
Arianna tampak gugup dan tanpa sadar memegangi kedua lengan bajunya, dia memberi senyum manis pada Camila
"Aku suka seragam musim semi, Camila. Seragam musim panas terlalu terbuka untukku, jadi aku agak malu memakainya."
Lance juga menyadari keanehan ini dan bertukar pandang dengan Camila, tapi melihat Arianna yang terlihat enggan menjelaskan, maka dia harus menyerah untuk menghargai privasinya. Sementara Gabriel sendiri, tau bahwa ada sesuatu yang kembali terjadi di rumah Arianna.
Camila adalah pihak yang pertama kali memecah keheningan
"Itu hanya lengan kemeja diatas siku, tidak terlalu terbuka."
"Aku agak minder dengan lenganku" jawabnya.
Pandangan semua orang seketika berubah menjadi tatapan penuh arti, seolah mereka berbagi pemahaman diam-diam akan situasinya.
Gadis itu cepat-cepat menjelaskan
"Maksudku ... Aku terlalu kurus dan mudah merasa kedinginan, jadi lebih nyaman untukku memakai seragam berlengan panjang."
Arianna sepertinya sadar bahwa tatapan teman-temannya agak berbeda, terlepas dari apapun yang dia katakan. Jadi dia tampak lebih kikuk tapi tetap bicara dengan ceria
"Ngomong-ngomong ... Aku harus kembali duluan ke kelas, sampai jumpa besok!"
Gabriel menjadi yang pertama kali bereaksi mengingat dia duduk di sebelah Arianna, jadi dia dengan lembut menggenggam lengan pihak lain. Hendak mengingatkan bahwa jika dia kembali lebih awal, maka Arianna pasti akan berpapasan dengan Frost Harrison atau antek-anteknya.
Namun reaksi Arianna pada genggaman tangan Gabriel, terlalu berlebihan.
Tubuh gadis itu sedikit berjengit, disusul oleh suara mendesis, dan gemetaran.
Camila menyipitkan matanya, mengamati dalam diam.
Lance yang sudah menduganya, menghembuskan nafas panjang.
Gabriel refleks melepaskan genggamannya dan ikut berdiri, dengan panik bertanya
__ADS_1
"Maaf, apakah aku menyakitimu?"
Arianna segera tersadar dan menggeleng sambil tersenyum
"Tidak, aku hanya terkejut. Ada apa?"
Gabriel masih tampak khawatir, jadi dia menjawab dengan nada mengambang
"... Frost Harrison."
Arianna dengan cepat menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan yang disebutkan Gabriel, tapi begitu tidak mendapati orang itu, dia merasa lega. Baru kemudian tersadar bahwa mungkin Gabriel takut dia akan berpapasan dengan Frost Harrison di kelas jika kembali lebih awal, bodohnya Arianna hampir melupakan ini.
Dia dengan tenang duduk kembali dan fokus pada Camila, lalu teringat bahwa dia nyaris melupakan kotak makan siangnya. Dia tertawa
"Aku nyaris melupakan kotak ini, akan repot jika harus membawakan makanan tanpa kotak bekal."
Lance turut mengalihkan topik dan mengangguk setuju
Gabriel kembali duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, pikirannya melayang kemana-mana.
Camila mengusap mulutnya menggunakan sapu tangan dan merapikan kotak bekal
"Terimakasih atas makanannya."
Arianna mengangguk senang, menjulurkan kedua tangannya untuk mengambil kotak yang ada didepan Camila. Pihak lain menundukkan pandangan dan mengamati lengan seragam Arianna yang sedikit tersingkap akibat gerakan gadis itu.
Matanya berkilat dingin.
Ada memar-memar merah yang tak terjelaskan di lengannya.
Camila bukan orang bodoh.
Dia bisa membedakan mana memar akibat terjatuh, terbentur, atau dipukul. Memar di lengan kurus Arianna, jelas merupakan memar akibat dipukul.
__ADS_1
Dan itu tampaknya bukan akibat dari dipukul menggunakan tangan biasa, melainkan menggunakan sabuk atau bahkan tongkat dan cambuk.
Tapi siapa?
Arianna jelas terus bersamanya setiap jam istirahat atau jam kosong, jadi jelas perundungan yang dialami protagonis ini bisa dibilang sudah tidak ada. Terlebih Gabriel juga selalu datang bersama Arianna untuk makan siang, bisa dipastikan bahwa keamanan protagonis benar-benar terjamin.
Jadi ... Apakah orangtuanya?
Sadar bahwa Camila memperhatikan lengannya, Arianna cepat-cepat menarik kotak bekal dan bertanya
"Ada apa, Camila?"
Camila tersadar dan menggeleng satu kali
"Tidak. Hanya saja kau terlalu kurus, tidak sehat?"
Tubuh Arianna menjadi rileks dan senyumnya menjadi lebih baik
"Memang agak kurus sih, tapi aku selalu sehat kok! Jadi jangan khawatir."
"Baguslah" jawabnya.
Bagaimanapun juga Arianna adalah protagonis dari novel murahan, jadi dia tentu tidak akan menjawab bagaimanapun Camila dan Gabriel menanyainya. Akan sangat tidak etis juga jika mereka memaksa gadis itu untuk jujur. Tapi jika dia menawarkan untuk pulang bersama, pasti Arianna akan menolak.
Namun dia tidak bisa diam saja saat melihat gadis kecil yang dianiaya seperti ini.
Bahkan jika pihak lain adalah tokoh utama yang diberkati oleh surga.
Jadi disinilah Camila sekarang.
Berjalan kaki menuju komunitas perumahan tempat tinggal Arianna setelah bertanya pada guru dan warga sekitar, lalu bergegas kesana sendirian tanpa siapapun. Tapi dia yakin bahwa Gabriel pasti akan menyusulnya, bagaimanapun juga laki-laki itu adalah second lead. Jadi Camila tidak khawatir.
Sesampainya didepan pintu rumah Arianna, telinganya hanya menangkap suara keras dari teriakan marah seorang pria dan pukulan demi pukulan.
__ADS_1