dahinya melihat semua datang untuk makan malam hari itu. Bahkan papa dan mama Andra juga ikut datang. Gadis itu segera berlari masuk kembali ke kamarnya begitu melihat banyak orang di lantai bawah. Mengingat dia hanya memakai hot pants dan kaos saja.
"Kenapa Kakak tidak bilang kalau banyak orang di bawah," gerutu Rea tanpa melihat siapa yang masuk ke kamarnya. Gadis itu sibuk membuka lemari di walk in closetnya, mencari pakaian yang sekiranya pantas dia pakai.
__ADS_1
"Bukankah sudah kubilang untuk berpakaian yang benar, meski kau sedang di kamarmu sendiri,"
Deg,
Rea terpaku di tempatnya. Itu bukan suara Gina, sang kakak, tapi Andra. Gadis itu berbalik, dan melihat Andra berdiri, bersandar di pintu walk in closetnya. Tengah menelisik ke arah tubuhnya. Mata pria itu menyorot tajam padanya. Rea seketika bersembunyi di balik pintu lemari.
"Ngapain Kakak ada di situ?" tanya Rea gugup. Hot pantsnya mengekspose hampir keseluruhan paha mulusnya. Bukannya menjawab, Andra malah mendekat ke arahnya. Deg...deg....deg....
Jantung Rea seperti genderang perang yang dipukul bertalu-talu. "Kau ini sengaja atau bagaimana ha?" tanya Andra. Rea semakin merapatkan dirinya ke lemari. Menghindari tatapan tajam Andra. "A....aku tidak tahu kalau ada banyak orang," beeuuhhh Rea nyaris tidak bisa bersuara di tengah udara di paru-parunya yang seperti tersedot habis, kala Andra berdiri tepat di hadapannya.
Apalagi pandangan Andra senantiasa menukik tajam padanya. Rea memejamkan matanya, saat tangan Andra terulur melewati dirinya. "Pakai ini," kata Andra, menyerahkan sebuah gaun berwarna kuning lembut pada Rea. Andra berlalu keluar dari sana setelah Rea menerima gaun pilihannya.
Tanpa dia sadari, Andra belum sepenuhnya keluar dari sana. Pria itu kembali menelan salivanya, melihat bagaimana seksi dan mulusnya tubuh bagian atas adik Gina itu. Apalagi dada Rea begitu menggoda di balik pakaian dalam berwarna maroon yang dia pakai.
"Busyet dah ini anak, umur 19 tahun, tapi bodi 22 tahun, seksi gila," batin Andra. Lantas benar-benar berlalu dari sana. Kelamaan di sana, Andra jelas bisa kehilangan kendali diri. Bahaya nanti.
"Mana dia?" tanya Gina.
"Ganti baju," jawab Andra berusaha menyembunyikan wajah merahnya. Gina menyipitkan matanya. "Kau tidak melakukan apapun padanya kan?" selidik wanita itu. Semua langsung beralih memandang Andra. Mereka semua masih berada di ruang keluarga. Sedang kedua orang tua mereka berada di ruang kerja Matt.
"Astaga Gina. Gue belum sempat ngapa-ngapain adik lu," jawab Andra cepat. Gina masih menatap curiga pada Andra, hingga suara langkah Rea mengalihkan pandangan menuduh mereka pada Andra.
__ADS_1
Mata Andra membulat sempurna melihat bagaimana cantiknya Rea malam itu. Gaun itu membalut tubuh Rea dengan sempurna. Tidak terlalu ketat tapi cukup menyiratkan betapa sempurnanya lekuk tubuh pemakai gaun itu. Rambut gadis itu diikat sebagian, menutupi sebagian bahu Rea yang sedikit terlihat.
"Elu gak salah pilih kali ini, An," bisik Bryan padanya. Andra seketika mengembangkan senyumnya. Sementara Rea tersenyum kikuk. Kala Mark menyambut gadis itu untuk duduk di sampingnya.
"Haruskah gue mengadakan seleksi buat siapa saja yang mau meminang adik gue," kata Mark santai. Andra langsung menghunuskan tatapan membunuhnya pada Mark. "Dia milikku, hanya milikku!" Kata itulah yang seolah ingin Andra ucapkan saat melihat Mark yang langsung mengulum senyumnya, melihat reaksi Andra.
"Bucin akuuuttt," seloroh Shane dari seberang meja. Wajah Andra memerah seketika, dia tahu sedang dikerjai oleh teman-temannya. Kesal sekaligus berdebar. Mata Andra tak lekang dari terus menatap Rea. Baru kali ini, pria itu mau mengakui kecantikan adik Gina tersebut. Padahal Rea sama sekali tidak menggubris aksi curi-curi pandang Andra.
Papa dan mama Andra keluar dari ruang kerja Matt dengan wajah sumringah. Katya bahkan langsung memeluk Rea begitu gadis itu mencium tangan orang tua Andra. "Bagaimana?" tanya Andra.
"Disetujui tapi tunggu sampai dia lulus kuliah baru boleh menikah," Daniar menjawab. Andra langsung bersorak kegirangan. Sementara di belakang sana, Rea hanya mengerutkan dahi mendengar perkataan ayah Andra. "Memang ada apa?" tanya Rea kepo.
"Andra mau tunangan," bisik Terry. Deg, jantung Rea seolah berhenti berdetak. Tubuhnya terasa limbung. Ucapan Terry serasa berdengung di telinganya. Rea terkejut atau lebih tepatnya kecewa dengan berita itu. Gadis itu hanya diam membisu selama makan malam berlangsung. Senyum diwajahnya hilang entah kemana. Selesai makan malam, gadis itu permisi naik ke kamarnya lebih dulu. Beralasan tidak enak badan. Rea memilih kabur dari tempat itu.
"Kalau sampai Rea kenapa-kenapa awas kamu!" ancam Gina.
"Duhhh, nasib....nasib..punya kakak ipar galaknya minta ampun," gerutu Andra. Gina mendelik mendengar ucapan Andra.
"Calon ipar durjana lu!" maki Gina.
******
__ADS_1