
Dia baru selesai menitipkan mantelmya pada salah satu pengurus rumah tangga sepulangnya dari kantor, matanya menyapu ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu pukul sepuluh malam tepat. Jarinya yang terciprat oleh noda tinta pulpen menyisir rambut hitamnya secara sembarangan, tindakan ini membuat matanya tanpa sengaja menangkap salah satu lampu di sayap kanan kediaman Harrison yang masih menyala.
Keningnya berkerut, dia lantas bertanya pada salah satu pemgurus rumah yang bersiap pergi "Monyet api itu belum tidur?"
Keringat dingin jatuh dari sisi wajah gadis muda ini saat dia menjawab "Belum, nona. Tuan muda sedang ... Sibuk."
Tanpa harus mendengarkan lanjutan kalimat tersebut, Fiona sudah tau apa yang gadis ini maksud dengan 'sibuk'. Secara pasti, Fiona menginjak anak tangga satu demi satu dan melihat pintu kamar sang adik yang terbuka lebar dengan dua pelayan kecil yang tampak gemetaran di sudut.
"Ada apa ini? Tumben sekali" Fiona mengernyit melihat tumpukan baju berserakan di ruang ganti adiknya, dengan sang adik yang masih terus mengacak-acak seluruh ruang gantinya.
Melirik sepasang pelayan wanita kediaman Harrison yang berkeringat dingin akan tambahan beban pekerjaan mereka di sudut ruangan, Fiona akhirnya memutuskan turun tangan dan menepuk pundak adiknya. Sebagai orang yang akan menaruh fokus seratus persen pada apa yang mengganjal hatinya, tindakan ini tentu mengejutkan Frost.
Mengingat statusnya, mustahil para pelayan atau asisten rumah tangga yang akan mengusiknya, ini pasti salah satu anggota keluarganya. Entah itu ibu atau kakaknya, Fiona.
Sayangnya, dia sudah terlanjur melotot sebagai kebiasaan jika diganggu saat sedang sibuk. Segera, pukulan sayang dari Fiona mendarat di punggungnya.
Melihat cermin besar di sana dan Frost yang berdiri tepat didepan benda itu, Fiona segera mengerti pokok permasalahannya.
"Besok kau ada kencan?" tanyanya, sambil ikut mencarikan pakaian.
Frost hanya menjawab dengan "Mn."
__ADS_1
Wajahnya tampak merah.
"Yah ... Kalau begitu biar kubantu pilihkan untukmu" balas Fiona. Dia diam-diam merasa lega karena tidak butuh waktu yang sangat lama bagi adiknya untuk berhenti depresi soal Rushia, juga bahwa adiknya tidak serta merta menenggelamkan diri dalam pelukan sembarang wanita dalam beberapa waktu ini. Syukurlah.
Sepasang kakak beradik ini tak butuh waktu lama untuk memilih pakaian. Keesokan harinya Frost bahkan bangun dalam kondisi segar, dan keluar rumah dengan gembira menggunakan skateboard yang dihadiahkan oleh salah satu rekan bisnis kakaknya beberapa bulan lalu.
Dia akan bertemu gadis itu di toko es krim dekat taman kota, dan Noel sudah memberitahunya bahwa dia sudah sampai lebih dulu. Ini pertama kalinya mereka akan melihat penampilan satu sama lain, karena sejak pertama kali keduanya saling menghubungi, tidak ada satupun yang berinisatif menunjukkan wajah mereka bahkan jika itu sebatas foto profil. Terlebih semua akun media sosial milik Frost di masa lalu sudah dihapus demi 'pembersihan' beberapa waktu lalu.
Untuk menghindari situasi canggung karena salah menyapa orang, keduanya sepakat menggunakan kode wristband merah.
Namun sejauh apapun Frost mencari, bahkan hingga naik turun tangga di toko es krim sebanyak dua kali. Dia tidak kunjung menemukan sosok gadis atau wanita manapun yang memakai wristband merah di sana, hanya seorang pria besar yang duduk sendirian di sudut, dan itulah satu-satunya orang yang menggunakan wristband merah.
Seorang pria, dan bukan wanita.
Pria itu sangat cantik, tubuhnya proporsional antara massa otot dan tinggi badan. Tatapan pria itu jatuh ke pergelangan lengannya dan menatap lekat wristband merah milik Frost, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menghampirinya.
Seulas senyum yang sangat menyejukkan terlukis di wajah pria itu begitu keduanya berada di jarak yang tepat "Frost Harrison 'kan? Aku adalah orang yang membuat janji denganmu."
Tubuh pria ini lebih tinggi sekitar satu setengah kepala dari tinggi badannya sendiri, membuat Frost mau tidak mau harus mendongak saat berbicara dengannya. Dan ini sedikit melukai egonya.
Kegembiraan di hati Frost seketika pecah, dia tidak lagi berpura-pura tenang dan berseru tepat di wajah pria itu "Bukankah kau harusnya seorang wanita?!"
__ADS_1
"Ah ... Itu adikku, kami kembar. Hari ini dia sedang tidak enak badan. Dia sangat menyukaimu dan ingin bertemu denganmu sejak lama, sayang sekali kondisinya tidak memungkinkannya untuk berjalan-jalan. Tapi karena sudah terlanjur membuat janji, maka dia memintaku untuk menemuimu sebagai gantinya. Apakah tidak apa-apa?" senyumnya menjadi lebih dan lebih lembut saat dia berbicara, mata biru jernihnya juga berbinar saat pandangannya sepenuhnya fokus pada Frost.
Awalnya Frost kesal karena pasangan kencannya adalah seorang pria. Tapi setelah mendengar penjelasan dari orang ini, ditambah dengan tutur katanya yang sangat halus, Frost tidak tega jika harus marah-marah dengannya. Terlebih jika apa yang dikatakan oleh pria ini tentang 'kembar' memang benar, maka Noel pasti akan jauh lebih cantik dibandingkan saudara lelakinya ini.
Oleh karenanya meski merasa canggung setengah mati, Frost tetap duduk bersama pria ini sesuai janji.
Diluar dugaan, mengobrol dengan pria ini benar-benar sangat menyenangkan. Keduanya memiliki latar belakang keluarga yang agak mirip, jadi Frost bisa yakin bahwa Noel tidak mendekatinya karena status ataupun uang keluarga Harrison. Informasi ini membuat moodnya menjadi lebih dan lebih baik, ia tanpa sadar menurunkan kewaspadaannya pada pria ini dan mengobrol banyak hal dengannya.
Noah Evander adalah nama pria itu, dia adalah orang yang mengikuti pelatihan militer dalam jangka waktu yang sama dengan Camila. Namun berbeda dengan Blazemoche dan Harrison yang merupakan keluarga pebisnis, Evander adalah keluarga yang fokus pada urusan politik.
Berbanding terbalik dengan desas-desus tentang keluarga yang memiliki hubungan dengan politik, Noah adalah orang yang sangat cerah dan dewasa. Keduanya akrab dalam waktu yang cepat, Frost bahkan tanpa sungkan memanggilnya dengan sebutan 'kak' dan bertukar nomor kontak dengannya.
Setelah tiba jam waktu makan siang, barulah mereka berpisah karena sama-sama memiliki urusan. Tak lupa, Frost mengirim pesan keprihatinan tentang kondisi tubuh Noel.
^^^[Noel, kudengar dari kakakmu kau sedang sakit? Kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu.]^^^
Merasa bahwa pesannya tidak cukup tulus, Frost sekali lagi mengirim pesan.
^^^[Kalau kondisimu sudah membaik, mari kita bertemu.]^^^
Noah yang baru saja berpisah dengan Frost, dan secara tiba-tiba merasakan getaran lada ponselnya lantas mengeluarkan benda itu. Dia membaca pesan Frost yang ditujukan untuk 'adik kembar' yang tidak pernah ada, dengan seulas senyum manis juga rona samar di pipinya.
__ADS_1
Dengan gembira, pria itu membalas dua pesan tersebut dengan ...
[Aku sangat menantikannya.]