
Rea berhasil kabur dari ruangan itu, setelah menendang teman Clara yang berdiri di dekat pintu. Segera saja, Rea berlari menjauh dari sana. Di belakangnya, Clara dan Nita mengejar diikuti teman-temannya.
Ruang broadcasting berada di sayap kiri sekolah Rea. Plus ruang itu berada di lantai 5. Ruangan itu menempati tempat tertinggi di sekolah Rea.
"Jangan lari! Urusan kita belum selesai!"
Clara berteriak marah. Sementara di depan sana, Rea berlari menuju lift. Mencoba menekan tombolnya, tapi tidak kunjung terbuka.
Rea memaki dalam hati. Akhirnya dia masuk ke tangga darurat. Heran, kenapa sekolahnya sepi sekali hari itu. Rea menuruni tangga darurat lalu masuk ke lantai empat. Clara dan Nita terus mengejarnya. Hingga sampai di tengah jalan, Rea jatuh terduduk, asmanya tidak bisa ditolerir lagi.
Melihat ke arah Clara, gadis itu semakin dekat ke arahnya. Hingga dengan sekuat tenaga Rea melangkahkan kakinya. Berusaha menjauh. Rea baru saja melewati sebuah belokan ketika tubuhnya membentur tubuh orang lain.
Wajah Rea langsung berbinar cerah, melihat Alex ada di sana. Meski detik berikutnya, tubuh itu ambruk, lemas dengan wajah mulai memucat.
"Re, kamu gak apa-apa?"
Alex bertanya panik. Sementara di belakangnya Ken ikut berjongkok di hadapan Rea. Dua pria itu jelas marah melihat keadaan Rea. "Kak....sesek."
Bisik Rea. Nana yang mengekor di belakang Alex langsung mengulurkan inhaler gadis itu. Alex dengan cepat melepas jasnya lalu memakaikannya di tubuh Rea.
Alex dengan wajah memerah menahan marah langsung berjalan menuju ke arah Clara dan yang lainnya. Mereka langsung memundurkan langkahnya. Begitu melihat Alex, yang mereka tahu salah satu sugar daddy-nya Rea.
"Apa yang kalian lakukan pada Rea?"
Teriak Alex marah. Kalau tidak ingat mereka itu perempuan. Sudah Alex hajar Clara dan teman-temannya.
"Kami hanya memberinya sedikit pelajaran. Profesi sugar baby dilarang di sekolah."
Clara menjawab takut-takut. Mencoba menekan Alex. Mendengar jawaban Clara, Alex langsung menendang tempat sampah yang ada di dekatnya. Clara dan yang lainnya berjengit kaget. Sementara Ken tampak berdiri tenang di sebelah Alex.
"Dia loyal sekali dengan Rea." Batin Ken, melihat aksi Alex.
"Apa kau bilang? Sugar baby? Siapa sugar baby, ha?"
Tantang Alex. Lancang sekali Clara mengucapkan kata itu.
"Kan Om salah satu sugar daddy-nya Rea!"
Teriak Clara. Mata Alex berkilat marah. Satu gerakan dan pria itu berhasil mencekik Clara. Teman Clara langsung menjerit, ngeri melihat tindakan Alex.
"Kau belum tahu, siapa yang baru saja kau sebut sugar baby. Dia tunangan Andra Sky. Asal kau tahu!"
Clara melotot mendengar ucapan Alex.
"Kak, lepaskan dia!"
__ADS_1
Rea setengah berteriak melihat Alex mencekik Clara. Mendengar suara Rea, Alex reflek melepaskan Clara.
"Re, kamu tidak apa-apa?"
Di tempatnya, tubuh Clara langsung bergetar, dia cukup tahu siapa Andra Sky. Papanya banyak sekali bercerita soal pria itu. Pria yang menjadi incaran banyak wanita. Bagaimana mungkin Rea adalah tunangan Andra.
Begitu Alex mundur. Ken maju. Kali ini tidak ada Ken yang slengekan dan tengil. Wajah pemuda tanggung itu sama mengerikannya dengan Alex.
Ken melihat ke arah Clara dan Nita. Pemuda itu memiringkan kepalanya. Tatapannya sinis dan mengejek.
"Elu tahu apa yang bisa dia lakukan ke elu dan keluarga elu. Ooohh tidak perlu dia, gue saja yang bertindak. Gue akan menyuruh bokap gue buat batalin seluruh kontrak kerjasama dengan perusahaan bokap elu."
Ken sudah mulai belajar soal perusahaan. Dan dia tahu keluarga Clara masih berada di bawah keluarganya. Perusahaan ayah Clara banyak bekerjasama dengan perusahaan ayah Ken.
"Jangan Ken, jangan lakuin itu ke gue. Gue ngaku salah. Gue minta maaf."
"Rea tidak perlu maaf kalian. Ingat, aku akan mengurus ini. Dan kalian...Alex menunjuk Clara dan teman-temannya.....akan mendapat pembalasannya."
Pria itu melangkah pergi, sambil memapah Rea. Gadis itu perlu pemeriksaan dokter dan istirahat.
"Ken, gue mohon. Jangan apa-apain gue sama keluarga gue."
Mohon Nita. Gadis itu sama ketakutannya dengan Clara dan yang lainnya. Ken langsung mencemooh pada mereka semua.
Glek! Clara dan yang lainnya langsung menelan ludahnya kasar. Sementara Ken, berlalu dari sana. Menuju lantai 5, dia akan mencari tahu apa sudah Clara dan yang lainnya lakukan pada Rea.
Sementara itu di lantai dasar. Lebih tepatnya kantor kepsek. Alex mengamuk tanpa ampun. Pria itu memaki kepala sekolah tidak berhenti. Sementara yang di maki hanya bisa diam membisu. Pria itu hanya mampu menundukkan wajàhnya tanpa berani menjawab sepatahkatapun makian Alex.
Alexlah yang menjadi wali Rea mewakili Andra. Satu gebrakan di meja kepsek, membuat semua orang berjengit kaget.
"Saya akan tuntut dia. Juga sekolah ini. Bukankah sejak awal, kami sudah memperingatkan Anda untuk menjaganya."
"Maafkan kami tuan Alex, kami sudah memperingatkan Clara berkali-kali. Tapi dia keras kepala."
"Anda pikir saya peduli. I don't care. Yang saya tahu, adik saya dibulli, dilecehkan. Dan saya tidak terima."
Semua orang menelan ludahnya kasar. Mereka tidak menyangka kalau Clara akan berbuat nekat. Berkali-kali mendapatkan surat peringatan, nyatanya tidak membuat Clara jera. Tingkah Clara malah makin menjadi.
"Halo......"
Alex menjawab panggilan ponselnya.
"Baik....saya akan membawanya pulang."
Tanpa kata, Alex langsung berlalu dari sana. Langsung menuju ke ruang kesehatan. Di mana seorang dokter sedang memeriksa Rea.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Saturasi oksigennya sudah 90%, stabil. Selebihnya tidak ada masalah."
Sang dokter menjawab sembari merapikan peralatannya.
"Apa aman jika saya membawanya pulang menggunakan pesawat?"
Nana langsung berdiri mendengar perkataan Alex. "Apa katamu? Pulang?"
"Papanya sendiri yang meminta membawa Rea pulang. Aku bisa apa. Ini karena Andra sedang meeting, jadi aku terpaksa melapor pada papanya."
Nana langsung terduduk lemas di tempatnya. Menatap nanar pada Rea yang masih tertidur. Gadis itu diberi obat tidur oleh sang dokter. Agar Rea bisa beristirahat.
Tak berapa lama, tubuh Rea sudah berada dalam mobil Alex. Masih dengan mata terpejam. Sementara Nana hanya bisa menangis.
"Re....gini amat elu ninggalin gue. Kagak ada traktiran say goodbye gitu. Gak ada proomtnight ala kita-kita?"
Nana menangis sesenggukan, melihat Rea. Bahkan gadis itu tidak terbangun sama sekali waktu Alex menggendongnya.
"Yaelah, elu kan bisa VC-nan kayak biasanya. Kaya kagak biasa pisah."
Alex meledek Nana yang menangis.
"Kan beda, Kak. Kenapa sih papanya nyuruh dia balik sekarang. Lusa kan perpisahan, kita mau have fun bareng."
"Gue juga akan melakukan hal yang sama jika gue papa Rea. Elu tahu kan perintah papanya mutlak harus dipatuhi. Dia lebih straight daripada Andra. Sudah.... bye...see you next time. Pesawatnya udah nunggu. Jangan mewek. Jelek tahu."
Alex masuk ke dalam mobilnya. Melambaikan tangannya pada Nana, lantas melajukan mobilnya, mulai meninggalkan sekolah itu.
"Ya....dia pergi. Gue sendiri lagi."
Nana berkata sendu. Sementara di belakangnya, Ken segera meraih ponselnya.
"Halo, Pa...aku akan pulang tidak lama lagi...mungkin minggu depan."
"See you there, my Re."
*****
Kredit Pinterest.com
***
__ADS_1