
Kening Gabriel berkerut saat menyadari bahwa ini tidak akan selesai secepat dugaannya, dia membetulkan posisi berdirinya dan kembali menjawab tenang "Tidak seharusnya aku terburu-buru menyentuh apa yang belum menjadi milikku."
"Bagus, lalu apa?" Beliau masih menuntut jawaban.
Gabriel menghela nafas panjang, mempertahankan batas emosinya "Aku harus lebih sabar dan tersembunyi, menggunakan caraku sendiri tanpa memaksa mereka berpisah sekarang juga."
"Dan?"
"Aku harus lebih baik dibandingkan Harrison."
"Alasan?" Sorot mata beliau saat menanyakan ini sangat langsung. Seolah jika Gabriel tidak memberikan jawaban yang memuaskan, maka dia akan ditendang dari tahta pewaris.
Oleh karena itu dia tetap menjawab "Aku ingin berjalan bersamanya, bukan di belakang ataupun di atasnya."
"Karena?"
Dia teringat sosok Camila yang tampak begitu berkilau dengan trofi "Orang jenius tidak akan diam karena mereka selalu berkembang, dan aku akan tertinggal jika tetap seperti ini. Kami harus setara, dan pihak yang lebih inferior harus memforsir diri untuk menjadi superior, bukannya memaksa superior menjadi inferior."
Pria tua itu tersenyum lebar begitu mendengar ini.
Beliau mengajukan pertanyaan terakhir untuk meyakinkan dirinya sendiri "Siapa yang inferior dalam hal ini?"
Gabriel tanpa ragu menjawab "Aku."
Senyum cerah sebagai sosok panatua segera tampak di wajah keriputnya "Bagus, kau boleh pergi. Tolong sampaikan ini padanya ... Singa tidak perlu menyembunyikan taring mereka, tapi juga tidak boleh seenaknya mengeluarkan cakar dan mencabik segala hal yang dia rasa enak."
"Kakek, kau benar-benar ..." Gabriel merasa ngeri sendiri membayangkan kelak akan tumbuh menjadi orang seperti kakeknya.
Pria itu melambaikan tangannya agar sang cucu segera enyah dari pandangan "Sampaikan, jangan lupa bahwa aku mengawasi paviliun tempat kalian berada. Jangan seenaknya melakukan kontak fisik sebelum pertukaran, kita keluarga yang konservatif."
__ADS_1
Manik cerah Gabriel lantas kembali menyala "Kakek, kau merestuiku?"
Pria tua itu justru memasang senyum menyebalkan dan menjawab dengan "Tidak, pergilah."
"Kakek, kau menyebalkan."
"Hah."
Gabriel pergi dengan hati yang lebih tenang tanpa riak, tidak lagi terus bergejolak seperti tadi. Bertemu dengan patriark Wundervei memang sangat membantu, beliau selalu tau bagaimana cara untuk menumpahkan es batu kedalam apinya. Tidak segan mengkonfrontasi siapapun yang tidak sejalan dengan prinsip keluarga, dan akan menuruti siapapun yang mengingatkan jika beliau salah langkah.
Pria berambut perak tersebut menatap paviliun Wundervei dari posisinya, masih sama seperti saat dia belum kemana-mana. Dia memiliki mata yang bagus, oleh karena itu dia bisa tau bahwa sepatu Camila masih ada di teras depan paviliun.
Dia tau Camila sibuk, tapi gadis itu tetap menunggunya.
"Camila, aku kembali" dia melihat gadis itu sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Mendengar suara ini, yang dipanggil langsung meletakkan ponselnya "Oh hai, jadi ada darurat apa?"
"Itu daruratnya? Kurasa bukan" dia tidak percaya Gabriel akan dipanggil hanya karena itu.
Benar saja, Gabriel langsung tekikik "Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Camila ya?"
"Kau dimarahi?" Tebaknya.
Gabriel menjawab dengan malu-malu "Benar. Ini tentang kita."
"Sudah kuduga. Haruskah aku pulang?" Camila menanyakan ini sambil mulai membereskan barang bawaannya.
Pria itu cepat-cepat menghentikan gerakan Camila, tanpa berpikir mengatakan "Tidak, tunggu. Aku ingin memperkenalkan kalian."
__ADS_1
"Gabriel, kau bercanda 'kan?" Dia tau Gabriel sudah agak tidak waras, tapi dia tidak tau akan sampai pada tahap ini.
Namun respon Gabriel hanya senyum "Tidak, aku serius. Ibu dan ayahku sedang keluar, tapi kakek sudah ada disini. Akan bagus kalau kalian saling mengenal."
Camila diam.
Menyadari wajah terganggu gadis ini, Gabriel dengan lembut bertanya "Maaf, apakah aku memaksamu?"
Camila kembali duduk setelah meletakkan tasnya "Sedikit."
"Maaf, lain kali?" Gabriel menyarankan.
"Tidak apa-apa, asal bukan sekarang. Aku belum siap dan tidak membawa apapun, itu tidak pantas. Apakah beliau memintaku untuk menemuinya?" Tanya Camila.
Gabriel dengan cepat menjawab "Bukan, itu ideku. Ngomong-ngomong kakek juga menitipkan pesan untukmu."
"Apa itu?" Dia mau tidak mau menjadi penasaran.
"Uh .... Singa tidak perlu menyembunyikan taring mereka, tapi juga tidak boleh seenaknya mengeluarkan cakar dan mencabik segala hal yang dia rasa enak ... Begitu katanya" dia mengulangi ini bahkan tanpa perlu melihatnya kembali.
Camila hanya mengangguk "Apakah beliau orang yang paling berpengaruh di Wundervei?"
Pria itu menganggik samar dengan mata menyipit "Benar. Sama seperti Nyonya Miller, Matriark Blazemoche."
Tidak ada jawaban.
Gabriel menatap Camila yang duduk di seberangnya, gadis itu tampak sibuk dengan drama dalam kepalanya sendiri.
Mata Gabriel sontak tampak seolah dia mendapati istrinya sedang selingkuh "Camila, kau tidak akan berpikiran untuk menggoda kakek 'kan?"
__ADS_1
Camila tersadar dari lamunan berkat ini dan menatap pihak lain tanpa ekspresi "Gabriel, kau minta dipukul ya?"