Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Seperti fantasi


__ADS_3

Gabriel segera bangkit dari kursinya, menatap bingung semua orang yang berhenti bergerak seolah Tuhan sedang menekan tombol jeda. Nalurinya merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat penting, dan tidak boleh dia lewatkan saat ini juga. Dia menatap sekeliling yang sudah kehilangan semua warna selain dirinya, membuat Gabriel menjadi lebih panik akan apakah ada penyusup yang sudah meracuni minumannya dengan narkoba.


Apakah ini halusinasi?


Dia mencubit lengannya hingga menampilkan memar, rasanya sakit. Tapi saat dia mengedarkan landangannya, semua masih menjadi warna abu-abu dan tidak ada satupun gerakan maupun suara.


Dia tanpa ragu mengambil pisau roti dan mengiris telapak tangannya, mendapati tubuhnya yang masih bisa berdarah.


Sakit, perih dan perasaan dingin juga menjadi bukti bahwa ini sama sekali bukan ilusi.


"Ibu ... Ayah ..." panggilnya, tapi hanya pasangan paruh baya dengan tampilan foto lama yang dia dapat. Membeku, monokrom, tidak meresponnya dan tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


Gabriel sontak berlarian dengan panik ke sekeliling ruangan yang sudah kehilangan semua warna, tanpa sengaja menabrak beberapa tamu perjamuan yang hanya menembus tubuhnya. Matanya menatap rambut hitam seseorang yang sangat mencolok dengan jas birunya, sedang gemetaran dan menunjukkan raut panik yang sangat bukan dirinya.


"Kak Aiden!" panggil Gabriel.


Namun Aiden hanya terus mencoba menggapai sosok tersenyum Chester yang sudah berubah menjadi foto lama, seperti orangtua Gabriel dan seluruh tamu. Tidak bisa disentuh, dingin, dan membeku.


"Chester .... Chester, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menjawabku?" paniknya, dengan sosok yang bergetar seolah bisa runtuh kapan saja.


Padahal selama ini Aiden adalah pria yang sangat kuat dan bermartabat, bahkan tidak sungkan melakukan tindak kekerasan dibalik layar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Gabriel sudah beberapa kali adu jotos dengannya karena Aiden tidak terima saat kalah dalam perdebatan ataupun memperebutkan proyek dengannya, mulutnya bahkan lebih beracun dibandingkan Camila.


Namun kali ini dia hanya terus memanggil nama seseorang yang paling dia sukai di dunia, dan terus meraung dengan sangat putus asa.


"Kak Aiden, kendalikan dirimu! Mana yang lain?! Apakah kau sudah melihat manusia lain selain aku?! Bagaimana dengan Anna?! Atau adikmu Camila?! Dimana dia?!" cecar pria berambut perak tersebut sambil mengguncang tubuh kaku Aiden, tapi tidak ada respon.


Dia sontak memutar paksa tubuh pria yang lebih tua darinya ini agar menatapnya, hanya untuk diberikan kejutan kedua.

__ADS_1


Wajah Aiden sudah penuh dengan warna merah. Hidungnya terus mengeluarkan darah yang sangat banyak, tapi pria itu tampaknya belum menyadari ini dan bersikap tidak peduli.


Pria itu justru mendorong keras tubuh Gabriel agar menjauh darinya dan hanya fokus pada Chester yang sudah 'tiada', matanya kosong seolah setengah jiwanya sudah direbut secara paksa. Pelan tapi pasti, sepasang matanya yang selalu tajam mulai meneteskan air mata. Gabriel yang melihat ini tentu menjadi lebih panik akan kondisi orang lain, apakah mereka masih baik-baik saja setelah mengalami ini?


Fenomena aneh macam apa ini?


Apa yang terjadi?


Dia melihat keluar jendela, dan menjadi lebih ketakutan bahwa ini tidak hanya terjadi di ruang perjamuan.


Semua pohon, air, bunga, hewan, bahkan bulan yang semula berpendar kuning hangat sudah kehilangan warnanya. Tidak ada angin sedikitpun, bahkan pesawat yang secara kebetulan melintas juga terhenti di tengah-tengah udara. Seolah Tuhan benar-benar sudah menekan tombol jeda untuk menghentikan apapun yang mereka lakukan, dan menghapus semua warna selain beberapa orang yang Gabriel sendiri tidak tau berapa jumlahnya.


"Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang terjadi?!" teriaknya, Gabriel benar-benar kehilangan ketenangannya seperti Aiden.


"Camila?! Fiona! Anna! Lance! Frost! Siapa saja! Apakah kalian bisa mendengarku?!" dia terus meneriakkan ini dan berharap setidaknya ada satu orang yang meresponnya, tapi selain tangisan Aiden, tidak ada lagi suara yang terdengar.


Gabriel menggigit bibirnya sendiri dan sekali lagi berlari ke sekeliling ruang perjamuan, terus meneriakkan nama siapapun yang melintas di pikirannya. Sebelum bertemu dengan kepala berambut merah mencolok yang tergeletak begitu saja di lantai, pria berambut perak itu langsung berlutut dan membalik tubuh Lance yang sedang berbaring telungkup, tampak tidak sadarkan diri. Dia sontak menjadi lebih panik dan ketakutan.


Ini memang Lance yang masih berwarna dan tampak seperti manusia biasa, dan masih bisa menerima sentuhannya sebagai manusia.


Namun pria itu mengalami mimisan parah yang sama dengan Aiden, dan kulitnya berangsur berubah menjadi warna abu-abu seperti para tamu lain juga berangsur-angsur menjadi lebih dan lebih dingin. Gabriel kalang kabut mencari air atau apapun dan menyiramkannya pada wajah Lance, tapi tidak berhasil. Dia terus mengulangi ini setidaknya sampai menghabiskan minuman pada lima meja, sebelum warna kulit Lance kembali normal dan mulai membuka matanya.


"Gabriel?" beonya, tampak masih belum sepenuhnya sadar akan situasi yang barusan akan menimpanya.


Pria yang namanya dipanggil refleks memeluk Lance yang sudah berbau aneh tanpa peduli, yang dia tau setidaknya dia berhasil menyelamatkan satu orang. Lance yang dipeluk tentu menjadi lebih bingung, terlebih dihadapkan pada situasi dimana segalanya sudah kehilangan warna.


"Apa-apaan?" dia benar-benar shock.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau, tapi sekarang bukan saatnya untuk ini! Ayo cari orang lain yang masih sadar!" Tukas Gabriel, sebelum berdiri sambil menggeret Lance yang masih mencoba mencerna situasi.


Gabriel terus mengedarkan pandangannya dan memanggil nama semua orang yang dia tau, sampai matanya menatap punggung gadis yang sangat dia kenal sedang berdiri di sudut sepi dari ruang perjamuan.


"Camila!" Panggilnya, dengan suara bergetar dan mata yang sudah basah.


Dia kembali menggeret Lance yang masih membeku dan mempercepat langkahnya menuju pihak lain "Camila, apa kau baik-baik saja? Bisakah kau membantuku sebentar? Kakakmu, dia ..."


Suara Gabriel langsung terhenti.


Mata Lance juga melebar karena shock setengah mati.


Didepan mereka, berdiri sosok Camila yang masih menggunakan gaun cantik seperti sebelumnya.


Hanya saja sosoknya berkedip lambat setiap beberapa detik sekali. Bukan matanya, melainkan dirinya.


Mulai dari wajah cantik yang dingin dengan mata ungu yang berkilau licik seperti rubah, juga rambut sebahunya yang berwarna cokelat muda dan lembut. Berubah menjadi sosok berambut hitam dan bermata hitam yang tidak mereka kenal sama sekali.


Dan sosok yang berkedip ini terus terjadi berulang kali, sampai Gabriel dan Lance tidak berani berkedip sama sekali untuk memastikan apakah mereka masih bermimpi.


"Camila ....?" Shock Gabriel.


Gadis dihadapan keduanya menjawab "Ya?"


Lance yang sejak awal terdiam akhirnya memutuskan untuk bersuara "Kau bukan Camila."


Gadis di hadapan mereka langsung kembali terdiam.

__ADS_1


__ADS_2