
Gabriel menatap gadis diatasnya tanpa berkedip. Dia baru bisa mencerna situasi saat Camila tertawa kecil dan menjauhkan diri ke jarak normal, Gabriel menutupi wajahnya dengan rasa malu yang sungguh kentara.
"Pergilah lebih dulu, Gabriel. Selesaikan masalahmu sebelum datang padaku, aku juga akan menyelesaikan masalahku" Camila tampak kalem saat mengatakan ini.
"Kau akan menungguku?" Gabriel mencoba memastikan, mengintip malu-malu dari sela jari yang menutupi wajahnya.
Dia secara alami mengangguk "Tentu. Kau sudah menungguku dengan baik, kenapa aku tidak bisa menunggumu?"
"Benar .... Tetaplah disini. Begitu aku selesai mendengarkan apa masalahnya, aku akan segera kembali. Tidak keberatan menonton film sastra disini?"
"Tidak masalah, aku suka sastra."
Gabriel melangkah pergi dengan mata aneh, pria itu akan menoleh setiap membuat sepuluh langkah dan terus melakukan ini hingga keluar dari wilayah paviliun Wundervei. Camila sendiri tidak ambil pusing, dia dengan sadar mencium Gabriel atas inisiatifnya sendiri.
Bahkan walau dia tau paviliun ini terhubung langsung dengan mansion Wundervei, dengan kamera pengawasan di beberapa sudut.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa, mungkin karena merasa bahwa Camila akan menolak permintaannya. Sekarang Gabriel pasti harus menerima segudang pertanyaan dari panatua Wundervei karena membawa seorang wanita, dan kemungkinan akan dihukum karena sudah melakukan perbuatan buruk.
Aku merasa sudah menjadi b*jingan.
Itulah yang dipikirkan Camila.
Namun dia tetap dengan licik membuat pipinya merona, lalu menyentuh mulutnya sendiri dengan gerakan malu-malu. Seakan dia hanya berpura-pura tangguh, dan langsung melepaskan cangkangnya begitu ditinggalkan sendirian.
Cara ini selalu mempan pada para panatua Harrison, dan dia ingin mencobanya pada panatua Wundervei.
Kalau panatua Wundervei tidak termakan oleh aktingnya sebagai tsundere, itu berarti keluarga ini lebih tajam dibandingkan keluarga male lead. Akan lebih baik jika seseorang seperti Gabriel berada di sisinya saat krisis, dibandingkan pria lain yang tidak jelas asal-usulnya dan belum tentu pantas menjadi bidak.
"Gabriel ..." Bisiknya dengan penuh makna mendalam.
__ADS_1
...................................
Pria yang mengawasi kamera paviliun Wundervei, melaporkan situasi ini melalui panggilan telepon "Benar, nona muda ini sepertinya memiliki perasaan diam-diam pada tuan muda. Melihat dari mimik wajah serta tingkah lakunya, mungkin nona ini memiliki situasi rumit di rumah."
"Ada kemungkinan dia hanya berpura-pura? Bagaimana posisi kakinya? Dimana dia meletakkan jarinya? Seberapa cepat dia berkedip dan ke arah mana dia menatap?" Pihak di seberang panggilan menyerang pria itu dengan rentetan pertanyaan.
Pria pengawas memperbesar gambar di layar untuk mengamati lebih dekat "Dia duduk dalam posisi tertutup dan punggung yang sedikit membungkuk, kedua kakinya tertekuk ke arah dalam, matanya melihat ke bawah dan dia berkedip secara lambat. Untuk jari .... Dia meletakkan kedua lengannya dengan lemah ke sisi tubuh."
Keduanya langsung memiliki kesimpulan serupa, perilaku tanpa sadar yang sangat sempurna.
Sangat sempurna, tapi justru disanalah letak keanehannya.
Orang di seberang panggilan lantas tertawa sebelum memaki dengan lirih ".... Penipu kecil."
"Haruskah saya mengusirnya dari paviliun?" Pria pengawas menyarankan ini.
Pria tua berambut perak itu tertawa kecil dan melambaikan tangannya "Tidak, biarkan saja dulu. Aku ingin dia menjadi batu asahan untuk cucuku yang lembek, akan bagus jika dia menyukai Gabriel ... Tapi jika tidak, biarkan saja."
Apakah tidak masalah membuatnya hancur karena cinta pertama? Bagaimana jika ini akan menimbulkan trauma?
"Iya, biarkan saja. Selama dia tidak merampas Wundervei, maka tidak apa-apa meskipun dia menghancurkan perasaan Gabriel. Anak itu adalah satu-satunya, aku ingin dia menjadi semut terkuat."
"Baik."
"Kakek .... Ada apa memanggilku?"
Pria yang disebut sebagai kakek dan kepalanya sudah tertutup uban, merupakan patriark keluarga Wundervei. Pria yang memegang peranan terpenting dalam membuat setiap kesepakatan didalam keluarga, Drake Wundervei.
"Tidak ada apa-apa, aku mampir begitu mendengar kalau kau membawa gadis ke paviliun Wundervei?" Beliau menanyakan sesuatu yang jelas mereka semua sudah tau.
__ADS_1
Manik ungu cerah Gabriel menyipit sebelum bibirnya melengkung seperti bulan sabit, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dengan cara yang terkesan ceroboh "Maaf, apakah aku terlalu lancang?"
Kombinasi semacam ini ditambah statusnya sebagai cucu satu-satunya, merupakan titik lemah Tuan Drake "Tidak, tidak ... Wajar bagi pria seumuranmu untuk penasaran untuk mencicipi hal-hal semacam itu, aku juga tidak melihatmu memaksanya. Kontrol diri yang bagus, Gabriel."
Senyum pihak yang lebih muda segera menghilang ".... Aku menyukainya, bukan hanya sekedar penasaran. Kakek, kuharap kedepannya kau tidak menggunakan istilah merendahkan untuk orang yang kusukai."
Beliau tersenyum lembut dan mengalihkan topik pembicaraan, tau kapan harus berhenti agar tidak memprovokasi cucunya yang sabar "Kudengar dia adalah nona muda dari keluarga Blazemoche, bukankah dia sudah bertunangan? Apa hubungan kalian?"
Gabriel masih tidak tersenyum "Pertunangan mereka tidak valid, itu hanya sekedar lisan dan bahkan tidak ada cincin. Dia bukan milik siapapun, aku bebas mengejarnya."
"Gabriel, ingatlah bahwa aku juga belum menulis namamu di pohon keluarga Wundervei. Apakah itu bisa diartikan bahwa kau bukan cucuku?" Tuan Drake menimpali dengan pertanyaan ini, matanya berkilat.
Gabriel cepat-cepat membantah "Kakek, itu dua hal yang berbeda."
Tanpa menggunakan banyak kekuatan, Tuan Drake menusuk perut Gabriel menggunakan tongkat logamnya "Dimana perbedaannya? Selama aku belum menulis namamu, maka hubungan kita juga hanya sekedar lisan yang kebetulan diketahui oleh semua orang. Tidakkah bebas bagi anak dari keluarga biasa untuk menggantikan posisimu sebagai pewaris, selama dia diakui olehku dan memiliki bukti fisik sebagai cucuku?"
Ada sebersit rasa kecewa dalam sepasang mata kakeknya.
Gabriel tidak lagi membantah dan mengakui kesalahannya kali ini "... Aku mengerti, kakek."
"Apa yang kau mengerti?" Tantang Tuan Drake.
Pria muda berambut perak tersebut memalingkan wajahnya ".... Aku tidak mau mengatakannya."
Tuan Drake kembali mengangkat tongkat logamnya, kali ini menusuk pundak kanan sang cucu "Gabriel, jangan kehilangan martabatmu sebagai seorang pria. Aku bukan patriarki, tapi setidaknya kau harus memiliki harga diri. Jangan membuang semuanya hanya karena hal semacam ini."
Meski enggan, dia harus mau mengakuinya didepan patriark secara langsung. Atau dia tidak akan pernah diizinkan keluar dari ruangan ini "Aku mengerti, kakek."
"Kesimpulannya?" Tagih sang kakek.
__ADS_1
Gabriel menjawab dengan tenang "Aku adalah orang ketiga di kisah mereka."
Pria tua itu mengangguk setuju "Benar, lalu?"