Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Orangtua teladan


__ADS_3

"Siapa yang melaporkan ini?" Seorang polisi bernama Nathan masuk bersama pemuda polisi di belakangnya, tampak baru lulus dari akademi kepolisian.


Melihat sepasang polisi ini datang, keberanian Orner kembali melambung dan dia bergerak maju sambil pincang. Jarinya menunjuk marah wajah Camila


"Polisi, akulah pelapornya! Cepat tangkap bocah gila ini! Dia tiba-tiba mendobrak pintuku dan memukuliku dengan sabuk!!"


Nathan mengikuti arah telunjuk Orner dan melihat sosok Camila yang duduk tenang sambil memeluk seseorang yang tampaknya sedang menangis, keningnya berkerut. Satu orang tampaknya merupakan anak dari keluarga ini, sedangkan satu orang lagi adalah teman sekolahnya. Dipikir bagaimanapun juga keduanya masih anak dibawah umur, jadi pihak lain hanya akan didisiplinkan di kantor polisi dan didenda.


Namun apa alasan gadis yang tampak berasal dari keluarga kaya ini masuk secara acak ke rumah orang dan memukulinya? Dipikir bagaimanapun juga sungguh tidak masuk akal, apakah ada sesuatu yang tidak mereka tau?


Merasakan dingin mint di mulutnya, Arianna melepaskan pelukan Camila dan berdiri. Dia menatap petugas dan bergerak untuk membuka kancing seragamnya


"Pak polisi, saya ingin membuat pengakuan."


Orner merasa sangat marah atas gangguan ini dan membentak Arianna


"Pemboros uang, jangan ikut campur! Tutup mulutmu!!"


Kening Nathan berkerut semakin dalam, apa-apaan dengan panggilan ini?


Evi melanjutkan


"Anna, nama belakangmu adalah Mackenzie dan kau adalah putri keluarga ini. Apakah kau masih ingin bersekongkol dengan orang luar untuk memfitnah ayahmu lagi?!"


Arianna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, melanjutkan


"Saya menjadi korban dari kekerasan dalam keluarga, pelakunya adalah ayah saya yang membuat panggilan telepon barusan."


Arianna melepaskan seragamnya dan mengekspos tubuh bagian atas yang masih terbalut singlet lusuh, memperlihatkan punggungnya yang penuh dengan memar merah dan ungu lebam. Tampak juga luka lama yang tertumpuk dengan beberapa luka baru, Nathan yang melihatnya bahkan merasa kesakitan dan marah.


Ayah macam apa ini?!


Nathan dengan marah menatap Orner di hadapannya yang kini sudah mundur beberapa langkah, suaranya dingin


"Bisa jelaskan apa maksud dari luka-luka di tubuh anak anda?"


Orner memelototi Arianna dan beralih kembali ke polisi, berujar panik


"Pak polisi, aku difitnah! Luka-luka itu tidak ada hubungannya denganku! Luka itu dia dapatkan di sekolahnya!"


Nathan menahan amarahnya


"Maksud anda dia ceroboh dan terluka di sekolah? Lalu bisa jelaskan kenapa dan dengan cara apa dia bisa mendapatkan luka parah semacam itu di sekolah?"

__ADS_1


Orner menyentak


"Dia dipukuli oleh teman sekolahnya!"


"Maksudmu itu adalah bullying?" Nathan tidak lagi menggunakan 'anda'.


"Ya! Ya! Itu adalah bullying! Bagaimanapun juga itu tidak ada hubungannya denganku!" Tegas Orner.


"Putrimu dibully di sekolah dan itu tidak ada hubungannya denganmu? Tidakkah kau peduli?" Geramnya.


Orner merasa kesal


"Kenapa harus?! Putriku benar-benar anak durhaka yang suka melawanku di rumah! Dia pasti bersikap tidak jauh berbeda di luar sana! Wajar dia dipukuli oleh orang-orang mengingat betapa kurang ajarnya dia!"


"Lihat! Dia bahkan memfitnahku didepan polisi sepertimu! Dia memang pantas dipukuli!" Lanjutnya.


"Kata-kata busuk macam apa yang kau bicarakan?! Apakah kau masih pantas menyebut dirimu seorang ayah?!" Nathan membentaknya, marah.


Orner tersentak dibentak seperti ini. Nathan kembali menenangkan diri dan berujar dingin


"Akan kuberi satu kesempatan untuk jujur, apakah kau mengakui apa yang dikatakan putrimu barusan?"


Melihat Orner akan berteriak untuk membantah lagi, Nathan menjadi tidak sabar dan melanjutkan


Sebenarnya dia tidak akan melakukan apapun pada pria ini, Nathan hanya menggertaknya agar mengaku.


Orner dengan cepat berteriak


"Baik! Memang aku yang melakukannya, terus kenapa?!"


"Dia putriku! Milikku! Aku bisa memukulinya sesukaku! Apa urusannya denganmu?!" Lanjutnya.


Nathan marah


"Kau sudah melanggar hukum!"


"Bagaimana aku bisa melanggar hukum?!"


Orner melanjutkan tanpa malu-malu


"Dia putriku! Aku yang memberinya hidup! Terserah padaku jika aku ingin memukulinya! Ini dibenarkan oleh prinsip nenek moyang kita! Jika dia bersikap seenaknya tanpa didisiplinkan dengan pemukulan, akan jadi apa dia nantinya?! Pak polisi, tampaknya kau sudah terlalu lama dimanja sampai kau bahkan tidak tau hal ini?! Apa kau benar-benar polisi?!"


Orner berjalan mendekati dua polisi yang berada di ambang pintu terbuka dan berteriak-teriak, seolah dia ingin agar seluruh dunia mendengarkan suaranya

__ADS_1


"Pak polisi, aku memanggilmu kemari untuk menyelesaikan masalahku! Kenapa kau justru mengusik urusan pribadi keluargaku?!"


"Lihat wajahku! Gadis itu memukuliku tanpa alasan! Apakah kau tidak berniat menyelesaikan ini?! Awas saja! Akan kulaporkan ini ke atasanmu bahwa kau memakan gaji buta dan tidak menyelesaikan tugasmu sebagai polisi dengan benar! Ingatlah bahwa kau memakan uang dari pajak yang kubayar! Tapi kau menolak untuk bekerja dengan benar!"


Nathan dan pemuda polisi benar-benar ingin menghajar orang di hadapannya ini, tapi keduanya menahan diri karena tidak ingin mencoreng nama kepolisian. Saat inilah sebuah suara bernada dingin terdengar


"Aku hanya membela diri."


Orner tidak tahan lagi


"Bagaimana bisa ini disebut pembelaan diri?! Aku tidak memukulmu! Kaulah yang memukuliku dengan sabuk!"


Camila dengan tenang berdiri


"Satu, aku tidak mengenalmu. Dua, itu bukan sabukku. Tiga, aku juga terluka. Jadi ini adalah pembelaan diri."


Gadis itu memperlihatkan lengan kurusnya yang memiliki memar berwarna merah seolah sudah dipukul sabuk. Jelas bahwa luka ini didapat akibat imbasnya setelah memegang sabuk terlalu lama, tapi karena kulitnya terlalu lembut maka luka ini tampak jauh lebih serius.


Nathan tidak tau darimana luka itu didapatkan atau seberapa bobrok logikanya, tapi gadis ini sudah membantunya memperkuat alasan dan lagi alibinya sempurna!


Nathan mengangguk senang dan menyetujui Camila


"Benar, itu adalah pembelaan diri! Kalau tidak, bagaimana bisa gadis asing tiba-tiba mendobrak masuk ke rumah orang tak dikenal dan memukulinya tanpa alasan?!"


Melihat wajah tercengang Orner, polisi itu melanjutkan


"Sekarang kau ikut kami! Kau dicurigai atas penganiayaan pada dua gadis dibawah umur!"


Melihat pemuda polisi yang sedari awal diam kini mengeluarkan borgol, Orner menjadi panik dan berteriak marah


"Sampah! Kau pasti kaki tangan pelacur ini 'kan?! Berapa banyak dia membayarmu hingga kau bisa membelanya seperti ini?! Kau sama sekali bukan polisi! Kau hanya lintah busuk yang menghisap uang pajak yang kami, rakyat miskin bayar!"


Nathan dengan cepat memeganginya agar pemuda itu bisa cepat memborgolnya


"Katakan itu lagi dan akan kutambahkan kejahatanmu karena sudah mencoreng nama baik kepolisian! Mari kita lihat sampai kapan kau akan mendekam di sel tahanan!"


Mendengar ini, Orner terdiam karena ketakutan. Evi yang melihat ini seketika menjadi cemas dan berteriak pada Arianna


"Anna, bagaimana bisa kau melakukan ini?! Dia ayahmu! Bagaimana kau bisa melaporkannya ke polisi?!"


"Ayah memukulimu karena dia mencintaimu! Dia tidak ingin putrinya menjadi sampah masyarakat! Dia memukulimu karena dia berharap kau bisa menjadi perempuan yang baik nantinya!"


Nathan benar-benar terdiam tak percaya pada otak keluarga ini.

__ADS_1


__ADS_2