
Doooorrrr
Rea menjerit sembari menutupi kepalanya. Suara tembakan terdengar begitu dekat di telinganya. Astaga, diculik dan sekarang dia kejar orang-orang yang siap memuntahkan timah panas padanya. Apa salahku? Keluh Rea dalam hati setengah menangis. Sambil berlari dengan berpegangan pada tangan besar Arka.
Satu suara tembakan terdengar lagi dan Rea kembali memekik. Sebab kali ini Arka yang menembak. "Kau kan bisa menembak? Kenapa takut?"
Pertanyaan Arka membuat Rea mengangkat wajahnya. Dia teringat pernah belajar menembak beberapa tahun lalu. Dan dia punya sertifikat menembak. Sebuah Revolver tiba-tiba berada di depan mata Rea. Dia pikir Arka hanya membawa Glock, ternyata Arka juga punya pistol lain.
Suara tembakan kembali terdengar dan tanpa ragu Rea langsung menerimanya. Seorang pria di ujung sana bersiap menembak mereka. Tapi Rea dengan cepat membidiknya dan pria itu langsung tumbang di tempat.
"Astaga, aku bunuh orang!"
Pekik Rea. Dia cukup kaget dengan tindakannya sendiri. Terlebih dia tengah mengandung.
"Tidak apa-apa. Ini untuk melindungi kita. Jika kita tidak menembak, maka mereka yang akan menembak dan membunuh kita."
Satu sudut bibir Arka tertarik. Setidaknya Andra melatih Rea dengan baik. Membekali kemampuan pertahanan dan bela diri pada Rea.
"Setidaknya kamu punya kemampuan dasar seorang mafia."
Batin Arka yang terus fokus pada lawan mereka di depan sana. Rea jelas kagum dengan kemampuan menembak Arka. Hingga pertanyaan siapa Arka sebenarnya semakin memenuhi benak Rea. Baku tembak itu lumayan lama terjadi. Hinggga peluru dari dua kubu itu sama-sama habis.
"Aku tidak percaya jika orang yang harus aku bunuh hari ini punya hubungan dengan Black Dragon."
Seru pemimpin orang-orang itu. Ekor mata Arka langsung menangkap ketidakpahaman Rea soal ucapan pria di depan sana. "Black Dragon itu apa?" Tanya Rea pada akhirnya. Dia tentu kepo dengan perkataan pria itu.
"Ciìiihh, kau ingin membunuhku. Bukan dia."
Jawab Arka santai. Pria itu memberi kode diam pada Rea. Sementara Arka mulai berjalan mendekati pria yang anak buahnya tinggal tiga orang.
"Kalau bisa mendapatkan kepala pemimpin Black Dragon, bukankah itu lebih baik?"
Pria berperawakan tinggi besar itu memutari tubuh Arka. Dia cukup terkesan melihat Arka yang berada di depannya. Sesaat pria itu ragu. Apa Arka adalah pemimpin klan Black Dragon yang terkenal kejam dan sadis saat beroperasi. Pasalnya Arka masih muda dan tentu saja, wajah tampan impian sejuta umat wanita di luar sana.
"Mau mencobanya?"
__ADS_1
Tantang Arka. Dia merasa cukup tenang karena Andra dan yang lainnya sudah dalam perjalanan menuju tempat itu.
"Kenapa tidak? Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini!"
Dua orang itu mulai beradu skill bertarung mereka. Arka jelas begitu lihai saat bertarung. Semua teknik penyerangan Arka sangat akurat. Seperti gabungan dari taekwondo, karate dan wushu. Pria itu juga tampak lincah saat menghindari serangan lawan.
Bunyi buk dan duk terus terdengar hingga pria yang menjadi lawan Arka jatuh tersungkur ketika Arka menendang ulu hati pria itu. Suara ringisan terdengar dan pria itu mengumpat seketika. Dia terlalu meremehkan kemampuan Arka.
"Masih mau lanjut?"
Rea menutup mulutnya saat pria itu mengeluarkan pisau lipatnya. Lalu tanpa basa basi kembali menyerang Arka. Arka hanya tersenyum smirk melihat lawannya menggunakan pisau.
"Ini tidak adil tahu!"
Arka jengah karena terlalu lama meladeni serangan tidak berbobot dari lawannya. Hingga Arka kembali menendang dada lawannya. Setelah menghempaskan pisau yang digunakan sebagai senjata oleh pria itu.
"Brengsek!"
Pria itu mengumpat. Tapi tak berapa lama senyum penuh kemenangan terlihat di bibir lawan Arka. Arka seketika mengikuti arah pandang pria itu, dan mata Arka membulat sempurna.
Dengus Arka kesal.
"Perutku kram lagi. Sakit."
Rea menjawab lirih. Sambil meringis tertahan. Wajah Rea cukup pucat. Dia jelas kelelahan. Serta di kepalanya, sebuah pistol siap diledakkan. Rea terlihat pasrah, wanita itu menatap Arka yang malah berkacak pinggang saat melihatnya.
"Lawan dong, Re."
"Kamu gila ya! Perutku sakit tahu!"
Pekik Rea kesal. Sementara Arka justru semakin santai.
"Menyerah atau kubunuh dia!" Ancam pria itu.
"Kalau kau menyentuhnya, bukan hanya aku yang akan memburumu, tapi juga mereka....."
__ADS_1
Di kejauhan mulai terlihat Andra, Alex dan Jack yang mendekat. Semua orang menoleh ke arah jalanan. Di mana tiga pria itu setengah berlari menuju ke arah Rea. Saat itulah digunakan Arka untuk menarik Glock dari pinggangnya dan sebuah tembakan melesat mengenai tangan pria yang menodongkan pistol ke kepala Rea.
Pria itu menjerit dengan darah langsung mengalir dari luka tembak pria itu. Hal yang sama juga terjadi pada Rea. Wanita itu memekik sambil menutup telinganya.
"Arka brengsek!"
Maki Rea. Mendengar hal itu Arka mendekat, pria itu masih menodongkan pistolnya ke arah pria-pria yang kini mundur ketakutan. "Aku lebih tua darimu, bisa-bisanya mengataiku brengsek!"
Balas Arka cuek. Tapi sorot matanya menunjukkan kelegaan, saat melihat Rea baik saja-saja. Andra dan yang lainnya turut mendekat dengan anak buah Jack dan Arka yang langsung meringkus empat orang itu. Juga membereskan mayat yang bergelimpangan di sana.
"Kamu tidak apa-apa?"
Tanya Andra cemas. Membantu Rea berdiri. "Sakit perutku."
"Kram lagi?" Rea mengangguk lemah. Detik berikutnya, beberapa mobil datang. Sekumpulan orang langsung mengepung tempat itu.
"Sial!"
Maki Arka. Pria itu jelas tidak menduga kalau akan ada kelompok lain yang akan menyerangnya. Dia salah perhitungan dan kurang waspada. Kepalanya seketika berdenyut nyeri. Bagaimana caranya mengeluarkan Rea dan yang lainnya dari tempat ini. Jika dihadapan mereka ada lebih dari tiga puluh orang mengelilingi, siap dengan pistol yang siap ditembakkan kapan saja.
"Kenapa kau membawa kami ke dalam masalahmu?"
Jack bertanya ketus. Arka berbalik dan memandang Jack. "Jadi aku harus diam saja jika mereka ingin mengincar adikku?"
Jack memundurkan langkahnya, mendengar bisikan Arka. Pria itu seketika menoleh ke arah Rea. Rea adalah adik Arka. Astaga, kejutan apa lagi ini. Jika begini caranya, sampai kapanpun hidup Rea akan selalu dalam bahaya. Arka pemimpin klan mafia Black Dragon dan Rea adalah adiknya.
Bagi Jack ini adalah kejutan terbesar yang pernah dia terima. Pria itu memberi kode pada Alex, mereka harus memanggil pasukan mereka dan Arka jelas sudah melakukannya sejak tadi. Bisa dipastikan kalau duel antar mafia akan segera terjadi padahal Rea perlu ke rumah sakit secepatnya. Wanita itu terus meringis menahan sakit sembari memeluk tubuh Andra yang tahu kalau hal buruk akan terjadi sebentar lagi.
"Ini sangat menyebalkan." Maki Arka di depan Jack.
****
Uplagi readers..
Jangan lupa ritual jempolnya...
__ADS_1
***