Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Sosok guru


__ADS_3

"Baru saja Frost diletakkan kemari, sekarang Gabriel. Kalian berkelahi ya?" Tegur dokter sekolah yang sedang berjaga saat ini, Kak Dwyn.


Lance hanya cengengesan dan meletakkan Gabriel di ranjang paling ujung, jauh dari Frost. Kemudian bertanya pada dokter sekolah ini "Kira-kira ini akan melibatkan guru atau tidak ya?"


Dokter tersebut menggeplak pelan kepala Lance menggunakan botol antiseptik, yang barusan dia pakai untuk membersihkan luka Gabriel "Tentu saja iya! Kau kira kau hidup dimana memangnya? Aku sendiri juga ingin melihat sikap guru-guru saat menilai ini, sayang sekali aku hanya dokter sekolah."


Lance tersenyum bodoh, membalas "Kak Dwyn, setidaknya kau bisa menjadi saksi akan luka-luka mereka saat kami ditanyai. Karena kau yang merawat mereka."


Dokter Dwyn jelas tampak heran "Hah? Bukankah hal semacam ini tidak diperlukan?"


Lance mengangguk dan duduk "Memang. Tapi masalahnya setan ini suka sekali melebih-lebihkan dan memutarbalikkan omongan. Bisa saja nanti dia meminjam makeup dari salah satu pacarnya dan mendandani dirinya sendiri seolah dialah korbannya."


"Serius?" Tanyanya tak percaya.


Lelaki merah itu membuat satu tangan terangkat dan tangan yang lain ada di posisi jantungnya, bersumpah "Serius. Tinggal tunggu waktu saja sampai mereka sadar, dan kami semua akan dipanggil ke ruang guru bimbingan konseling beserta wali kelas kami."


"Kok .... Drama sekali?" Dia menjadi geli.


"Memang" Lance mengangguk saja, dia juga geli akan drama ketololan ini.


Camila dan Arianna diam saja, satu orang menghemat suaranya untuk drama selanjutnya, sedangkan satu orang lain hanya diam dan dengan cemas memperhatikan sahabatnya yang masih tidak sadar. Luka si lelaki perak baru saja selesai dirawat, ada plester dan perban disana-sini.


Tidak butuh waktu lama sampai ada keributan di luar ruang kesehatan, orang-orang yang berada di dalam dan juga di ruangan sebelah sontak mendengus karena jengkel. Terdengar suara tiga orang anak laki-laki yang berteriak-teriak seolah sedang melakukan demonstrasi.


"Itu Camila, pak! Dia tiba-tiba menghajar Frost tanpa alasan!" Camila yang namanya disebutkan, mengenali suara ini sebagai antek 2.

__ADS_1


"Benar! Padahal kami hanya tidak sengaja bertemu pandang di tempat parkir, tapi dia tiba-tiba saja menendang kepala Frost hanya karena gagal memutuskan pertunangan mereka!!" Teriakan tersebut dilanjutkan oleh suara dari orang yang berbeda.


Semakin lama, teriakan mereka menjadi semakin tidak enak didengar. Kali ini suara dari orang lain lagi "Pelac*r itu benar-benar berhati keji!! Dia tidak pantas belajar di akademi, lebih baik drop out saja dan jadi preman pasar!!"


"Kalau begitu bisa jelaskan mengapa Wundervei terbaring pingsan disana dengan wajah lebam?" Suara seorang pria paruh baya, terdengar sangat tenang saat menanyakan ini.


"Anak itu juga ikut-ikutan memukul Frost pak! Kami hanya membela diri!!" Jerit antek 1.


Antek 3 jelas menyetujui temannya "Benar! Mana bisa kami diam saja melihat teman kami dipukuli?!"


"Membela diri macam apa yang membuatnya mengalami luka lebih parah dibandingkan Frost?" Pria paruh baya yang kemungkinan besar adalah guru kedisiplinan, kembali bertanya setelah sedikit mengintip bagian dalam ruang kesehatan.


"Itu sih dia saja yang terlalu lemah, pak! Lihat saja gaya berpakaian dan wajahnya! Aku yakin dia pasti gay!" Antek 2 seenaknya membuat kesimpulan.


Terdengar suara helaan nafas si pria "Saya disini untuk menanyakan situasi spesifik soal Frost Harrison, bukan orientasi seksual Gabriel Wundervei. Lagipula menjadi penyuka sesama jenis atau tidak, itu bukan urusan kalian."


"Benar, pak! Gabriel itu merusak kenyamanan para siswa! Merusak fokus kami saat belajar!" Antek 2 membenarkan.


"Saya tekankan sekali lagi. Saya kemari untuk menyelesaikan persoalan tentang Frost Harrison, kenapa kalian terus menerus membahas Gabriel Wundervei?" Guru tersebut kembali bertanya dengan sabar.


"Tapi, pak! Dia pasti gay!!" Jerit antek 1.


Guru tersebut tampaknya mulai pusing karena terus mendengar jeritan anak-anak ini "Memang apa hubungannya dengan kalian?"


"Dia mengganggu proses belajar kami, pak!" Jerit antek 2.

__ADS_1


"Kalau begitu biar saya tanyakan lebih dulu, berapa rata-rata nilai ujian bulanan sekolah?" Beliau bertanya tiba-tiba.


Meski terkejut akan perubahan topik yang sangat tiba-tiba, mereka tetap menjawab dengan agak ragu "400 poin?"


Beliau mengangguk kalem "Tepat, dan berapa jumlah poin ujian bulanan kalian kemarin?"


"......" Tidak ada yang bisa menjawab, atau lebih tepatnya malu menjawab.


Guru tersebut menggeleng pelan melihat kelakuan anak-anak ini "Wundervei mengirimkan jurnal maupun makalah hasil penelitian secara rutin yang mengharumkan nama sekolah, tidak pernah absen dari tiga besar saat ujian bulanan, dan paling sedikit mencetak 450 poin dari total 480 poin selama bersekolah di akademi ini."


Beliau tau tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan seseorang, tapi menurutnya, anak-anak ini sudah kelewatan dan sudah berani menyebarkan rumor jahat hanya karena masalah sepele yang bahkan bukan masalah mereka.


Sebagai guru kedisiplinan dia harus tegas, oleh karena itu beliau melanjutkan ceramahnya "Blazemoche bahkan lebih baik lagi, dia berhasil mempertahankan posisinya sebagai duta provinsi kita meskipun masih sangat belia tiga kali berturut-turut. Selalu berada di urutan dua besar dalam ujian tingkat provinsi, sering membawa pulang medali untuk akademi, tidak memiliki catatan buruk, disukai para siswa, sopan dan juga sering ambil bagian dalam proyek bisnis keluarganya."


"Kalian meminta saya mengeluarkan mereka? Kalau begitu setidaknya salah satu dari kalian harus bisa melampaui prestasi akademiknya lebih dulu, barulah kalian berhak memprotes bahwa keduanya adalah anak nakal yang mengganggu waktu belajar kalian" finalnya, tanpa bisa diganggu gugat.


"Pak, ini tidak adil! Kami 'kan korbannya!" Antek 1 tampaknya sangat tidak mau menerima kekalahan.


"Benar! Hanya karena kami bukan murid berprestasi, anda bahkan mau menutup mata pada kebejatan murid anda sendiri. Apakah anda pantas menyandang gelar anda sebagai guru?! Saya bisa melaporkan ini!" Antek 3 yang berasal dari keluarga politik, memaksakan kehendaknya.


Beliau hanya memasang senyum simpul, dengan tangan terkepal kuat di balik punggungnya yang tegap "Saya tidak bisa hanya mendengarkan persoalan dari satu sudut pandang, karena jika iya maka itu akan sangat tidak adil."


Melihat antek-antek ini masih akan membuat keributan, beliau segera melanjutkan dengan sangat tegas "Lagipula wajar bagi saya untuk lebih percaya pada apa yang saya lihat setiap hari, saya memang guru, tapi saya tetap manusia. Dan seperti yang kalian bilang, saya menyaksikan sendiri Wundervei dan Blazemoche tumbuh dengan cemerlang di akademi ini selama bertahun-tahun. Antara murid yang tidak pernah membuat masalah, dan murid yang suka mencari masalah. Bukankah sudah jelas siapa yang akan saya percaya?"


"Saya tidak memihak, itulah sebabnya saya menunggu kalian selesai bicara. Tapi nyatanya kalian hanya terus berteriak-teriak dengan setumpuk kata yang amat tidak pantas dan penuh ujaran kebencian, alih-alih menjelaskan."

__ADS_1


"Kalian mengatakan bahwa saya tidak pantas menjadi guru, karena saya menutup mata pada masalah dan memihak. Kalau begitu biar saya balik pertanyaan tersebut, apakah kalian pantas menyebut diri kalian sebagai penerus bangsa?" Dia mengatakan ini, sebelum mengetuk pintu ruang kesehatan tanpa peduli pada ketiganya lagi.


__ADS_2