
Menikah, mungkin itu adalah hal terakhir yang ada di wish list Rea. Tapi kenyataannya, sejak sepuluh menit yang lalu, statusnya sudah berubah menjadi seorang istri dari pria yang bernama Deandra Oliver Sky. Pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Pria yang sampai sekarang masih bertahta di hatinya.
Tapi pria itu juga yang sudah menorehkan rasa kecewa di hatinya. Meski Matt dan Nicky sudah menjelaskan kalau semua itu adalah jebakan Stacey, atau Rea mengenalnya sebagai Sita. Rea belum bisa melupakan rasa kecewanya pada Andra.
Bisa Rea rasakan betapa Andra sangat mencintainya, saat pria itu mencium keningnya. Setelah acara tukar cincin, yang untuk sesaat membuat Rea tertegun. Cincin pernikahannya adalah cincin yang sama, yang dibuat oleh Nana.
"Aku mencintaimu, my Re, my baby."
Ucap Andra saat pria itu mencium puncak kepalanya, ketika Rea mencium punggung tangan Andra. Hati Rea berdesir hebat. Sungguh dia ingin membalas ungkapan cinta Andra tapi dia belum bisa melakukannya..
Setelah ijab kabul selesai, para warga menyalami pengantin dadakan itu.
"Tidak masalah digerebek ini. Mereka serasi. Ganteng dan tampan. Apalagi sepertinya yang pria orang tajir."
Celetuk seorang warga yang tengah menikmati satu piring penuh nasi dan teman-temannya. Pria itu tidak sungkan sama sekali. Terlebih warga yang lain juga melakukan hal sama. Andra bahkan sampai mengusap perutnya sendiri. Dia pikir, dia harus ngegym berapa lama untuk melunturkan lemak sebanyak itu. Di sebelahnya, Rea tertawa karena ada Kai di tengah mereka.
"Aunty, kenapa bukan om dosen yang nikah sama Aunty. Kan om dosen yang sering datang ke rumah."
Andra mendelik mendengar ucapan polos Kai yang masih kurang jelas itu. Pria itu langsung melihat Rea, yang tampak tidak terganggu dengan pertanyaan membahayakan Kai.
"Om dosen kan cuma datang ke rumah, kalau Uncle Andra tiap hari ketemu Aunty. Tapi Kai tidak lihat."
Pipi chubby Kai meggembung ketika anak menggemaskan itu membulatkan bibirnya tanda mengerti. Pria kecil itu duduk di pangkuan Rea. Andra tersenyum mendengar jawaban Rea. Terlebih setelahnya, Rea juga menambahkan kalau Kai tidak boleh membicarakan om dosen kalau lagi sama uncle Andra. Nanti uncle tidak suka. Kai kembali manggut-manggut mendengar ucapan Rea.
"Terima kasih."
Cengir Andra, tapi Rea langsung melengos agar pria itu tidak melihat kegugupan di wajah Rea. Dua teman mengajar Rea mendekat, Andra menjauh, masuk ke rumah Rea. Pria itu ingin memberi ruang pada Rea untuk bicara dengan temannya. Sebab besok, dia akan membawa Rea pulang. Tidak ada toleransi lagi, sebab Alex sudah tidak bisa menghandle pekerjaannya.
Begitu masuk, Andra langsung melepas jasnya, menyisakan kemeja putih slim fit. Dia melihat Gina yang tengah mengambil air dari kulkas sembari menggendong Kai yang tengah meminum susunya.
"Kai, sini sama Uncle."
"Gendong."
Rengek Kai, Andra mengangguk. Dan Kai langsung menghambur masuk ke gendongan Andra. Sejatinya Kai dan Andra sering bertemu. Jadi tidak heran jika Kai bisa akrab dengan Uncle.
Satu tangan menggendong Kai dan tangan yang lain menerima uluran minum dari Gina. Selain kepanasan, Gina juga tahu kalau Andra kehausan.
"Jangan memaksanya dulu."
"Aku tahu."
__ADS_1
Andra cukup paham kemana arah pembicaraan Gina. Andra sadar, dia sudah menjebak Rea untuk menikah dengannya, karena itu dia tidak akan meminta haknya untuk sementara ini. Yang terpenting gadis itu sudah menjadi miliknya, meski belum seutuhnya.
Gina berkata, kalau malam ini mereka akan langsung kembali ke ibukota. Sang papa sudah beberapa kali dihubungi Karl, schedule-nya sangat padat. Pun dengan Daniar, pria itu juga akan kembali, membantu Alex yang keteteran mengerjakan pekerjaan Andra.
*
*
Rea menghempaskan tubuhnya di sofa, semua baru saja berangkat. Sebab ternyata ada percepatan keberangkatan. Hingga mereka harus berangkat lebih awal. Lelah jelas terasa di tubuh Rea. Masih mengenakan gaun pengantinnya, Rea malah memejamkan matanya. Sedikit mengabaikan Andra yang tengah bicara pada Jack. Pria itu masuk setelah menerima dua paper bag yang Jack bawa.
"Mandi dulu sana. Baru tidur. Besok kita pulang."
Rea langsung manyun mendengar kata pulang. Padahal Matt dan Daniar sudah mengatakan kalau mereka harus segera pulang.
"Minggu depan."
"Nggak bisa Re, kerjaanku numpuk"
"Kan ada Shane, Alex juga yang lain."
"Mereka gak bisa handle yang ini."
Andra menarik nafasnya, tampaknya Rea belum tahu kalau dia tidak lagi menjadi akuntan.
Andra sedikit berpikir, Rea memang bisa membantu pekerjaannya. Hingga pria itu memutuskan menambah dua hari lagi waktu Rea di desa itu.
*
*
Rea melambaikan tangannya pada anak-anak dan teman gurunya. Anak-anak itu menangis ketika tahu Rea tidak lagi mengajar mereka. Rea pun begitu, dia sangat sedih karena harus berpisah dengan anak didiknya. Enam bulan ini, Rea mampu tersenyum karena anak-anak itu. Di tepi jalan, tampak Andra yang sudah menunggu Rea sembari bersandar pada mobilnya. Memakai kemeja navi dan celana hitam, pria itu terlihat tampan, ditambah kacamata hitam yang nangkring di hidung mancungnya.
"Suaminya bu Rea ganteng banget ya."
Celetuk bu Yani. "Lah wong mbak Rea-nya juga cantik banget kok. Jadi serasi dong."
Bu Yani manggut-manggut mendengar perkataan sang teman. Andra menyimpan ponselnya, lantas membukakan pintu untuk Rea. Wajah gadis itu muram. Tanpa senyum sama sekali.
Hari menjelang malam ketika mobil Andra masuk ke kediaman Sky. Rumah besar bak istana. Rumah yang selanjutnya akan jadi tempat tinggal Rea bersama Andra.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Daniar dan Katya tampak menyambut Andra di depan pintu. Namun sayangnya Rea tertidur dalam gendongan Andra. Hingga keduanya membiarkan Andra dan Rea masuk ke kamar sang putra di lantai tiga.
Andra merebahkan tubuh Rea di ranjang besarnya. Seulas senyum terukir di bibir Andra. Akhirnya Rea menjadi istrinya.
Tengah malam Rea terbangun, dia mengucek matanya, saat dia tidak mengenal tempat di mana dia bangun. Hingga suara Andra mengejutkannya. Memakai kaos polo dan celana pendek membuat pria itu terlihat santai. Meski kacamata yang dipakainya membuatnya terlihat smart.
"Kapan sampai?"
Andra melirik jamnya. Lantas menjawab pertanyaan sang istri. Rea tentu protes kenapa sang suami tidak membangunkannya. Dia jadi tidak bertemu Daniar dan Katya.
"Mereka paham kok kamu lelah."
"Tetap saja itu tidak sopan Kak, masak datang-datang tidur."
"Kan kamu itu memang borok, tibo ngorok. Ketemu tempat nyaman aja langsung merem."
Rea kembali cemberut mendengar ledekan Andra. Gadis itu lantas mengedarkan pandangannya. Kamar Andra lebih luas dari kamarnya. Kemewahan jelas tergambar di sana. Rea sesaat terkagum-kagum pada kamar Andra.
Kredit Pinterest.com
Gadis itu menolak ketika Andra menawarinya makan. Jam tujuh adalah batas makan Rea. Setelah itu dia tidak akan apapun selain buah. Setelah mandi dan berganti baju, Rea naik ke kasur, di mana Andra sudah ada di sana. Rea harus membiaskan diri dengan kehadiran Andra dan juga kebiasaan pria itu. Seperti sekarang ini, Andra telah melepas kaos polonya hingga tubuh atletis sang suami terpampang nyata. Rea sendiri memilih memakai piyama meski pendek. Setidaknya dia belum siap tidur memakai tank top tanpa bra dan hot pantsnya di depan Andra.
"Tumben gak pake begituan."
"Nanti kamu panas dingin lagi."
"Kan ada kamu yang manasin."
Rea mencubit lengan Andra, gemas. Meski mereka masih kaku, setidaknya Rea tidak mendorong jauh Andra ataupun menangis histeris seperti terakhir kali mereka bertemu enam bulan lalu.
"Iihh, wanginya istriku."
Rea menggeliat menghindar ketika Andra memeluk tubuhnya dari belakang. Mengendus rambut Rea yang masih setengah kering. Ini adalah malam ketiga keduanya tidur bersama. Tapi bagi Rea ini malam pertama di mana dia harus percaya kalau dia dan Andra sudah menikah.
****
Ritual jempolnya jangan lupa...
__ADS_1
Like, vote dan komennya ditunggu lho...
***