
Rea terkejut melihat kondisi Brad yang terlihat parah. Kata Mark, luka di lambungnya cukup serius, jadi dia akan terus diobservasi untuk beberapa waktu. Sampai luka di lambungnya benar-benar sembuh.
Ketika Rea mengunjunginya. Pria itu berusaha tersenyum, meski setengah meringis. Gurat kesalahan jelas tergambar di wajah Rea. Dia merasa bersalah, karena dirinya Bradley terluka.
"Jangan merasa bersalah. Sudah seharusnya aku melindungimu dari kejahatan kakakku."
Rea membulatkan matanya mendengar perkataan Brad. Rasa terkejut Rea semakin besar ketika Bradley menceritakan semua pada Rea. Soal dirinya yang adik Janson Scott. Tentang dirinya yang awalnya berniat membalas dendam melalui Rea.
Rea sesaat tidak percaya. Tapi melihat keseriusan Brad saat bicara. Mau tidak mau Rea sepertinya harus percaya pada omongan Brad.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi niatku untuk membalas dendam padamu....sudah lama hilang. Aku akui, aku jatuh cinta padamu, Andrea Kirana."
Brad menatap lembut pada Rea. Tidak ada wajah dingin dan tatapan tajam dari pria itu. Semua berubah menjadi sebuah tatapan yang Rea tahu adalah tatapan penuh cinta.
Sesaat dua pasang mata itu kembali beradu pandang. Hingga Rea menarik nafasnya pelan.
"Tapi saya tidak bisa menerima cinta, Bapak."
Rea menatap ragu pada Bradley, dia menebak kalau dosen killer itu akan marah. Tapi dia salah. Seulas senyum tipis terlihat di bibir pria itu. Dia sama sekali tidak terkejut dengan jawaban Rea.
"Aku tahu kau akan menolakku. Tapi aku tidak akan menarik perasaanku. Perasaanku adalah milikku. Jadi kau tidak berhak mengaturku."
"Tapi itu akan membuat hubungan kita menjadi canggung."
Rea mengatakan itu karena dia mendapat bocoran kalau Bradlah yang akan menjadi dosen pembimbingnya. Dia akan mengambil ujian sertifikasi akuntannya dalam waktu dekat ini. Karena itu dia mendapat satu dosen pembimbing sampai ujian selesai.
"Kalau begitu selesaikan ujianmu dengan cepat dan lulus. Itu jika kau mau lepas dariku. Tapi jika tidak, sampai kapanpun kau akan terikat denganku."
Ucapan Brad seolah menegaskan rumor yang beredar selama ini.
"Dasar dosen brengsek. Aku pikir setelah lambung Bapak robek, otak Bapak akan sedikit bergeser dan bisa berpikir lebih jernih. Nyatanya enggak. Bapak tetap dosen brengsek dan menyebalkan."
Perkataan Rea sudah kembali ke mode biasa. Bukan pembicaraan formal. Seperti yang sudah-sudah, bukannya marah, Brad malah tersenyum. Dia benar-benar menyukai Rea yang tidak suka berpura-pura.
"Aku suka gaya bicaramu yang blak-blakan. Sudah keluar sana. Aku mau tidur. Mark bilang kau ada jadual ketemu Steve."
Rea menepuk jidatnya pelan. Dia lupa. Detik berikutnya, Rea berbalik, berjalan menuju pintu keluar kamar Bradley.
"Aku harap kau mau memaafkan perbuatan kakakku. Jangan khawatir, jika dia berniat melukaimu lagi. Aku akan melindungimu. Aku berjanji."
Tangan Rea terhenti ketika akan memutar knop pintu. Perkataan Brad cukup mengusik hatinya. Rea berjalan gontai setelah keluar dari kamar Brad. Pikirannya melayang jauh. Jika Ken mendekatinya dengan caranya yang super narsis. Tanpa tahu malu mengejarnya.
__ADS_1
Tidak dengan Brad, pria itu membebaskan dirinya. Terserah mau menerima cintanya atau tidak. Yang penting dia mencintai Rea. Seperti itulah gambaran singkat soal perasaan Brad pada Rea. Pria itu mencintai dan melindunginya dengan caranya sendiri.
Rea menggelengkan kepalanya. Dia mencintai Andra. Tidak mencintai orang lain. Rea kembali memantapkan hatinya. Dia tidak akan membiarkan Brad masuk ke dalam hatinya.
Di dalam kamarnya, Steve rupanya sudah menunggu. Ini adalah jadual pemeriksaan terakhir sebelum dia diizinkan pulang besok. Setelah duduk saling berhadapan. Dimulailah sesi konseling antara Steve dan Rea. Gadis itu menceritakan semua yang dia rasakan dalam hati.
Bertemu Steve seperti bertemu tempat sampah. Di mana Rea bisa mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya, yang kalau Rea menyimpannya terlalu bisa jadi sampah. Toxic pada kesehatan mental gadis itu.
Dan untuk Rea, dia seperti tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya pada Steve. Sebab Steve seperti punya koneksi dengan pikiran dan hati Rea. Rea tidak bisa menyembunyikan apapun pada pria itu. Padahal dengan Gina, dia masih bisa berbohong soal perasaannya.
"Jadi...."
Steve menutup jurnal laporan medis Rea.
"Menurutmu bagaimana?"
"Kenapa malah balik tanya padaku. Seperti katanya, perasaannya adalah miliknya. Dan perasaanmu adalah milikmu. Bahkan dalam ilmu kejiwaan tidak ada penjelasan ataupun jabaran yang pasti jika itu berkaitan dengan hati. Jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Meski aku sedikit khawatir."
Steve menatap dalam bola mata Rea. Pria itu tahu, sedikit banyak Brad mulai memiliki porsi di hati Rea. Jika Rea tidak mampu bertahan, bisa dipastikan kalau Rea akan oleng pada dosennya itu. Sebab Steve sendiri mengakui, pendekatan yang dilakukan Bradley punya dampak besar pada perasaan Rea.
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Jangan ngawur kalau bicara."
"Lihat, bahkan kau saja tidak yakin saat menyangkalnya. Kau masih terlalu muda untuk menghadapi tiga tekanan cinta yang datang padamu sekaligus. Aku tidak mengatakan kau salah menerima cinta Andra, karena kau juga mencintainya, saat ini. Aku beritahu padamu. Hati manusia itu sering berubah dengan cepat. Jangan tanya apa sebabnya, karena memang begitulah hati."
*
*
Rea termenung di kamarnya. Dia baru saja naik setelah makan malam dengan yang lain. Ini adalah hari kedua setelah dia pulang dari rumah sakit. Duduk di sofa di balkon kamarnya, gadis itu memandang langit malam bertabur bintang.
Rea mendessah pelan. Perkataan Steve masih terngiang di kepalanya.
"Aku tidak mau oleng ke lain hati."
Tekad Rea. Beberapa kali berpikir, hingga akhirnya gadis itu membulatkan tekadnya. Setelah ujiannya selesai dua bulan lagi. Dia akan memohon pada ayahnya.
"Tidurmu nyenyak?"
Andra mencium kening Rea ketika gadis itu muncul di pintu rumahnya. Tiga hari setelah dia keluar dari rrumah sakit. Rea memutuskan untuk kembali ke kampus. Meski rasa takut itu masih menghantuinya. Tapi dia tidak mau kalah begitu saja.
__ADS_1
Gadis itu harus bisa melawan rasa takutnya. Satu hal yang ditekankan oleh Steve dan Rio. Kali ini, Andra yang akan mengantarnya. Untuk sementara, Rea belum diperbolehkan membawa mobilnya sendiri. Cincin pertunangan Rea sudah kembali ia kenakan.
Plus Andra menghadiahkan sepasang anting cantik berbentuk bunga mawar. Kecil tapi terlihat manis saat dipakai Rea. Sebuah chip terpasang di anting tersebut. Untuk mengantisipasi Janson yang masih berkeliaran di luar sana.
"Belum terlalu."
Rea menjawab lirih. Sejak kejadian hari itu, Rea mengalami gangguan soal tidurnya. Steve maklum, yang dialami Rea adalah pelecehan sek****, jadi hal itu wajar akan menimbulkan trauma. Terlebih pada Rea. Dua kali mengalami peristiwa tidak menyenangkan, dua kali harus berhadapan dengan orang yang sama. Ini berat.
Untungnya Rea dikelilingi orang-orang yang begitu peduli dan sayang padanya. Hingga gadis itu mampu melewati semua dengan baik.
"Apa masih ingin berkonsultasi dengan Steve? Akan kuantar."
Andra mulai menjalankan mobilnya, keluar dari kediaman Aherne. Menuju kampus Rea. Menurut desas desus di kampus. Bradley akan mulai mengajar hari ini. Tapi dengan dampingan seorang asisten. Pria itu diizinkan keluar dari rumah sakit setelah bekas jahitan luarnya kering. Tapi Mark mengingatkan kalau Bradley tidak boleh melakukan gerakan ekstrim dalam tiga bulan ke depan. Bahkan pria itu secara tegas mengatakan kalau Bradley dilarang bercinta dan ngegym. Dua pantangan itu harus Brad patuhi agar proses penyembuhan pria itu berlangsung cepat.
Bradley juga dinyatakan tidak ada hubungan dengan kasus penculikan yang dilakukan sang kakak. Hingga nama Bradley yang sempat masuk dalam daftar tersangka langsung dibersihkan namanya oleh pihak kepolisian.
Mobil Andra mulai masuk ke kawasan kampus Rea. Pria itu menghentikannya di dekat pintu masuk. Sudah menjadi rahasia umum kalau Rea dan Andra berpacaran.
Rea meremass tangannya, ada kebimbangan dalam hatinya saat ini. Tapi kemudian Rea memantapkan hatinya. Kali ini dia akan maju untuk mengikat hatinya sendiri.
"Kak...bagaimana jika setelah aku selesai ujian....kita menikah."
Andra sejenak terdiam. Pria itu memandang wajah Rea dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu serius?"
Rea mengangguk. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Andra mendengar ucapan Rea.
"Ahhh Rea, aku sangat mencintaimu."
Andra memeluk tubuh Rea erat. Sebuah pelukan yang menggambarkan betapa senangnya hati Andra. Penantiannya tidak sia-sia. Bahkan Rea sendiri yang meminta pernikahan padanya.
"Ini berita yang luar biasa."
****
Seneng amat yang mau diajak nikah ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Jangan lupa ritual jempolnya...
Ditunggu like, vote, gift dan komennya..😘😘😘
__ADS_1