Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Gue Kangen Sama Elu


__ADS_3

Andra langsung menerobos kerumunan wartawan yang menyerbu kantornya. Barisan security sudah disiagakan di sana. Begitu Andra bisa masuk. Pria itu langsung masuk ke ruangannya dengan Shane mengekor di belakangnya.


"Siapa pengunggahnya?"


Andra langsung meraih laptopnya. Pria itu langsung memuat sebuah artikel yang berisi kesaksian seorang mantan staf kantor Andra. Dalam artikel itu, narasumbernya mengatakan kalau kantor Andra secara sengaja terkadang melalukan manipulasi data, agar laporan keuangan dari klien mereka terlihat baik atau sebaliknya.


Dalam artikel itu juga disebutkan kalau Andra dan karyawannya sering menerima uang dari klien mereka diluar kontek pembayaran.


Andra seketika meledakkan tawanya. Benar-benar artikel murahan. Meski begitu, pria itu langsung berpikir. Dia punya segudang cara untuk mengatasi ini semua. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah reputasi kantornya sudah tercemar.


Para klien mereka di luar sana, tidak peduli berita ini benar atau tidak. Mereka hanya ingin bekerjasama dengan kantor yang bersih dari segala pemberitaan miring.


Disamping itu, bisa dipastikan jika semua stafnya sedang ditempa mentalnya. Mereka kuat atau tidak menahan gempuran pemberitaan yang menurut Andra hanyalah sampah yang tidak berguna.


Mengabaikan keributan di luar kantornya. Dalam waktu sepuluh menit, seluruh staf Andra sudah duduk di hadapan pria itu. 30 orang staf profesional di bidang akuntansi. Di bawah mereka ada lebih dari 100 staf pembantu. Baik yang magang, junior audit dan staf pendukung lainnya.


Dalam kesempatan itu, Andra menjelaskan secara terperinci bagaimana keadaan kantor mereka. Pria itu juga memberikan gambaran paling buruk jika berita itu terus bergulir panas tanpa henti. Beberapa staf saling pandang.


Banyak dari mereka merasa sangat nyaman bekerja di kantor Andra. Mereka sebenarnya juga tidak mempercayai artikel itu. Besarnya pendapatan Andra, semua staf tahu. Mereka tahu betul, Andra berasal dari keluarga kaya. Karena itu mereka tidak heran kalau Andra memiliki mobil mewah dan fasilitas jetset lainnya. Hanya satu yang mereka tidak tahu, kalau Andra adalah pewaris Sky Airlines.


Di akhir meeting mereka. Andra mempersilahkan pada stafnya, jika mereka ingin resign dari kantornya. Jelas, para staf terkejut dengan perkataan bos mereka. Keributan mulai terjadi. Tapi Andra dengan cepat mengatasinya.


Andra memberikan pandangan, pria itu bisa menjamin, dalam beberapa waktu ke depan. Akan ada banyak klien yang menarik diri. Mereka akan mengalihkan audit mereka ke public accounting office lainnya.


Jika satu atau dua tidak masalah, tapi jika banyak, itu akan menjadi masalah. Maka sebelum hal itu terjadi, mereka dipersilahkan untuk mencari tempat yang baru untuk bekerja. Jika mereka terlalu lama berada di sini. Andra mengkhawatirkan kalau nama mereka akan ikut tercemar. Kali ini Andra akan mempertaruhkan reputasinya sendiri tanpa melibatkan stafnya.


"Terlebih bagi kalian yang sudah berkeluarga, pekerjaan adalah hal penting. Aku tidak ingin kalian terlibat dalam masalah ini."


Andra membungkukkan badannya di hadapan stafnya.


"Kau yakin melakukan ini?"


Shane bertanya setelah semua staf keluar dari meeting room itu. Andra tersenyum."Mungkin saatnya aku mengambil liburan atau sejenisnya."


Cengir Andra tanpa beban.


"Memang kau mau ke mana? Santo Rini? Atau jadi ke Machu Pichu?"



Kredit Pinterest com


Machu Pichu di Peru dan Santo Rini di Yunani,


Dua tempat itu sudah lama masuk ke dalam agenda liburan Andra. Tapi sampai sekarang, Andra belum bisa mewujudkannya.


"Tunggu honeymoonlah. Pergi sekarang gak seru. Couplenya gak bisa dicolong."


Shane meledakkan tawanya. Meski setelahnya, kedua pria itu kembali ke mode serius mereka.

__ADS_1


"Ada dugaan siapa pelakunya?"


"Eemmmm, mungkin kantor sebelah. Ownernya barangkali sakit hati karena berkali-kali aku tolak ajakan kencannya."


Lagi, Andra menjawab santai. Sementara Shane malah mengerutkan dahinya. "Mantan stafmu, apa kau pikir bukan dia?"


Andra dan Shane saling pandang. Hingga kemudian mereka mengangguk secara bersamaan.


*


*


Di sisi lain, berita soal masalah yang menimpa kantor Andra sampai juga ke telinga sang ayah. Daniar bahkan sampai menggebrak meja saking marahnya.


"Kalau tidak ingat anak itu merengek ingin mewujudkan cita-citanya sebelum mengambil alih Sky Airlines, aku sudah lama menggulungtikarkan tempat itu."


Asistennya, hanya bisa mengulum senyumnya mendengar bahasa yang digunakan tuannya.


"Sudah ketahuan siapa pelakunya?"


Daniar bertanya dan asistennya menggeleng. "Bisa kerja gak sih?" gerutu Daniar kalau sedang marah.


"Lah, anaknya tenang-tenang wae kantornya mau bangkrut. Malah bapaknya yang kebakaran jenggot."


"Cari pelakunya sana! Jangan diam saja." Bentak Daniar.


Suara Andra terdengar dari belakang Ri. Pria itu berjalan santai menuju sofa lalu merebahkan diri di sana.


"Rido, Den. Manggil mbokya yang genap to. Ri....Ri....nanti orang ngira Rina, Ria...Rita...mau ditaruh di mana harga diri saya."


Protes Rido pada anak majikannya. Andra memang suka memanggil Rido menggunakan kata depannya saja.


"Alah kok bingung sama harga diri. Yang penting harga dirimu masih kamu junjung tinggi, belum diobral di pasar loak."


"Aseemmmmm."


Rido mengumpat lirih. Selalu saja dia kalah melawan anak majikannya ini.


"Den, saya besok ogah lo jadi asistennya Aden, kalau Aden pindah ke sini."


Rido memanggil Aden pada Andra. Tidak tahu arti pastinya, tapi sejak pertama bertemu, Rido sudah memanggil Andra dengan sebutan Aden.


"Siapa juga yang mau punya asisten kamu. Aku ya nyari yang seksoy, yang cantik...."


"Biar diputusin sama Rea kamu!"


Potong Daniar cepat. Pria itu cukup heran melihat sang putra malah bersantai di kantornya. Bukannya mencari solusi bagi masalahnya.


"Jangan dong, Pa. Andra rugi banyak kalau putus sama Rea."

__ADS_1


"Makanya jangan aneh-aneh kamu. Terus kamu ke sini ngapain?"


"Ngumpet, capek dikejar sama paparazzi. Tahulah muka Andra kayak Chen Zhe Yuan."


Baik Rido dan Daniar melongo mendengar jawaban enteng dari Andra.


"Terus kasusmu bagaimana?"


"Biarin aja dulu. Andra tak merem, bentaaaar aja."


Daniar dan Rido hanya bisa menarik nafasnya pelan.


"Pa....nanti Andra dikasih uang jajan ya kalau Andra jadi pengangguran."


Daniar langsung mengumpat putra tunggalnya itu. Bukankah di depan Andra itu adalah tumpukan pekerjaan yang sangat banyak. Bagaimana bisa Andra berpikir akan jadi pengangguran.


"Nggak kerja, nggak ada uang jajan." Tegas Daniar.


"Papa sama kayak mama, gak asiik." Gerutu Andra.


Berikutnya, dua pria itu hanya mendengar dengkuran halus dari arah Andra. Daniar menarik nafasnya. Dia yakin, Andra pasti sangat frustrasi sekarang. Meski begitu, dia tidak akan turun tangan jika sang putra belum minta bantuannya.


*


*


Rea dan Nana baru saja keluar dari gerbang rumah sakit. Dari tempat itu, keduanya sudah bisa melihat tempat kos mereka. Tempat kos Rea hanya berjarak lima menit dari gerbang tempat magang mereka.


"Capek banget gak sih?" tanya Nana.


Hari ini hari gajian, jadi tugas mereka hari ini sebenarnya sangat ringan. Hanya menyerahkan slip gaji para tentara itu. Setelah mereka kemarin mencocokkan bukti tranfer ke rekening para penerimanya.


"Padahal duduk doang sama lihat orang main voli." Tambah Nana.


"Karena gak gerak badannya malah sakit semua."


Rea menimpali. Gadis itu beberapa kali melihat ke arah ponselnya. Tumben sekali, Andra hanya mengirim satu pesan untuknya. Biasanya pria itu rajin mengirim pesan padanya.


Dua gadis itu baru saja akan masuk ke kos-an mereka. Ketika terdengar suara motor sport dari arah belakang keduanya. Diikuti sebuah suara yang lumayan familiar di telinga Rea dan Nana.


"Baru pulang Re. Gue kangen sama elu."


Rea dan Nana melongo melihat siapa yang ada di hadapan mereka.


***


Hayoooo siapa? 🤔🤔


****

__ADS_1


__ADS_2