
Setelah beberapa waktu mereka lewati dengan bercanda dan makan. Ngobrol sana, ngobrol sini. Akhirnya sesi untuk teman kantor Fery waktunya habis. Setelah berpamitan pada kedua mempelai. Satu persatu tamu undangan mulai membubarkan diri. Termasuk Rea dan Nana.
Kembali, Alex mengekor di belakang dua gadis itu. Mengabaikan lambaian tangan dari para pria yang mengajaknya untuk ngobrol.
"Aku gak tipe gibah kayak kalian ya."
Gerutu Alex. Sebab selama dia menemani Rea, dia mendengar para pria yang sibuk bergosip seperti wanita. Membicarakan ini dan itu. Persis emak-emak yang belanja di mamang tukang sayur.
"Maklum saja Kak, ini kan di luar dinas. Jadi mereka sedikit bebas." Bela Rea.
"Tapi nggak kayak emak-emak komplek juga kali."
"Kayak mak lu lah."
Sambung Nana dari arah belakang.
"Iisssshhh lu ni..."
"Eh salah ya."
Nana menunjukkan raut wajah menyesal.
"Lu gak salah."
Dan tawa Alex meledak. Sementara Nana langsung menyun dibuatnya. Sedang Rea malah geleng-geleng kepala. Mak sendiri digibahin.
Mobil Alex melandas meninggalkan venue pernikahan Fery. Setelah melambaikan tangan pada mbak Lis dan mbak Kun. Mbak Kun akan menginap di rumah mbak Lis dan besok rencananya mau pulang kampung. Rumah mbak Lis dekat dengan terminal bus.
"Rea, mau ke mana?" Teriak Wahyu dari dalam mobilnya. Mobil keduanya berhenti berdampingan di lampu merah.
Rea yang tengah memainkan ponselnya menoleh ke arah Wahyu dengan Danu yang duduk di samping pria itu.
"Pulang, mungkin."
Jawab Rea ambigu. Alex mengerutkan dahinya. Setelah lampu hijau, Rea berbisik, "Buat mereka kehilangan jejak kita."
Alex menyeringai. Tanpa menjawab, pria itu langsung mencari cara membuat mobil di belakang mereka kehilangan jejak. Ketika lampu di depan mereka kuning, Alex justru menambah kecepatan mobilnya.
Alex tersenyum puas, melihat Wahyu yang memukul kemudi mobilnya, kesal. Selanjutnya pria itu bertanya. Mau pulang atau ke mana. Rea dan Nana bertukar pandang melalui spion tengah.
"Ada rekomendasi tempat hang out yang asyik gak sekitar sini. Masih jam delapan ini. Tanggung kalau pulang lalu tidur."
Alex tersenyum, lalu mulai melajukan kuda besinya menuju arah perbukitan. Setelah beberapa waktu berlalu. Mobil Alex terlihat mendaki, meski begitu pemandangan yang ditawarkan sangat memanjakan mata.
"Wahhh, ada tempat sebagus ini, di sini." Gumam Nana takjub. Gadis itu tampak terpukau dengan view yang disuguhkan di depan matanya.
"Mereka memanggilnya Bukit Bintang. Ini sebenarnya jalan alternatif menuju kabupaten sebelah. Tapi karena viewnya bagus. Banyak yang suka nongki di sini. Lama-kelamaan mulai deh ada yang jualan kopi dan teman-temannya. Jadilah seperti ini."
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Alex menjelaskan lalu keluar dari mobilnya. Menuju bagasi mobilnya. Mengambil dua jas yang langsung diserahkan kepada Rea dan Nana.
"Bau parfum elu."
Ledek Nana.
"Enak aja. Ini baru gue ambil dari laundry tahu."
Protes Alex. Rea menggeleng mendengar dua orang itu selalu saja berdebat kalau bertemu. Rea sedikit merapatkan jas Alex yang membalut tubuh rampingnya. Angin dingin langsung menerpa ketiganya, begitu mereka duduk lesehan di sebuah kios.
Mata Rea dan Nana langsung berbinar terkesima. Melihat pemandangan kota dengan kerlap kerlip lampu yang meneranginya. Sangat cantik.
Seorang pria tampak menyapa Alex. Sepertinya mereka sudah akrab. Terbukti Alex bisa tertawa saat berbincang dengan pria itu.
"Kopi mau?"
Alex bertanya menawarkan. Kedua gadis itu mengangguk. Tak berapa lama, tiga gelas kopi hitam sudah terhidang di depan mereka. Beserta beberapa camilan sebagai teman minum kopi.
"Balik sana. Jangan lirik-lirik, mereka sudah ada yang punya." Usir Alex pada si penjual kopi itu.
"Uuuuu giliran yang bening-bening aja, mau elu embat sendiri."
"Embat-embat.....gue colek ni cewek dikit, bisa-bisa besok gue jadi pengangguran abadi."
"Sering ke sini?" Rea bertanya.
"Kalau lagi suntuk. Aku ke sini, pulang besok."
"Elu ngorok di sini?"
"Bahasanya itu lo. Ganteng-ganteng gini kok nyebutnya ngorok."
Alex protes, hingga perdebatan keduanya kembali terjadi. Semua disebut. Hingga akhirnya Nana mengakhiri aksi debat mereka.
"Ya udah deh. Karena elu imut kayak Hulk, gue sebut lu bobok deh."
"Gue bukan bayi!"
Sudah dikatai Hulk, dikatai bayi pula. Alex kesal bukan main menghadapi Nana.
"Jangan gitu nanti bucin lo. Kayak Andra."
Goda Rea. Dua orang itu saling pandang. Seolah memberi kode, "Gue? Bucin sama elu? No way!"
__ADS_1
Seperti itulah kira-kira arti tatapan keduanya. Detik berikutnya, mereka melengos bersamaan.
Tak lama, ponsel Rea berbunyi. Gadis itu memberi kode diam pada dua temannya yang masih saja ingin gelut omongan.
"Di mana?"
Setelahnya, sebuah perbincangan cukup lama terjadi. Nana mengangkat dagunya. "Siapa?"
Gadis itu bertanya tanpa suara. "Andralah, siapa lagi." Balas Alex lirih.
*
*
Andra menghembuskan nafasnya pelan. Dia cukup lega setelah Rea akan pulang sebentar lagi. Tak lupa, pria itu mengirim pesan pada Alex. Untuk segera membawa Rea pulang.
Pria itu kembali menatap laptopnya. Meski pikirannya melayang pada Rea. Sesaat pria itu tersenyum. Rea jelas mengkhawatirkan dirinya. Gadis itu sibuk bertanya, kenapa tidak menghubunginya. Apa dirinya sakit. Apa ada masalah dengan kantor.
Pertanyaan Rea yang bertubi-tubi dengan nada cemas. Membuat hati Andra berbunga-bunga.
"Aduh Re, elu nanyain kabar gue aja. Gue udah kaya dilempar ke luar angkasa. Gimana kalau elu sampai ngomong, aku cinta kamu An. Beeuuhhh langsung mokat kali gue ya. Saking senangnya gue langsung terbang ke langit ke tujuh."
Gumam Andra konyol. Pria itu sebenarnya sedang pusing tujuh keliling. Dia memang menemukan pria yang indehoy dengan Stacey. Pria yang diduga menjadi otak perusakan reputasi kantornya.
Masalahnya dia tidak bisa menemukan pria brengsek itu di manapun. Bahkan sampai kolong jembatan pun Andra selidiki. Siapa tahu tu orang cosplay jadi gelandangan. Tapi tidak juga Andra temukan.
Sama dengan Jack, pria itu bahkan mencari sambil memaki. Bagaimana tidak mengumpat. Andra mengancam akan memotong rambut sebahunya, jika dia gagal menemukan pria itu.
"Anjiiiirr, apa coba salah rambut gue. Kenapa elu terus yang diserang?"
Jack berkata sembari membelai rambutnya sendiri sayang. Pria itu selalu memanjangkan rambutnya sebahu. Lebih sebahu, dia akan memangkasnya. Alasan Jack simple. Sebahu, biar gampang diikat.
Dua pria, dengan dua gaya berbeda. Berada di tempat berbeda. Tapi dengan misi yang sama. Mencari satu pengacau yang menurut mereka sangat berbahaya.
Tanpa mereka ketahui, pria yang sedang mereka cari tengah berada di sebuah kantor. Kantor dekan lebih tepatnya. Pria itu tengah membereskan kertas ujian dari para mahasiswa yang ikut materi yang dia ajarkan. Ya, pria itu sedang menyamar menjadi dosen.
Setelah semua beres. Dia keluar dari sana. Di luar sudah sepi karena sudah jam sembilan malam. Sebuah mobil hitam telah menunggu di depan lobi. Tanpa kata, pria itu masuk ke dalamnya.
Sang supir langsung melandaskan kuda besi mewah itu ke jalan raya.
"Tempat biasa."
Sang supir mengangguk paham. Pria itu mengusap dagunya pelan. Dia pikir akan berhasil setelah melemparkan bola panas untuk menghancurkan reputasi Andra. Ternyata dugaannya meleset.
Andra masih bisa tersenyum lebar. Meski kantor Andra kehilangan hampir separuh klien mereka. Tidak, pria itu ingin melihat Andra menangis darah karena kehilangan hal yang paling dia cintai. Dan saat ini yang paling Andra cintai adalah profesinya.
"Tidak masalah kalau kali ini rencanaku gagal. Aku masih punya ribuan cara untuk membalas apa yang kau lakukan pada kakakku. Selama itu belum terjadi. Aku akan menjadi musuh dalam selimut."
__ADS_1
Kata pria itu sembari mengusap rambutnya. Di punggung tangan pria itu terlihat tatto berbentuk bulan dan bintang.
*****