
Ketika Matt pulang ke rumah. Pria itu langsung masuk ke kamar sang putri. Dengan Nicky yang mengekor di belakangnya. Sementara para wanita menunggu di luar. Rea seketika memeluk sang ayah, begitu pria itu berada di hadapannya.
"Jangan menangis, papa tidak suka melihat kamu menangis."
Matt memeluk Rea sembari mengusap lembut punggung sang putri. Di belakangnya Nicky hanya bisa menghela nafasnya. Dia sudah menunjukkan rekaman CCTV itu pada Gina. Dari penilaian Gina, tidak ada paksaan saat Andra bercumbu dengan wanita itu. Semua terlihat natural. Mereka seperti pasangan yang sedang on fire.
"Ini akan sulit untuk Rea. Katakanlah Andra khilaf, lalu bagaimana dengan Rea. Perasaannya, hatinya. Dia pasti sangat terluka."
Nicky menarik nafasnya pelan. Lantas ikut duduk di depan Matt dan Rea. "Menangislah sepuasmu hari ini. Tapi besok kamu tidak boleh menangis lagi, oke?"
Matt mengeratkan pelukannya pada sang putri.
Sementara itu, Andra masuk ke dalam sebuah gudang, di mana seorang wanita di ikat di sebuah kursi. Wanita itu tersenyum saat melihat Andra datang. Dia pikir pria itu datang untuk membebaskannya. Tapi entahlah, Andra sendiri tidak paham dengan apa yang dia inginkan.
"Aku tahu kau akan kembali."
Kata wanita itu, sembari memamerkan senyum menggodanya. Andra seketika merasa jijik melihat wanita itu. Padahal tadi dia, aahhhh begitu menikmati cumbuan, ciuman dan sentuhan wanita yang berada di depannya.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Tanya Andra tanpa basa basi. Pria itu duduk di kursi dengan posisi terbalik. Di belakang Andra, Jack dan dua orang setia menunggu.
"Tidak ada yang menyuruhku."
Andra berdecih pelan mendengar jawaban si wanita. Rasa kesalnya semakin memuncak. Dia begitu marah dengan dirinya sendiri. Karena dia mudah sekali tergoda pada seorang wanita murahan.
"Baik kalau kau tidak mau bicara. Jack, kirim dia ke lokalisasi paling dekat. Dia ingin bermain, maka biarkan dia bermain dengan banyak pria disana. Katakan kalau mereka boleh menikmatinya sesuka hati."
Wanita itu mendelik mendengar perkataan Andra. Sementara Andra langsung berdiri dari duduknya. Sedang si wanita langsung bergidik ngeri mendengar kata lokalisasi. Di sana pasti sangat mengerikan.
Begitu melihat Andra hendak berbalik pergi, wanita itu buru- buru membuka mulutnya. Dan satu nama terucap dari bibir wanita itu. Jack dan Andra menyeringai bersamaan. Seolah tahu keinginan Andra, Jack langsung bergerak.
"Jadi tolong bebaskan aku. Aku tidak mau masuk ke sana."
Andra berjalan mndekati wanita itu. Satu tangannya dia gunakan untuk mencengkeram dagu wanita itu.
"Kau pikir setelah kau membuatku dan calon istriku salah paham, aku akan melepaskanmu. Jangan mimpi!"
Andra menepis tangannya hingga wajah wanita itu menoleh ke samping. Mungkin tidak ada yang tahu kalau Andra punya sisi gelap dalam dirinya. Selama ini dia bisa menyembunyikan itu dengan baik. Karena selama bersama Rea, emosi Andra sangat stabil. Bisa dikatakan kalau Rea adalah obat untuk semua kegelisahan Andra kala pria itu diterpa berbagai masalah. Tapi saat ini, yang menjadi penyebab semua ini adalah Rea, jadi emosi pria itu sangat tidak stabil
"Bawa dia sekarang!"
Andra berkata sembari berlalu dari sana. Mengabaikan teriakan minta ampun dari wanita itu. Andra masuk ke mobilnya, melajukannya menuju kediaman Aherne. Dia harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Dia tidak mau kehilangan Rea.
"Lakukan hal yang sama pada orang yang sudah menyuruh wanita itu."
Andra mengirim pesan pada Jack.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, mobil Andra masuk ke halaman kediaman Aherne. Begitu Andra masuk, dilihatnya semua orang masih berkumpul di sana. Semua orang langsung menatap ke arah Andra begitu pria itu berada di sana.
"Ada yang ingin kau jelaskan?" Tanya Matt dingin.
Mereka baru saja membahas, kalau pernikahan Rea akan diundur. Semua persiapan akan dihentikan. Rea belum berkata apapun, tapi melihat kondisi Rea, gadis itu tidak mungkin bisa menikah dalam tiga hari ke depan.
"Aku dijebak, Om. Aku sudah menemukan orang yang menjebakku."
"Kau mengirimnya ke kantor polisi?"
Potong Nicky cepat.
"Kantor polisi tidak akan membuat mereka kapok. Aku mengirim mereka ke tempat yang tepat."
Aura dingin Andra langsung memenuhi tempat itu. Gina seketika memandang Andra. Sikap pria itu kembali normal setelah bertemu pandang dengan Gina.
"An, kami baru saja memutuskan kalau pernikahan kalian akan diundur. Rea tidak mungkin bisa menikah dalam tiga hari ke depan. Dia shock, dia terluka dengan ulahmu."
Perkataan Matt membuat Andra mengangkat wajahnya. Dia jelas tidak terima pernikahannya diundur. Dia sudah menunggu lama untuk hari ini.
"Tapi Om....."
"Seharusnya kau bisa paham dengan perasaan Rea. Kau tahu, aku rasanya ingin menghajarmu. Kau tahu berapa kali dia bertanya, apa ada yang salah dengan dirinya, sampai kau bisa menyentuh wanita lain."
Andra mengurungkan niatnya untuk protes. Masih terbayang bagaimana terlukanya tatapan Rea saat berhadapan dengan dirinya. Gadis itu bahkan menolak untuk dia sentuh.
"Aku ingatkan, jangan menyalahkan Rea jika dia membatalkan pernikahan ini."
Tegas Nicky, pria itu jelas tidak terima dengan perlakuan Andra pada sang adik ipar.
*
*
Andra berjalan gontai saat masuk ke rumahnya. Begitu dia masuk, sang papa sudah menunggu di ruang tengah. Andra menghela nafasnya kasar. Alamat kena omel lagi ini. Andra menjambak rambutnya kasar. Menyesali diri, kenapa juga dia bisa tergoda dengan perempuan murahan suruhan Stacey.
Ya, yang menjebak Andra adalah Stacey, wanita itu ingin menghancurkan pernikahan Andra dan Rea yang akan dihelat tiga hari lagi.
"Dari mana kau?"
Suara Daniar menggelegar di ruang tengah. Dari nada bicara yang naik satu oktaf, bisa dipastikan kalau sang papa sedang dalam mode marah on. Andra hanya bisa menghempaskan tubuhnya di sofa di hadapan sang ayah.
"Aku menyelesaikan kekacauan yang kubuat."
"Hasilnya?"
"Semakin kacau."
__ADS_1
Andra tersenyum kecut. Pria itu lantas menjelaskan kalau pernikahan mereka akan diundur. Sampai Rea punya keputusan soal pernikahan mereka.
"Kau memang brengsek, An"
Daniar tanpa ragu memaki sang anak. Andra sebenarnya mulai emosi mendengar makian sang papa. Dia yang seharian sudah pusing dengan masalahnya. Ditambah sang ayah malah ikut menyalahkan bukan membela.
Pikiran Andra semakin tidak karuan, semua orang seolah memojokkannya. Tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Atau setidaknya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi Papa juga menyalahkan Andra!"
Nada bicara Andra mulai tinggi.
"Memang semua salahmu. Apa kau akan menyalahkan Rea?"
"Jadi Papa malah membela dia. Aku ini anakmu Pa, bukan dia."
"Papa hanya membela yang benar. Apa kau tidak mau mengakui kesalahanmu."
Andra berdiri dari duduknya. Pria itu kini diselimuti bara amarah. Tidak ada orang yang membelanya. Tidak ada orang yang mengerti keadaannya. Bagi semua orang Andra adalah penjahat.
"Kenapa tidak ada yang mengerti, kalau Andra juga menyesal sudah melakukan ini!"
Teriak Andra.
"Kau berani berteriak pada Papa?"
Detik berikutnya, Daniar memegangi dadanya. Rasa nyeri menyerang dada kiri Daniar. Pria itu terhuyung. Beruntung pria itu masih duduk. Hingga dia tidak jatuh ke lantai.
"Pa...Papa kenapa?"
Andra berubah panik. Melihat sang ayah terlihat kesakitan. Daniar terus mengerang. Dadanya mulai sesak. Dengan dada yang rasanya diremat kuat.
Andra dengan segera memanggil mamanya. Tak berapa lama, Katya datang. Wanita itu ikut panik melihat keadaan Daniar. Tak berapa lama, mobil Andra terlihat melaju keluar dari kediaman Sky.
"Aku akan membencimu kalau sampai terjadi apa-apa pada papaku."
Batin Andra setelah melempar ponselanya selepas menghubungi Mark. Meminta pria itu stand by di depan ruang UGD.
"Pa, kamu harus kuat."
Bisik Katya di telinga sang suami.
***
Ritual jempolnya jangan lupa...
Like, vote dan komennya ditunggu....
__ADS_1