Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Wali


__ADS_3

Dia baru membuka mata saat mendengar suara pintu yang terbuka, mendapati wajah Bu Alice yang menatapnya dengan khawatir. Beliau adalah guru konseling khusus siswi, jadi wajar melihatnya disini.


"Kau sudah melalui begitu banyak hal, Blazemoche" adalah kalimat yang pertama kali diucapkan oleh gurunya.


"Ingatlah untuk langsung sarapan, kantin akademi selalu memiliki bubur hangat di pagi hari. Kau juga tidak harus pergi ke kelas selama dua hari, istirahatlah. Kami sudah tau siapa yang bersalah atas insiden ini" beliau membantunya bangkit dari kursi besi, tempatnya menghabiskan malam di ruang introspeksi tanpa makan ataupun minum.


Sistem hukuman di akademi memang cukup mengerikan.


Mereka akan membuat siswanya kelaparan dan dehidrasi semalaman dalam ruang gelap yang berukuran kecil, dengan tujuan untuk melemahkan pertahanan psikologis mereka. Karena dengan memaksa manusia dalam kondisi kritis, maka manusia secara otomatis akan mengeluarkan cakar mereka, sisi paling terdalam mereka.


Camila berhasil melewati ujian ini dengan tenang, tapi tidak dengan Frost.


"Harrison benar-benar sesuatu. Para guru sudah tau bahwa anak ini bermasalah, tapi kami tidak pernah menduga bahwa dia begitu penuh kedengkian dan tidak masuk akal. Akademi ini tidak bisa menampung orang sepertinya, oleh karena itu para dewan dan petinggi sedang rapat saat ini dan tidak akan ada materi" jelasnya sambil memapah Camila keluar.


Sekolah dalam novel benar-benar luar biasa, penanganannya sangat efisien.


Lucunya, tidak pernah ada adegan dimana Frost masuk ruang introspeksi tak peduli sebejat apa dia. Saat ini bahkan orang-orang sudah mulai tidak menyukai male lead, yang artinya plot armor Frost Harrison sudah melemah.


Akankah ada kemungkinan kesadaran dunia mengganti male lead-nya?


Kalau iya, dia akan sangat senang.


Matanya melirik ruang sebelah, melihat Frost yang sedang berbaring tak sadarkan diri diatas tandu. Miss Alice di sampingnya hanya menghela nafas panjang, tidak habis pikir "Semalam setelah kau tertidur, anak ini terus menerus memakimu hingga pagi buta. Pingsan karena kehabisan energi, adalah wajar."


"Orang-orang Harrison dan Blazemoche sedang dalam perjalanan, kau bisa beristirahat lebih dulu. Perlu diantar?" Miss Alice menawarkan bantuan.


Namun Camila menolaknya sopan "Tidak perlu, terimakasih."


Beliau mengangguk mengerti "Baiklah. Jaga dirimu, Blazemoche."


Camila masih tampak tenang saat dia berjalan dengan langkah lambat menuju asrama akademi untuk istirahat sebentar, koridor begitu sepi tanpa siswa. Karena semua orang mungkin tidak merasa harus datang ke sekolah untuk menghabiskan waktu saat para guru rapat, jadi Camila bisa istirahat.


Gadis itu terus berjalan dengan tenang, wajahnya tampak pucat. Jika seseorang memperhatikannya dengan lebih seksama, maka mereka juga bisa menemukan kaki dan tangannya yang bergetar karena hipoglikemia. Rasanya sangat pusing, seolah dia bisa pingsan kapan saja.


Untunglah saat ini telinganya menangkap suara langkah kaki beberapa orang, dan panggilan yang dia kenal dari seorang lelaki berisik "Camila, syukurlah kau baik-baik saja. Aku sempat panik karena tidak menemukanmu di ruang introspeksi, untungnya kita bertemu di sini."


"Camila, aku membawakanmu bubur yang bagus untuk perut. Ini juga masih hangat, ayo makan! Kau pasti sangat lelah" Arianna mendadak mencegatnya dan memamerkan kotak makan siang yang dia bawa, bersama dengan termos abu-abu polos kesayangannya.


Camila diam saja.


Lance jelas merasa bahwa ada yang tidak beres karena gadis ini bernafas lebih keras dibandingkan biasanya. Tanpa banyak tanya, dia secara alami menggendong Camila ke ruang kesehatan. Arianna juga mengikuti di belakang dengan cemas.

__ADS_1


Gadis itu masih sadar, tentu saja.


Tapi dia tidak menolak perlakuan ini, teman-temannya sangat baik.


Tidak seperti mereka di dunia sebelumnya.


Arianna menyesuaikan posisi berbaring Camila sebelum melihat lelaki berambut merah di sampingnya "Lance, bisa naikkan sedikit kasurnya? Aku akan menyuapi Camila, dia harus makan."


Lance menyetujui tanpa protes "Benar. Tapi kau harus memberinya minum lebih dulu, dia dehidrasi."


"Haruskah aku membeli air kelapa?" Gadis itu menyarankan.


Lance mencegahnya dan berkata "Tidak akan sempat, tuangkan saja air di termos yang kau bawa."


Merasa sudah membuat kesalahan karena misinformasi, dia meringis "Ini ... Ini teh barley."


"Anna, kau bodoh ya? Kenapa kau membawakannya sesuatu yang dingin? Kalau perut Camila kram bagaimana?" Sindir Frost.


Arianna seketika facepalm "Setidaknya aku masih mending dibandingkan kau yang tidak membawa apa-apa."


Lance menepuk dadanya dengan bangga dan senyum sombongnya "Kata siapa? Aku membawa diriku sendiri. Wajah dan tubuhku adalah support system terbaik untuk Camila."


Merasa percuma bicara pada Lance, Arianna beralih tersenyum lembut pada Camila dan menyodorkan bubur "Camila, buka mulutmu."


Pihak lain menggeleng sopan "Aku bisa makan sendiri."


"Oh."


Lance mengulas senyum sarkastik "Heh. Ditolak."


Arianna balas mencibir, lalu berkata "Berisik. Kau sendiri juga ditolak."


"....."


Gadis yang sedang berbaring lemas tadi, buka mulut secara tiba-tiba "Aku mau ke toilet."


Lance dengan sigap membuka kedua lengannya "Camila, aku bisa membantumu."


Arianna tentu memukul lengan itu "Lance, sadarlah kalau kau ini laki-laki. Kau tidak boleh masuk ke toilet perempuan."


"Kenapa kau sekarang mendiskriminasi gender?" Cibirnya.

__ADS_1


"Ini bukan diskriminasi! Ini norma masyarakat!" Arianna melotot.


"Cih."


Arianna kembali mendekati temannya dengan wajah tersenyum "Camila, biar kubantu."


"Tidak! Aku tidak menerima pelangi ini! Camila milikku!" Lance menjerit sambil menarik lengan Arianna agar menjauh dari Camila.


"Lance, kau menyebalkan!" Arianna balas menjerit.


Tepat saat lelaki merah itu akan membalas lagi, Camila berkata "Lance, tolong bantu aku menghubungi kak Aiden menggunakan ponselku."


"Oh! Oke!" Dia segera lupa akan berkata apa, lalu berjalan keluar untuk mengambil tas Camila dari loker penitipan.


Gadis itu segera menoleh pada gadis lain, memberinya senyum lemah "Arianna, bisa tolong belikan aku air madu di kafetaria?"


Rasa keibuan Arianna lantas tersentuh, dia menyetujui tanpa pikir panjang dan masih sempat-sempatnya memberikan wejangan pada Camila "Baiklah! Tapi setidaknya kau harus makan sesuap bubur dulu."


"Akan kulakukan" angguknya.


Camila baru berjalan ke kamar mandi setelah kedua temannya pergi, menyelesaikan urusannya.


Dia kembali ke kasur ruang kesehatan, hanya untuk mendapati seorang wanita tak dikenal disana.


"Camila Blazemoche?" Sapanya, dia tampak membawa paper bag yang entah berisi apa.


Yang dipanggil melirik ke sekeliling ruang kesehatan dan mendapati ada cctv di sudut-sudut, karena itu dia merasa tenang dan berjalan mendekat. Sedikit membungkukkan badan untuk menyapa, lalu bertanya "Maaf, apakah kita saling mengenal?"


Wanita itu merapikan pakaian bisnisnya dan menyisir rambut hitamnya dengan anggun, tersenyum "Mungkin tidak, tapi aku termasuk anggota inti keluarga Harrison. Kakak perempuan tunanganmu, Fiona Harrison. Maaf baru bisa memperkenalkan diri, ini pertama kalinya bukan?"


"Ya. Apakah anda menjadi wali Frost Harrison saat ini?" Jujur saja dia agak terkejut, karena tidak pernah ada penjelasan tentang sosok semacam ini didalam novel.


"Iya. Terkejut?" Tanyanya.


Melihat paper bag yang tampak berisi perhiasan itu, Camila menjawab "Tidak terlalu. Tapi anda tidak perlu menyuap saya."


Mendengar jawaban tajam gadis kecil ini, Fiona terkekeh sejenak dan menutup mulutnya dengan geli "Sepertinya ada kesalahpahaman. Aku kesini untuk menjadi wali dan menyelesaikan ini, sekaligus menendang keluar Frost Harrison dari negeri ini."


"Oh?"


Orang ini baru saja datang, dan tak henti-hentinya memberikan kejutan.

__ADS_1


__ADS_2