
"Menurutmu apa tanggapan keluarga Harrison soal ini, Camila?" Tanya Gabriel sembari mengaduk-aduk tehnya.
Camila hanya mengunyah sebuah biskuit di atas meja dan menjawab sesuai dengan apa yang ada di otaknya
"Mungkin mereka akan mengirim Frost ke luar negeri untuk beberapa tahun, setidaknya sampai pemberitaan ini hilang dari ingatan orang-orang."
Gabriel masih tampak tidak nyaman sekalipun jawaban barusan cukup menenangkan dirinya, mengingat betapa Frost sudah mengusik mereka semua. Dia sesekali curi-curi pandang ke Camila, hatinya gatal ingin bertanya.
"Kenapa?" Camila adalah yang pertama kali bicara.
Gabriel sontak kelabakan, wajahnya merona
"Tidak! Tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu biar kutebak, kau merasa keberatan" entengnya.
Begitu Camila selesai menyesap minuman, dia kembali melanjutkan
"Yakin tidak mau bertanya? Kau tampak sangat terbebani."
Gabriel menundukkan kepala, melihat pintu bilik yang tertutup seperti sedia kala juga sisa minuman Lance yang sudah mendingin. Jujur saja dia masih terkejut akan apa yang barusan dia saksikan, dia tidak menduga bahwa Camila menyukai Lance sampai ke titik itu.
Jadi bisa dipastikan bahwa Camila akan bertunangan dengan Lance di masa depan, begitu gadis itu berhasil lepas dari Frost Harrison.
"Akan sangat merepotkan jika kau seperti ini didepan orang lain nanti, Gabriel" Camila berujar lembut, menyadarkan Gabriel dari lamunannya seketika.
"Bagaimanapun juga, komunikasi itu penting. Kalau kau terus diam dan sibuk berasumsi sendiri, kurasa hubunganmu tidak akan bertahan lama" jelasnya.
Gabriel sontak merona malu, wajahnya tertunduk
"Kau benar."
"Mungkin ini agak tidak sopan, dan kau pasti akan menganggapmu kuno atau terlalu konservatif. Tapi ... Kenapa kau mencium Lance?" Gabriel akhirnya menanyakan hal yang membuatnya gugup sejak lima belas menit lalu, mengumpulkan keberaniannya untuk mengajukan satu pertanyaan pada Camila.
Karena entah sejak kapan, dia berdebar kencang untuknya.
Gabriel bukan anak bau kencur, dia jenius. Jelas dia tau apa yang saat ini dia rasakan.
Camila yang berani, jujur, tegas tanpa menyakiti perasaan orang, adalah sosok paling menyilaukan yang pernah dia lihat.
Dulu dia berpikir, tidak akan ada gadis sebaik Arianna. Gadis yang lemah lembut, pekerja keras, kuat dan mandiri. Tapi dia salah.
Setelah malam dimana dia berdarah karena menentang sesuatu dalam dirinya, yang memaksa agar dia menyukai Arianna. Segalanya terasa lebih didalam kendali dan bahwa dia benar-benar 'hidup' kali ini, lalu hal pertama yang dia pikirkan setelah berdarah dengan sangat parah adalah ..
Dia menyukai Camila Blazemoche, bukan Arianna Mackenzie.
"Alasanku cukup sederhana, Gabriel. Dia dirugikan dalam hal ini, dia layak untuk kompensasi" jawab Camila pada pertanyaan pihak lain.
"Itu saja?" Dia memastikan.
"Mn."
Dia tidak tau harus merasakan apa didalam hatinya, jadi dia memperjelas pertanyaan barusan
"Kau ... Tidak menyukai Lance?"
__ADS_1
"Suka yang semacam apa?" Dia butuh sesuatu yang lebih detail sebelum bisa menjawab.
Gabriel mengajukan pertanyaan dengan gugup
"Suka dalam artian ... Romansa?"
Yang dijawab pihak lain dengan satu kata
"Tidak."
"Benar-benar tidak?"
"Mn."
Gabriel merasa lega, tapi juga merasa aneh. Jadi dia sedikit menyanggah
"Tapi ... Kalian memiliki janji kencan."
Camila masih dengan tenang menjawab
"Hanya kencan, sama saja dengan dua orang teman yang berjalan-jalan. Lagipula, Lance sudah bertunangan."
"Kalau begitu ... Bukankah ini perselingkuhan?" Dia bertanya dengan nada hati-hati.
Gerakan Camila terhenti untuk beberapa saat, sebelum dia akhirnya menjawab
"Tidak bisa disebut perselingkuhan kalau tunangan Lance mengetahuinya, tapi tetap memilih bungkam dan pura-pura tidak melihat."
"Bisa saja kalau tunangannya sakit hati dan memilih tutup mulut 'kan?" Gabriel kembali menyanggah, yang dibalas dengan gelengan.
"Tidak, Gabriel. Dia diam karena saat ini dia juga berkencan dengan seseorang, mengekspos kami berarti juga mengekspos dirinya. Dia pintar" sanggahnya.
"Sebelum kami 18 tahun, kami dibebaskan untuk berkencan dengan siapa saja. Sebelum akhirnya terjebak dengan satu orang, makanya aku memutuskan hubungan dengan Frost sekarang, sebelum semuanya terlambat" jelasnya.
"Begitu ..." Gabriel membeo.
Camila menyesap minumannya, lalu mengatakan apa yang mengganjal di hatinya akhir-akhir ini
"Gabriel, jujur saja ... Kau memang aneh, aku merasa bahwa yang ingin kau katakan sama sekali bukan ini."
Gabriel langsung kembali gugup
"Uh ..."
Camila dengan santai berujar
"Bicaralah, akan kutunggu. Tapi lebih baik cepat, waktu kita menyewa bilik ini akan segera berakhir."
"... Mn."
Bolehkah kukatakan sekarang?
Kalau kukatakan, bukankah aku punya kesempatan yang sama dengan Lance?
Kalau Camila menolak?
__ADS_1
Tidak, tunggu. Lance bahkan masih bisa mendekati Camila, mungkin aku juga berakhir demikian. Yang paling penting saat ini, adalah kesempatan.
Lagipula memangnya apa hal terburuk yang bisa terjadi?
Camila bukan orang jahat.
"Gabriel?"
Ini mudah. Aku hanya tinggal mengatakannya.
Suka.
Cinta.
Suka.
Cinta.
Suka.
Ci-
"Camila ... !"
Mendengar seruan tiba-tiba ini, yang dipanggil tentu saja kebingungan
"???"
"... Cium!"
Namun begitu mendengar lanjutannya, dia jatuh dalam kebingungan ekstrim dan hanya bisa merespon dengan
"Hah?"
Gabriel juga sama, dia terpaku begitu itulah kata yang keluar dari mulutnya
"Eh?"
Camila mengangkat sebelah alisnya dengan heran, mengkonfirmasi apa yang barusan dia dengar
"Cium?"
Gabriel dengan panik menggerak-gerakkan tangannya dengan wajah memerah parah
"Tidak! Bukan! Maksudku adalah-"
"Kenapa? Kau juga mau dicium?" Tanyanya.
Gabriel lantas kehilangan semua kata-kata pembelaan diri, dan hanya terus mengucapkan satu kata berulangkali seperti kaset rusak
"Aku ... Aku ..."
Gadis tersebut membalas enteng
"Baiklah."
__ADS_1
"Eh?"
Di tengah kebingungan bercampur rasa malu Gabriel, dia melihat gadis yang disukainya menyelipkan rambut ke telinga sebelum berdiri dan mendekatkan wajahnya. Camila juga menarik dagu Gabriel dengan lembut, dengan santai menargetkan bibirnya.