Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Kelainan


__ADS_3

Gabriel yang keluar lebih dulu dan menunggu pihak lain di balkon, mengerutkan keningnya penuh tanya. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, karena dia sendiri tidak tau apa yang menyebabkannya kesal.


Camila sendiri menyandarkan tubuhnya di tembok balkon rumah sewa Arianna, dengan jaket Lance yang membungkus hangat tubuhnya. Matanya terpejam menikmati angin malam, rambut cokelat muda miliknya berkibar lembut.


Pelan tapi pasti, manik ungu gelapnya bertabrakan dengan manik ungu jernih Gabriel yang tanpa senyum. Camila tetap dengan wajah tanpa ekspresi, bertanya


"Mau membicarakan apa?"


Gabriel mendekat, merapikan jaket Lance di tubuh Camila. Gerakannya terhenti saat merapikan bagian bahu, mulutnya bergetar saat lelaki perak itu bertanya


"Sudah berapa lama kau seperti ini?"


"Maksudnya?"


Lelaki perak itu menyingkirkan beberapa helai rambut yang hendak menusuk matanya


"Camila, kau tau keluarga Blazemoche bukanlah keluarga kaya baru yang tidak memiliki pondasi di provinsi ini."


"Mn."


Dia agak menyeret kata-katanya


"... Aku tau kau pasti mengerti apa yang akan kutanyakan."


Camila mengangguk


"Memang, tapi aku tidak mau berasumsi."


"Kau-"


Gadis itu segera memotong perkataannya


"Kalau asumsiku benar, maka akan kujawab bahwa ini bukan urusanmu. Namun jika asumsiku salah, masih akan kujawab dengan 'ini bukan urusanmu'."


Raut Gabriel menjadi lebih serius


".... Camila, dia laki-laki."


"Lalu?" Dia menaikkan sebelah alis.


Gabriel mengernyit


"Kau harus tau batasan."


Camila menghembuskan nafas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak pihak lain


"Gabriel, jangan kuno."


Sesuai dugaan, Gabriel langsung mendorong tubuh Camila. Meskipun pihak lain tidak melakukannya dengan cara kasar, mendorong tetap saja berarti mendorong.


Wajah Gabriel agak merona saat dia melepaskan Camila dan beralih memegangi kedua telinganya, cemberut


"Kau benar-benar ... Tidak tau batasan."


Camila merapatkan jaket Lance yang dia pakai dan menepuk-nepuk tempat dimana barusan Gabriel menyentuhnya, seolah ingin menyingkirkan kotoran. Bibirnya mengukir senyum yang tidak mencapai mata


"Mungkin."


Lelaki perak itu tentu saja menyadari anomali ini. Takut disalahpahami, dia cepat-cepat buka suara

__ADS_1


"Kau tau kalau aku tidak bermaksud demikian, Camila."


Dia mengulas senyum


"Aku sedang dalam masa sensitif, Gabriel. Meskipun kau tidak bermaksud begitu, aku tetap akan menganggapnya begitu."


"Hei, Camila-"


"Aku tidak mau mengatakan hal yang tidak pantas, jadi aku akan pulang duluan."


"Tunggu, aku-"


"Malam, Gabriel."


Camila meninggalkan Gabriel dan masuk duluan, disana terdapat Lance yang sedang mengipasi gula merah hangat di gelas agar cepat mendingin. Arianna adalah orang yang pertama kali menyadari raut gelap Camila, sadar bahwa ini adalah siklus bulanan, dia memilih tidak bertanya.


Lance juga sama.


"Camila, minumlah dulu" Arianna meminta dengan senyum cerahnya yang biasa.


Pihak lain menurut dan menyesapnya. Begitu indera pengecapnya merasakan rasa manis yang memiliki sedikit rasa jahe dan madu, seluruh tubuhnya menjadi rileks. Perutnya yang semula agak kaku karena terkena angin malam di balkon, juga sudah terasa hangat.


Dia segera kembali ke Camila yang biasa.


Lance dan Arianna merasa lega melihat ini, termasuk Gabriel yang baru saja masuk dan meliriknya berulangkali untuk memastikan amarah pihak lain.


Namun Camila hanya fokus menyesap, lalu meletakkan gelas dengan gerakan lambat. Karena terlalu rileks, dia tampak agak linglung dan lembut. Lance yang sudah lama mengenalnya, dengan cepat menyandarkan kepala Camila di pundaknya, lalu mengusap-usap punggung pihak lain.


Gadis itu segera memejamkan mata, tenang dan diam.


"Mengantuk?" Tanya lelaki berambut merah tersebut.


"Sebentar."


Dengan ini, Lance menjauhkan tubuh Camila sejenak dan berlutut dengan satu kaki sambil memunggunginya. Camila merespon dengan memeluk bahu Lance erat-erat dan menyesuaikan posisinya. Lance juga balas memegang erat kedua lutut gadis di punggungnya, bertanya


"Sudah?"


"Mn."


Lance berdiri perlahan dengan Camila yang bersarang di punggungnya, Arianna bertepuk tangan kagum


"Lance keren! Gentleman!"


Gabriel "........"


"Kami pulang duluan, selamat malam.  Terimakasih atas makanannya, Anna" ujar Lance dengan senyum cerahnya.


"Terimakasih juga karena sudah membantuku! Jaga Camila, ya!" Arianna membukakan pintu untuk mereka, sebelum tiba-tiba teringat sesuatu.


"Gabriel, tas-"


"Sudah."


Arianna terkejut dengan sahabatnya yang menenteng dua tiga tas dan sudah memakai almamater sekolah


"Eh? Gabriel juga pulang?"


Gabriel tersenyum lembut dan menepuk kepala Arianna

__ADS_1


"Tidak pantas berduaan dengan lawan jenis, apalagi malam-malam."


Melihat ini, Lance mencibir


"Bung, kau sungguh konservatif."


Arianna juga tertawa saat Gabriel melewatinya dengan raut tertekuk, memukul main-main punggungnya


"Bilang saja kalau kau mencemaskan Camila."


"Aku tid-"


"Sopirmu yang ada disana dan melihat Camila, tidak akan bisa menipuku" Lance memberi gestur menggunakan lirikan mata pada paman yang sedang berdiri menunggu di samping jalan.


"....."


Arianna melambaikan tangannya


"Sampai jumpa!"


Keduanya berjalan menuruni tangga dengan Camila yang sudah tertidur di punggung Lance, laki-laki itu juga tampak menyesuaikan postur tubuhnya berkali-kali dalam kondisi berkeringat. Gabriel yang melihat ini, menatap wajah polos Camila yang sedang tertidur dan ingin menawarkan bantuan, tapi Lance langsung buka suara.


"Gabriel."


Mereka sudah tiba di lantai dasar dan berjalan menuju mobil saat Gabriel menjawab


"Hm?"


Lance menendang sebuah kerikil yang secara telak mengenai tengkuk Gabriel,lelaki perak itu segera berhenti berjalan dan menatap Lance penuh tanya. Tapi yang ditatap justru menatapnya dengan dingin dan berujar


"Jangan jadi bajingan seperti Frost Harrison."


"Apa maksudmu?" Dia kebingungan.


Lance menyamankan posisi Camila yang sedang terlelap di punggungnya


"Kau tau jelas apa maksudku, bung. Jangan berlagak suci."


"Baru tadi sore kau menjawab bahwa kau menyukai Arianna, sekarang kenapa tiba-tiba kau memperhatikan Camila?" Sinisnya.


Gabriel membeku dan hanya bisa mengatakan


"Aku ..."


Lance maju selangkah dan menatap dingin Gabriel, nada bicaranya agak tidak enak didengar


"Perasaanku pada Camila memang tidak sedalam itu, tapi setidaknya aku bisa menjamin satu hal padanya dan memberimu alasan untuk sebuah renungan malam."


Melihat Gabriel yang terpaku, Lance memberinya senyum provokatif


"Meskipun perasaanku dangkal, satu-satunya yang kusukai saat ini ... Hanya Camila Blazemoche."


Dia tertawa kecil, mencibir


"Aku tidak sepertimu ataupun Frost Harrison, yang bisa membuat sekat pemisah agar bisa dimasuki beberapa gadis dalam satu waktu."


Hanya butuh sepersekian detik sebelum tawa barusan menghilang dan digantikan oleh raut serius Lance


"Jadi mundurlah, Gabriel. Fokus saja pada Anna, dan biarkan aku fokus pada Camila."

__ADS_1


__ADS_2