Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Diskusi pasangan


__ADS_3

"Secangkir affogato dan berry cream, juga secangkir doppio dan scones. Selamat menikmati" ujar seorang waitress pada seorang pria dan wanita muda yang sedang duduk berhadapan, membungkukkan badannya setelah menyelesaikan pesanan sebelum berpamitan pada keduanya.


Mereka saat ini berada dalam salah satu bilik tertutup sebuah kafe, berniat melakukan diskusi singkat ditemani oleh kopi di cangkir masing-masing.


Gabriel menatap makanan milik Camila yang sangat kontras dengan miliknya, Camila juga menatap makanan serta minuman yang tampaknya sangat manis di depan Gabriel. Gabriel tampaknya sangat menyukai makanan serta minuman manis serta barang-barang imut, bahkan affogato miliknpria itu memiliki kepala kelinci diatasnya. Sementara Camila jelas lebih menyukai kopi yang pahit, hidangan yang dia pilih juga hidangan sederhana yang sama sekali tidak mencolok.


Keduanya mencatat preferensi masing-masing didalam benak mereka, sebelum akhirnya mulai bicara.


"Kenapa kau tidak setuju aku datang ke kediaman Blazemoche pada akhir bulan ini?" Gabriel adalah yang pertama kali mengajukan pertanyaan, menatap lurus Camila yang sedang khusyuk meneguk kopinya.


Gadis itu meletakkan cangkir dengan tenang dan menjawab "Karena tidak pantas melangsungkan pertunangan saat aku baru satu bulan melepaskan diri dari ikatan, tidak ingin mendengar omongan aneh tentang hubungan kita."


Mulut Gabriel mencebik kesal akan logika Camila dan dia memprotes, sambil menusuk-nusuk es krim vanila di affogato miliknya menggunakan garpu hingga tenggelam "Aku sama sekali tidak peduli pada omongan orang, lagipula bukan mereka yang memberiku makan dan pekerjaan."


Camila mengetuk garpu yang masih dimainkan oleh pihak lain, meminta atensinya "Aku juga tidak peduli, Gabriel. Tapi orangtua, kolega bisnis, dan seluruh karyawan perusahaan kita akan sangat terguncang jika sampai ada omongan miring tentang calon pewaris mereka."


Pria berambut perak itu melepas topinya dan meletakkan garpu, menggenggam tangan Camila "Kau takut mereka akan melengserkan posisi kita?"


Camila juga balas menggenggam tangan Gabriel, sesekali dia juga akan menggaruk tangan pria ini dengan cara yang main-main "Benar, aku tau bahwa kita berdua tentu masih memiliki kekuatan untuk membangun perusahaan baru. Tapi apakah layak mengorbankan kehormatan orangtua dan seluruh keluarga kita untuk kepentingan pribadi? Kalau kita melakukannya, kita tidak akan bisa bahagia di masa depan, Gabriel."

__ADS_1


Mendengar penjelasan ini, Gabriel menjadi murung. Pria itu menarik lembut tangan Camila dan menciumnya dengan lembut sebanyak tiga kali, merajuk "... Aku ingin mengikatmu dengan cara yang pantas, Camila."


Camila mengusap lembut bibir Gabriel yang maskh sedikit menempel di tangannya, lalu dengan gemas mencubit hidungnya "Aku juga, aku tidak ingin orang luar yang tidak tau apa-apa secara seenaknya membuat asumsi tentang hubungan kita. Terlebih jika kandidat pertunanganku sebelumnya berasal dari Harrison, akan runyam jika sampai mereka berpikir kita menginjak harga diri mereka."


"Fiona tidak akan melakukannya, dia sangat menyukaimu" bantahnya.


"Tapi bukan berarti wanita itu akan membiarkan tindakan yang menginjak harga dirinya. Meski dia menyukaiku, dia tetap akan membalasku" Camila juga membantah bantahan Gabriel padanya.


Gabriel menurunkan tangan Camila dari wajahnya dan menarik-narik satu persatu jari pihak lain, jelas tampak tidak senang "Aku mengerti."


Camila membiarkan saja pihak lain bermain-main dengan tangannya, sedikit mengungkapkan upaya penghiburan untuk membujuk si pria "Jangan murung, bukankah bagus jika seperti ini? Jarang-jarang kita bisa keluar berdua, tanpa diawasi oleh satupun pihak panatua maupun pengawal."


Gabriel tampak memikirkan kalimat gadis ini selama beberapa saat, lalu merasa bahwa jawaban Camila memang cukup masuk akal "Kau benar. Setidaknya kita memiliki sedikit kebebasan, meski harus diam-diam."


Gabriel sama sekali tidak terkejut, bagaimanapun bertahun-tahun ini dia sering terlibat dengan pria itu "Benarkah? Kudengar akhir-akhir ini dia menjadi lebih menempeli Chester dan berencana untuk berlibur selama satu bulan?"


"Mn. Kurasa dia masih cukup trauma karena kejadian di perjamuan waktu itu, dan ingin membuat kenangan sebanyak mungkin dengan Chester" jika dia mengingat raut putus asa Aiden saat itu, dia juga merasa amat sangat bersalah sudah menyeret orang lain demi 'akhir bahagia' menurut versinya.


"Aku iri padanya" Gabriel mengatakan ini secara tiba-tiba.

__ADS_1


Camila mengacak-acak rambut Gabriel dan menanggapinya dengan kalimat penghiburan "Kau tidak perlu iri padanya, Gabriel. Kita bisa membuat kenangan kita sendiri."


Jelas, ini membuat Gabriel merasa sangat manis. Pria itu menatapnya dengan wajah bersemu dan memanggil "Camila, aku ...."


Dia memahami niat pria ini dan melambaikan tangannya, meminta Gabriel agar duduk di sampingnya "Kemarilah."


Pria itu menurut dan duduk tegak di samping Camila, sampai gadis itu meraih kedua sisi wajahnya dan mengecup pipinya. Wajah Gabriel merona seketika, bersitatap dengan Camila yang juga sedang tersenyum padanya. Pria itu menggenggam kedua tangan Camila yang bersarang di kedua sisi wajahnya, menatapnya dengan mata yang agak berkilat.


"Camila, kau yang lebih dulu memulainya" bisik Gabriel, sebelum ganti menarik pinggang Camila ke arahnya dan mengusap lembut daun telinga si wanita.


Bibir Gabriel lantas mendekat dan mengecup singkat daun telinga pihak lain, sebelum turun ke garis rahangnya dan mendaratkan ciuman seringan bulu disana.


Camila merasa geli, tapi tidak bisa menjauhkan diri karena Gabriel sedang memeluk erat pinggangnya. Dia pun balas mengusap garis punggung Gabriel secara berulang-ulang, sebelum mengalungkan kedua lengannya di pundak Gabriel, membiarkan pria ini mengecup lehernya.


"Jangan tinggalkan bekas" dia masih mengingatkan pria ini dengan ramah, meski dia yakin bahwa dengan temperamen Gabriel, pria itu tidak akan melakukan hal semacam itu tanpa persetujuannya.


Terdengar tawa lirih dari ceruk lehernya "Aku tau."


Gabriel lantas menjauhkan dirinya sejenak dan memagut bibir Camila dengan lembut, tanpa terburu-buru. Tidak ingin situasi berlanjut ke arah yang berbahaya, pria itu dengan sadar berhenti tanpa berlama-lama. Matanya bersitatap dengan mata Camila, Gabriel mengulas senyum manis dan dengan sayang mengecup lama keningnya.

__ADS_1


Ini membuat Camila tersenyum dan mengecup pipi Gabriel sekali lagi, lalu berkata dengan nada setengah bercanda "Kalau kita melakukan ini di kediamanku, Aiden pasti sudah melubangi kepalamu."


Gabriel menanggapinya dengan tawa dan memeluk erat tubuh Camila, gadis itu juga balas memeluk tubuh Gabriel. Situasi diantara keduanya cukup bagus, dan terus berada dalam posisi ini selama beberapa waktu. Mereka baru berhenti saat ponsel Gabriel berbunyi.


__ADS_2