Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Kencan dengan Gabriel (2)


__ADS_3

Camila langsung mengerti dan mengubah arah pembicaraan mereka ".... Ngomong-ngomong, apa kau sudah sarapan?"


Gabriel tersenyum sangat cerah "Sudah."


"Pembohong" sinis Camila.


"... Aku ingat bahwa lambungmu lemah, Camila. Mau mampir ke restoranmu lebih dulu untuk sarapan?" Gabriel menyarankan ini.


Meski wajah dan ucapannya terkesan sangat perhatian, terbersit kesombongan disana. Ini memicu Camila untuk bertanya tentang tujuan mereka secara spesifik


"Tempat yang ada Arianna?"


"Mn."


"Kenapa kesana?" Meski sudah bisa menebak alasannya, dia tetap ingin tau.


Gabriel dengan enteng menjawab "Aku ingin memamerkan perkembangan hubungan kita."


Kali ini Camila yang terlalu tertegun untuk merespon perkataan barusan ".... Aku tidak tau harus merespon apa. Kurasa karena aku lapar."


"Aku akan meminta paman untuk berangkat" ujar Gabriel.


"Mn."


Gabriel membuka sekat pemisah dan mengatakan alamat tujuan mereka, yang memicu tanda tanya besar paman pengemudi. Mungkin karena mereka tampak seperti sepasang remaja biasa, tapi justru berniat mampir ke tempat yang cukup mewah. Untungnya dia tidak bertanya lebih jauh, bagaimanapun juga itu bukan urusannya sebagai supir taksi.


"Aku akan mentraktir sarapan" tegas Gabriel, mungkin dia sudah merasa bahwa Camila akan dengan keras kepala membayar sendiri.


Pihak lain dengan tenang menatap Gabriel, mulai merapikan penampilannya sendiri dan berkata "Kalau begitu aku yang akan membayar tiket bioskop beserta camilannya."

__ADS_1


"Lalu aku akan membayar tiket pertunjukan bawah laut nanti" dia tidak mau kalah.


Camila yang memang suka dengan kompetisi, tentu akan terus membalas "Aku akan membayar makan malam."


"Mana bisa begitu? Aku yang mengajakmu berkencan, dan aku laki-laki" Gabriel mulai keras kepala.


Camila menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata makian, yang akan membuatnya disebut dumb feminist. Begitu selesai memilah kata-kata, dia berujar lemah seolah dia sedang merajuk pada prianya "Jangan begitu, Gabriel. Aku juga ingin mentraktirmu saat kita berkencan, tidak boleh?"


Pertama kali melihat sisi ini, tentu saja membuat Gabriel mengalah  "Tapi aku ingin membelikanmu sesuatu."


"Hentikan, ini masih pagi. Aku tidak mau kita bertengkar soal siapa yang harus membayari siapa. Lebih baik kau duduk yang cantik, dan biarkan aku meminjam pundakmu sebentar" ujarnya, melambaikan tangan pada pihak lain.


Gabriel menghela nafas panjang dengan wajah merah "Camila, kau ini ... Oke, semalam kau pulang jam berapa?"


Dia merasa bahwa dirinya berhak tau soal ini.


Gabriel yang memiliki kebiasaan untuk menjaga kontak mata setiap bicara, refleks menoleh dan bertanya "Apa saja yang kalian lakukan?"


Dia lupa akan betapa dekatnya jarak mereka.


Dia melihat rambut cokelat muda Camila dari jarak yang sangat dekat, dan bisa mencium wangi teh yang samar.


Camila tidak mau mempermalukan Gabriel lagi, jadi dia berpura-pura tidak tau akan keanehan pihak lain "Kenapa? Ingin menggantikan bekas sentuhan Fiona di tubuhku?"


Pertanyaan ini langsung membuyarkan imajinasinya.


".... Camila, aku masih laki-laki" protesnya.


"Uh ... Maaf?"

__ADS_1


"... Tolong diingat juga bahwa aku sangat menyukaimu" tegas Gabriel.


"Oke, maaf ... Tapi kami tidak melakukan apa-apa, dia hanya menggandengku kemana-mana" dia menatap tangan besar Gabriel saat mengatakan ini.


"Lalu kenapa kau menanyakan itu padaku?" Dari nadanya,jelas bahwa Gabriel sedang merajuk.


"Aku hanya ingin sedikit menggodamu, apakah kau tersinggung? Kalau begitu maafkan aku" Camila mengatakan ini dengan sangat tulus.


Gabriel mencubit sedikit kulit tangan pihak lain dan memperingatkan "Jangan ulangi lagi. Mulutmu lambat laun bisa mendatangkan masalah besar, Camila."


Mengingat bom semalam, dia setuju tanpa membantah lebih jauh "Mn, aku tau."


"Maaf mengganggu kak, tapi sudah sampai di tujuan" suara paman pengemudi taksi menyadarkan keduanya.


Gabriel langsung cepat-cepat turun dan membayar sebelum keduluan oleh pasangan kencannya hari ini, Camila yang memiliki niat serupa hanya bisa terdiam.


Merasa menang melawan Camila untuk pertama kalinya, Gabriel tentu sangat senang dan tersenyum lima jari "Ayo masuk."


Pihak lain yang bisa merasakan gejolak emosi Gabriel, membalas dengan menggandeng lengan pria tersebut tanpa permisi. Membuatnya mematung dan wajahnya menjadi lebih merah dibandingkan sebelumnya.


Belum sempat Gabriel berlagak imut dan merajuk, tubuhnya terdorong mundur satu langkah karena ditabrak seseorang yang baru saja keluar restoran. Itu adalah pria paruh baya yang sangat dikenal Camila, dia langsung menarik lengan Gabriel untuk pergi menjauh.


Namun Gabriel dengan sopan santunnya yang merepotkan, justru mengulurkan tangan dan bertanya pada pria tua itu "Paman, apa kau tidak apa-apa?"


Paman yang sudah tergeletak di lantai alih-alih langsung pergi atau menyambut uluran tangan Gabriel, dia justru berteriak kesakitan di pinggir jalan


"Dasar tidak punya sopan santun! Kau menabrakku tapi masih berusaha untuk memalakku?! Benar-benar biad*b!!!"


Camila merasa pusing seketika akan situasi familiar ini.

__ADS_1


__ADS_2