Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Firasat


__ADS_3

"Boleh ya, Kak."


Rea menggamit lengan Andra, manja. Sementara si empunya lengan tampak manyun. Meski jari dan matanya tetap fokus pada layar benda persegi di depannya.


"Kak....."


Rea menggoyangkan lengan Andra. Mencoba membujuk sang tunangan. Rea dan Nana akhirnya sepakat untuk memulai bisnis ini berdua. Itu berarti dia harus keluar dari kantor Andra.


Andra sendiri langsung speechless, ketika Rea bercerita akan memulai bisnis dengan Nana. Andra khawatir kalau Rea belum siap menghadapi dunia luar yang begitu kejam. Terlebih soal bisnis.


"Kak...."


Andra menghentikan pergerakan jarinya. Pria itu menghela nafas dalam. Lantas menatap ke arah Rea. Yang kepalanya bersandar di bahunya. Sungguh, dia tidak ingin hal buruk terjadi pada gadis itu. Cukup sekali saja dia serasa ingin mati saat melihat Rea tergolek lemah, setelah Janson membuatnya over dosis.


"Re, kamu tahu kan kalau kamu belum bisa audit sendiri. Kamu belum dapat sertifikasimu."


"Kan auditnya tetap under kak Andra. Lagian kami baru mulai. Laporannya belum seresmi kalau outletnya sudah gedhe. Rea pengen mandiri."


Dua orang itu saling bertatapan. Rea mencoba membujuk Andra. Dan Andra mencoba berpikir. Hening sesaat. Hingga Andra kembali menarik nafasnya.


"Boleh, tapi syaratnya kantornya harus di sebelah."


Putus Andra. Sementara Rea langsung manyun. Kantor Andra letaknya di perkantoran elite. Jarang ada orang lewat, kecuali klien yang berkunjung ke kantor Andra. Selebihnya, Andra dan stafnya yang jemput bola.


"Kak sebelah gak strategis. Rea jualan bukannya buka agen....."


"Kamu mau jualan di depan...ketemu banyak costumer?"


"La kalau kepepet..."


Andra menatap Rea penuh peringatan. Di sini saja, dia selalu wanti-wanti dengan stafnya. Kalau di luar sana. Entahlah. Yang jelas dia hanya khawatir pada keselamatan Rea.


"Nanti kita bicarakan lagi."


Andra kembali menggerakkan jarinya. Meski otaknya tidak lagi bisa fokus seratus persen.


*


*


"Kenapa mukanya kusut begitu?"


Mark tumben berkunjung ke kantor Andra hari itu. Di sana ada Shane dan Alex.

__ADS_1


"Gara-gara pacar elu, ngajakin bisnis Rea, dia manyun gak mau ditinggalin."


Celetuk Alex. Mark mengulum senyumnya. Mendengar Alex menyebut Nana pacarnya. Padahal belum ada pembicaraan apa-apa antara dirinya dan Nana.


"Jangan mengekangnya. Mereka hanya ingin belajar. Mengembangkan diri. Seharusnya kamu bangga, Rea punya keinginan untuk maju. Mandiri. Tidak melulu bersembunyi di ketek papanya."


"Tapi Mark. Aku khawatir dengan lingkungan di luar sana. Keselamatan mereka."


Andra mengungkapkan unek-uneknya.


"Itu resikonya An. Tapi bukankah kita bisa meminimalkan resikonya."


Shane ikut bicara. Dia senang melihat semangat Rea dan Nana. Tidak banyak anak muda yang memiliki tekad dan semangat seperti kedua gadis itu. Kebanyakan anak sekarang lebih suka hidup enak. Ongkang-ongkang kaki. Meminta pada orang tuanya. Untung kalau orang tuanya kaya. Kalau kere bagaimana.


"Apa yang kau takutkan? Rea jelas tipe setia. Ken dan Brad nguber dia. Apa dia pernah oleng ke mereka, nggak kan?"


Alex turut menambahkan. Enam bulan menjaga Rea, pria itu tahu jelas, gadis model apa Rea. Tidak banyak tingkah. Always on her track.


"Aku khawatir soal keselamatannya. Kamu tahu kan berapa kali Jack menggagalkan usaha untuk mencelakai Rea."


"Suruh Jerry dan Devi join bisnis itu. Saat ini hanya cara itu yang bisa kita lakukan untuk menjaga Rea."


Andra terdiam. Memang Jerry dan Devi adalah perisai utama Rea. Devi apalagi, wanita itu berkali-kali menggagalkan upaya Sita untuk membawa Rea masuk ke kantor Brad.


Pada akhirnya mereka tahu kalau Sita adalah kaki tangan Brad, salah satu teman tidur dosen killer itu. Meski Brad tidak pernah lagi meniduri satu siswi pun sejak mengenal Rea. Pria itu perlahan mulai berubah.


"Kau bilang memberinya waktu setahun dan menyuruhnya melakukan apapun sebelum kau mengikatnya. Anggap saja ini pengalaman terakhir sebelum kalian menikah."


"Mark, aku tidak pernah berniat mengekangnya. Dia bebas melakukan apapun yang dia diinginkan setelah kami menikah. Asal tidak melanggar norma pernikahan."


"Masalahnya pemikiran Rea tidak sesimple kamu. Dia pikir akan menjadi ibu rumah tangga yang baik setelah kalian menikah."


Andra mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Mark. Istri, ibu rumah tangga. Ibu dari anak-anaknya. Membayangkan saja, Andra sudah bahagia, bagaimana jika hal itu terwujud nantinya.


"Tapi aku tidak akan memaksa dia full time jadi ibu rumah tangga."


Andra berpikir, dengan karakter Rea, tidak mungkin gadis itu bisa anteng duduk di rumah. Jika iya, bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rea.


"Kalau begitu bicarakan lagi hal itu. Aku pikir kalian belum menemukan titik temu soal masalah ini."


Andra mengangguk pelan. Yang dikatakan ketiga temannya benar. Sepertinya dia perlu bernegosiasi ulang dengan Rea soal hal ini.


Sementara di rumah besar Aherne, Matt tampak serius mendengarkan ucapan Rea. Soal rencana membuat bisnis dengan Nana. Juga soal permintaan Andra. Setelah beberapa waktu pria itu menarik nafasnya. Dia sangat mendukung Rea yang ingin berkembang. Tidak hanya fokus pada satu hal saja.

__ADS_1


Matt lebih terbuka pikirannya. Dia bisa memandang keinginan Rea dari sudut yang berbeda. Cemas, sudah pasti. Tapi bukankah semua hal bisa diantisipasi. Di minimalkàn dampak buruknya. Dan ada ratusan cara untuk mengatasi hal itu.


Untuk permintaan Andra, Matt akan mempertimbangkannya. Meski berat, tapi cepat atau lambat. Rea akan menemukan jodohnya. Dan menurut Matt, Andra pria yang baik. Mengingat selama ini, dia tidak pernah berbuat di luar batas. Pria itu mampu menahan diri.


Gadis itu melompat senang, begitu keluar dari ruang kerja sang papa. Dia sangat bersemangat untuk memulai bisnis barunya. Mengatasi kesulitan dalam berbisnis adalah tantangan tersendiri bagi Rea. Sudah waktunya bagi Rea menerapkan ilmu yang selama ini dia pelajari.


"So...persiapannya akan kita mulai besok."


Rea dan Nana tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba. Pagi mereka harus berhadapan dengan mata kuliah masing-masing. Nana tidak masalah. Tapi Rea, gadis itu manyun tiap kali ada mata kuliahnya si dosen brengsek. Meski Brad tidak lagi mengusik hidupnya. Tapi tatapan pria itu masih sama. Pandangan tajam dengan sejuta arti. Yang Rea sendiri tidak tahu apa.


Seperti sekarang ini. Setelah memberi tugas. Pria hanya duduk sembari menatap lurus pada Rea.



Kredit Pinterest.com


Hingga Ken yang melihat hal itu merasa jengah.


"Bisa gak sih dia gak mantau elu terus?"


Desis Ken, yang kini duduk di samping Rea. Menggantikan tempat Sita yang diusir paksa oleh Ken. Setelah mereka tahu kedok Sita yang ternyata teman tidur Brad.


"Kalau bisa aku hentikan, sudah aku lakukan dari dulu Ken."


Jawab Rea lirih. Gadis itu mencoba tidak memperdulikan aksi Brad yang sebenarnya membuat dirinya gerah. Gerah karena ditatap bak mangsa buruan. Juga gerah mendengar ledekan teman satu kelasnya.


Hampir semua menanyakan, kenapa dia tidak mau menerima cinta Brad. Dosen killer super ganteng, yang jadi idola cewek seantero kampus. Mereka tidak tahu kalau dirinya sudah bertunangan. Padahal cincin bermata biru itu tidak pernah lepas dari jari manis Rea.


"Ada ya yang nyuruh aku buat nerima cinta dia. Dia bilang aku bodoh, tidak mau berpacaran dengan dosen seperti dia."


Gerutu Rea. Saat mereka tengah menikmati makan siang di kantin. "Padahal sudah gue umumin kalau elu pacar gue."


Timpal Ken narsis. "Anjirrr, pede amat lu."


Ken menjulurkan lidahnya, meledek ke arah Jerry. Dua pria itu memang tidak pernah akur. Kecuali untuk urusan Rea.


"Pamor elu kalah sama si Brad Pitt."


Devi terkekeh melihat tampang kesal Ken. Sementara Rea hanya diam sambil membaca pesan dari Nana. Setelah Andra setengah hati mengizinkan Rea untuk berbisnis dengan Nana. Mereka mulai bergerak.


Hari ini Nana ada pertemuan dengan agent yang mengaku bisa mendatangkan batu mulia dari luar negeri. Mereka akan melalukan transaksi, dengan Nana yang ingin memastikan barang yang dia pesan adalah asli. Bukan palsu.


Sejak pagi, perasan Rea tidak jelas. Pesan dari Nana terkirim dua jam lalu. Dan sampai sekarang belum ada pesan lagi. Apakah pertemuan mereka berjalan lancar atau tidak.

__ADS_1


"Kenapa firasatku jadi tidak enak begini?" Batin Rea cemas.


****


__ADS_2