Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Hadiah Dariku


__ADS_3

Gina dan Nicky jelas terkejut saat melihat Andra, datang menggandeng tangan Rea. Pria itu memakai setelan biru dengan kaos polos putih sebagai innernya, terlihat tenang saat memasuki ruang praktek Steve.



Kredit Pinterest.com


Berbeda dengan Rea. Gadis itu jelas ketakutan. Dia sibuk menundukkan wajahnya. Juga menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Andra. Untuk pertama kalinya, Rea merasa nyaman di dekat Andra. Kata-kata pria itu seolah mampu meyakinkan Rea soal tindakan mereka kali ini.


"Selamat siang semua," sapa Steve. Pria itu melirik ke arah Rea yang berada di belakang Andra. Seulas senyum Steve terbit melihat betapa cantiknya Rea. "Pantas saja trio heboh itu selalu memuji adik Gina itu. Dia cantik, tipe Andra sekali," kekeh Steve dalam hati.


"Kak, pulang saja ya," bisik Rea takut. Andra menoleh sedikit. "Kau tidak mau menang melawannya? Cemen!" desis Andra. Wajah Rea mengeras seketika. Melihat Steve yang tengah bicara pada sang kakak Gina.


"Tidak ada yang sakit dengan hipnoterapi. Tidak ada obat, tidak ada jarum suntik. Apa yang kau takutkan?" tambah Andra. Rea langsung mengeratkan genggamannya pada tangan Andra begitu Steve melihat ke arahnya. Pria itu terlihat ramah di mata Rea.


"Kemarilah," Gina melambaikan tangannya. Andra memberi kode pada Rea untuk mendekat ke arah Gina dan Steve. "Sejak kapan kalian dekat? Biasanya seperti ibu tiri dan anak tiri, kau membulinya," ledek Nicky. Pria itu memakai tabnya untuk bekerja. Andra menarik nafasnya, lantas duduk di samping Nicky. "Baru saja. Sekedar membujuknya. Aku penasaran dengan nama Clara yang selalu dia igaukan," jawab Andra. Matanya tidak lepas dari Rea. Gadis itu terlihat gugup saat bicara pada Steve.


"Mengigau?" tanya Nicky, pria itu menggangguk. Percakapan mereka terhenti ketika Gina mendekat. "Kita akan mulai prosesnya, dia bersedia," wanita itu berkata senang. "Apa yang kau inginkan?" tanya Steve. Rea melihat ke arah Andra, di mana pria itu tengah menatap lurus padanya. "Lawan dia,"


"Berikan aku sugesti agar aku bisa melawannya," jawab Rea. Andra tersenyum tipis mendengar jawaban Rea. "Kita akan lihat, seberapa dalam dia melukaimu, lalu aku akan mulai mensugestimu. Tapi semua tetap tergantung padamu. Jika kau lemah, semua sugestiku tidak akan berguna untukmu," kata Steve sebelum dia memulai sesi hipnoterapi mereka.

__ADS_1


Hipnoterapi adalah tipe terapi yang menggunakan hipnosis, yaitu tindakan memasuki alam bawah sadar seseorang untuk memberikan sugesti tertentu.


Steve mulai masuk ke alam bawah sadar Rea saat gadis itu sudah tertidur. Beberapa pertanyaan mulai Steve ajukan. Dan jawaban Rea membuat keempatnya tercengang.


"Clara Anindita. Apa aku perlu turun tangan untuk menghajarnya?" tanya Nicky geram. Sesi pertama ini Steve hanya mampu mengorek soal apa yang Rea alami. Pria itu belum berani memberikan sugesti pada Rea. "Aku pikir prosesnya akan memakan sedikit waktu. Melihat bagaimana reaksi Rea, kita perlu memberinya waktu untuk menenangkan diri sebelum aku menyiapkan mentalnya untuk melawan Clara. Trauma Rea lumayan parah.Hampir dua tahun dia dibully, dan dia hanya bisa diam. Dia pasti menderita," Steve menutup penjelasannya. Melihat iba ke arah Rea yang masih tidur dengan wajah sembab.


Selama sesi pertama ini, gadis itu tidak berhenti menangis. Andra terpaku, dia tidak menyangka hal seburuk itu terjadi pada Rea. "Dan kau memperparah keadaannya," desis Gina.


"Aku? Memang apa yang kulakukan pada Rea?" Andra menunjuk wajahnya sendiri. Berlagak polos di hadapan mereka semua. Di sudut hati Andra, pria itu merasa bersalah.


*****


"Masih kurang tidur dua jam?" tanya Andra lagi. Sesi pertama hipnoterapi mereka berlangsung dua jam. "Tidur apaan, orang rasanya kayak gak tidur," balas Rea. Masih dengan suara tertahannya. Pria itu, entah setan apa yang merasukinya, setelah keluar dari ruang praktik Steve mengajak Rea ke sebuah mall. Padahal gadis itu mati-matian menolak. Tapi ya namanya Andra, pria dengan sikap sesuka hatinya, memaksa Rea mengikutinya.


"Memang rasanya seperti apa?" Andra kembali bertanya sembari melihat-lihat buku. Mereka tengah berada di toko buku. Andra tidak menyukai buku, tapi dia tahu Rea suka buku. Dan benar saja, ketika Andra menoleh, dilihatnya mata Rea yang berbinar melihat deretan buku yang ada di hadapannya.


"Re........" panggil Andra."Ah...iya...kenapa?" untuk pertama kalinya Rea bisa bersikap wajar saat bersama Andra. "Pilihlah," kata pria itu.


Ha? Rea melongo mendengar perkataan Andra. Dia tidak salah dengar kan? Pria itu tidak sedang gila kan? Bagaimana bisa dia jadi begitu manis? Aahhh Nana, meleyot aku. Rea bersorak dalam hatinya.

__ADS_1


"Malah bengong, Gina bilang kau suka buku. Jadi pilihlah, mumpung aku sedang baik hati," Andra dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali. Rea jelas kelabakan menghadapi sikap Andra yang berubah dengan cepat. "Pilih!" Andra mengulangi perintahnya. Dengan Rea berlari menuju rak buku di sebelah kirinya. Setidaknya dia bisa kabur dari tatapan mata Andra yang ingin menerkamnya.


"Ampunn deh galak amat tu akuntan. Tahu gini aku lebih milih pulang naik taksi deh. Sama dia cuma bikin jantung gak aman," gerutu Rea. Jarinya mulai menyusuri deretaan buku di hadapannya. Hingga berhenti di sebuah buku yang sudah lama dia inginkan, seri Harry Potter karya JK Rowling. Melirik harganya, Rea lantas menarik nafasnya. Dari jauh, Andra bisa melihat tindakan Rea.


"Itu saja? Aku sedang dalam mode malaikat dengan dua sayap lo," kata Andra santai. Mata Rea membola, "Iya, malaikat punya sayap tapi sayapnya hitam. Jadi sama saja dengan iblis," batin Rea sadis.


"Ini saja. Lagian aku bisa beli yang lain pakai kartu dari Papa. Tapi aku tidak bawa," jawab Rea gugup. Dia sendiri lupa kalau punya kartu sakti dari papanya. Melihat wajah Rea, Andra menarik nafasnya. "Berikan dia seri lengkapnya," kata Andra tiba-tiba. Haa? Rea tentu terkejut. "Tidak usah, Kak. Aku bisa beli lain kali......" bantahan Rea tenggelam kala sorot mata Andra kembali menukik tajam padanya. "Mode malaikat sayap hitamnya on," batin Rea.


Hingga akhirnya, Rea hanya bisa mengikuti langkah Andra keluar dari tempat itu, dengan pria itu menenteng bag berisi buku pilihannya. Andra terus berjalan dengan Rea yang mengekor di belakangnya, hingga pria itu tiba-tiba berhenti. "Bugghhhh"....."aduuuuhhh," Rea mengusap keningnya yang menuburuk punggung Andra yang berhenti tiba-tiba.


"Ada yang bisa dibantu?" seorang staf bertanya pada Andra. Pria itu melirik pada Rea yang malah melihat ke arah lain. "Gadis ini tidak tertarik pada perhiasan," batin Andra.


"Berikan tanganmu," pinta Andra. Keduanya sudah berada dalam mobil pria itu. Rea memicingkan mata, memindai wajah Andra. "Oh come on, aku tidak akan melukaimu," Andra menyahut melihat kecurigaan di wajah Rea.


Sedikit ragu, gadis itu mengulurkan tangan kirinya sesuai permintaan Andra. Detik berikutnya sebuah gelang cantik sudah terpasang di pergelangan tangan Rea.


"Apa ini?" tanya Rea, kembali tidak percaya dengan sikap Andra yang bisa berubah dengan cepat layaknya bunglon.


"Hadiah kecil dariku, untukmu," balas Andra. Untuk sesaat hati Andra menghangat melihat wajah cantik Rea.

__ADS_1


****


__ADS_2