Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Protes Rea


__ADS_3

Rea berdiri sembari melipat tangannya di depan dada. Menatap tajam pada Andra yang duduk dengan santai di sofa, di depannya. Marah, satu kata yang Rea punya untuk Andra. Apalagi ketika dia bangun, gadis itu berada dalam pelukan Andra plus mereka tidur satu ranjang. Meski tidak terjadi apa-apa.


"Jelaskan!"


"Apanya?" balas Andra santai. Rea seketika membuat gerakan meremas dengan dua tangannya. Kesal meladeni sikap Andra yang terlihat tidak merasa bersalah. Sudah menggiringnya menjadi tunangan pria itu.


"Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Bagaimana kamu membuatku menjadi pengganti Rana?" tanya Rea. Senyum Andra yang sejak tadi terlukis di wajah pria itu hilang seketika. Sebuah kerutan di kening Andra menyiratkan kalau pria itu tengah berpikir. Hingga dia akhirnya paham ke mana arah pembicaraan Rea.


"Kamu tidak menggantikan siapapun dalam pertunangan ini. Pertunangan ini dari awal adalah milikmu. Aku merancangnya hanya untukmu."


Penjelasan Andra membuat Rea agak bingung. "Lalu Rana bagaimana....."


"Rana adalah kamu. Kirana.....namamu kan?" Andra berkata sambil berjalan ke arah Rea. Sementara Rea malah terbengong mendengar jawaban Andra. "Aku tidak pernah mengajak gadis lain untuk bertunangan denganku. Hanya kamu, satu-satunya." Tegas Andra. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Rea. Tanpa heels, Rea harus mendongak untuk melihat wajah Andra.


Meski begitu, Andra tampak memiringkan kepalanya. Agar dirinya tidak terlalu tinggi bagi Rea. "Ini pertama kalinya aku serius pada seorang gadis. Ini pertama kalinya aku merasakan cinta yang begitu besar di hatiku. Hanya untukmu. Jangan menolakku, atau kamu sama saja dengan menghancurkanku. Aku mencintaimu, Re."


Rea menatap dalam dua bola mata Andra mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi nihil dia tidak menemukannya. Hanya sebuah tatapan penuh cinta yang Rea lihat di sana.


"Lalu kenapa semalam kita bisa tidur bersama?" Cecar Rea.


"Jadi kamu marah karena itu?"


"Kakak.......!" geram Rea tertahan. Dia marah karena merasa dijebak dan dibohongi.


"Semalam, aku malas balik ke kota. Apa kamu tidak ingat. Kamu tidur setelah aku menciummu semalam. Mana ada orang tidur setelah dicium tunangannya," Andra terdengar menggerutu.


Rea mengerutkan dahinya. Masa iya dia begitu. Tapi kemudian dia ingat, dia ini tipe *****, nempel molor, ditambah dia juga ngebo kalau sudah merem. Tidak peduli tempat dan waktu.


"Ingat?" tanya Andra. Rea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahhh bukan itu masalahnya, yang aku tanyakan kenapa kita bisa tidur di situ, berdua." Rea menunjuk kasur besar di belakang Andra yang masih berantakan karena pagi ini, setelah gadis itu bangun, Rea mengamuk dengan memukuli Andra menggunakan bantal.

__ADS_1


"Hanya pengen tidur denganmu. Ada masalah?" tanya Andra sembari memiringkan kepalanya. Memandang wajah Rea yang tengah berpikir. "Aaaawwww, Re sakit!" Andra berjengit kala Rea mencubit perutnya.


"Tentu saja masalah. Bagaimana jika Papa tahu?"


"Papamu memang sudah tahu." Andra menjawab santai. Berjalan menjauh masuk ke kamar mandi sambil mengusap perutnya yang dicubit Rea. Meninggalkan Rea yang melongo mendengar jawaban Andra. Gadis itu segera berbalik setelah melihat Andra dengan santainya membuka kemejanya di depan Rea tanpa segan.


"Dasar akuntan mesum!" gerutu Rea. Pelan.


****


"Kenapa Papa tidak bicara dulu sama Rea soal ini?" Giliran Matt yang jadi sasaran rasa tidak terima Rea. Sebab jika Matt tidak setuju, rencana Andra ini tidak akan sesukses ini. Mereka sukses menipuku. Kesal Rea dalam hati.


"La.....Papa pikir dia sudah bicara padamu." Matt berkata santai. Menunjuk Andra dengan dagunya. "Sial! Mertua otewe ini rupanya ingin menimpakan semua kesalahan padaku," batin Andra sembari menatap tajam pada Matt yang tersenyum mengejek padanya.


Matt suka melihat ekspresi kesal putri bungsunya itu. Sebab Rea jarang sekali menunjukkan protes pada apa yang sudah dia dan Berta serta Gina aturkan. Tipe penurut sekali.


"Tapi Ma....bukan itu masalahnya. Soal hidup, Rea juga tidak bakal susah, numpang hidup sama Papa. Masalahnya dia nipu Rea. Rea gak suka." Rengek gadis 19 tahun itu.


"Yang penting cincinnya gak nipu. Sudahlah masalah pertunanganmu kita akhiri sampai di sini. Sekarang kita akan bicarakan soal kepulanganmu. Seperti permintaanmu. Minggu depan, Papa izinkan kamu pulang......"


Andra langsung membulatkan matanya. "Tapi Om, kenapa mendadak sekali?" protes Andra. Dia baru juga bertunangan dan sekarang Matt akan mengirim Rea kembali ke sekolah lamanya. Andra jelas tidak terima.


"Jadi kamu mau berlama-lama sama Rea supaya kalian bisa asyik-asyik berdua begitu. No....no....no......" Matt menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan. Andra seketika menelan ludahnya. Tahu tujuan Andra. Nasib punya camer mantan psikolog. Semua pergerakannya bisa terbaca dengan mudah. Keluh Andra dalam hati.


"Gak gitu juga kali Om," jawab Andra lirih.


"Gak salah! Iya kan?" Andra hanya bisa nyengir sekaligus menggaruk kepalanya. Tidak ada Andra yang dingin sedingin kutub yang biasa Rea hadapi. Yang ada, Andra yang takut ditinggal Rea.


Rea sesaat menatap heran pada Andra. Pria itu bisa berubah dalam waktu dua minggu. Hebat, dia nyaris tidak mengenali Andra yang sekarang. Dia terlalu manis saat ini.

__ADS_1


"Kamu bilang ada magang lanjutan dalam tiga minggu ke depan?" tanya Matt.


"Nana bilang begitu. Padahal yang dulu sudah tiga bulan." Terang Rea.


"Magang tempat Alex saja." Celetuk Andra tiba-tiba.


"Alex?" Rea mengerutkan dahinya. "Nggak bisa Kak. Kita gak bisa milih di luar dari list yang sudah sekolah Rea sediakan." Jawab Rea.


"Lalu kamu magang di mana?" tanya Andra tajam.


******


Rea berlari mengejar Andra yang berjalan dengan cepat menuruni tangga. Gadis itu cukup kesulitan karena gaun panjang semalam yang masih dia kenakan. "Kak......" Teriak Rea. Gadis itu berhenti di tengah tangga. Berpegangan pada pembatas tangga. Sesak tiba-tiba ia rasa.


Mendengar teriakan Rea, Andra seketika berbalik. Pria itu langsung panik, melihat Rea. Gadis itu duduk di tangga dengan wajah memucat juga nafas tersengal.


"Mark!" teriak Andra menggelegar di villa super luas itu. Mark yang sedang sarapan langsung berlari ke arah suara Andra. Pria itu langsung keluar menuju mobilnya. Seolah tahu apa yang sedang terjadi pada Rea.


"Ini....." Mark dengan cepat memberikan sebuah inhaler kecil yang sebenarnya sebuah tabung oksigen mini ditambah nebulizer. Rea dengan cepat menghirup benda itu dengan cepat. Mereka semua masih berada di tangga.


Panik, itulah yang tergambar di wajah semua orang. Beberapa menit berlalu, dan keadaan Rea mulai membaik. Sesuai instruksi Mark, Andra memindahkan tubuh Rea ke kamarnya. Ini adalah kejadian pertama sejak Rea keluar dari rumah sakit.


"Pa.....aku jadi tidak yakin membiarkan dia pulang. Meski cuma enam bulan," Gina berkata cemas pada Matt.


"Mau bagaimana lagi, Sayang. Adikmu ngotot pengen pulang sebentar." Matta menjawab sendu. Binar khawatir terpancar jelas dari wajah Matt. Melihat sang putri yang mulai tidur meski inhaler itu masih berada di hidung mancungnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Matt bertanya bimbang pada dirinya sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2