Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Hari Pertama


__ADS_3

Nana melongo melihat tampannya dua pria yang mengantar Rea. Sementara Andra dan Mark masih menyelesaikan urusan administrasi sekolah Rea. Nana beberapa kali mengucek matanya. Tidak percaya. Rea kini dikelilingi pria tampan di sekitarnya. Padahal dulu, Rea sama sekali tidak punya kepercayaan diri untuk berdekatan dengan siswa cowok. Jangankan berdekatan, memandang saja Rea tidak berani.


"Bisa gegeran satu sekolah ini, kalau bentukannya Rea seperti ini sekarang."


Nana membatin sembari terus mengobrol bersama Rea. Mengabaikan tatapan kepo siswa lain yang mulai sadar dengan kehadiran Rea.


Hingga saat Andra dan Mark pamit pulang lebih dulu, baru kehadiran mereka benar-benar membuat heboh satu sekolah. Dua pria tampan berada di sekolah yang mayoritas muridnya perempun. Bisa dibayangkan dong bagaimana mereka berteriak histeris.


Padahal Andra dan Mark sudah menutup wajah wajah mereka dengan masker. Tapi tetap saja bisik-bisik penuh puja dan puji terus terdengar dari segala sudut.


"Kayak jumpa pens ya."


Canda Mark begitu mereka tiba di gerbang. Setelah memeluk Rea sebentar keduanya berlalu dari hadapan Rea dan Nana. Yang masih melongo dengan keberadaan dua makhluk tampan itu. Andra jelas khawatir dengan Rea, tapi Mark menenangkan pria itu.


"Rea harus melewati prosesnya. Mengingat ini pilihannya, aku yakin dia akan bertahan sebaik mungkin."


Mark berkata begitu saat Andra terus mengungkapkan kecemasannya soal Rea. "Tenang saja, dia akan minta bantuan jika dia kesulitan."


Kalimat dari Mark kali ini bisa menenangkan Andra. Pria itu beralih melihat cincin di jarinya. "Aku bisa melewati ini."


Di sisi lain, Rea dan Nana mulai berjalan masuk ke kelas mereka. Rea teringat, dia dulu akan berjalan sembari menundukkan kepalanya. Tapi kali ini tidak, wajah gadis itu menatap lurus ke depan. Tanpa ragu dia akan membalas tatapan mata yang mengarah padanya dengan ramah.


Nana di sampingnya terus saja mengoceh tanpa henti. Menceritakan ini dan itu, dari A sampai Z dia ceritakan. Sesekali Rea menimpali cerita sahabatnya dengan "oh" atau "masa sih"


Mereka baru saja akan berbelok ke kelas mereka, ketika seorang siswa pria menghadang langkah Rea dan Nana. Nana langsung memutar matanya jengah. "Giliran ada cewek bening aja gercep."


Gumam Nana, dan Rea mendengarnya. "Halo...kamu anak baru itu?" sapa siswa itu yang ternyata adik kelas Rea. Rea bukannya tidak tahu siapa siswa itu. Sebab dia dulu pernah naksir ke siswa itu.


Kalau dulu Rea akan menghindari siswa ini atau menundukkan kepala kalau berpapasan. Kali ini tidak. Seulas senyum tipis terbit di bibir peach Rea, membuat siswa pria di hadapannya semakin terpesona.


"Bukan, aku siswa lama." Jawab Rea singkat.


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu. Kenalkan namaku Ken."


"Rea." Jawab Rea membuat siswa bernama Ken itu melongo. Baru kali ini dikacangin seorang perempuan. Dia terkenal sebagai playboy cap buaya buntung di sekolah Rea.

__ADS_1


Ken semakin penasaran dengan Rea ketika gadis itu berlalu begitu saja dari hadapannya. Masuk ke ruang kelasnya.


"Aku akan menjadikan dia pacarku. Lihat saja."


Gumam Ken, melihat Rea duduk di bangkunya. Ken semakin tertarik dengan sikap Rea yang terang-terangan menolaknya. Ditambah wajah cantik Rea yang benar-benar stunning di mata Ken.


Rea duduk tanpa memperdulikan tatapan kepo dari teman sekelasnyà. Mereka tentu heran melihat dirinya kembali setelah lama absen. Terlebih dengan penampilannya yang boleh dikatakan berubah total.


Rea dan Nana kembali berbincang mengingat masih ada lima menit sebelum istirahat berakhir. Hingga satu suara membuat jantung Rea berdebar. "Gue dengar, anak panti itu balik lagi ya."


Deg,


Deg,


Deg,


Jantung Rea berdetak sangat kencang. Semua perlakuan Clara kembali terbayang di benaknya. Rasa takut seketika menyusup ke hati Rea. Keringat dingin mulai keluar dari dahi Rea yang kini mulus tanpa cela. Tubuhnya bergetar, dengan mata mulai berkaca-kaca.


Hingga satu suara Andra, membuat ketakutan Rea perlahan sirna. "Lawan!" Ditambah dengan perkataan Gina, Mark dan yang lainnya.


"Kamu tidak sendiri. Kamu punya kami di belakangmu. Ingat, kami selalu mendukungmu."


"Lawan siapa saja yang kira-kira ingin menindasmu. Menghinamu."


Meski tidak Rea pungkiri, dirinya hampir menangis saat bersitatap dengan wajah judes Clara.


"Anak panti yang mana yang kamu maksud?"


Bibir Rea bergetar saat membalikkan perkataan Clara. Mendengar Rea yang berani menjawabnya, Clara mendengus geram. Terlebih melihat tampilan baru Rea yang benar-benar berbeda dari empat bulan baru. Clara semakin merasa kalau Rea adalah ancaman baru untuknya.


"Elu lah, siapa lagi yang jebolan anak panti selain elu!"


Rea mengepalkan tangannya kuat.


"Memangnya kenapa kalau aku anak panti? Ada yang salah?"

__ADS_1


Semua anak melongo melihat Rea kini berani melawan Clara. Terlebih Nana. Gadis itu bahkan tidak berhenti mengucek matanya. Memastikan kalau yang dia lihat benar.


Clara baru saja akan menjawab, ketika pak Wahyu, guru mata pelajaran Perpajakan mereka masuk. "Awas lu!" ancam Clara sambil melewati Rea.


Rea langsung menghembuskan nafasnya kasar. Percobaan pertama, dan not bad. Sementara Nana langsung mengacungkan dua jempolnya pada Rea. Di depan sana, pak Wahyu mulai menerangkan materi pelajarannya setelah berbasa basi sebentar.


"Pajak, tax?" Rea tersenyum sambil mengikuti penjelasan pak Wahyu di depan sana. Gadis itu kembali tersenyum, mengingat beberapa waktu terakhir ini. Dia dicekoki berbagai pengetahuan soal pajak yang berhubungan dengan penghasilan oleh Andra dan Shane.


"Andra?" Dua sudut bibir Rea tertarik membentuk sebuah lengkungan mengingat nama sang tunangan. "Sial! Kenapa aku tiba-tiba ingin melihatnya."


Gadis itu reflek melihat cincin cantik di jarinya. Di belakang Rea, Clara menatap penuh kedengkian punggung Rea.


*


*


"Tunggu! Urusan kita belum selesai!"


Clara mencekal lengan Rea. Istirahat kembali datang, dan kali ini Rea mengajak Nana ke kantin. Dia lapar karena tadi pagi, dia nyaris tidak sarapan, saking gugupnya.


"Apalagi?" kali ini suara Rea mulai meninggi. Lapar membuatnya jadi galak. "Lu jangan coba-coba membuat gue kesal!" ucapan Clara sarat dengan peringatan dan ancaman.


Rea memilih tidak menggubris ucapan Rea. Gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Clara. Meninggalkan Clara yang langsung darah tinggi dengan sikap Rea. Clara mengepalkan tangannya kuat. Hingga pandangan matanya jatuh pada tas ransel Clara.


Sementara, suasana kantin berubah heboh dengan kedatangan Rea yang kini penampilannya menyedot perhatian satu sekolah. Tampak acuh, gadis itu mengekor Nana memesan bakso untuk mengganjal perutnya. Meski kemudian dia teringat ucapan ahli gizinya.


"Iya, Bu Tina nanti aku sit up 20 kali."


Batin Rea, mulai menyantap baksonya. Kembali mengabaikan tatapan kepo dari para pengunjung kantin. Rea sesekali mengobrol dengan Nana. Hingga satu suara membuat selera makan Rea berkurang hingga separuhnya.


"Astaga, biarkan aku makan sedikit saja."


Nana langsung ngakak melihat ekspresi kesal Rea. Baru hari pertama, dan dia sudah dibuat eneg dengan kelakuan playboy cap buaya buntung kebanggaan sekolah Rea. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Penampilan, benar-benar berpengaruh pada cara pandang orang-orang di sekitarmu."

__ADS_1


Kali ini Rea mengakui kalau ucapan Gina benar adanya. Walau dia kurang setuju kalau penampilan menjadi tolak ukur untuk menilai kepribadian seseorang. Meski ada ungkapan yang mengatakan, "Penampilanmu mencerminkan kepribadianmu."


*****


__ADS_2