Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Ancaman


__ADS_3

Rea membelalakkan matanya, melihat Danu berdiri di depannya. Pria itu tampak santai memakai kaos dan celana jeansnya. Hampir sama dengan outfit Rea.


"Mau ke mana?" tanya Danu.


"Jalan-jalan." Jawab Rea singkat. Gadis itu sudah terlanjur menutup pintu pagar kos-annya. Danu sendiri sering mengamati Rea setelah pria itu tahu kalau Rea tinggal di seberang rumah sakit. Karena Danu berasal dari luar daerah, maka pria itu memilih tinggal di mess, yang disediakan untuk para angkatan yang tengah bertugas di sana.


Ketika Rea membuka pintu pagar, Danu dengan cepat mengganti pakaiannya. Senyum Danu terukir ketika dia tidak melihat Nana mengekor di belakang Rea.


"Aku temani ya. Sekalian cari sarapan. Nanti kamu tersesat." Danu memberi alasan.


Awalnya Rea menolak, tapi ketika Danu berkata kawasan sekitar itu rawan kejahatan, Rea jadi sedikit takut. Rea sudah berulang kali menghubungi Alex dan Andra bergantian, tapi keduanya tidak mengangkat panggilannya.


"Aku jalan-jalan dengan bodyguard dari rumah sakit."


Sebuah pesan singkat Rea kirim ke Andra dan Alex. Marah, marahlah mereka. Ngamuk, ngamuklah Andra.


"Siapa?"


"Pacarku."


Danu seketika terdiam. Rea benar-benar sudah memasang tembok tinggi di hatinya. Meski begitu, pria itu tetap menemani Rea. Sebab dia cukup khawatir dengan lingkungan sekitar tempat itu.


Rea benar-benar menikmati waktunya. Sedikitpun tidak menghiraukan Danu yang berjalan di sampingnya. Keduanya menyusuri tepi jalan raya. Menikmati udara pagi yang masih segar. Kendaraan belum banyak yang berlalu lalang. Mungkin juga karena ini hari minggu. Banyak kantor dan sekolah libur.


Setengah jam berlalu, dan perut Rea mulai terasa lapar. Sepertinya Danu cukup peka dengan hal itu. "Mau sarapan apa?"


Rea melihat sekeliling, dan melihat gerobak tukang nasi uduk. Sudah lama dia tidak memakannya. Di ibukota dia sering menyantapnya di abang yang berjualan dekat dojangnya, setelah selesai latihan atau menghajar Rio pastinya.


"Nasi uduk."


Dua mata cantiknya berbinar senang melihat ke arah penjual nasi uiduk. Tak berapa lama keduanya sudah duduk di sebuah kursi sembari menikmati sepiring nasi uduk komplit.



Kredit Pinterest.com


Danu cukup terkejut melihat porsi makan Rea. Menu komplit lumayan banyak isinya. Rea terkekeh melihat ekspresi Danu. Hal itu sukses membuat jantung Dani tidak aman.


"Aje gila senyumnya bikin lupa daratan."

__ADS_1


Pekik Danu dalam hati. "Aku memang makan banyak."


Seloroh Rea tanpa dosa. Gadis itu menyantap nasi uduknya. Sementara Danu malah sibuk mengamati Rea. Makan banyak tapi body slim, begitulah yang Danu pikirkan. Danu menggelengkan kepalanya lalu ikut melahap pesanannya.


"Oh iya dapat undangan dari Mas Fery?"


Rea mengangguk. Gadis itu belum memberitahu Alex, sebab dia harus mendapat pengawalan Alex kalau mau keluar ke mana-mana selama dia magang di sana.


"Mau pergi?"


Danu bertanya lagi. Sebuah kedikan bahu dari Rea menjadi jawabannya.


"Takut tunanganmu marah?"


"Tidak juga."


Rea menjawab singkat, hingga getar dari ponselnya membuat gadis itu mengeluarkan benda pipih tersebut dari kantong jaketnya. Sebuah pesan masuk, membuat Rea seketika celingak celinguk. Seperti mencari sesuatu.


"Aku makan nasi uduk."


Rea membalas pesan Alex. Tak berapa lama, sebuah deheman membuat Rea menoleh. Matanya membola melihat siapa yang datang.


"Astaga, si posesif datang."


Rea bertanya sembari mendekat ke arah dua pria yang baru turun dari sebuah mobil. Danu seketika menciut nyalinya. Melihat pria dengan tampilan modis keluar dari mobil yang terbilang mewah di mata Danu.


Sementara tatapan dua pria itu tidak lepas dari Danu. "Jangan begitu napa?"


Perkataan Rea membuat Andra segera mengalihkan perhatiannya pada sang tunangan.


"Ngapain?"


Andra bertanya sedikit kesal. Baru juga beberapa minggu Rea lepas dari pengawasannya, gadis itu sudah sarapan dengan pria lain yang menatap penuh cinta pada sang tunangan.


"Sarapanlah apa lagi. Kakak mau?"


Rea bertanya sembari menggenggam tangan Andra. Tidak Rea pungkiri, gadis itu juga merindukan pria yang tengah memasang tampang judes on itu. "Nggak!"


Andra menjawab sebal. Sementara Danu hanya bisa menduga kalau Andralah tunangan Rea. Melihat bagaimana tampilan Andra bisa dipastikan kalau pria itu bukan dari kalangan biasa. Lagi-lagi, dia harus kalah dengan yang namanya materi. Danu hanya bisa menarik nafasnya pelan.

__ADS_1


Pria itu lantas berdiri lalu mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Andra. Danu lalu menjelaskan kalau dirinya kebetulan mau cari sarapan dan bertemu Rea. Jadi sekalian saja.


Meski bagi Andra dan Alex itu hanyalah alasan saja. Mereka tahu Danu menyukai Rea. Pada akhirnya, Danu harus menelan kekecewaannya. Melihat Rea yang digandeng Andra pergi. Masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Alex. Setelah Andra membayar sarapan Rea dan Danu tentunya.


"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya, sudah menjaga tunangan saya."


Ucapan Andra membuat Danu kalah telak. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mendekati Rea melebihi konteks seorang teman. Ditambah lagi komen dari si abang tukang nasi uduk yang mengatakan Rea serasi dengan Andra. Hilang sudah selera makan Danu. Meski begitu, dia tetap menghabiskan sarapannya. Ujung bulan, dia harus menghemat gajinya.


Sementara itu, wajah manyun Andra masih berlanjut bahkan ketika mereka sudah sampai di hotel tempat pria itu menginap. NOVOTEL, hotel yang paling dekat dengan tempat magang Rea. Sebuah hotel bintang 4, yang kalau bagi Andra mungkin kurang mewah.


"Iissshh gak asyik banget sih. Dicuekin dari tadi."


Gerutu Rea, mengubah posisi duduknya jadi membelakangi Andra. Keduanya ada di lounge hotel itu. Sementara Alex langsung pergi, dia ada janji dengan temannya, begitu pria itu beralasan.


"Kamu tu yang gak asyik. Sudah berani selingkuh ya?"


Andra membalas ucapan Rea. Rea pun tidak mau kalah. Hingga keduanya kembali berdebat seperti biasanya. Perdebatan itu berakhir ketika Rea mengeluarkan jurus terakhir. Ngambek...alias merajuk.


Pada akhirnya, Andra yang kelimpungan membujuk Rea. Sebab Rea tipe akan meledak kalau terus menerus disudutkan dengan hal yang menurutnya tidak benar.


"Iya deh iya. Maaf, aku terlalu cemburu sama tu tentara."


Dan maaf, adalah senjata terakhir yang Andra miliki untuk meluluhkan hati Rea. Berhasil, meski gadis itu masih manyun tapi Rea mulai menyahut obrolan Andra.


Andra mulai menyantap sarapannya, dengan Rea asyik memainkan ponsel pria itu. "Sarapan lagi gak. Kamu kan masih dalam masa pertumbuhan."


Goda Andra. Meski dia sudah cukup puas dengan ukuran tubuh Rea. Gadis itu menggeleng pelan. "Ngamar yuk."


Rea seketika mengerutkan dahinya, lalu menggeleng. Dia pikir akan sangat berbahaya jika dia berduaan dengan Andra.


"Kenapa? Takut aku apa-apain?"


Rea mengangguk jujur. Andra terbahak. Meski pikiran gila itu sering mampir ke otaknya yang memang terhitung dewasa. Tapi dia mencoba untuk tidak melebihi batasnya. Mengingat di belakang Rea ada banyak bodyguard yang siap menghajarnya, kalau dia ketahuan menyentuh Rea melewati ambangnya. Dan bisa dipastikan jika mereka akan segera tahu kalau dia melakukannya.


"Aku kan sudah janji tidak akan macam-macam padamu sebelum kita menikah."


Menikah? Lagi, kata itu menjadi hal paling akhir yang berada dalam bucket list Rea. Gadis itu menatap Andra yang tengah meminum jus jeruknya. Apakah pria ini yang akan menjadi penutup dari bucket listnya?


Rea menggeleng pelan, setengah melamun. Hingga sebuah kecupan membuat Rea terkejut. Rea mengedip-ngedipkan matanya. Melihat Andra yang berada tepat di depan wajahnya. Spot jantung seketika menyerang Rea.

__ADS_1


Gadis itu kembali menģgeleng. Andra benar-benar ancaman bagi kesehatan jantungnya.


*****


__ADS_2