
"Bedeb*h!! Apa yang akan kau lakukan pada Camila?!"
"Kau benar-benar sangat tidak berpendidikan, Frost Harrison!"
Camila melongo mendapati pemandangan klise ini. Bukannya senang, dia justru merasa jijik dan merinding.
Semuanya benar-benar tolol dan drama queen.
"Apa yang kalian lakukan? Gabriel? Lance?" Sinisnya.
Lance yang merupakan pihak pertama yang buka suara, membanting Frost Harrison yang meronta dan terus memakinya. Memukul titik di lehernya dan membuat male lead tersebut pingsan, sebelum menjawab Camila dengan raut serius.
"Ada apa dengan nada bicaramu itu, Camila? Tidakkah kau tau apa yang akan terjadi jika aku tidak menarik b*jingan ini?" Tanyanya. Meski demikian, ada sorot khawatir di matanya.
"Camila, apa kau tidak apa-apa?" Gabriel berbalik menatap Camila dan menggenggam kedua tangan pihak lain.
Gadis itu sontak menepis kasar kontak fisik yang tidak perlu ini dan menjawab
"Jangan menyentuhku sembarangan, Gabriel. Ini pelecehan *****al."
Dia sedang berada dalam mood terburuk karena menstruasi, ditambah lagi penghinaan di depan umum barusan.
Gabriel yang cukup peka setelah renungan malam beberapa hari lalu, menatap nanar Camila dan menundukkan kepalanya
"Maaf, apakah aku membuatmu tidak nyaman?"
Camila hanya mendengus dan memalingkan muka, lalu beranjak pergi dari sana
"Aku pulang."
__ADS_1
Lance berjalan dengan langkah cepat dan menggenggam tangan pihak lain
"Camila, bisakah kau tunggu sebentar?"
Camila mengernyit tidak senang dan membalas dengan sinis
"Jangan membuatku jadi tontonan, Lance. Atau akan kupatahkan kaki ketigamu."
Laki-laki merah tersebut langsung melepaskan genggaman tangannya
"Oke, oke. Kau boleh langsung pulang, lupakan saja. Sampai jumpa nanti."
Jelas anak ini akan mampir ke kediaman Blazemoche nanti.
Camila tidak memiliki tenaga ekstra untuk meladeni Lance yang sekarang berubah jadi membubarkan kerumunan, juga para antek male lead yang membawa Frost ke ruang kesehatan. Dia bahkan tidak memedulikan Gabriel yang sudah berhari-hari tidak masuk sekolah, justru ada disini dengan kemeja putih polos beserta celana rumah selutut dan comverse-nya yang juga berwarna putih.
Namun sepertinya ini memang bukan hari keberuntungan Camila.
"Camila? Kita ... Perlu bicara" dia buka suara dengan takut-takut.
Camila bahkan tidak menatapnya sama sekali saat menjawab
"Hm? Aku sedang tidak mood."
"Kalau begitu ... Kau mau kemana? Boleh aku ikut?" Gabriel masih memaksa, dengan cara yang beradab.
"Terserah."
Camila berjalan santai dengan Gabriel yang mengikuti dengan kikuk di belakangnya, laki-laki itu jelas ingin bertanya mengenai sesuatu. Tapi urung mengingat Camila mengeluarkan respon negatif sebelumnya.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan cara yang agak lucu, satu gadis yang memakai seragam sekolah elit dan satu laki-laki yang mengikuti dibelakang seperti anak ayam.
Gadis itu dengan sadar membiarkan Gabriel mengikutinya, sebelum dengan tiba-tiba masuk ke sebuah restoran Italia untuk makan siang. Laki-laki perak itu membeku sejenak, lalu ikut masuk dan bahkan memotong jarak.
Kali ini mereka berdiri bersisian.
Gabriel menatap tangan Camila yang berdekatan dengan tangannya sendiri, lalu merona.
"Camila, bolehkah aku makan bersamamu?"
"Terserah."
Meski jawaban tersebut kedengarannya setengah hati, tapi Gabriel tau bahwa mood Camila sudah membaik. Keduanya duduk di sebuah bilik dan menunggu makanan dengan tenang, saling menatap tanpa bicara seperti orang bodoh.
"Camila?" Gabriel tetap menjadi pihak yang memecahkan keheningan.
"Hm."
Lelaki perak tersebut memainkan jari-jarinya yang berada dibawah meja, matanya juga beredar ke seluruh bilik tanpa berani menatap lawan bicaranya
"Aku ... Tidak menyukai Anna."
Mendengar ini secara tiba-tiba, Camila tentu saja terkejut
"Oh?"
Merasa bahwa Camila tidak menangkap maksud dari ucapannya, Gabriel kembali menegaskan
"Aku tidak menyukai Anna!"
__ADS_1