
Gabriel mengalami masalah.
Akhir-akhir ini dia tidak bisa mengawasi sahabatnya, Arianna yang dia yakini diganggu oleh siswa elit SMA. Dia harus menjadi perwakilan sekolah berkat karya tulis ilmiahnya yang luar biasa tentang pemanfaatan limbah plastik untuk bahan baku pengaspalan jalan.
Setiap kali dia kembali ke sekolah, para siswa menyapanya seperti biasa dan tidak menjawab tiap ditanya pasal Arianna. Tentu saja Gabriel cemas, bagaimanapun juga Arianna terlalu mengkhawatirkan untuk dibiarkan sendirian.
Oleh karena itu hari ini, begitu Gabriel mendapatkan penghargaan akan tulisannya, dia segera berlari menuju kelas Arianna. Hanya untuk mendapati anak itu sudah menghilang.
"Gabriel, mencari Anna?" Salah satu anak lelaki dari kelas sebelah mendapati dirinya bingung, dan berinisiatif mengajukan pertanyaan.
Yang ditanya tentu saja mengangguk cemas
"Apa kau tau dia dimana? Aku khawatir dia ..."
"Oh. Jangan khawatir, dia baru saja pergi ke danau sekolah sambil membawa kotak makan siang" jawabnya.
Namun bukannya lega, raut Gabriel justru berubah pias. Dia mengangguk sebagai ucapan terimakasih dan berlari menuju danau sekolah, takut sahabatnya ditenggelamkan oleh salah satu siswa kaya. Bagaimanapun juga, danau sekolah ini terkenal sebagai tempat paling berdosa akibat tidak diawasi oleh kamera.
Petak bunga daisy yang tertata di sepanjang sekolah, pohon-pohon eucalyptus dan wisteria yang semakin banyak. Gabriel tidak memiliki waktu untuk mengagumi suasana ini, tidak setelah dia melihat dua orang gadis yang duduk bersama di tepi danau.
Arianna yang asik memamerkan keahlian memasaknya pada Camila, tentu tidak menyadari anomali bernama Gabriel yang sedang menghampiri mereka.
"Camila, apakah kau menginginkan sesuatu yang lain untuk besok?" Dia bertanya dengan nada penuh harap, baru kali ini ada yang menyukai masakannya selain Gabriel.
Camila menatap tenang Arianna sambil mengusap sudut bibirnya, sebelum ganti mengusap mulut pihak lain dengan gerakan wajar
"Jangan buat dirimu kelelahan."
Arianna menerima dengan senang hati, lalu menggeleng sebagai respon
"Aku tidak lelah, lagipula aku suka memasak!"
Camila yang tau bahwa anak ini berjuang keras hanya agar bisa makan dan terus bersekolah, mencubit pelan telinga Arianna sebagai teguran
"Bukankah kau harus bekerja di restoran sepulang sekolah? Kau sendiri tidak memiliki waktu yang cukup untuk istirahat, jangan memaksakan diri."
Baru pertama kali diperhatikan seperti ini oleh sesama jenisnya, Arianna tidak bisa menggambarkan betapa senangnya dia. Sejak awal dia tidak punya sosok ibu yang memperlakukannya dengan baik, ibunya hanya mencintai ayah dan kakak lelakinya. Siswi di sekolah selalu menuduhnya sebagai pelakor karena dia didekati para siswa, guru-guru juga tidak membelanya karena dia tidak begitu pintar.
Gabriel memang teman yang sangat baik, tapi akan selalu ada perbedaan antara teman lelaki dan perempuan.
Dia senang, ternyata seperti ini rasanya punya teman perempuan.
__ADS_1
"Terimakasih" bisik Arianna.
Camila masih menjadi orang pertama yang menyadari keberadaannya, dia mengernyit tidak senang
"Ada apa?"
Arianna mengikuti arah pandangan Camila dan mendapati sahabatnya disana, wajahnya menjadi lebih senang
"Gabriel, mau makan siang bersama? Masih ada satu mousse stroberi lagi yang tersisa, kebetulan sekali!"
Dia tidak ingin bersikap kasar didepan Arianna, oleh karena itu Gabriel berkata
"Anna, aku kebetulan melihat semanggi berdaun empat di dekat petak Daisy didekat sini. Bukankah kau ingin menjadikannya pembatas buku?"
Gadis itu terkejut, lalu cepat-cepat berdiri
"Sungguh? Kalau begitu kalian ngobrol saja, aku akan segera kembali!"
Begitu Arianna sudah menjauh dari sana, barulah Gabriel bertanya dengan senyum di wajahnya
"Hanya ada kita, keberatan jika aku meminta penjelasan?"
Camila menutup termos kecil yang dibawa Arianna sebelumnya
Laki-laki berambut perak itu tertawa
"Kalau begitu aku tidak akan sopan."
Segera rautnya berubah menjadi serius, tanpa senyum
"Apa tujuanmu mendekati Anna?"
Camila tersenyum kecil
"Tidak ada."
"Aku tidak percaya" cibirnya.
Gadis itu masih tersenyum, dia sudah menduga bahwa second lead ini tidak akan begitu ramah padanya yang berperan sebagai antagonis
"Terserah."
__ADS_1
Camila mengambil satu-satunya mousse stroberi yang tersisa untuk dimakan, tapi tangannya langsung dicekal oleh si second lead ketus Gabriel
"Mau apa?"
"Menghargai kerja keras Arianna" entengnya.
Gabriel cemberut, meremas pelan pergelangan tangan pihak lain
"Itu bagianku, Anna menyisakannya untukku."
Camila berusaha untuk menarik lembut tangannya, tapi Gabriel enggan melepaskan
"Kehadiranmu disini diluar rencana kami, kenapa aku harus memberikannya padamu?"
Lelaki itu mengernyit, terutama saat Camila balas menggenggam pergelangan tangannya
"Camila Blazemoche, jangan terlalu egois."
"Gabriel Wundervei, kita bisa membaginya menjadi dua jika kau mau. Jangan begitu tak berperasaan" balasnya.
Keduanya terdiam, sampai tibal-tiba terdengar pekikan Arianna dari kejauhan. Gabriel yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, secara refleks berdiri dan berlari ke sumber suara sambil menggandeng Camila. Yang ditarik juga tidak merasa keberatan sama sekali, bagaimanapun juga dia sudah tau siapa yang akan mengganggu waktunya.
Ada bagian seperti ini, dimana male lead mengganggu protagonis yang sedang makan siang sendirian. Second lead yang khawatir sahabatnya diganggu dan menyusul kemari, menjadikan ini sebagai konfrontasi kedua antara dua laki-laki penting ini.
Ya, kedua.
Karena konfrontasi pertama di hutan sekolah, sudah digantikan oleh Camila. Jadi gadis itu ingin tetap diam saat Gabriel bertengkar dengan tunangannya, ingin melihat seperti apa pertengkaran mereka secara real-time.
"Sudah kubilang aku tidak menyukaimu! Berhentilah menggangguku!" Jeritnya dengan suara bergetar.
"Aku tau kau malu mengatakannya saat itu karena ada teman-temanku, Anna. Jadi berhentilah sok jual mahal, wajahmu selalu merona saat bersamaku. Kau masih berpikir aku tidak tau kau menyukaiku?" Seloroh Frost, tidak berniat melepaskan tangan Arianna sama sekali.
"Wajahku merah karena aku marah, aku tidak menyukaimu! Kenapa kau terus menerus bersikap seenaknya?! Bukankah kau sudah memiliki tunangan?! Lepaskan aku!" Jeritnya sambil mati-matian berusaha melepaskan diri.
"Tunangan apa? Itu cuma kesepakatan bisnis antara panatua keluarga Harrison dan Blazemoche, aku tidak pernah menyetujuinya! Lagipula, Camila hanya menginginkan uangku! Dia tidak tulus sepertimu!" Seru Frost.
Gabriel yang mendengar ini, benar-benar tidak senang. Dia melirik Camila yang tampak diam, citranya yang terkenal dingin seolah menguap begitu saja. Yang dilihat Gabriel saat ini hanyalah perempuan yang menundukkan kepalanya, tampak terluka oleh apa yang dikatakan tunangannya.
Gabriel juga marah melihat sahabatnya dipaksa berulangkali, dia mendorong kuat tubuh Frost hingga mundur beberapa langkah dan melepaskan Arianna
"Frost Harrison, apakah keluargamu tidak pernah mengajarkan bahwa tindakan ini sangat tidak berpendidikan?"
__ADS_1
Frost yang didorong tentu saja merasa sangat marah, tapi begitu dia ingin membalas Gabriel. Tatapannya jatuh pada dua tangan yang saling bertautan, dia memberi Camila mata menghina
"Camila, apa-apaan ini?! Kau dan aku masih bertunangan, perselingkuhan dan pengkhianatan semacam ini tentu akan dikritik habis-habisan oleh orang!"