
Sementara itu, seperti yang dikatakan Andra. Di sebuah losmen murah, di pinggiran kota. Seorang pria tengah melihat Rea yang tertidur. Tidur bukan karena keinginan Rea sendiri, tapi karena pria itu menyuntikkan morfin dalam dosis lumayan tinggi. Membuat Rea sejak tadi tidak bisa membuka matanya.
Pria itu cukup terkejut saat melihat Rea dari dekat. "Pantas saja dia begitu mencintaimu, kau benar-benar cantik," gumam pria itu. Dia tahu, tidak akan lama bagi Andra untuk menemukan gadis yang kini terbaring manis di hadapannya itu. Karena itulah dia akan merusak gadis itu separah yang dia bisa. Ikutkan hati, pria itu ingin menikmati tubuh Rea tapi mengingat tujuan utamanya dia urungkan niatnya itu.
"Membuatmu kecanduan morfin akan membuatmu dan dia hancur dalam jangka waktu yang lama. Akan lebih bagus jika kau ovedosis lalu mati. Dia pasti akan gila," gumam pria itu lagi.
Pria itu kembali meraih jarum suntik di atas meja, lantas menyuntikkan satu ampul morfin dengan isi 10 ml melalui lengan Rea. Di atas tempat tidur sudah berapa ampul yang berserakan. Pria itu tersenyum puas, lantas keluar dari sana. Di atas meja itu juga terdapat ponsel Rea.
********
Kediaman Aherne.
"Bagaimana bisa kalian kehilangan dia?" suara Matt menggelegar di ruang keluarga itu. Semua orang berjengit mendengarnyà. Tapi tidak dengan Andra. Pria itu cukup bisa mengantisipasi kemarahan Matt, pasalnya Matt dan sang ayah, Daniar, sealiran kalau sedang marah. Menggebu-gebu.
"Aku akan pergi menjemputnya," kata Andra cepat. Dia tidak tahu siapa yang sudah menculik ataupun membawa Rea. Yang jelas dia tidak bisa membiarkan gadis itu hilang terlalu lama. Ada ketakutan luar biasa dalam diri Andra pada Rea. Hingga Andra tidak sabar ingin segera menemukannya.
"Kau tahu di mana dia?" tanya Matt. Andra mengangguk. Pada akhirnya, ayah Rea itu mengizinkan Andra dan yang lainnya untuk mencari Rea. Dia sendiri tidak bisa sembarangan menggunakan kekuasaannya. Rea belum ada 24 jam menghilang. Ditambah akan ada kegaduhan jika dia secara terang-terangan mencari Rea. Putri bungsunya itu belum mau diekspose ke publik.
__ADS_1
Andra, Nicky, Bryan, Mark dan Shane berangkat dengan dua mobil. Mereka melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan tinggi. Hingga waktu tempuh, bisa mereka pangkas setengahnya. "Kau yakin ini tempatnya?" tanya Nicky meyakinkan. Andra kembali melihat laptopnyà. Pria itu mengangguk pelan. Kelimanya lantas berjalan masuk ke dalam losmen itu. Dan yang mengejutkan, losmen itu kosong.
"Siapa sih si kurang ajar yang berani membawa Rea," gumam Mark. Mulai menyusuri losmen itu, ketika kelimanya naik ke lantai dua, Bryan berteriak melihat seorang pria sedang berlari keluar dari losmen itu melalui pintu belakang. "Dia mau kabur lewat pintu belakang!"
Tak pelak teriakan Bryan membuat kelimanya kembali turun. Menyerbu halaman belakang. "Berhenti!" Andra melepaskan satu tembakan peringatan. Yang lain jelas terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Andra sempat membawa pistolnya. Pria itu mau tak mau berhenti.
"Siapa kau?!" Bentak Mark. Mereka jelas penasaran dengan pria itu. Nicky dengan waspada mendekat ke arah pria itu. Satu gerakan dan Niçky berhasil mencekal tubuh pria itu. Hingga tak lama, adu jotos pun terjadi. Wajah pria itu tertutup masker, hingga itulah target Nicky. Dua pria itu terlibat pertarungan cukup sengit. Tapi tidak seorangpun turun untuk membantu tunangan Gina itu. Mereka cukup tahu bagaimana kemampuan beladiri Nicky, sabuk hitam taekwondo. Dengan tambahan aikido dan kendo. Cukup handal untuk menghajar pria yang tubuhnya tak jauh beda dengan Nicky.
"Aaaarrggghhhh."
Pria itu meringis kala Nicky menendangnya hingga jatuh tersungkur. Tanpa ampun, Nicky menginjak dada pria itu, erangan langsung terdengar dari mulut pria yang mulutnya sudah berdarah-darah. "Kau berani sekali berurusan dengan kami," desis Nicky, mengusakkan pantofelnya di dada pria itu. Hingga sekali lagi rintihan terlontar darinya.
"Kau...apa yang kau lakukan ha?" Kali ini Mark yang bertanya. Sementara Andra langsung mundur, ketakutan semakin terlihat di wajahnya. "Ya, aku suka ketakutanmu itu Mr Sky. Seperti dia, tapi ketakutannya membuat dia bertambah cantik seratus kali lipat," seringai pria itu.
"Brengsek!" maki Andra. Satu pukulan melayang ke wajah pria itu. Andra kalut, dia panik. Andra ingin memukul pria itu lagi, tapi Mark dan Bryan mencegahnya. "Kita harus segera mencari Rea!" saran Mark.
"Ya, kalian sebaiknya mencarinya sebelum.....terlambat." "Bugghhhhhh" Nicky kali ini yang beraksi.
__ADS_1
"Ayo kita cari Rea," Mark dan Andra serta Bryan berlari masuk ke losmen itu. Meninggalkan Nicky dan Shane yang menjaga pria itu, dengan Glock Andra kini berada di tangan Shane. Sedang Shane langsung menghubungi polisi. "Janson Scot, kau cari perkara kali ini," kata Shane.
Di sisi lain, ketiga pria itu langsung menyebar. Naik ke tiga lantai sekaligus. Mereka membuka pintu losmen itu satu persatu. Dada Andra bergemuruh panik. Pria tadi adalah bandar narkoba, juga seorang mucikari untuk kalangan VIP dan kelas atas. Dia tidak bisa membayangkan apa yang sudah pria itu lakukan pada Rea.
"Rea.....Rea.....!" teriakan itu serentak bergema di tiga lantai. Ketiganya hampir putus asa ketika tidak menemukan Rea di satu ruangan pun, di tiga lantai itu. Andra hampir menyerah ketika dia melihat satu pintu yang dia ingat, dia belum masuki.
"Braaakkkk!" Andra menendang pintu yang terkunci itu. Matanya melebar dengan pandangan tidak percaya, "Reaaaaaa........!" teriakan Andra membuat empat pria lainnya menoleh. Mark dan Bryan langsung menuju kamar yang dimasuki Andra. Sementara Nicky dan Shane hanya bisa saling pandang. Dengan Janson Scott tertawa puas. "Apa yang kau lakukan pada Rea ha?" Nicky menginjak dada pria itu. Janson Scott terbatuk sembari tertawa. "Hanya membuatnya sedikit tertidur," seringai kejam terlukis di wajah pria itu.
"Rea...Rea.....Rea......bangun!" Andra langsung meraih tubuh lemah Rea masuk dalam pelukannya. Wajah pucat gadis itu membuat ketakutan Andra semakin menjadi. Pria itu menepuk pelan pipi Rea, tapi gadis itu tidak merespon. "Astaga!" Mark berteriak tidak kalah paniknya. Melihat keadaan Rea. Pria itu langsung memeriksa adik Gina, diikuti perintah pada Bryan untuk menghitung berapa botol yang berserakan di kasur dan lantai.
"Bawa dia keluar!" perintah Mark mengalahkan rasa panik Andra dan Bryan. Andra dengan cepat menggendong Rea, membawanya melesat turun. Bersamaan dengan sirine mobil polisi yang datang mendekat.
Tanpa kata, Bryan melajukan mobil Andra dengan kecepatan penuh. "Apa yang terjadi?" tanya Andra. "Si brengsek itu ingin membunuh Rea dengan morfin!" jawab Mark cepat. "Bawa aku ke rumah sakit pusat dalam lima belas menit!" pinta Mark. Bryan jelas membulatkan matanya. "Mark! Kau gila ya!"
"Kita akan lebih gila lagi jika terlambat!" tegas Mark. Pria itu lantas menghubungi rumah sakit, meminta ini dan itu. Yang Andra dan Bryan tidak paham sama sekali. "Aku ingin dokter Lambert, konsultan dari bagian obat terlarang ada di sana, saat aku tiba. Dia menyuntikkan hampir 80 mg morfin ke tubuh adikku dalam tiga jam terakhir," kata Mark panik.
Mark melihat wajah panik sekaligus takut di wajah Andra. "Re.....bangun, maaf aku melibatkanmu dalam urusanku dengan si brengsek itu. Re....aku mohon, bangun," tanpa sadar Andra mencium lembut pipi Rea dengan air mata mengalir di mata pria itu. Untuk pertama kali, Andra menangis karena seorang wanita.
__ADS_1
Andra semakin mengeratkan dekapannya pada Rea, hingga satu suara lirih masuk ke telinga Andra,"Kak......"
******