
Selama tiga hari, Andra dan Rea mengukir kebersamaan di kota itu. Mengingat di kunjungan berikutnya, kemungkinan mereka tidak akan sempat untuk jalan-jalan. Rencananya, Andra akan menjemput Rea setelah pesta perpisahan Rea diadakan. Dan itu hanya beberapa hari setelah ujian berlangsung. Biasanya pengumuman lulus malah datang belakangan.
Tiga hari itu, setelah pulang sekolah, mereka akan keluar untuk jalan-jalan berdua. Kembali setelah Rea mengeluh lelah atau mengantuk. Hingga tak jarang, gadis itu sudah nyicil merem duluan di mobil.
Mereka pun sering tidur bersama, tapi Andra sama sekali tidak menyentuh Rea. Dia sendiri juga heran. Tidak ada keinginan untuk menyentuh Rea lebih dari sekedar mencium dan ******* bibir pink Rea yang begitu menggoda. Seperti saat ini, dua orang yang tengah dimabuk cinta itu tengah berciuman panas di atas kasur mereka.
Andra yang tidur selalu topless tampak menikmati setiap pagutan bibirnya dengan Rea. Gadis itu tampak semakin lihai setelah tiga hari terbiasa berciuman dengan sang tunangan.
"Kakak sudah."
Rea menepuk dada Andra, menghentikan aksi Andra yang semakin lama semakin membuat Rea menggila. Tubuh gadis itu meremang dengan gelenyar aneh yang merayapi seluruh tubuhnya tiap kali dia dan Andra berciuman.
"Kenapa? Ini enak, Re."
Kata Andra, mengusap lembut bibir Rea dengan jarinya. Keduanya masih bertatapan dengan tubuh Rea berada di atas Andra.
"Aku gak mau bibirku dower atau bangunin yang di bawah sana."
Andra tergelak mendengar jawaban Rea. Ternyata sang tunangan tidak lagi sepolos dulu.
"Kalau yang di bawah bangun ya kamu tinggal nidurin dia."
Rea mendelik mendengar jawaban Andra. Gadis itu lantas menjatuhkan tubuhnya ke samping. Menghindari obrolan yang semakin panas dengan Andra.
"Idiihhh ngambek."
Rea mencebik kesal mendengar ledekan Andra. Dia sudah cukup kesal dengan ledekan sugar baby yang selalu Clara sebutkan untuknya. Terlebih tiga hari ini, yang menjemput dirinya Andra, kalau tidak Shane atau Mark.
Bisa dipastikan kalau hal ini dijadikan Clara sebuah kesempatan untuk membulli dirinya habis-habisan. Dengan perkataan yang membuat telinga dan hati Rea sakit.
"Kenapa? Masih teringat bullian Clara?"
Andra bertanya sebab beberapa waktu ini, Nana yang bercerita tentang kelakuan menyebalkan Clara. Jadi Andra dan yang lainnya tahu, bagaimana tertekannya Rea.
"Bulliannya makin menjadi. Satu sekolah sekarang ngomongin aku. Semua menganggap kalau aku benar-benar sugar baby."
"Apa perlu aku buka identitas kamu yang tunangan aku. Dan mereka kakak kamu."
Rea terdiam. Sebenarnya pihak sekolah sudah tahu siapa Andra dan yang lainnya. Karena itulah, pihak sekolah tidak terlalu menggubris gosip panas yang tengah bergulir di antara siswa sekolahnya. Terlebih sekolah tahu siapa Andra, pria itu bisa membuat sekolah mereka ditutup dalam kedipan mata.
"Malah diam. Re.... kamu gak suka ya jadi tunangan aku?"
Rea yang tadinya berbaring memunggungi Andra kini berbalik menghadap pria itu. Ditatapnya wajah tampan sang tunangan. Tidak suka? Hanya orang gila yang tidak suka bertunangan dengan Andra. Di awal pertunangan iya, Rea tidak suka. Sebab Andra begitu mendadak mengikatnya. Terlebih sikap Andra sebelumnya sangat buruk padanya. Tapi sekarang, tidak Rea pungkiri kalau dia sudah jatuh cinta pada akuntan judes itu.
"Bukannya gitu. Yang tidak tahu status pertunangan kita kan cuma murid-murid yang lain. Kalau sekolahan tahu."
__ADS_1
"Lalu masalahnya?"
Entahlah, Rea sedang berpikir apa yang akan terjadi kalau satu sekolahan tahu dia bertunangan dengan seorang Andra Sky.
"Gak tahu deh. Aku pusing jadinya."
Rea menyusupkan wajahnya ke dada Andra, mencari kehangatan dan kenyamanan yang pria itu tawarkan. Detik berikutnya gadis itu sudah terlelap. Benar-benar *****. Nempel molor. Andra mengusap lembut punggung Rea. Memberi ketenangan lebih pada sang tunangan. Tekanan Rea dari Clara begitu besar di sini.
"Re, kalau kamu ketagihan tidur aku kelonin bagaimana?"
Gumam Andra. Mencium pucuk kepala Rea. Cinta Andra begitu besar pada Rea.
*
*
"Aaawwww."
Rea meringis ketika Clara menyenggol keras lengannya. Bahkan gadis itu sampai membentur tembok. Sementara Clara hanya tersenyum sinis melihat Rea yang meringis kesakitan.
"Sugar baby manja." Desis Clara.
Rea mengepalkan tangannya erat, berusaha tidak terpancing ledekan Clara. Dua hari setelah kepulangan Andra dan yang lainnya ke ibukota. Sebuah kehampaan Rea rasakan. Dia dan Nana jadi sering melamun.
"Dia itu normal gak sih?"
Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari bibir Nana. Gadis itu beberapa kali menyentuh bibirnya. Mark menciumnya sebelum pria itu pulang. Bisa dibayangkan bagaimana shock-nya Nana.
"Dia otewe sembuh. Cuma sama kamu dia bisa ....."
Rea menaikturunkan alisnya. Sedang Nana langsung mengerutkan dahinya. Apa?" begitulah yang Nana tanyakan. Mata gadis itu membulat sempurna ketika Rea membisikkan sesuatu pada Nana.
"Maksudmu sama gue dia bisa...."
Nana membuat kode dengan jarinya. Kode milik Mark yang bisa bangun karenanya. Rea mengangguk. "Anjiirrrrr."
Nana malah mengumpat. Rea pun bertanya, apa Nana tidak menyukai Mark. Nana pun berpikir. Dia memang suka pada Mark sejak mereka bertemu. Hanya saja setelah tahu pria itu belok, dia mengurungkan niatnya suka pada bule itu.
"Dia otewe sembuh. Kakakku sudah lama putus dengan pacar beloknya."
Rea menginfokan. Rea sendiri senang sekali jika kakaknya itu berjodoh dengan temannya. Mereka tidak akan terpisahkan.
"Dia nunggu jawaban gue abis lulus nanti. Kalau iya, dia bakal langsung lamar gue."
Giliran Rea yang membulatkan matanya. Wah kalau Nana mengiyakan, akan tiga pernikahan terjadi setelah dia lulus dan kembali ke ibukota. Sang kakak, Gina dan Nicky juga akan menikah. Seminggu setelah dia pulang. Bryan dan Terry akan mengadakan resepsi pernikahan mereka. Ditambah Nana jika gadis itu setuju dengan pinangan Mark.
__ADS_1
"Pertimbangkan lagi. Hanyq saja, aku bisa menjamin kalau kakakku akan memperlakukanmu dengan baik."
Rea dan Nana saling pandang, lantas tersenyum satu sama lain. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi setidaknya mereka akan bersiap untuk menyambutnya. Apapun itu.
Sebuah tangan menyeret Rea ke sebuah kelas kosong. Gadis itu hampir berteriak, juga memukul orang itu. Hingga mata Rea melotot. Melihat Ken yang berdiri di depannya dengan wajah marah.
"Apa yang kudengar benar?" tanya pemuda itu.
Melihat Ken yang menariknya. Rea langsung mendorong jauh tubuh pemuda itu. Memberi jarak pada dirinya dan tubuh Ken.
"Soal apa?"
Rea balik menatap wajah Ken.
"Kalau kau adalah sugar baby?" Tanya Ken to the point.
Rea memutar matanya jengah. Gosip itu lagi. Dia sudah menulikan telinganya terhadap rumor panas itu. Tapi Ken malah menyudutkannya dengan berita menyebalkan itu.
"Aku tidak perlu menjawabnya kan? Jawabanku tidak akan berguna jika kamu sudah pandangan dan penilaian soal diriku. Jadi percayai apa yang ingin kau percayai. Tidak usah bertanya padaku."
Rea melewati tubuh Ken. Tapi pemuda itu mencekal tangannya.
"Aku punya penilaianku sendiri soal dirimu. Tapi aku perlu jawabanmu."
"Lalu kalau aku jawab iya, apa kau akan percaya."
Untuk membuat Ken menjauhinya, Rea akan menggunakan kesempatan ini. Jawaban Rea membuat Ken memundurkan langkahnya. Terkejut, jelas. Ken pikir kalau Rea akan menyangkalnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rea mengakuinya.
"Bagaimana? Jawabanku merubah pandanganmu atau semakin membuatmu bingung?"
Tantang Rea. Melihat Ken yang mematung di hadapannya. Rea menepis cekalan tangan Ken, lalu berlalu dari hadapan pemuda itu. Baru berjalan dua langkah, Ken menarik tangan Rea. Membuat gadis itu berbalik. Dan "cup" bibir Ken mendarat dengan sempurna di bibir Rea.
Gadis itu berdiri membeku di tempatnya. Sangat shock dengan apa yang Ken lakukan padanya.
*****
Ada yang mau tahu visual Ken,
Kredit Pinterest.com
Kenzo Alexander,
*****
__ADS_1