
Rea melemparkan tubuhnya ke kasur empuk di kamarnya. Dia tidak peduli pada Andra yang mengantarnya pulang. Dia sangat lelah. Setelah minggu kemarin dia disibukkan dengan pernikahan sang kakak. Minggu ini dia kembali diribetkan dengan pesta pernikahan Bryan dan Terry.
Gadis itu hampir memejamkan mata ketika dia merasa seseorang menyentuh kakinya. Melepas heels-nya. Rea terkejut, sontak menoleh. Hingga dia melihat Andra yang melakukannya, gadis itu kembali memeluk gulingnya.
Dia pikir akan bersantai sejenak setelah dia lulus. Nyatanya itu tidak bisa dia lakukan. Karena selang beberapa hari Andra sudah mengatur program pembelajaran kisi-kisi untuk masuk ke kampus incarannya.
"Kak, biarin aku tidur ya. Capek banget."
Gumam Rea lirih. Mata Rea terasa sangat berat. Maunya terpejam saja.
"Tidur ya tidur aja, gak ada yang gangguin kamu."
Tidak ada jawaban, karena Rea benar-benar sudah terlelap. Andra menghela nafasnya. Menatap wajah cantik dengan polesan make up natural itu. Detik berikutnya senyum Andra mengembang. Rea semakin pintar membawa diri. Sebuah kecupan Andra tinggalkan sebelum pria itu keluar dari kamar Rea.
"Setidaknya gantilah bajumu dulu." Gumam Andra .
Di lantai bawah, pria itu bertemu Matt. Andra pun ikut duduk di sana. Jarang sekali pria itu ada di rumah.
"Jadi apa rencanamu?"
"Nikahin Rea."
Satu bantal sofa langsung melayang ke wajah Andra yang nyengir.
"Serius ini An."
"Aku juga serius, Om. Ngapain sih pake nunggu dia lulus. Kelamaan."
Matt menghela nafasnya. Sampai Matt menjawab kalau itu bukan keinginanya tapi keinginan Rea. Dia ingin merasa pantas saat bersanding dengan Andra. Lagipula bukankah Andra yang memaksa mengikat Rea, jadi terima saja syarat dari Rea.
Andra seketika manyun mendengar jawaban dari Matt.
"Tapi nanti kalau kebablasan jangan salahin aku, ya."
Bantal kedua kembali menghantam wajah Andra.
"Ayah dan anak kelakuan sama saja. Grusak grusuk. Nggak sabaran."
*
*
Tiga minggu berlalu, tes masuk kampus Rea dimulai. Gadis itu terlihat gugup. Beberapa kali menggigit bibir atau ujung jarinya. Andra yang mengantarnya ke kampus jadi gemas.
"Jangan begitu. Kamu buat aku gemas aja."
__ADS_1
"Nervous, Kak"
Andra terkekeh. Pria itu menjelaskan, ujiannya sama dengan ujian yang biasa Rea kerjakan. Hanya karena vibes-nya ujian masuk. Jadi horornya berlipat-lipat. Padahal kalau keadaan biasa, Rea dengan mudah bisa mengerjakannya. Tapi dengan kondisinya sekarang, bisa dipastikan kalau Rea akan kelabakan menghadapinya.
Pria itu menghentikan mobilnya sebelum masuk ke area kampus. Dilihatnya wajah gugup Rea. Gadis itu tidak sadar kalau Andra menghentikan mobilnya. "Re....."
Rea menoleh ketika Andra memanggilnya. Gadis itu terkesiap kala bibir Andra menyentuh bibirnya. Namun begitu, Rea tidak menolak ciuman Andra. Untuk beberapa waktu keduanya menikmati ciuman itu. Andra bahkan menarik tubuh Rea mendekat. Tangan Rea menahan tubuhnya agar tidak menempel pada tubuh Andra.
"Jangan gugup. Bayangkan ini audit dengan klien killer."
Andra tersenyum tipis, sembari mengusap bibir Rea. Strawberry, Andra sangat menyukainya.
"Kalau aku gagal?"
"Ada ribuan kampus yang mau menerimamu."
Wajah Rea manyun seketika. Sedang Andra tersenyum melihat wajah cemberut sang tunangan. Andra melajukan mobilnya masuk ke area kampus. Pria itu tidak turun, hanya melihat punggung Rea yang semakin menjauh. Pria itu menyentuh pipinya yang sekilas dicium oleh Rea.
"Dia semakin pintar saja." Andra melajukan mobilnya keluar dari sana. Tanpa tahu satu orang tengah mengawasinya.
*
*
Awalnya Rea risih. Tapi lama-lama dia terbiasa. Terlebih dia teringat ucapan sang kakak. "Bertemanlah dengan banyak orang. Karena itu akan membuatmu belajar tentang banyak hal."
Gadis itu mulai mengobrol santai sebelum panggilan masuk ke ruang ujian terdengar. Saling memberi semangat, mereka pun mulai mengikuti ujian itu.
Satu tarikan nafas terdengar. Rea menyelesaikan ujiannya dengan baik. Setidaknya itu menurutnya. Setelah memeriksa kembali jawabannya, gadis itu menekan icon "send" dan tombol "close"
Rea keluar dari ruang ujian. Di luar ruangan di bertemu dengan seorang gadis. Menurut Rea, gadis itu baru saja mengikuti ujian seperti biasanya. Sebuah senyum ramah tersungging di bibir gadis itu, membuat Rea seketika ikut tersenyum. Keduanya berjabat tangan. Lalu mulai berkenalan dan mengobrol.
Gadis itu mengenalkan diri sebagai Sita, pembawaannya yang ramah membuat Rea menyukai Sita. Tak lama keduanya sudah terlihat akrab. Keduanya bergabung dengan yang lain di kantin. Mengobrol sembari mengakrabkan diri satu sama lain. Bertukar nomor ponsel. Tapi Rea tidak bisa melakukan hal itu. Dan teman-teman barunya cukup paham akan hal itu.
Setelah melewati makan siang bersama teman barunya. Rea pamit undur diri karena Alex sudah menjemputnya. Semua temannya saling pandang. Mereka mengira itu pacar Rea.
"Ya kali cewek secantik dia belum ada yang punya. Apalagi dia anak gubernur. Siapa sih yang gak mau pacaran sama dia. Gue juga mau."
Suara sorakan terdengar, merespon ucapan narsis dari cowok itu.
"Lu ngimpi jangan ketinggian napa Jer, jatuh baru tahu rasa lu. Sakit." Timpal yang lain.
Debat itu terus berlanjut. Hingga tanpa mereka sadari, Sita ikut pergi dari sana. Wanita itu menghubungi seseorang melalui ponselnya. Hanya sebentar, setelah itu dia pergi dari sana.
"Jangan bertemu di dalam kampus."
__ADS_1
Satu pesan masuk ke ponsel Sita. Wanita itu tersenyum. Tidak masalah, di luar kampus malah lebih bebas, pikir Sita. Gerak gerik Sita menarik perhatian Ken, pemuda tanggung yang sedari tadi mengikuti Rea. Bermaksud pulang setelah melihat Rea dijemput Alex, Ken justru mendengar pembicaraan Sita tanpa sengaja. Pembicaraan yang membuat kadar kepopers-nya meningkat.
Sepertinya ada yang tidak beres dengan mahasiswi yang satu ini. Pikir Ken lantas pergi dari tempat itu ketika Sita sudah masuk ke mobilnya.
*
*
"Bagaimana ujiannya?"
Andra bertanya setelah dia kembali dari bertemu kliennya. Rea hanya mengedikkan bahunya. Gadis itu tengah menikmati jus alpukat yang dia beli di pinggir jalan. Tentunya setelah merengek pada Alex. Sebab pria itu enggan berpanas-panas ria. Terlebih dia harus ekstra hati-hati saat berada di tempat umum. Resiko saat bersama Rea.
"Nggak pedean amat. Lagian kamu kan biasa mengerjakan laporan keuangan. Bukannya sama saja."
"Bedalah, vibesnya saja berbeda...ujian dan pekerjaan."
"Horor mana?"
"Ya, pekerjaan dong. Ujian gak lulus. Aku tinggal cari kampus lain. Kalau pekerjaanku salah, aku bisa dituntut klien."
"Nah tu tahu. Lagian kenapa harus kuliah di sana segala sih. Kalau kamu bisa kerja menjadi junior auditor di sini kalau kamu mau."
"Kan aku belum memenuhi syarat jadi akuntan."
"Kan kamu under namaku. Sampai kamu memenuhi syarat jadi akuntan, namaku yang tertera sebagai senior auditor, dan kamu juniorku."
"Syarat jadi akuntan."
Rea bergumam pelan hingga Andra menyerahkan Ipadnya. Gadis itu membacanya lirih.
Syarat menjadi akuntan adalah harus lulus matrikulasi common body of knowledge dari Akuntansi, seperti Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Biaya, Auditing, Sistem Informasi, Perpajakan, Hukum Bisnis, Manajemen Keuangan, juga Ekonomi.
"Alamak banyak amir syaratnya. Amir aja cuma satu di kampus."
Rea menepuk kepalanya dengan Ipad Andra. Sementara Andra dan Alex terbahak mendengar keluhan Rea.
****
Bonus buat nyegerin mata 😍😍😍
Up pagi para pembaca, jangan lupa like, komen dan vote-nya. Kembang ma kopi dan temannya eike juga gak nolak he he....
****
__ADS_1