
Hari menjelang tengah malam. Ketika para polisi itu memutuskan untuk menggerebek dua orang tersebut. Lima orang masing-masing sudah bersiaga di depan pintu dua kamar itu.
Ken lebih dulu masuk ke kamar Janson. Dia pikir akan susah menghadapi pria brengsek seperti Janson. Ketika Ken masuk ke kamar itu, lampu utama kamar tidak dinyalakan. Hanya ada lampu tidur. Hingga suasana temaran tercipta di sana.
Ken menghidupkan lampu utama. Hal itu membuat Janson yang baru saja memejamkan mata, terpaksa membukanya kembali. Pria itu melihat Ken yang bersandar di tembok dekat pintu. Raut wajah puas terlihat di wajah Ken yang mengulas senyum tipisnya.
"Kau suka dengan hadiahku?"
Ken bertanya sembari melirik ke arah wanita yang ada di samping Janson. Janson mengikuti arah pandang mata Ken, hingga mata Janson membulat sempurna, melihat siapa yang sudah dia tiduri sejak tadi.
"Siapa kau?"
Janson bertanya kesal. Sementara yang ditanya malah tersenyum manis. Tidak merasa bersalah karena sudah menipu Janson. Janson jelas marah, begitu sadar siapa wanita yang telah melewati malam panas bersamanya.
"Kau...apa yang kau lakukan? Mana Rea? Bukankah kau berjanji akan memberikan Rea padaku?"
Ken menghembuskan nafasnya kasar. Pria muda itu balik menatap marah pada Janson. Dia lagi-lagi tidak suka mendengar Janson merendahkan Rea.
"Menyerahkan Rea...apa kau gila? Dengar, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kau menyentuh Rea."
Ken berkata penuh penekanan. Di tempatnya, Janson langsung berdiri. Dengan keadaan tubuh polos...pria itu langsung menyambar celananya. Memakainya dengan tergesa-gesa. Sementara si wanita juga melakukan hal sama. Hal itu membuat wajah Ken memerah. Sejatinya, dia adalah pemuda polos yang belum pernah melihat lekuk tubuh wanita secara langsung.
"Kau menipuku? Kau menjebakku?"
Janson bertanya penuh emosi. Dua tangan Janson sudah mencengkeram jaket kulit Ken. Bukannya kesakitan, Ken justru tersenyum senang.
"Kalau iya..apa yang akan kau lakukan?"
"Brengsek!"
Satu pukulan hendak dilayangkan oleh Janson ke arah Ken. Tapi pemuda itu mengelak. Hingga tinju Janson menghantam tembok di samping Ken.
"Kau yang brengsek!"
Detik berikutnya, pukulan Ken mendarat sempurna di wajah Janson. Pria itu tersungkur ke lantai. Setelah itu, pukulan bertubi-tubi Ken hadiahkan ke tubuh Janson. Pada akhirnya pria itu terkapar tidak berdaya di lantai kamar itu.
"Itu untuk Rea yang hampir kau lecehkan, dan ini untuk Rea yang kau aniaya. Kau bedebbahhh! Brengsek!"
Maki Ken seraya menghantam wajah Janson sekali lagi. Saat itulah, para polisi masuk. Mereka langsung menangkap Janson. Pria itu tentu terkejut. Apalagi saat polisi langsung memborgolnya. Janson berusaha berontak, menghindar dari cekalan polisi.
Tapi para polisi itu dengan cepat memaksa Janson untuk tiarap.
"Kau brengsek, Ken! Aku akan membalasmu nanti. Lihat saja. Kau akan kubuat menderita sepuluh kali dari ini."
"Menderita katamu. Bukankah kalian baru saja melewatkan malam panas bersama. Bukan begitu?"
__ADS_1
Ken bertanya pada wanita yang menjadi partner ranjang Janson. Wanita itu mengangguk, sembari duduk di sofa kamar Ken.
"Kau....kalian semua brengsek!"
"Cukup! Silahkan ikut kami ke kantor polisi. Nanti di sana, kau bisa menjelaskan semuanya. Itu kalau alasanmu masih bisa kami terima."
Janson terus meronta saat digelandang ke kantor polisi. Pria itu berusaha melarikan diri. Tapi polisi selalu mencegahnya.
Ribut-ribut di kamar sebelah membuat Clara yang baru saja menyelesaikan malam panasnya, merasa terganggu. Terlebih terdengar teriakan penuh kemarahan dari Janson, juga suara pukulan. Wanita itu merangkak turun dari ranjang. Memakai pakaiannya, lalu keluar dari kamarnya. Meninggalkan partnernya yang tidur pulas.
Begitu membuka pintu, Clara langsung bertemu Ken. Pria itu tersenyum mengejek melihat Clara.
"Kau puas?"
Ken bertanya sambil melipat tangannya. Seorang pria berpakaian preman masuk ke kamar yang tadi ditempati Clara. Melihat hal itu, Clara memandang curiga pada Ken.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hanya mengambil bukti."
"Bukti apa?"
"Bukti yang bisa membuatmu mendekam di penjara karena berani berkomplot dengan Janson untuk menculik Rea."
Clara membulatkan matanya. Bagaimana Ken bisa tahu, kalau dia dan Janson yang sudah menculik Rea. Padahal, dia sama sekali tidak pernah menyinggung hal itu saat berhadapan dengan Ken.
"Tidak mengerti ya sudah. Yang penting sekarang kamu bisa ikut mereka ke kantor polisi."
Dua orang pria maju untuk menangkap Clara. Wanita itu sendiri tidak tahu darimana datangnya para pria berpakaian preman tersebut. Mereka tiba-tiba saja muncul di belakang Ken. Bersamaan dengan itu, pria yang ditugaskan mengambil rekaman suara Clara, keluar dari kamar.
"Kami akan membawa ini sebagai bukti."
"Tunggu....tunggu dulu. Maksud kalian ini apa sih. Bukti apa?"
Clara masih berusaha mengelak dari tuduhan Ken.
"Anda ditangkap karena terbukti telah bersekongkol dengan Janson Scott dalam kasus penculikan, pelecehan dan penganiayaan yang kalian lakukan pada Nona Andrea Kirana Aherne."
Mata Clara mendelik mendengar tuduhan yang dilayangkan padanya. Wanita itu berulangkali mengelak dari tuduhan yang dilayangkan padanya. Dia berteriak histeris ketika seorang polisi akan memborgolnya.
"Kau salah sasaran jika ingin balas dendam."
Suara Ken membuat Clara menghentikan gerakannya. Wanita itu melotot ke arah Ken.
"Maksudmu apa?"
__ADS_1
"Jika kau ingin membalas dendam pada Rea. Atas apa yang terjadi waktu kita sekolah dulu. Akan kuberitahu kalau kau salah orang. Bukan Rea yang membuat hidupmu hancur. Rea....oh bukan. Alex hanya memaksa sekolah mengeluarkanmu. Tapi aku.....yang menekan bisnis keluargamu. Membuatnya....ya sedikit bergoyang. Hingga kau diusir dari rumahmu."
Clara terkejut mendapati fakta baru tersebut.
"Apa katamu?"
"Masih kurang jelas? Aku yang menghancurkan hidupmu, bukan Rea. Kau salah orang."
Clara merangsek maju, ingin menghajar Ken. Kenyataan ini sangat menyakitkan bagi Clara. Dia salah orang. Orang yang seharusnya bertanggungjawab atas penderitaannya ada di hadapannya.
"Kau brengsek Ken! Kau keterlaluan!"
"Mana yang lebih keterlaluan....aku atau kau."
Hati Clara mencelos. Selama ini dia membenci orang yang salah. Oh...bukan itu masalahnya. Kenapa Rea selalu lebih beruntung darinya. Kenapa gadis itu selalu dikelilingi oleh orang yang siap membelanya. Dalam kondisi apapun. Mungkin apa yang Clara rasakan bukanlah dendam. Tapi iri. Tidak Andra, tidak Ken, bahkan pria yang terkenal sebagai dosen killer di kampus Rea saja, menaruh hati pada gadis itu. Pria itu bahkan rela melawan sang kakak untuk membela Rea. Clara membenci semua orang yang berada di sekeliling Rea.
"Lalu apa gunanya kau menangkapku. Dia bahkan tidak melirik padamu sama sekali."
Ken mengepalkan tangannya. Perkataan Clara mengenai titik lemah dalam dirinya. Apapun yang dia lakukan, tidak akan mendapat apresiasi dari Rea. Bahkan gadis itu mungkin tidak tahu kalau dirinya yang sudah membantu pihak kepolisian untuk menangkap Janson dan Clara, agar tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan Rea. Miris bukan? Perjuangannya tidak dianggap sama sekali.
"Kenapa kau diam? Yang kukatakan benar kan. Kalian ini bodoh. Melakukan apapun untuk Rea yang sedikitpun tidak memandang kalian."
Mungkin yang dikatakan Clara benar. Tapi Ken kemudian berpikir ulang. Semua yang dia rasa dan lakukan adalah keinginannya sendiri. Rea tidak pernah meminta hal itu padanya. Jadi jika Rea sama sekali tidak menggubris dirinya. Itu adalah salah Ken sendiri.
"Mungkin dia tidak pernah memandangku sebagai kekasih atau orang yang dia cinta. Tapi dia selalu ada di sisiku saat aku perlu teman. Kau dengar....teman."
Sekali lagi Clara ditampar dengan kenyataan yang sangat pahit. Teman, satu hal yang tidak pernah dia punya dalam hidupnya. Dia selalu sendirian.
Pada akhirnya Clara yang kalah telak, pasrah saat dia dibawa ke kantor polisi. Menyusul Janson yang lebih dulu diberangkatkan ke sana.
Sepeninggal semua orang. Ken menghempaskan tubuhnya ke sofa terdekat. Rencananya sukses. Dia berhasil membantu pihak kepolisian menangkap Janson dan Clara. Pria itu memandang jijik pada apartemennya. Hingga kemudian dia menghubungi asistennya.
"Andi, renovasi apartemenku."
"Bagian mana yang ingin kau ubah."
"Semua...aku ingin apartemenku dicat ulang. Juga ganti semua furniture-nya. Terutama di kamar utama dan kamar tamu. Aku ingin all new. Semua baru."
Ken melangkah keluar dari sana, dengan perasaaan puas juga sedih. Rencana anehnya berhasil. Janson dan Clara sudah tertangkap
****
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa..
Like, komen dan vote, ditunggu... ingat hari senin...😘😘😘