Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Berkhianat


__ADS_3

Rea memundurkan langkahnya begitu pintu kamar hotel dibuka oleh Jack. Pria itu dengan mudah mendapat kunci cadangan dari manager hotel. Jika Rea memundurkan langkah, mulut Alex langsung menganga lebar.


Sementara Jack langsung maju, memisahkan dua manusia yang tengah bercumbu di depan mereka. Rea berbalik, lantas berlari keluar dari sana.


"Alex...kejar dia!"


Alex berlari mengejar Rea setelah suara Jack membuyarkan kekagetannya. Rea berlari menuju lift, tapi liftnya ternyata tidak kunjung terbuka. Gadis itu masuk ke tangga darurat. Dia ingin menangis sekeras mungkin. Dia ingin berteriak sekencang mungkin.


Di belakangnya, tampak Alex yang susah payah mengejar Rea. Heran, Rea begitu cepat menuruni tangga.


"Isshh, cewek kalau marah sama sedih gak ada lawan."


Alex menggerutu. Padahal dia terbiasa ngegym tapi fisiknya langsung drop begitu mengejar Rea. Sementara yang dikejar masih fit menuruni tangga, hingga di lantai 6, tubuh Rea ambruk. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Alex. Pria yang sudah terbiasa menjadi bodyguard Rea itu, seketika berusaha membangunkan Rea.


Tak kunjung membuka mata. Alex mulai menggendong Rea. Tapi baru saja membuka pintu keluar tangga darurat. Rea membuka matanya.


"Turun...."


"Re... nanti kamu jatuh."


Rea menepis pegangan tangan Alex, memaksa dirinya untuk berjalan tanpa bantuan Alex. Di pikiran Rea, kembali terngiang adegan Andra yang tengah bercumbu dengan wanita lain.


Ya Tuhan, dada Rea terasa sesak. Berkali-kali gadis itu memukul dadanya sendiri. Sakit hati Rea. Katakanlah ini jebakan, tapi hati Rea tetap terasa sakit. Dia merasa dikhianati, dia merasa....entahlah, rasa apa yang mewakili hàtinya saat ini.


"Re, hentikan itu. Kau bisa melukai dirimu sendiri."


Alex mencegah tangan Rea yang ingin memukul dadanya lagi. Pria itu tahu rasa sakit, kecewa, marah, sedih menjadi satu.


"Lepas!"


"Jangan menyakiti dirimu sendiri!"


Tangis Rea pecah mendengar perkataan Alex. Detik berikutnya pria itu merengkuh Rea dalam pelukannya.


"Kita akan cari tahu kenapa dia melakukannya."


Kata Alex, masih mendekap Rea yang terisak dalam pelukannya.


Di lantai atas.


Andra berteriak ketika Jack mencelupkan kepalanya ke bathup yang sudah diisi air. Andra langsung gelapan. Meski begitu, kesadaran pria itu seketika kembali.


"Apa kau gila?"


"Kau yang gila. Apa maksudmu bercumbu dengan wanita lain, jika kau lusa menikah!"


Jack berteriak balik pada Andra. Dia marah luar biasa. Pria itu berjalan mondar mandir di hadapan Andra sembari berkacak pinggang. Sementara Andra tampak terdiam. Berusaha mengumpulkan kembali kepingan memori di kepalanya.


Tak berapa lama, ponsel Jack berbunyi. Pria itu terlihat bicara serius dengan seseorang yang menghubunginya. Andra langsung memandang Jack begitu pria itu menyebut nama Rea.


"Ada apa dengan Rea?"

__ADS_1


"Sekarang aku tanya, apa yang akan Rea lakukan jika dia melihatmu sedang bercumbu dengan wanita lain?"


Andra membulatkan matanya. Dia tidak tahu jika Rea mengetahui apa yang barusan dia lakukan. Jack mengiyakan kalau Rea menangkap basah dirinya bersama wanita lain.


Andra seketika mengumpat, pria itu langsung mengusak rambutnya kasar. Menyambar kemeja yang berserakan di lantai. Sebelum keluar kamar, dia berkata pada seorang boduguardnya, untuk tidak membiarkan wanita itu lolos. Karena dia akan memberikan pelajaran pada wanita itu dengan tangannya sendiri.


Pria itu melangkah keluar, diikuti Jack. Sembari melihat ponselnya. Menunggu kiriman rekaman CCTV dari anak buah Jack.


"Aku tidak akan menyalahkan Rea kalau dia akan berpikir ulang soal pernikahan kalian."


Andra mengepalkan tangannya erat, mendengar perkataan Jack.


Di sisi lain.


Rea langsung masuk ke rumah begitu mobil Alex parkir di halaman kediaman Aherne.


"Rea, sayang kamu sudah pulang?"


"Iya, Ma."


Jawab Rea singkat. Tanpa banyak kata, gadis itu berjalan menuju lantai dua di mana kamarnya. Berta juga menyapa Alex yang ternyata mengantar Rea.


Berta menelisik penampilan Alex yang berantakan. Alex jelas tidak bisa memberitahu Berta apa yang terjadi sebenarnya. Bukannya memberi solusi, yang ada wanita di hadapannya ini malah overthingking dan membuat masalah jadi semakin ruwet.


Saat itulah dia melihat Nicky, keluar dari kamarnya. Setelah permisi pada Berta, Alex pun menemui Nicky. Suami Gina itu langsung mengikuti Alex begitu melihat kode dari Alex. Wajah Nicky berubah merah, menahan marah begitu mendengar cerita Alex.


Meski Alex mengatakan kalau ini bisa jadi sebuah jebakan, tapi tetap saja, Rea yang menyaksikannya bisa salah paham.


"Dia keterlaluan!"


Begitu mereka masuk, dilihatnya Rea yang duduk sembari memeluk lututnya di sudut ruangan. Bahu gadis itu tampak naik turun. Bisa dipastikan jika gadis itu tidak berhenti menangis.


"Re....."


Suara Nicky membuat Rea mendongak. Tanpa kata, pria itu merengkuh tubuh Rea. Hingga tangis gadis itiu semakin kencang. Dalam pelukan kakak iparnya, Rea kembali menangis tersedu.


"Apa salahku, Kak?"


Tanya Rea di sela sedu sedan tangisnya. Nicky tidak menjawab, hanya sebuah usapàn lembut di punggungnya yang Rea rasakan. Rea masih terisak ketika Andra dan Jack menerobos masuk. Hati Andra mencelos melihat betapa berantakannya penampilan Rea.


"Re aku bisa menjelaskan semuanya."


Suara Andra membuat Rea melepaskan diri dari pelukan Andra.


"Apa yang ingin kau jelaskan?"


Tantang Rea, dua bola mata Rea memerah menahan tangis sekaligus amarah. Melihat Andra di depan mata, seketika bayangan Andra tengah berciuman dengan wanita lain dalam keadaan tubuh setengah polos kembali memenuhi benak Rea. Air mata Rea kembali tumpah. Hatinya sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Dadanya kembali sesak.


"Re, dengarkan aku dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tapi aku jamin aku tidak pernah ingin mengkhianatimu."


"Tapi kamu melakukannya......"

__ADS_1


Rea berkata lirih. Gadis itu memundurkan tubuhnya kala Andra mendekat. Gadis itu juga menepis tangan Andra yang ingin menyentuhnya. Dan Rea terus melakukan itu. Menolak sentuhan Andra.


"An, biarkan dia sendiri dulu."


Satu kalimat dari Nicky, menghentikan usaha Andra yang ingin menjelaskan situasinya. Andra menatap nanar pada Rea yang sama sekali tidak ingin melihat Andra. Ada rasa kecewa di hati Andra, karena Rea tidak memberinya kesempatan untuk bisa bicara.


*


*


"Sekarang katakan, apa yang akan kau lalukan jika kau berada di posisi Rea?"


Nicky melempar ponsel Andra setelah melihat rekaman CCTV. Geram, Nicky ingin sekali menghajar Andra saat itu juga. Kini dia tahu bagaimana sakitnya hati Rea. Siapa juga yang tidak kecewa melihat orang yang kita cinta bercumbu dengan wanita lain.


"Aku....aku.....tapi itu sebuah jebakan......"


"Terlepas itu sebuah jebakan atau bukan, kau menikmati kan. Seharusnya kau bisa menolak jika itu sebuah perangkap. Tapi nyatanya tidak. Kau tanpa beban menikmati hal itu."


Potong Nicky cepat. Pria itu mengusak rambutnya kasar.


"Melihat video itu, aku ragu jika kalian hanya sebatas berciuman. Apa kau yakin belum memasukinya?"


Andra menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Nicky. Dia sendiri tidak yakin dengan hal yang satu itu. Kepingan ingatan di kepala Andra belum sepenuhnya terkumpul. Hingga dia belum berani menjamin soal hal itu.


"Lihat? Kau sendiri tidak bisa menjawab....Kau brengsek An."


Kalimat Nicky terasa begitu tajam di telinga Andra.


"Nick....."


Nicky mengangkat tangannya, dia tidak ingin mendengar apapun dari bibir Andra. Pria itu keluar dari ruang kerjanya setelah meminta Jack mengirimkan salinan rekaman video tersebut ke ponselnya.


"Kita akan lihat bagaimana adikku bereaksi pada kejadian ini. Aku sama sekali tidak akan menyalahkan dia, jika dia ingin membatalkan pernikahan kalian."


Andra langsung memandang wajah Nicky yang tak berapa lama keluar dari ruangan itu, setelah mengatakan akan bicara pada sang ayah.


Di sisi lain,


Dua pria saling pandang begitu seseorang melapor pada mereka berdua. Rona wajah marah langsung terlihat di wajah keduanya.


"Kali ini putramu keterlaluan!"


Matt berkata sembari memandang Daniar yang juga melihat ke arahnya. Sorot mata pria itu tidak terbaca. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana saat ini.


"Mari lihat bagaimana putrimu akan menangani ini."


"Jangan menyalahkannya jika dia memilih mundur dari pernikahan ini. Itu kemungkinan terburuknya."


Daniar terdiam. Tapi dia sepertinya setuju dengan perkataan Matt. Siapa juga yang ingin menikah dengan pria yang sudah jelas berkhianat di depan mata.


****

__ADS_1


Jempolnya digoyang jangan lupa...


Ritualnya ditunggu... like, vote, komen....😘😘


__ADS_2