
"Kau baik-baik saja?" tanya Camila pada pria muda yang sedang setengah berbaring dengan infus beserta dokter keluarga di sampingnya.
Tidak ada jawaban, hanya helaan nafas berat seolah pihak lain sudah memikul beban puluhan kilo di masing-masing pundaknya. Dengan satu lambaian tangan, dia meminta dokter keluarga mereka untuk undur diri dan memberikan keduanya privasi. Dokter yang kisaran umurnya berada di sekitar empat puluh tahunan ini, menatap dua orang tersebut dengan raut rumit.
Camila yang mendapatkan tatapan semacam ini sejak menginjakkan kaki kembali di kediaman Harrison, hanya merespon dengan senyum formal seperti biasanya. Seolah tidak akan peduli pada spekulasi seliar apapun yang dibuat oleh orang luar akan dirinya, seolah tidak ada satupun orang di kediaman ini yang layak untuk mendengarkan suaranya yang berharga.
Selama itu tidak menyeret Gabriel atau membuat bocah perak itu tersorot publik, maka dia masih bisa menanggung tatapan menghakimi seperti ini.
Frost sendiri tidak mengatakan apa-apa, bagaimanapun juga dia adalah pihak yang paling dirugikan oleh pemutusan pertunangan ini. Fiona memang masih memperlakukannya dengan baik, hanya saja wanita itu secara terang-terangan menjauhkan Frost dari urusan apapun yang terkait oleh perusahaan keluarga sedikit demi sedikit. Ibunya masih menyayanginya, meski dengan sedikit kilatan benci mengingat dia lebih banyak mewarisi gen ayahnya dibandingkan gen ibunya.
Awalnya dia bisa mentolerir semua ini karena dia tau bahwa semua anak keluarga kaya pasti mengalaminya. Masih untung dia tidak dihajar ataupun didepak dari keluarga seperti Aiden Blazemoche, seolah seluruh Harrison mentolerir apapun tindakan buruknya. Benar-benar membebaskannya.
"Melihat kondisimu saat ini ... Kurasa Fiona mengatakan hal yang benar?" Camila duduk di sebelahnya tanpa sungkan dan bahkan mengambil sebuah apel dari piring saji di atas meja Frost.
Pria muda itu masih mendiamkannya, tapi tatapannya tidak bisa mengkhianati bahwa bocah bau ini ingin mendengarkan kelanjutan perkataannya barusan dengan lebih detail.
"Kakakmu bilang ... Kau akan mati dalam pelukan wanita" jelasnya, tidak lagi merasa sungkan.
Frost yang pada awalnya murung, menjadi semakin down setelah mendengar ini. Dia memang tidak menyukai mantan tunangannya ini, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa setiap perkataannya memang benar. Bertahun-tahun yang lalu sebelum dia pergi keluar negeri dengan tujuan refleksi, Camila juga sudah pernah memperingatkannya.
"Jawabanku hanya satu, pergi keluar negeri dan temukan sendiri. Tapi karena aku sangat manis seperti yang kau pikirkan, maka akan kuberitahu beberapa hal."
"Oh!"
"Pertama, kau tidak akan bisa mewarisi Harrison. Tak peduli sebaik apapun dirimu, karena kau hanya puncak bukit kecil."
Frost mengernyit
"... Kau berada di pihak oposisi? Siapa itu?"
__ADS_1
"Kedua, kau dan Anna terlalu berbeda."
"Perbedaan itu bagus dalam suatu hubungan! Kita bisa saling melengkapi!" Pekiknya.
"Memangnya ayah dan ibumu saling melengkapi?" Pertanyaan ini benar-benar menusuk tepat di titik sakit male lead.
Frost langsung diam.
"Ketiga, kalau kau tidak berhenti bermain-main dengan gadis. Kau akan ditendang dari keluarga Harrison."
"Sebentar, apa maksud poin ketiga itu?!"
"Aku sudah mengatakannya, sekarang ayo kembali. Kurasa mereka sudah selesai."
"Camila!!"
Perkataan pertamanya menjadi kenyataan, karena Frost memang tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi pewaris dan harus puas dengan pembagian saham serta properti untuk saat ini. Karena mustahil menggulingkan kroni dan koneksi Fiona baik itu didalam maupun di perusahaan, mau sebaik apapun kemampuannya dalam berbisnis akan tetap menjadi sia-sia jika dibandingkan dengan kekuatan sang kakak. Kalau Frost memang ingin ngotot mengambil alih Harrison, maka satu-satunya jalan adalah membunuh Fiona.
Untuk perkataan Camila yang kedua, Frost tidak mau lagi memikirkannya. Bagaimanapun juga, memang mustahil memaksa orang untuk menerimanya.
Pernyataan ketiga sendiri, sudah menjadi kenyataan dan yang paling melukainya.
Dia tidak masalah harus kehilangan hak waris, bagaimanapun juga kakak dan ibunya masih mencintainya dan tidak mungkin melukainya. Selama dia berperilaku baik dan sungguh-sungguh memperbaiki dirinya, bukan tidak mungkin Fiona akan membiarkannya bekerja di perusahaan Harrison dan naik menggunakan kekuatannya sendiri seperti sang kakak. Memang menyedihkan tidak bisa menjadi raja, tapi menjadi pangeran untuk selamanya juga sama sekali tidak buruk.
Dia hanya ingin kehidupan tenang yang stabil dengan sedikit bumbu, tapi dia malah terluka sekali lagi.
Bertahun-tahun yang lalu, walaupun dia memang tampak dan bertindak seperti bajingan. Tapi perasaannya pada Arianna adalah sungguhan meski hanya sebatas kekaguman yang ia salah pahami sebagai cinta. Karena dalam dunianya yang penuh persaingan berdarah, ayahnya yang seorang bajingan yang suka main perempuan, fakta bahwa kebebasannya selama ini hanyalah alat untuk menghancurkannya di kaki, tunangan yang tidak mencintainya ... Satu-satunya yang melihatnya tanpa filter dan memperlakukannya dengan normal saat itu, hanyalah Arianna.
Senyumnya yang tulus, sangat berbeda dengan senyum centil gadis yang ingin mengeruk uangnya.
__ADS_1
Dia yang ketakutan tapi tetap tegar tanpa harus menghilangkan sisi lembutnya, juga berbeda dengan gadis bermulut kurang ajar yang menghancurkan perasaan orang dengan dalih menolak diskriminasi.
Saat itu kenapa ya dia begitu kurang ajar pada wanita? Entah itu Camila ataupun Arianna, kenapa?
Seolah otak, mulut, jantung dan tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu.
"Frost, jangan menggila di siang hari" teguran ini memutus ratapannya.
"Huh. Kau barusan pasti dari bersenang-senang dengan selingkuhanmu itu 'kan? Bagaimana rasanya menang? Kau pasti datang kemari untuk mengejekku 'kan? Brengsek" dia tidak akan pernah mau mengakui kekalahan ini. Semuanya baik-baik saja sebelumnya, tapi semuanya berubah sejak dia menghadiri perjamuan Blazsmoche minggu lalu.
Seluruh hidupnya seolah dijungkir balikkan dalam satu malam.
Camila tidak pernah bersikap lunak pada orang ini sejak awal, oleh karena itu dia membalas dengan kejam "Hei b*ngsat, berhenti melampiaskan rasa sakitmu dengan menyakiti orang lain kalau tidak ingin dipukuli."
Mendengar ini, wajah Frost merona untuk alasan yang tidak diketahui dan dia berdalih "Sok tau, kata siapa aku kesakitan? Aku hanya tidak enak badan!"
Namun Camila masih bersikap kurang ajar padanya "Bacot, Frost. Fiona sudah mengatakan semuanya padaku, dia ingin aku menyadarkanmu secara paksa karena kau terlalu tolol untuk menilai orang di sekitarmu."
Frost mendengus dan mulai memlrovokasi wanita arogan ini "Hah! Seolah kau tidak pernah salah menilai orang saja! Aku yakin kau bahkan tidak tau kalau Gabriel pernah 'membungkam' orang secara paksa 'kan? Dan kau masih memperlakukan iblis itu seperti anak anjing eksklusif yang hanya menggoyangkan ekornya untukmu."
Hening untuk beberapa waktu. Tapi Camila hanya menaikkan sebelah alisnya seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak berguna.
Wanita itu melemparkan satu apel merah ke pihak lain diikuti oleh sarkasme "Frost, kau bodoh atau naif sih? Membungkam orang, mengalihkan isu, merekayasa kecelakaan dan mengubah informasi itu merupakan hal biasa dalam lingkaran kita. Aku, Fiona, Aiden, Chester, bahkan Lance juga pernah melakukannya."
Dia menerima apel itu dengan bingung "......"
Camila sekali lagi menambahkan garam diatas lukanya "Itulah alasanmu dicoret sebagai ahli waris, kau terlalu naif dan polos. Tapi kau tergila-gila pada wanita dan akan selalu jatuh kedalam rayuan mereka seperti anjing yang menggoyangkan ekornya. Jangan mengatai anak orang sebagai anjing kalau kau sendiri juga masih menggonggong seperti anjing, Frost."
".... Kau yang anjing, Camila! Kau dan seluruh keluargamu!" Dia balas memakinya, mana mungkin dia diam saja mendengar omongan semacam itu? Frost juga melempar apel itu kembali ke wajah Camila.
__ADS_1
Tapi garis itu menangkapnya tanpa memerlukan banyak usaha dan langsung ke pokok permasalahan, satu-satunya alasan dia dipanggil kemari "Berhenti mnghinaku untuk mengubah topik pembicaraan, kemampuanmu dalam ini jelas nol besar. Berhenti mempermalukan dirimu sendiri. Katakan saja, benarkah Rushia-mu itu mencuri rahasia perusahaan Harrison melalui kedua tanganmu sendiri?"
Wajah jengkel Frost segera berubah seolah seseorang sudah menyiramkan air es padanya.