
Tinggal menghitung hari sampai akhir pekan datang, pada saat itulah dia bisa benar-benar bebas dari bajingan yang selalu menolak pertunangan mereka tapi tidak mau melepaskannya. Camila juga sudah mengatakan hal ini pada orangtuanya, sekaligus mengirimkan rekaman suara saat Frost mempermalukannya di halaman sekolah.
Nyonya Harrison, atau ibu Frost Harrison masih mencoba menghubunginya beberapa kali. Camila juga mengangkat panggilan tersebut, tapi begitu topik akan menjurus pada pertunangannya, dia akan segera mengelak dengan sopan dan mematikan panggilan.
Sayang sekali ini juga menjadi bumerang untuknya.
Semalam orangtuanya menelfon dan bilang bahwa urusan ini akan dibahas lagi begitu dia sudah melalui ujian semester, yang artinya dua bulan lagi. Kedua orangtuanya jelas tidak mungkin melakukan ini padanya, yang berarti ada dorongan faktor eksternal.
Bukankah orangtuanya semakin jarang pulang karena urusan pekerjaan?
Terlebih lagi ini adalah novel sampah tentang bad boy.
Camila yakin bahwa Frost pasti mengadu pada Tuan Harrison dan memutarbalikkan fakta, yang berimbas pada keluarga Harrison yang menekan bisnis keluarga Blazemoche.
Frost Harrison adalah tokoh utama, jelas dia memiliki plot armor yang menyusahkan.
"Wah ... Wah ... Siapa ini? Anak baperan dari keluarga pengemis Blazemoche yang sedikit-sedikit minta putus?" Suara centil Frost terdengar keras dari parkiran sekolah, disusul oleh tawa antek-anteknya.
Antek 1 yang rambutnya dicat cokelat meludahkan permen dan mencibir "Dasar anak mami."
Antek 2 yang berambut pirang juga ikut menimpali cibiran barusan "Udah sok cantik, gak ngaca pula. Muka hasil oplas aja bangga."
"Jahat sih. Makanya gak ada yang mau" antek 3 tertawa penuh penghinaan.
Antek 2 menyikut protagonis pria yang sedang duduk di motornya "Masih untung Frost mau mempertahankan pertunangan, tapi sendirinya malah gak tau diri. Baperan amat jadi orang."
"Tiap hari dikelilingi cowok-cowok, giliran tunangannya main sama cewek lain doang aja nangis" sinis antek 1.
Frost juga ikut meramaikan suasana "Cewek murahan. Pasti seneng tuh dibela terus sama Aubrey dan Wundervei, l*nte."
"Camila, jangan hiraukan mereka" bisik Lance setelah menatap tajam para berandalan di tempat parkir sekolah.
Gabriel yang biasanya tersenyum juga kini berwajah suram, dia menepuk pundak Camila dan bicara dengan lembut untuk menenangkannya "Seluruh sekolah tau bahwa kaulah korbannya, biarkan saja mereka melompat-lompat seperti kera."
"Camila, mau kupukul mereka atas namamu?" Ini adalah Arianna yang ingin memarkir sepeda pada awalnya.
Karena takut teman mereka akan dibully, tentu ketiganya ikut menemani begitu turun dari mobil masing-masing. Siapa sangka keempatnya justru akan apes bertemu para otak kosong ini?
Benang merah yang mengikat paksa Frost dan Arianna memang sangat menyusahkan.
Frost tertawa sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan, berujar dengan nada manja "Anna gak asik ih. Kita 'kan cuma bercanda, kalau tuh cewek marah ya salahnya sendiri yang baperan. Iya gak?"
__ADS_1
Gadis itu merasa merinding sekujur tubuh, tiba-tiba teringat akan tragedi kehidupan sebelumnya dan mulai gemetar karena marah. Dia membalas sampah ini dengan penuh kebencian "Kau tidak berhak memanggilku Anna, bajingan."
"Sudah kuduga, Anna memang berbeda dengan cewek-cewek lain" antek 3 bersiul sambil menepuk pundak Frost.
Yang pundaknya ditepuk juga membalas dengan senyum cerahnya "Iya 'kan? Dia jujur pada perasaannya sendiri, dan tidak segan marah padaku terlepas dari statusku sebagai Tuan muda Harrison. Hanya dia yang berani menegurku dan tidak pernah melihat kekayaanku."
Keempat orang lain sontak merasa jijik.
Anak ini tolol ya?
"Tidak seperti seseorang yang hanya tau cara merajuk hanya karena aku jatuh cinta pada gadis lain. Padahal itu salahnya sendiri karena tidak bisa membuat hatiku tergerak, siapa juga yang mau jatuh cinta pada cewek munafik dan plastik sepertinya?" Frost menatap Camila dengan sorot merendahkan.
Arianna memarkirkan sepedanya secara asal dan merangsek maju, tapi Camila langsung memeluk lengannya dan menggeleng sambil berbisik "Tidak perlu."
Lance dan Gabriel juga menahan diri mereka agar tidak berbuat kasar, bagaimanapun juga mereka tidak bodoh. Frost tidak akan berani memprovokasi siswa jika ada pengawasan kamera, mengingat betapa dia tidak suka direpotkan oleh efek dari perbuatannya yang salah.
Tempat parkir ini pasti merupakan titik buta sekolah.
Camila mungkin juga mengetahui hal ini lebih dulu dibandingkan mereka.
Oleh karenanya mereka berempat berbalik pergi dengan langkah kaki yang agak cepat, setidaknya sampai mereka berada di tempat yang memiliki pengawasan kamera.
Ini memang sekolah elit.
Sekolah ini lebih menjunjung integritas dibandingkan angka pada kertas ujian.
Karena angka ujian bisa dipalsukan, tapi tidak dengan kebusukan seseorang.
Camila dengan tenang berjalan bersama rekan-rekannya ke koridor gedung ekstrakurikuler, tempat terdekat yang memiliki kamera pengawasan. Pulpen yang berada di sakunya terus berkedip-kedip, demikian pula pulpen yang dulu dia berikan pada Arianna dan saat ini juga sedang berada di saku protagonis wanita.
Frost memang anak dunia yang memiliki plot armor.
Tapi Arianna juga merupakan anak dunia dan merupakan pemeran utamanya, dia memiliki plot armor yang lebih kuat dibandingkan Frost Harrison.
Hubungan antara Camila yang penjahat dan Arianna yang tokoh utama, menjadi katalis satu sama lain dan saling menyeimbangkan kesialan maupun keberuntungan masing-masing. Selama mereka berdua bersama, akan selalu ada peluang untuk melawan dan menang.
Namun Frost yang berpikiran bahwa wilayah ini juga merupakan titik buta kamera pengawas, dengan cepat menyusul mereka dan berteriak "Heh! Mau lari kemana? Jangan serius-serius banget dong, kita kan cuma bercanda. Kau 'kan tunanganku, seharusnya kau memahamiku."
Camila melihat kamera pengawas yang menyala di balik speaker pengumuman, absensi sidik jari, juga dari dalam ruang kaligrafi. Dia sontak memelankan langkahnya, memberi kesempatan pada Frost untuk menjadi lelucon.
Tak tanggung-tanggung, Frost langsung menjambak keras rambut Camila hingga gadis itu jatuh terduduk. Arianna yang sejak tadi bergandengan tangan dengannya, lantas menjadi murka dan melayangkan pukulan pada wajah Frost.
__ADS_1
Sayangnya, antek 2 langsung menahan tangannya, dan tidak melepaskannya.
Arianna menggertakkan gigi, tubuhnya gemetar saking marahnya "Kau gila ya?! Beraninya kau menyakiti Camila!!!"
"Anna, kenapa kau sangat tidak asik? Bukankah aku keren? Aku menghukum orang jahat sekalipun dia adalah tunanganku sendiri" sombongnya sambil menarik-narik rambut Camila yang masih duduk di lantai.
"Kurang ajar!!" Lance sudah lama menahan diri, kali ini dia langsung melayangkan kakinya pada tangan kotor yang sudah menyentuh Camila.
Namun antek 1 dan antek 3 langsung menarik tubuhnya ke belakang dan memegangi kedua lengannya.
Gabriel yang biasanya tenang dan memasang wajah jinak, juga sudah mengubah wajahnya. Dia merangsek maju dan hendak meraih kerah seragam Frost untuk dibanting, mengingat para antek sudah sibuk menahan Arianna dan Lance yang terus melawan.
Sayangnya, dia adalah second lead.
Dan second lead, tidak memiliki plot armor sekuat male lead.
Frost tersenyum miring, lalu dengan santai menendang kepala Gabriel hingga lelaki perak itu membentur pot tanaman hingga pecah.
"GABRIEL!!" Arianna menjerit ketakutan, ingatan kehidupan pertamanya akan sahabatnya yang bunuh diri sontak membuatnya ambruk ke tanah.
Camila jelas terkejut.
Dia memang tau bahwa Frost Harrison adalah orang sinting.
Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa sampah ini akan begitu sinting hingga berani menendang kepala orang lain!
"Apa sih? Dasar banci, ditendang dikit aja langsung pingsan. Lemah" Frost menghina.
Amarah Camila untuk pertama kalinya tersulut.
Dia memutar tubuhnya yang sedang duduk di tanah, lalu menendang keras tulang kering Frost hingga lelaki itu jatuh tersungkur dan berteriak kesakitan.
"Cewek sinting!! Beraninya kau menendangku!!" Frost hendak bangkit, tapi tendangan Camila begitu keras hingga dia kembali jatuh berlutut begitu mencoba berdiri.
"Akan kuhancurkan Blazemoche!! Kalian para pengemis memang sarangnya kriminal!! Makhluk rendahan!!" Dia terus memaki.
Dan begitu dia mendongah, dia langsung disuguhi wajah beku Camila.
Merasa jijik karena ditatap oleh sampah yang sedang berlutut ini, gadis itu dengan cepat memutar tubuhnya untuk menambah efek serangan.
Lalu dengan kuat menendang kepala Frost Harrison.
__ADS_1
Dan karena sampah ini adalah male lead, meskipun dia sudah tersingkir hingga terguling dan tidak bisa bangun. Dia masih dalam kondisi sadar, meski tidak bisa mengatakan apapun karena pandangannya memburam.
Camila berjalan mendekatinya, menatap wajah ketakutan Frost dan meletakkan kakinya yang ramping di atas leher si tokoh utama pria. Mulutnya berujar dingin "Begini saja sudah sakit sampai tidak bisa bangun? Dasar sampah."