
Aiden menatap adiknya seolah sedang menatap orang purba, membalas "Kami tidak akan langsung mati jika tidak punya anak, jadi kenapa harus terburu-buru? Lagipula bukankah masih ada anakmu nanti? Buat saja yang banyak, dan berikan satu padaku. Atau donorkan sel te-"
Camila sontak memotong ucapannya "Kak Aiden, aku bisa saja melubangi otakmu saat kau terus bicara seperti ini."
Pria itu memilih mengalah sekali ini "Oke, aku minta maaf. Tapi Camila, saat kita sudah sampai nanti jangan sampai kau lengah."
"Hah?"
Sang kakak mendengus dingin, kesal "Entah kenapa informasi kepulanganmu bisa bocor, dan anjing sinting itu sudah sejak tiga hari lalu mengawasi kediaman Blazemoche."
"Anjing? Maksudmu Gabriel?" Tanyanya.
Aiden tidak menyangkal tebakannya "Memang siapa lagi yang anjing kalau bukan bocah itu?"
"Kenapa dia sampai tau?" Jelas dia merasa bingung.
"Bukankah jelas dia menyukaimu?" Sindir Aiden.
Camila mengangguk tenang, tidak terkejut seolah ini hal yang lumrah "Aku tau, tapi bukankah aku tidak pernah menemuinya selama tiga tahun ini? Hanya panggilan telepon, itupun hanya lima menit setiap bulan."
"Kau pikir dia tidak punya cara apapun didalam kepala cantiknya?" Aiden balas bertanya dengan retorika.
"Merepotkan. Kupikir dia sudah berkencan dengan Arianna saat aku pergi" dengus Camila.
"Kau menolaknya?" Meski sudah tau, dia tetap ingin bertanya.
"Hmm."
__ADS_1
"Alasan?" Aiden merasa dia cukup usil menanyakan ini.
"Kepribadian kami tidak cocok" singkatnya.
Aiden tersenyum, tampak tenang "Untungnya kau tidak naif. Kita sudah sampai, aku bahkan sudah bisa mencium parfumnya."
Camila turun dari mobilnya bersama Aiden, mendapati rambut perak Gabriel yang bergoyang lembut saat lelaki itu berlari ke arahnya.
Tidak, tepatnya bukan lelaki. Dia sudah berubah menjadi pria muda.
Wajah dan senyumnya yang lembut tampak masih secantik dulu, hanya saja kini pihak lain memiliki kesan yang lebih dewasa dan garis wajah yang lebih tegas.
Dia masih memakai almamater kampus yang berwarna putih, tampaknya dia tetap bertahan di akademi mereka dulu dan baru saja selesai menjalani kegiatan pengenalan lingkungan universitas. Tapi bukankah masih terlalu pagi untuknya ada di sini? Apakah Gabriel membolos?
"Camila!" Serunya dengan wajah yang masih bersemu, senyumnya tampak lebih menyilaukan dibandingkan saat terakhir Camila melihatnya.
Wangi tubuh Gabriel segera menyelimutinya, aroma yang segar seolah baru saja keluar dari hutan Pinus yang baru disiram hujan.
Pelukannya juga semakin menguat dari waktu ke waktu, seolah pria ini ingin menyatukan tubuh mereka bersama. Suaranya yang hangat kini bertambah dalam dan agak serak, tanpa malu berbisik di telinganya "Camila, selamat datang ..."
Dia membalas ringan pelukan ini
"Mn. Aku pulang, Gabriel."
Sepertinya ada yang aneh dari ucapannya barusan?
Aiden mendecih dari samping, tapi masih cukup tau diri untuk tidak ikut campur urusan pribadi adiknya, meski sangat tidak rela. Pria itu melambai pada para pelayan dan tukang kebun kediaman Blazemoche yang menatap nona muda mereka, mengisyaratkan agar semuanya menjauh dari sana.
__ADS_1
Semuanya memiliki reaksi serupa dengan Aiden, pergi dengan wajah masam.
Siapa kubis putih kecil ini? Beraninya meminta kasih sayang pada nona muda mereka? Dia pikir dirinya layak?!
Namun mereka seketika mengingat kepribadian baik dan pencapaian Tuan muda Wundervei yang gemilang dan mereka saksikan sendiri, ini membuat semua orang hanya bisa cemberut.
Camila yang mencoba memahami perilaku Gabriel, tentu tidak mau mengatakan sesuatu yang salah dan diam saja. Membiarkan pria ini menduseli lehernya seolah sedang mencari kenyamanan, atau untuk memastikan bahwa kehadirannya adalah nyata.
"Camila, sudah tiga tahun ..." Bisiknya.
Dia sepertinya tau akan apa yang ingin dikatakan oleh si second lead ini "Mn. Sudah cukup lama."
Benar saja, Gabriel berujar lembut "Aku masih menyukaimu."
Dia bisa merasakan detak jantung Gabriel yang sangat cepat, mengingat tubuh keduanya yang menyatu "Hmm."
Selain itu, apalagi yang bisa dia katakan sebagai respon?
Gabriel menempelkan pipinya di ceruk leher gadis ini, berbisik "Camila, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga, Gabriel" balasnya, masih tenang.
"Camila ..." Pria ini memanggilnya lagi.
"Hm?"
Gabriel dengan lembut menempelkan bibirnya di telinga pihak lain, meminta izin dengan suara serak "Bolehkah aku menciummu?"
__ADS_1
Camila langsung membatu di tempat.