Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Pilihan Sulit


__ADS_3

Rea menarik nafasnya dalam, melihat pantulan dirinya di cermin di depannya. Sempurna, gadis itu lalu keluar kamarnya. Menuju meja makan lantas mulai mengambil sarapannya. Bi Minah, ART yang menemaninya sangat ramah. Rea sangat menyukainya.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Rea seketika menarik dua sudut di bibirnya, lalu membalas pesan itu. Rindukah dia pada Andra? Jtunangan yang semalam seperti enggan meninggalkannya. Pria itu mencium bibirnya lama di kamarnya. Benar-benar tidak mau melerainya.


"Pulanglah bersamaku."


Bujuk pria itu. Tapi Rea menggeleng lemah. Enam bulan, hanya enam bulan mereka LDR-an. Setelahnya Rea berjanji akan pulang. Rea sepertinya mulai menunjukkan kalau dirinya memang menyukai pria itu.


Pada akhirnya, mobil Andra dan Mark melaju meninggalkan Rea, setelah pria itu memeluk gadis itu lama. Menghujani wajah Rea dengan ciuman dan sebuah kecupan singkat di bibir sebagai penutup.


Setelah menyelesaikan sarapan dan pamitan pada Bi Minah. Rea memakai ear phone, lantas berjalan keluar rumahnya. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati semilir angin pagi yang berhembus. Lalu mengayunkan langkahnya menuju sekolahnya. Bersiap menghadapi hari ini, termasuk Clara.


Di sisi lain, Andra langsung tersenyum begitu membaca pesan dari Rea. Senyum pria yang masih mengenakan handuk di pinggangnya itu semakin melebar ketika di akhir pesan tertulis, "love you too."


Dengan bibir mengulum senyum, pria itu masuk ke walk in closetnya, mulai berpakaian. Hari ini dia ada audit ke sebuah instansi pemerintah yang selama ini diisukan kalau terjadi korupsi di sana. Jadi dia dan tim harus mengumpulkan data dengan benar lalu menģolahnya.


*


*


Rea sudah berada di depan gerbang sekolahnya ketika sebuah suara memanggilnya. Tapi Rea enggan menanggapinya. Dia tahu pemilik suara itu. Merasa diabaikan, membuat Ken kesal. Pria yang usianya satu tahun di bawah Rea itu langsung mencekal tangan Rea, "Apa?"


Ken tersenyum mendengar beraninya Rea padanya. Tanpa kata, Ken menautkan jemarinya pada jari Rea lalu menggandengnya masuk ke sekolah.


"Jangan macam-macam ya."


Rea melepaskan gandengan Ken, lalu meninggalkan Ken. Senyum Ken semakin lebar. Dirinya semakin penasaran dengan sosok Rea ini. Hingga suara gadis itu sedang menerima telepon menarik perhatiannya.


"Ya, Kak Alex....aku sudah sampai di sekolah. Tidak perlu menjemputku."


Satu kalimat yang langsung membuat Ken berpikir kalau itu pasti pacarnya.


"Pacarmu?" tanya Ken.


Rea hanya melirik judes sebagai jawaban. "Bukan urusanmu," begitulah kode lirikan Rea.


*


*

__ADS_1


Jam olahraga berlangsung seru, basket menjadi materinya kali ini. Setelah dua kali lari mengelilingi lapangan basket sebagai pemanasan. Mereka langsung bermain three on three, tiga lawan tiga.


"Inceran elu semakin bersinar saja."


Kata teman Ken. Keduanya tengah mengamati kelas Rea yang sedang olahraga dari lantai dua. Saat itu Rea yang tengah bertanding. Dan seperti yang dikatakan temannya. Rea kini menjadi bintang baru di sekolah itu. Banyak siswa pria yang mulai mengejar Rea dan menembak Rea untuk jadi pacarnya. Semua, gadis itu tolak.


"Kemarin dia baru nolak Randi, dari kelas sebelah." Info temannya itu. Ken hanya menarik satu sudut bibirnya. Dia tahu semua itu.


"Apa dia punya pacar?" sang teman kembali bertanya. Ken kembali tidak menjawab. Di bawah sana bisa dia lihat Rea yang bersorak gembira, timnya menang melawan tim Clara.


"Heh....elu sengaja kan buat malu gue?" sarkas Clara, mendorong tubuh Rea yang masih mengenakan tank top. Belum sempat memakai kemejanya.


"Kalau kalah ya kalah saja." Gumam Nana.


"Apa lu. Jangan ikut campur masalah gue!"


"Nah kalo terjadi depan mata gue. Gue harus diam gitu. Ooo tidak bisa. Elu udah ngerusakin motor gue. Elu udah melukai Rea. Lu bakal kena skorsing kalo kita laporin ke BK." balas Nana tajam.


"Jangan sok ngancam gue!"


"Gue bakal lakuin itu kalo lu masih ganggu kita. Paham lu?" Nana mulai mengeluarkan aura gelapnya.


Puji Rea. Keduanya sedang berada di kantin. Beristirahat setelah sesi olahraga serta sesi debat dengan Clara yang cukup sengit. Di sudut kantin. Geng Clara melihat benci ke arah Nana dan Rea. Dua gadis itu hanya meliriknya sesaat lalu kembali melanjutkan ngemil mereka.


Ponsel Rea berbunyi, dan gadis itu langsung melihat pesan yang masuk. Senyum Rea terkembang sempurna membaca pesan dari Andra.


"Tunangan elu?" tanya Nana. Bukannya menjawab, Rea hanya melempar senyum manisnya pada Nana seraya memasukkan kembali ponsel itu ke saku jas sekolahnya.


Nana dibuat kaget ketika Rea memberitahunya kalau dia dan Andra memang bertunangan. Satu peringatan keras dari Rea, jangan memberitahu orang lain. Nana patuh mengangguk. Meski dalam hati gadis itu, ingin berteriak saking terkejutnya.


Andra, akuntan muda yang banyak digilai perempuan terutama dari kelas akuntansi adalah tunangan Rea, sang sahabat. Nana menggelengkan kepalanya tidak percaya, meski itu benar adanya.


Hari-hari Rea, gadis itu lalui dengan berbagai warna. Dia benar-benar mengalami hal yang berbeda untuk sekolahnya kali ini. Penampilannya yang berbeda membuat sikap semua siswa berbeda. Kalau dulu, tidak ada yang peduli dengan kehadirannya. Sekarang akan ada bisik-bisik saat Rea ada di sana.


Pujian dan juga rasa iri sering Rea dengar dari murid lain. Tapi gadis itu tidak terlalu menanggapi.


*


*

__ADS_1


"Bi....aku kesiangan!" teriak Rea sembari menyambar sandwich sarapannya. Lalu melesat ke dapur mencari botol minumnya. Rea jelas mengumpat Andra yang membuatnya tidur di jam dua pagi. Rea ikut membantu mengerjakan laporan buku besar sebuah perusahaan yang hampir deadline, tapi Andra belum sempat menyentuhnya. Mereka terlalu sibuk dengan kasus besar yang tengah mereka tangani.


"Nanti aku cek kembali. Jangan khawatir." Kata Andra menenangkan. Dan beginilah akhirnya. Rea baru bangun ketika si ART membangunkannya.


"Pakai motor aja kalau kesiangan, Non." Saran sang ART.


"Tadi sudah bibi panasin motornya." Tambah Bi Minah.


Rea menggigit bibirnya. Dia memang memiliki SIM C tapi dia tidak terlalu pandai menggunakan motor. Rea justru lihai mengemudi.


"Tapi Rea gak terlalu pandai naik motor Bi. Nanti kalau malah nyungsep ke got atau sawah depan sana gimana?"


"Kan cuma sampai sekolahan. Apa tak panggilin Mas Alex atau mbak Nana?"


Terlalu merepotkan kalau memanggil dua orang itu. Terlebih Alex, parasnya yang mencolok bisa jadi bahan gibah satu sekolah. Seperti saat terakhir kali pria itu menjemputnya. Kupingnya auto budeg mendengar jeritan teman-temannya. Terlebih Alex menjemputnya menggunakan Mitsubishi Pajero yang memang terlihat keren.



Kredit Pinterest.com


Pada akhirnya, Rea memilih mencoba menaiki motornya yang baru dua kali dia gunakan. Itupun Nana yang pegang kendali.


Rea baru saja memundurkan motor matic keluaran terbaru itu ketika tiba-tiba sebuah tangan merebut kendalinya. "Kamu ikut aku saja."


Suara Ken membuat mata Rea membulat. "Ngapain kamu di sini?" tanya Rea judes.


"Jemput kamu lah, apalagi. Ayo cepat naik nanti kesiangan, telat kita." Kata Ken. Rea dan bi Minah saling pandang. "Naik saja Non, nanti biar Bibi yang jelasin sama mas Alex sama tuan Sky."


"Mati aku. Habis ini bakal ada perang besar."


Gadis itu melirik CCTV yang terpasang di teras rumahnya. Bisa dipastikan kalau seseorang di sana tengah melapor pada tuannya.


"Ini pilihan yang sulit."


Telat dengan resiko dihukum. Atau ikut Ken dan bisa Rea jamin Andra akan segera meledak.


"Jangan berdekatan dengan pria lain bahkan dia teman sekolahmu. Kecuali Alex."


*****

__ADS_1


__ADS_2