Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Jebakan


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Rea melangkah gontai, masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada semua anggota keluarganya. Juga...Andra. Gadis itu langsung naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Mengabaikan panggilan Andra bahkan sang papa.


Melihat Rea yang berlalu begitu saja, Andra langsung menyusul. Menghentikan Rea tepat di depan pintu kamarnya.


"Baby, kita perlu bicara."


Rea berlalu tanpa kata. Dia benar-benar tidak ingin bicara apapun saat ini. Dia lelah, dia kesal. Dia sedih. Yang ingin dia lakukan hanyalah menangis. Kalau bisa dia ingin tidur.


Mengabaikan Andra, gadis itu masuk ke kamarnya.


"Re..."


"Please, tinggalin aku sendiri."


Rea berkata setengah memohon pada Andra.


"Oke, aku keluar. Tapi soal tadi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berteriak padamu."


Pintu tertutup dan Rea langsung menempelkan tubuhnya ke tembok. Air mata itu mulai mengalir. Dia bingung. Bimbang dengan pilihan yang sudah dia ambil.


Pagi menjelang, pintu kamar Rea terbuka. Sang mama yang masuk kali ini. Wanita itu bermaksud membangunkan sang putri sekaligus melihat keadaan Rea.


"Rea, sayang. Bangun. Sarapan dulu ayo. Dari semalam kamu belum makan."


Berta mencoba menyentuh bahu Rea. Detik berikutnya, wanita itu berlari lagi keluar kamar. Berta bertemu Nicky di depan kamar Rea.


"Nick, bisa panggilkan Mark. Rea sepertinya demam."


Bukannya segera melakukan apa yang diminta sang Mama. Ayah satu putra itu, malah menerobos masuk ke kamar sang adik ipar.


"Ma, ini tinggi sekali. Dia harus dibawa ke rumah. Kalau memanggil Mark akan lama. Siapa tahu dia sudah masuk ruang operasi."


"Lalu?"


"Aku akan membawanya ke rumah sakit. Mama tolong bantu urus Kai Tadi dia masih nangis, belum mandi."


Pria itu berkata sembari menyibak selimut Rea. Beruntung gadis itu tidak masih menggunakan pakaiannya semalam. Dengan cepat Nicky menggendong Rea, membawanya ke dalam mobil.


Pria itu hanya menjawab singkat kala sang istri bertanya. Paham, Gina tidak banyak bertanya.


*


*


Rea perlahan menggerakkan kelopak matanya. Gadis itu menghela nafas begitu melihat di mana dia berada. Mencabut infus ditangannya, Rea segera turun dari ranjang. Berjalan menuju pintu keluar. Meninggalkan Alex yang tidur di sofa.


Tanpa kata, Rea berjalan keluar rumah sakit. Mengabaikan rasa pusing yang masih mendera kepalanya. Beberapa kali terhuyung. Rea berpegangan pada besi yang tertanam di sepanjang dinding rumah sakit itu.


Celakanya, di lobi rumah sakit. Dia bertemu Andra. Rea yang senantiasa menunduk, tidak melihat Andra yang masuk ke sana. Hingga tanpa ragu, pria itu menarik tangan Rea kembali masuk ke kamarnya begitu dia melihat Rea.

__ADS_1


"Kak, aku tidak mau ke sana lagi. Bau obat."


Rea menarik tangan Andra, agar berhenti membawanya.


"Kamu yakin?"


Gadis itu mengangguk. Dia tidak mau dirawat lagi. Dia merasa dirinya sudah sembuh.


"Jadi mau kemana dulu?"


"Pulang saja."


Pria itu menurut, lalu mulai melajukan mobilnya, setelah menghubungi Alex dan Mark tentunya. Cukup lama keheningan membalut dua sejoli itu.


Hingga suara Rea memecah kesunyian di antara mereka. Meremass jas yang Rea pakai untuk menutupi pakaian rumah sakitnya.


"Maaf."


Andra mengulas senyum tipisnya.


"Lalu, maumu bagaimana? Dibatalkan atau diteruskan?"


Rea langsung menatap wajah Andra.


"Dengar Re, aku tidak mau memaksamu soal apapun. Aku akan menuruti semua keinginanmu."


Rea kembali terdiam. Hingga Rea terlihat menarik nafasnya. Persiapan sudah mencapai 70%. Bahkan minggu kemarin, dia dan Andra sudah melakukan fitting final untuk gaun pengantin. Di mana, semua orang dibuat takjub dengan kecantikan Rea saat mencoba gaun pengantinnya.


Sebuah deheman membuat Andra kembali ke alam sadarnya. Dia seperti tersihir oleh kecantikan calon istrinya.


"Kamu serius?"


Rea mengangguk. Dan senyum Andra mengembang sempurna. Rea sendiri semalam sudah memikirkan masak-masak, soal hal ini. Dia tidak punya perasaan apapun pada Brad. Itu keputusannya.


Perlahan Andra menggenggam tangan Rea. Dan gadis itu balik menggenggam tangan Andra. Keduanya tersenyum satu sama lain.


Seperti yang Andra katakan. Sejak hari di mana dirinya terlibat baku hantam dengan Brad, pria itu tidak lagi jadi dosen pembimbing Rea. Andra sendiri yang mengajarkan sisa materi ujiannya pada Rea.


*



Kredit Pintereat.com


Seminggu berlalu, dan hari ujian tiba. Dengan diantar Andra, Rea masuk ke ruang ujian bersama peserta lain yang turut ambil bagian dalam tes itu. Setelah Rea masuk, Andra keluar dari tempat tersebut. Sebab Rea baru akan keluar sebelum makan siang. Jadi Andra masih bisa mengerjakan pekerjaannya sebelum Rea selesai.


Begitu Andra pergi, Bradley masuk ke dalam ruang ujian Rea. Tanpa Rea dan Andra tahu. Bradley Scott masuk dalam jajaran juri atau penilai sekaligus pengawas dalam ujian tersebut.


"Ada rekomendasi? Saya dengar beberapa murid dari kampus Anda ambil bagian dalam ujian ini."


Seorang pria paruh baya dengan rambut telah memutih tampak bertanya pada Bradley. Pria itu seketika menatap lurus pada Rea, yang saat itu sudah mulai mengerjakan ujiannya. Dengan head phone yang sudah terpasang di telinga masing-masing.


"Dia...dia adalah siswa yang saya bimbing."

__ADS_1


Para juri itu langsung mengikuti arah pandang Bradley. Semua sejenak takjub dengan wajah cantik Rea. Seorang pria langsung mengambil transkrip nilai Rea dalam empat semester ini.


"Nilainya bagus. Hampir sempurna.ww Kamu tidak salah memilih anak didik. Terlebih dia cantik. Dia Andrea Kirana...hei..bukannya ini nama putri gubernur itu."


Pria itu malah jadi bicara ngelantur ke mana-mana.


"Berikan dia penilaian yang adil. Jangan kaitkan dia dengan jabatan papanya. Itu permintaannya. Jika memang nilainya memenuhi syarat, luluskan. Kalau tidak..tidak masalah. Dia maupun papanya akan menerimanya."


Semua orang menarik nafasnya lega. Sangat sulit berada di posisi mereka jika peserta ujian adalah orang ternama atau memiliki hubungan dengan orang penting.


Selama masa ujian, Brad sesekali melirik ke arah Rea, memastikan kalau gadis itu tidak panik saat mengerjakan ujiannya.


Menjelang makan siang, Rea tampak menatap puas pada kertas ujian yang baru saja dia selesaikan. Juga pada layar monitor yang ada di depannya. Memeriksanya sekali lagi. Lantas mengirimnya ke e-mail penyelenggara ujian. Setelahnya, gadis itu bergabung dengan yang lain untuk keluar dari sana. Rea sama sekali tidak melihat Brad yang berada di bagian belakang ruang ujiannya.


"Melihatmu datang bersama Andra, berarti tidak terjadi hal buruk pada hubungan kalian."


Brad menarik nafasnya lega. Setidaknya melihat senyum Rea yang tidak pernah pudar dari bibir gadis itu, menunjukkan kalau Rea baik-baik saja.


Pria itu lantas bergabung dengan yang lain, untuk memeriksa hasil ujian para calon akuntan itu.


"Ohhh, aku tadi melihat dia dijemput Deandra Sky. Apa mereka punya hubungan?"


"Mereka akan menikah minggu depan."


Semua orang tentu terkejut mendengar perkataan Brad. Putri gubernur dan akuntan terbaik dua tahun berturut-turut.


"Pantas saja, aku melihat kehebohan di TV, itu adalah persiapan pernikahan mereka."


Guman seorang dosen wanita. Sedetik kemudian, semua orang itu kembali ke pekerjaan mereka. Dengan teliti memeriksa tiap lembar kertas. Dengan Brad yang memeriksa hasil ujian yang dikirim via e-mail.


Pria itu sengaja memeriksa pekerjaan Rea terlebih dulu. Dia kepo.sekali. Pria itu seketika mengembanglan senyumnya. Nilai penuh pria itu berikan. Hasil audit Rea benar seratus persen.


"Selamat datang, akuntan tersertifikat Andrea Kirana."


*


*


"Dia beneran ada di dalam?"


Clara bertanya curiga ketika mengikuti langkah Ken, masuk ke dalam sebuah villa. Ken menggangguk yakin.


"Aku tidak mungkin dong bawa dia ke klub."


Clara berpikir. Iya juga ya. Anak panti itu pasti tidak boleh masuk ke dunia gembira, yang isinya manusia-manusia yang tengah mencari kesenangan dunia. Termasuk Clara.


"Dia mana?"


Clara menatap lurus ke depan. Di mana seorang pria dengan wajah biasa tertutup masker. Tengah menunggu mereka. Ken yang memang sudah kenal dengan Janson, langsung mengikuti Ken. Naik ke lantai 30 di mana unitnya berada.


"Nikmati waktu kalian, sebelum kalian masuk penjara. Karena kalian sebentar lagi akan terjerat ke dalam jebakan kami."


***

__ADS_1


Ritual jempo..jangan lupa...selalu dinanti...


Like, komen, dan vote...dipersilahkan.


__ADS_2