Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Tunanganku


__ADS_3

".... Dih!" Frost mendecih mundur, jelas jijik akan apa yang barusan dia dengar.


Camila yang menanyakan ini dengan santai, tentu tidak tersinggung


"Kau benar-benar bocah menjijikkan."


"Kau sendiri juga selingkuh, Camila! Dengan dua orang pula! Kau tidak ada bedanya denganku!" Frost menunjuk wajah Camila.


Gadis itu dengan tenang melonggarkan kalungnya, sangat tidak nyaman


"Tapi aku tidak mencium mereka di tempat umum sepertimu, bodoh."


Frost berkedip beberapa kali untuk memproses ini, lalu memekik


"Kau mencium mereka?! Sudah kuduga, kau pasti-"


"Iri?" Potongnya.


"Kenapa harus?! Menjauh sana! Aku mau masuk ke dalam!" Dia merinding setiap kali berada di dekat Camila, bangkit dengan cepat dan berniat masuk kembali.


"Yakin? Mereka pasti masih saling memasang topeng seperti monyet sekarang" Camila dengan baik mengingatkan.


Frost lantas duduk kembali.


"Orangtua benar-benar menyebalkan" umpatnya.


"Benar. Hanya karena mereka lebih berpengalaman dalam hidup, mereka selalu menganggap keputusan mereka sebagai yang terbaik untuk kita" Camila setuju akan pernyataan ini.


Merasa bahwa mereka memiliki sesuatu yang mirip sebagai mitra, rasa jijik Frost berkurang satu poin


"Tak kusangka Blazemoche memiliki persoalan serupa. Sepertinya orangtua kita sama menyebalkannya."


"Setidaknya ayahku tidak sesampah ayahmu, Frost. Mungkin bakat berselingkuh milikmu itu sudah turunan" cibirnya.


Frost tak bisa berkata-kata untuk sesaat


"Kau minta dipukul ya?"


Dia tidak gentar sama sekali dan menopang dagunya menggunakan kedua tangan, memiringkan kepala


"Pukul saja. Aku sangat cantik dan manis, semua orang tentu akan lebih membelaku."


Frost bukan Gabriel, tindakan ini tentu tidak mempan padanya


"Kau benar-benar munafik, Camila."


"Kau sendiri bekas banyak gadis, Frost. Jangan sok mengguruiku" balasnya.


"Kenapa kita harus tetap bertunangan sih?" Dia tidak suka gadis yang terlalu kejam seperti ini, melukai egonya.


Camila menunjukkan untaian perak yang terpasang di gaunnya, menjawab


"Bisnis. Semua orang suka uang, Frost. Dan setiap orangtua jelas menginginkan menantu yang bisa mengembangkan potensi keluarga sepertiku."


Frost menyipit melihat gaun yang berkilau ini dan membalas


"Uang tidak bisa membeli cinta."


"Bisa. Kalau tidak, para gadis tidak akan mau dengan ayahmu" ujar Camila.


"Kenapa topiknya gelap sekali? Kau benci ayahku?" Kesalnya.


Camila mengibaskan rambut pendeknya dengan angkuh


"Sebagai pebisnis, aku mengaguminya. Tapi sebagai gadis, aku sangat membencinya. Aku yakin kau juga 'kan?"


"Ya."


"Alasan?" Dia penasaran akan hal ini. Meskipun dia membaca novel, tetap saja dia harus mempertimbangkan setiap POV.


Frost menjawab dengan senyum jijik di wajahnya


"Dia menyakiti ibuku dan membawa gundik serta anak haramnya ke kediaman keluarga utama Harrison."


Camila berpura-pura terkejut


"Wow, serius? Kenapa aku tidak tau? Kapan itu?"


Dia jelas menyadari kepura-puraan ini, tapi tetap menjawab


"Saat aku meneriakimu di tempat parkir."

__ADS_1


"Jadi kau melampiaskan amarahmu padaku? Bajingan" Camila tidak bisa mempercayai ini.


Frost sekali lagi menunjuk wajahnya


"Diam. Sifatmu juga menjijikkan, Camila. Kau juga bajingan."


"Jadi kau menjadi sangat menyebalkan karena itu?" Camila bertanya sambil bertopang dagu, tidak lagi memperhatikan imej.


Frost membenarkan


"Hm. Pikiranku kacau saat itu dan kau sangat menyebalkan. Aku tidak akan membenarkan kelakuanku, tapi aku juga tidak akan meminta maaf pada orang munafik sepertimu."


"Kau memakiku dengan sangat mengerikan di ruang hukuman, Frost. Aku berhutang sepuluh tamparan untukmu, bersiaplah" dia mengatakan ini sambil meregangkan jari-jarinya.


Frost masih ingat saat kepalanya diinjak gadis ini, tapi harga dirinya tidak membiarkannya untuk tampak gentar dan justru balas menantang


"Hah! Lakukan saja, aku tidak menyesalinya sama sekali. Toh semuanya sudah terjadi."


"Apa yang terjadi di Harrison saat itu yang membuatmu jadi sinting dan memakiku?" Camila kembali menyamankan posisi.


Raut wajahnya seketika menjadi suram


"Anak haram itu seumuran denganku."


"Wow."


Dia membaca bagian ini secara singkat di novel, anak itu lahir dari rahim seorang pembantu di kediaman Harrison. Tapi walaupun saat itu Tuan Harrison memang memaksakan kehendaknya pada si pembantu karena mabuk, dia tidak hamil dan bahkan menerima kompensasi dan permintaan maaf yang tulus dari Tuan Harrison.


Singkatnya, anak itu sama sekali bukan Harrison. Tapi kenapa bisa masuk ke kediaman Harrison?


Itu adalah akal-akalan Navy, si pembantu.


Dia menikmati manisnya diperlakukan dengan baik saat menjadi korban Tuan Harrison, menikmati manisnya uang dan properti sebagai kompensasi. Walaupun dia harus angkat kaki dan dilarang buka suara.


Awalnya dia merasa sakit hati karena harga dirinya diinjak, tapi lambat laun dia memikirkan hal lain dan muncullah pertanyaan ini di benaknya.


Jika dia diperlakukan sebaik ini saat sebatas jadi korban, bagaimana jika dia sampai hamil? Bukankah itu artinya dia memiliki kesempatan untuk menjadi Nyonya Harrison? Dengan begitu, bukankah aset milyaran dollar itu akan jadi miliknya?


Lanjutannya bisa Camila asumsikan sendiri, dan dia menatap sosok Frost dari samping.


Lelaki itu merasakan tatapan ini dan menyeringai dengan tampan padanya "Apa? Jangan bilang angin malam membuatmu jadi sinting dan jatuh cinta padaku?"


Dia masih anak yang menyedihkan dan naif, benar-benar tidak cocok untuk intrik dalam perusahaan.


Frost terkekeh geli, egonya melambung tinggi


"Aku sudah sering mendengar ini. Kau mau merayuku ya? Tidak mempan."


"Kau bukan tipeku."


Frost seketika cemberut


"Kau bilang aku tampan."


Gadis itu mendengus dingin


"Aku tidak suka pria tampan."


"Kau juga suka orang yang manis?" Lelaki itu mendadak menanyakan ini.


"Itu alasanmu menyukai Arianna?" Tanya Camila.


Mendengar nama gadis yang dia suka, wajah Frost membaik seketika


"Mn. Dia sederhana dan manis, seperti ibuku."


"Ibumu itu sama sekali tidak sederhana, Frost."


"Sebelum ayah membawa pulang gundiknya, ibuku adalah orang yang sangat manis dan sederhana" bantahnya.


"Kau tidak boleh bersama Arianna" tegas Camila.


"Hah? Kenapa? Karena kau masih tunanganku?"


Camila mengangguk ringan


"Itu adalah salah satunya. Tapi ada hal lain yang membuatku menolak ini, bahkan jika kita sudah putus nanti."


"Kenapa tidak?!" Jerit Frost.


"Kau harus mendapatkan jawabannya sendiri, Frost. Sudah kukatakan untuk berhenti bertanya padaku seperti orang tolol."

__ADS_1


"Huh! Sok misterius sekali kau ... Aku sebentar lagi mau pergi ke luar negeri dan tidak akan kembali dalam lima tahun, bisakah setidaknya kau bertingkah manis seperti di depan orangtuaku?!" Dia benar-benar tidak memahami Camila.


"Kau menjijikkan."


Mendengar hinaan yang tiba-tiba, Frost melotot


"Hei, aku juga jijik padamu. Tapi aku benar-benar penasaran soal ini, lagipula ini tidak seperti kau menyukaiku 'kan?"


"Memang tidak."


"Kalau begitu cepat beritahu alasannya!" Dia memaksa, bahkan sudah berdiri di depan Camila.


"..... Tidak."


"Kau sengaja ya, Camila?"


"Tidak."


"Kau ..."


"Ngomong-ngomong, Frost. Kenapa kau ingin menjadi pewaris Harrison?" Gadis itu bertanya tiba-tiba.


"Karena aku sangat la-"


"Kau tidak layak, sampah" potongnya.


Berkali-kali dilambungkan hanya untuk dibanting, sudah bagus untuk Frost bertahan sejauh ini


"Kau benar-benar minta dipukul ya, brengsek?"


Camila ikut berdiri


"Jawabanku hanya satu, pergi keluar negeri dan temukan sendiri. Tapi karena aku sangat manis seperti yang kau pikirkan, maka akan kuberitahu beberapa hal."


"Oh!"


"Pertama, kau tidak akan bisa mewarisi Harrison. Tak peduli sebaik apapun dirimu, karena kau hanya puncak bukit kecil."


Frost mengernyit


"... Kau berada di pihak oposisi? Kau mendukung siapa sebagai pewaris Harrison jika bukan aku?"


"Kedua, kau dan Anna terlalu berbeda."


"Perbedaan itu bagus dalam suatu hubungan! Kita bisa saling melengkapi!" Pekiknya.


"Memangnya ayah dan ibumu saling melengkapi?" Pertanyaan ini benar-benar menusuk tepat di titik sakit male lead.


Frost langsung diam.


"Ketiga, kalau kau tidak berhenti bermain-main dengan gadis. Kau akan ditendang dari keluarga Harrison."


"Sebentar, apa maksud poin ketiga itu?!"


"Aku sudah mengatakannya, sekarang ayo kembali. Kurasa mereka sudah selesai."


"Camila!!"


Frost tersandung, dan langsung menabrak tubuh Camila. Dia bukan gadis yang lemah lembut, tentu saja dia tidak akan ambruk ataupun oleng sedikitpun. Dia hanya terkejut karena ada beban ekstra di pundaknya secara tiba-tiba.


Namun Camila memiliki dorongan kuat untuk menghajar lelaki ini di tempat. Bagaimanapun juga, gaun yang dia pakai tidak memiliki lengan, otomatis Frost barusan secara langsung sudah mencium pundaknya.


Walaupun ini hanya kecelakaan.


Kejadian ini hanya dua detik, mengingat keduanya merasa jijik pada satu sama lain dan langsung menjauhkan diri.


Sayangnya, halo male lead milik Frost menambah kesialan sekaligus rasa jijik mereka untuk satu sama lain.


"Kelihatannya kalian berada dalam hubungan yang cukup baik tanpa kami harus ikut campur" Tuan Beau berkomentar begitu pengurus rumah membukakan pintu untuknya, dan langsung disuguhi pemandangan ini.


Fiona yang memiliki perjanjian dengan Camila, merasa bahwa gadis itu sudah membuat panggung sandiwara dan melakukan pekerjaan yang baik. Makanya Fiona langsung menambah bumbu tanpa berkedip "Ayah, mereka masih muda. Mungkin perjodohan ini membuat mereka merasa bahwa perasaan mereka merupakan hasil dari paksaan orangtua, padahal nyatanya tidak."


Manik Fiona melirik Camila yang dengan jelas menahan jijik, lalu melanjutkan perannya sebagai kakak "Saya rasa mereka hanya ingin menikmati alur dari pertunangan ini tanpa harus terbebani oleh perusahaan dan campur tangan kita."


"Begitu?" Tuan Beau jelas puas dengan pernyataan anak pertamanya.


Aiden yang tau soal perjanjian dua perempuan ini dengan cerdas memilih diam, memberi gestur tenang pada orangtuanya yang tampak tidak senang akan perkembangan ini.


Camila disisi lain ingin membantah, tapi urung mengingat hadiah saham yang dijanjikan oleh Fiona. Dia mengabaikan wajah jijik Frost dan menundukkan kepala, berpura-pura malu dan membungkuk satu kali "Permisi, maaf."


Lalu melesat masuk ke kediamannya.

__ADS_1


Frost yang menerima tatapan lega ayahnya dan atkting sok imut Camila secara tiba-tiba, tentu saja bingung.


Ada apa ini?


__ADS_2