
Pada sore hari setelahnya, Arianna dengan gembira membaca pesan di layar ponselnya dan tanpa membuka celemek langsung berlari menuju pintu depan rumah kecil sewaannya.
Rambut hitamnya yang dicepol tampak bergoyang lembut saat dia membuka pintu dan menyapa "Camila, selamat datang! Ada apa?"
Camila yang masih memakai kacamata dan baju kasual yang nyaman, mengangguk sebagai respon dan berkata "Aku mampir sebentar untuk menanyakan sesuatu."
Arianna menepuk tangannya satu kali karena antusias, lalu meraih sebelah tangan pihak lain untuk digandeng masuk "Benarkah? Kalau begitu ayo masuk! Aku baru saja selesai memanggang biskuit untuk tugas besok, apa kau mau mencicipinya?"
Camila, seperti biasa merasa kurang nyaman menghadapi antusiasme orang ini. Tapi dirinya juga tak sampai hati jika harus mendorong pergi Arianna "Tidak usah repot-repot, aku hanya mampir sebentar."
"Apa masakanku tidak enak?" Arianna yang mendengar ini segera berhenti menarik-narik lengan pihak lain, dan memberinya tatapan menyedihkan seolah seseorang sudah menindasnya.
"......."
...........
Gabriel yang menenteng sebuah kotak kue mengetuk pintu rumah sewaan sahabatnya dengan kalem "Anna, kubawakan kue bulan dari ibu. Boleh masuk?"
Terdengar teriakan Arianna dari dalam yang mempersilahkannya "Masuk saja, Gabriel!"
Pria berambut perak tersebut sontak memutar gagang pintu yang tidak dikunci dan mengerutkan kening, terlebih saat dia melihat sepatu yang sangat tidak asing sedang tergeletak didalam rumah, tepatnya di sebelah pintu masuk.
Benar saja, dia melihat pacarnya sedang menikmati kopi sambil menunggu sahabatnya yang sedang sibuk menyuguhkan berbagai macam biskuit tanpa melepas celemeknya dengan suasana hangat.
"......." dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya yang diarahkan pada Camila jelas penuh akan makna.
Yang ditatap sontak meletakkan cangkir kopi dan berujar tanpa ekspresi "Aku tau apa yang kau pikirkan, ini bukan seperti itu."
Gabriel dengan segera menyeret kursi dan duduk di sebelah Camila, menghujaninya dengan pertanyaan "Lalu seperti apa? Kenapa kau tidak menghubungiku dulu kalau mau berkunjung ke rumah Anna? Apa kalian berdua-"
"Gabriel, katakan aku suka pada Arianna lagi maka akan kuputuskan kau sekarang juga" dia memotong rentetan pertanyaan ini dengan dingin.
Gabriel langsung cemberut dan tutup mulut, tangannya bergeser untuk memainkan jari-jari Camila dengan kesal.
Arianna yang kebetulan mendengar ucapan gaeis itu, sontak memperingatkan "..... Camila."
__ADS_1
"Kau tau aku tidak serius, Arianna. Jangan menatapku seperti itu" lagi-lagi Camila memotong apapun yang akan keluar dari mulut sepasang sahabat ini, yang pasti bukan sesuatu yang baik untuk kesabarannya.
Dia menjentikkan jarinya untuk meminta fokus mereka berdua "Kembali pada alasan utama aku kemari, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apa itu?" Gabriel bertanya saat Camila menarik selembar kertas foto dari salah satu sakunya.
Dia menunjukkan foto seorang wanita ke hadapan Arianna "Apakah kau mengenal orang ini?"
Arianna mengernyit untuk sesaat, sebelum wajahnya berubah pucat dan berujar dengan terbata-bata "Dia ... Wanita ini adalah selingkuhan Frost waktu itu."
Camila memasukkan kembali foto itu kedalam sakunya "Berarti dugaanku memang benar."
Gabriel yang sering melihat wajah wanita didalam foto akibat kejadian baru-baru ini, mencibir "Pria memang tidak bisa dipercaya."
Camila memberinya pengingat ramah "Gabriel, kau juga pria."
Namun pria itu justru dengan manja memeluknya "Aku berbeda, aku memiliki Camila."
Arianna yang sudah menenangkan diri dari trauma lamanya, mengajukan pertanyaan pada gadis lain di ruangan ini "Apakah anak itu mengatakan sesuatu yang menarik belum lama ini? Kudengar dari Lance, Fiona membuatmu mengunjunginya lagi kemarin setelah satu hari yang sibuk."
Gabriel mengangguk tenang setelah mendengarkan semua itu dan berkomentar "Ah .... Jadi begitu alasannya."
"Apakah menurutmu itu kekanakan?" Tanya Camila.
Pria perak itu tampak mengerutkan keningnya lebih dulu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya menjawab "Cukup kekanakan, tapi bukankah semua orang bebas bermimpi dan memiliki keinginan atas sesuatu yang mereka anggap sebagai sumber kebahagiaan?"
Camila tersenyum kecil dan mengusap sayang kepalanya, memuji "Anak pintar."
Pria perak yang rambutnya sedang diacak-acak itu tertawa bodoh "Hehe."
Setelah puas mengacak-acak rambut Gabriel, perhatiannya sekali lagi terfokus pada gadis lain diantara mereka dan bertanya "Arianna, kau pernah bersamanya. Apakah kau tau soal ini?"
Namun yang ditanya justru menggelengkan kepala "Aku tidak mengenalnya sampai sejauh itu."
Ia mengangguk-angguk khidmat dan kembali buka suara "Bukan menjadi masalah. Yang ingin aku tanyakan saat ini hanya satu, maukah kau memaafkannya?"
__ADS_1
Sontak pertanyaan ini membuat raut wajah Arianna yang biasanya lembut dan rendah hati, menjadi penuh kebencian "Camila, jawabanku sudah jelas adalah tidak. Kenapa aku harus memaafkannya setelah semua hal yang ia lakukan padaku di kehidupan pertama?"
Camila mengangguk lagi "Anak pintar, benar bagimu untuk tidak memaafkannya."
"Lalu ... Apakah kalian pikir ia pantas mendapatkannya?" dia lagi-lagi bertanya pada sepasang sahabat ini.
"Tentu saja, dia lebih dari pantas mendapat karma seperti itu setelah apa yang ia lakukan di kehidupan pertama. Bahkan menurutku, ini jauh dari kata cukup untuk menghukumnya!" seru Arianna.
"Benar! Aku juga berpikir begitu!" Gabriel juga menimpali dengan tak kalah sengit.
Melihat kekompakan dua orang ini untuk membenci Frost, membuatnya bertanya "Gabriel, kau juga?"
Pria ktu mengangguk sepenuh hati sebelum mengatakan alasannya dengan berapi-api "Aku sama sekali tidak tau tentang kehidupan pertama yang kalian maksud, tapi Frost dan kelakuan samlahnya itu memang pantas dihukum. Selain melukai kalian berdua, dulu dia dan teman-temannya juga menebar rumor pada guru-guru kalau aku penyuka sesama jenis!"
Arianna yang tau jelas kejadian itu juga mengangguk heboh "Anak itu benar-benar keterlaluan!"
Camila yang tidak tau menau atas kejadian itu, menjadi bingung "Ada cerita seperti itu? Kenapa aku tidak tau?"
"Ada, Camila! Aku tau dia berhati iblis sejak dia bisa dengan tenang membunuh anak kami berkat hasutan dari selingkuhannya, jadi bukan hal aneh lagi jika dia bisa melakukan kejahatan kecil seperti menebar rumor di sekolah!" seru Arianna.
"Dia membunuh anakmu?!" Gabriel balas berseru.
Arianna mengangguk keras "Iya! Makanya aku sangat membencinya! Kuharap dia tidak akan bisa memiliki anak untuk selamanya!"
Keduanya terus bergosip akan kejahatan Frost di masa lalu, asik pada dunia mereka sendiri. Sampai akhirnya keduanya tersadar bahwa entah sejak kapan Camila tampak mengetik sesuatu di ponselnya, seolah sedang saling berkirim pesan dengan orang lain yang cukup penting, sebelum akhirnya kembali memasukkan benda itu kedalam tas.
"Camila, siapa itu?" tanya Arianna, dia hanya menangkap sedikit foto profilnya. Itu adalah orang militer, cukup muda dan seorang pria dengan banyak lencana.
Gadis itu hanya menjawab "Tidak ada, lupakan saja. Yang pasti mulai sekarang kau sudah aman, Arianna."
Meski tidak mengerti apalagi yang dilakukan temannya di balik layar, Arianna tetap merasa senang akan informasi itu dan berseru "Sungguh?!"
Camila mengangguk kalem dan menatap dua orang ini secara bergantian "Mn. Percayalah, Frost tidak akan mengganggumu. Dan Gabriel, aku baru saja membalaskan dendam lamamu."
"Ah?" pria yang tiba-tiba disebut namanya, menjadi bingung.
__ADS_1