Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Ruang introspeksi


__ADS_3

"Aku lapar" celetuk seorang lelaki berambut hitam, kepada tembok di sampingnya.


"...."


"Hei, dengar tidak? Kubilang, aku lapar!" Teriaknya karena tidak ada yang menjawab.


"...."


"Camila, kau mati ya?" Frost mulai ngegas.


Jawabn terdengar dari balik tembok "Tidak."


"Lalu kenapa kau tidak menjawab saat kuajak bicara, tolol?!" Kesalnya.


"...."


Frost melanjutkan "Aku tau kau membenciku, tapi-'"


"Memang" potong Camila.


"Semua ini salahmu! Pokoknya salahmu!" Frost mendadak tantrum.


Camila dengan bijaksana memilih diam, membiarkan frost melakukan percakapan satu arah.


"Kalau kau tidak begitu lemah, aku tidak akan dikurung disini semalaman!!" Lanjutnya.


"Aku cuma menarikmu sedikit, tapi kau langsung saja jatuh! Kenapa aku yang dicap sebagai orang jahat?! Jelas-jelas kau duluan yang mencari masalah!! Ini tidak adil!!"


"....."


"Heh, tolol! Dengar tidak?! Kubilang, ini salahmu! Kenapa semuanya menjadi runyam setelah kau menjadi tunanganku?! Kau memang pembawa sial! Perempuan terkutuk!!"


Lama kelamaan, makian yang dikeluarkan oleh mulut Frost mulai terdengar semakin tidak masuk akal.


"Baru tunangan saja aku sudah sesial ini! Aku pasti akan langsung mati jika sampai menikah dengan perempuan terkutuk sepertimu! Kenapa kau harus menjadi tunanganku?! Tidakkah kau sadar betapa memuakkannya dirimu?!"


"Tunggu saja! Setelah ini selesai, akan kubuat Blazemoche menjadi gelandangan yang hanya bisa mengais sampah!" Dia tampak sedang mengikrarkan sumpah.


"Dasar munafik! Busuk! Sok suci! Sombong!"


"Kau benar-benar sampah! Beban keluarga! Cewek murahan! Tolol! Tuli! Pel*cur!"


"Aku membencimu!!"

__ADS_1


"Kalau kau tidak ada, aku pasti sudah bahagia dengan Anna! Semuanya gara-gara kau yang suka memfitnahku!! Dasar iblis!!"


"Kenapa juga kau harus lahir ke dunia ini?! Benar-benar pemborosan oksigen!!"


"Frost Harrison" Camila pada akhirnya memanggil, berniat menghentikan Frost untuk mengekspos kebusukannya sendiri lebih dari ini.


Namun pihak dibalik tembok justru semakin marah dan mengatakan "Jangan panggil namaku dengan mulut menjijikkan itu! Kau pikir dirimu layak?!"


".... Oh."


"Kau marah? Dengan seluruh kebusukan itu, apa yang membuatmu merasa berhak untuk marah padaku?! Dasar baperan! Lemah! Mental tempe!" Cibirnya.


"Kenapa kau tidak mati saja sih, Camila?!"


Jelas Camila marah, sangat marah.


Tapi dia harus menahan semua penghinaan ini sekalipun punya kemampuan untuk membalas, karena sejak mereka masuk ruang introspeksi, semuanya sudah tertangkap oleh kamera dan disiarkan secara langsung pada orangtua siswa yang bermasalah.


Lagipula, dia bukan tokoh utama dalam buku ini. Dia tidak memiliki plot armor yang cukup untuk melawan Frost saat ini, terlebih saat ini dia tidak sedang bersama dengan Arianna.


Sudut pandang buku ini, semuanya diambil dari sudut pandang Arianna.


Jadi meskipun Camila, si tokoh antagonis dicaci maki separah apapun oleh tunangannya. Juga separah apapun kelakuan sinting Frost, protagonis wanita tidak akan pernah tau.


Para pembaca juga tidak akan tau betapa sakitnya menerima makian yang tidak dijelaskan secara detail dalam novel yang mereka baca, karena memang tidak penting terlalu menyorot penjahat novel sepertinya.


Camila adalah penjahat yang memanfaatkan kesempurnaannya untuk menindas Arianna yang lemah.


Sementara Frost adalah anak broken home yang bersikap kasar untuk melindungi diri sendiri, dan baru menemukan kehangatan setelah bertemu Arianna. Tapi karena dia tidak pernah jatuh cinta, dia mendekati gadis yang dicintainya dengan cara yang agak keterlaluan.


Rasa sakit Camila Blazemoche yang asli, hanya akan dideskripsikan dengan kalimat 'Gadis itu merasa marah atas penghinaan ini. Dia begitu sempurna, kenapa dia harus menerima perlakuan seperti itu?'.


Sementara saat Frost menghinanya sedemikian rupa, itu hanya akan dijabarkan dengan 'Frost bertengkar lagi dengan Camila, dan mengatakan apa yang sudah lama dia pendam. Lelaki ini benar-benar tak bisa menemukan kehangatan dari gadis yang menjadi tunangannya'.


'Camila memang sempurna, tapi yang dia cintai adalah Arianna'.


'Hanya Arianna yang mampu mengerti dirinya'.


Cih.


Terus kenapa kalau dia korban broken home? Apakah karena dia sering terluka, itu membuatnya merasa berhak melukai orang lain hanya karena dia tidak mengerti apa itu cinta?


Lalu apa bedanya dia dengan orang yang dulu pernah melukainya? Bukankah kalau seperti itu, posisi siapa pelaku dan korban menjadi rancu?

__ADS_1


Apakah lahir dari keluarga normal, berparas cantik dan menjadi jenius, membuatnya pantas dikutuk sebagai orang yang tidak pernah merasakan pahitnya hidup? Hanya karena dia lebih beruntung dibandingkan yang lain, apakah itu membuat orang lain berhak merampas apapun darinya?


'Memangnya kenapa jika aku mengambil satu hal darinya? Dia sangat kaya, wajahnya juga sangat cantik dan dia sempurna dalam segala hal, keluarganya juga sangat suportif. Apa salahnya memberiku satu orang saja? Dengan begitu banyaknya anugerah yang dia dapatkan, mustahil dia masih saja serakah 'kan?'


'Dia selalu bisa mendapatkan ganti yang lebih baik, tapi aku tidak bisa seperti itu. Karenanya lepaskan dia, biarkan aku yang miskin dan malang ini menerima secercah cahaya dalam hidupku yang pahit.'


'Aku depresi!'


'Aku broken home!'


'Aku disiksa!'


'Aku punya penyakit mematikan!'


'Apa salahnya bagimu untuk mengalah satu kali saja? Yang ingin bahagia di dunia ini, bukan cuma kau saja.'


'Aku memang tidak sesempurna dirimu, tapi apa salahnya jika aku ingin diperhatikan? Aku sangat menyedihkan! Bahkan perhatian kecil saja tidak boleh kudapatkan?! Kau jahat!'


'Jahat! Jahat sekali!'


'Aku yakin wajahnya itu pasti karena operasi plastik! Mana ada orang Indonesia yang hidungnya semancung itu?'


'Dia jahat! Dia tidak mau mengalah padaku padahal dia sudah punya segalanya!'


'Percuma cantik kalau hatinya busuk! Aku yakin dia juga pasti membayar orang di sekolah untuk menjadikannya ranking satu, bukankah keluarganya sangat kaya? Pasti begitu!'


'Dia pasti suntik putih! Dasar Monster oplas! Tidak sepertiku yang cuma pakai bedak bayi, natural!'


Camila berdecak kesal akan ingatan kehidupan lamanya, sebelum masuk ke dunia buku. Kepalanya sakit, perutnya perih, tenggorokannya juga kering. Inilah alasan yang membuat kepalanya mulai banyak tingkah, sepertinya ini juga yang membuat Frost menjadi sinting.


Dia tidak peduli lagi, lebih baik tidur.


Dia sekarang adalah Camila Blazemoche, salah satu karakter novel yang sempurna. Karena ini fiksi, maka tidak apa-apa.


Dia bukan lagi Camila Khanzada, si manusia beruntung yang dibunuh oleh rasa iri dengki orang-orang di sekitarnya.


Matanya terpejam, dan malam itu dia memimpikan saat dia dibunuh dengan cara disuntik n*rk*ba hingga overdosis yang memecahkan pembuluh darah di otak dan jantungnya.


Membuat seluruh keluarganya runtuh dan dicap sebagai orang kaya dengan uang haram.


Sedangkan orang-orang yang membunuhnya, tertawa puas saat menginjak kepala keluarganya.


Dengan tak tau malunya berkata "Tuhan maha adil, inilah karma kalian! Orang-orang sombong dan berhati jahat!"

__ADS_1


__ADS_2